Az-Zubair bin Al-‘Awwam[1] (bahasa Arab:الزبير بن العوامcode: ar is deprecated ) adalah salah satu sahabat nabiMuhammad, sekaligus putra bibi Muhammad yaitu Shafiyyah binti Abdul Muthalib, yang juga dan termasuk as-Sabiqun al-Awwalun (10 orang yang pertama masuk Islam). Az-Zubair bin Al-'Awwam juga termasuk salah satu dari 10 sahabat yang dijamin masuk surga. Nasab lengkapnya ialah Zubair bin Awwam bin Khuwailid bin Asad bin Abdul Uzza bin Kilab bin Murrah. Zubair seumuran dengan Ali bin Abi Thalib, Thalhah bin Ubaidillah dan Saad bin Abi Waqqash. Ia berperawakan tinggi, jika berkendaraan (naik kuda) maka kakinya terseret di tanah, ia memiliki jenggot dan cambang tipis dengan rambut tebal.[2]
Zubair meriwayatkan beberapa hadis dalam jumlah terbatas. Yang meriwayatkan darinya antara lain: putra-putranya yaitu Abdullah, Mush'ab, Urwah, dan Ja'far; juga Malik bin Aus bin Al-Hadatsan, Al-Ahnaf bin Qais, Abdullah bin Amir bin Kuraiz, Muslim bin Jundab, Abu Hakim (maula-nya), dan yang lainnya. Al-Bukhari dan Muslim bersepakat meriwayatkan dua hadisnya; Al-Bukhari secara mandiri meriwayatkan empat hadis, dan Muslim satu hadis.[3]
Kehidupan
Ketika pamannya Naufal bin Khuwailid mengetahui Zubair telah memeluk Islam, ia sangat marah dan berusaha menyiksanya, Zubair dimasukkan ke dalam karung tikar, kemudian dibakar. Sebuah riwayat menyebutkan ia memeluk Islam ketika berusia 8 tahun setelah Abu Bakar Al-Siddiq masuk Islam. Dia sempat hijrah ke Habasyah tetapi tidak tinggal lama di sana. Dia menikah dengan Asma' binti Abu Bakar, dan hijrah ke Yastrib, yang kemudian bernama Madinah. Ia mempunyai seorang putra bernama Abdullah bin Az-Zubair yang merupakan bayi muslim pertama yang lahir di Madinah.[4]
Ia juga dikenal sebagai orang pertama yang menghunus pedangnya dalam Islam di usia 12 tahun, hal itu terjadi saat remaja ia mendengar bahwa nabi diganggu sehingga ia berlari menuju tempat nabi dengan menghunuskan pedang. Lalu Muhammad mendoakannya dan pedangnya.[5]
Suatu hari Muhammad sedang di atas Bukit Hira bersama Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali, Thalhah, dan Az-Zubair, lalu bukit itu berguncang (gempa kecil) maka Muhammad mengatakan kalimat untuk menenangkan bukit karena di atasnya hanya ada nabi, orang membenarkan (shiddiq) atau syahid.[6]
Peperangan
Zubair berkontribusi besar dalam perjuangan Islam. Saat Perang Badar, Zubair berusia 17 tahun dan memimpin pasukan berkuda di sayap kanan dengan menggunakan serban berwarna kuning.[2] Saat itu malaikat Jibril turun dalam rupa Zubair[3]. Zubari berjumpa musuh bernama Ubaidah bin Said bin Al-Ash yang mengenakan baju besi penuh sehingga yang terlihat hanya kedua matanya. Ia bergelar Abu Dzat Al-Karsyi. Ia menyerangnya dengan tombak kecil dan menusuknya di matanya hingga ia tewas. Zubari lalu menerobos barisan Quraisy Mekah hingga ke belakang mereka lalu berbalik lagi.
Ketika Perang Uhud telah mereda dan pasukan Quraisy kembali, Nabi mengutus Zubair bersama Abu Bakar memimpin 70 pasukan melakukan pengejaran (menggertak) pasukan musuh. Ia termasuk yang disebut dalam Quran surat Ali Imran ayat 172-174 tentang mendapat luka dalam Perang Uhud.[3]
Saat Perang Khandak, Zubair menyerang Bani Quraizhah dengan berkuda dan menewaskan musuh sehingga Muhammad berkata,"Sesungguhnya setiap nabi memiliki hawari (pembantu), dan hawari-ku adalah Az-Zubair." Az-Zubair menebaskanpedangnya ke kepala Utsman bin Abdullah bin Al-Mughirah hingga menembus pelindung kepala dan mencapai pelana kudanya.[3]
Dan saat Fathu Mekkah, ia membawa bendera Saad bin Ubadah atas perintah Nabi.[2] Ketika Pertempuran Khaibar, Zubair duel satu lawan satu melawan jagoan musuh bernama Yassir dan berhasil mengalahkannya.
Zubair punya tombak yang dipakai membunuh musuh saat Perang Badar, tombak itu diminta nabi, saat nabi wafat diwariskan ke Abu Bakar lalu ke Umar lalu ke Utsman, setelah wafat lalu kembali diambil Zubair dan diwariskan ke anaknya Abdullah bin Zubair.[2] Pada tubuh Az-Zubair terdapat tiga bekas sabetan pedang, salah satunya di pundaknya. Aku biasa memasukkan jari-jariku ke dalamnya. Dua sabetan diterimanya pada Perang Badar, dan satu lagi pada Perang Yarmuk melawan Bizantium di wilayah Syam. Saat itu Zubair dengan kudanya bisa menembus barisan musuh hingga di belakang musuh.[3] Zubair termasuk yang terlambat memberika baiat kepada Khalifah Abu Bakar bersama Ali.[3]
Setelah Syam dikuasai muslimin dari Romawi Bizantium, Khalifah Umar lalu mengirim Zubair untuk membantu Amru bin Ash dalam penaklukan Mesir. Kaum muslimin mengepung Ain Syams Mesir pada hari keempat. Lalu Zubair memanjat pagar pembatas kota tersebut unfuk menyerang mereka, lalu ketika mereka merasakan situasi tersebut, mereka segera keluar menghampiri Amru bin Al Ash melalui pintu gerbang yang lain, lalu mereka membuat kesepakatan damai dengannya. Az-Zubair membakar sebagian sisi kota tersebut, hingga dia keluar melalui pintu gerbang di mana Amru berada, lalu mereka melanjutkan kesepakatan damai tersebut.[6]
Saat Umar terbunuh, ia termasuk yang ditunjuk Umar sebagai perwakilan dalam pemilihan Khalifah sebelumnya, Zubair lalu memberikan haknya kepada Ali.[3] Setelah terbunuhnya Khalifah Utsman bin Affan, Zubair mengikuti Aisyah menuntut hukuman mati untuk para pelaku pembunuhan. Ketika perselisihan pertempuran Jamal di Basrah, Zubair sempat berhadapan langsung dengan Ali lalu Ali menasihatinya dengan mengingatkan perkataan Muhammad sehingga Zubair berbalik meninggalkan medan pertempuran.
Mugits bin Sami mengatakan bahwa Zubair bin Awwam memiliki seribu budak yang menyerahkan hasil kerja (kebun) mereka kepadanya, namun tidak sedikit pun dari hasil itu yang masuk ke dalam rumahnya. Said bin Abdul Aziz mengatakan bahwa semuanya ia sedekahkan.[3]
Nasab
Nasab Zubair bersambung dengan Muhammad pada Qushai. Sedangkan ibunya bernama Shafiyah binti Abdul Muthallib. Dia memiliki kunyah (nama panggilan) Abu `Abdillâh. Az-Zubair masuk Islam ketika berumur delapan tahun atau menurut riwayat lain di usia 16 tahun.[7]
Istri dan anak
Pedang Legendaris Zubair bin Awwam
Zubair menikah delapan kali dan memiliki dua puluh anak.[8]:75
Asma' binti Abu Bakar. Mereka menikah sebelum Hijrah tahun 622 dan bercerai saat putra mereka, Urwah masih muda, yaitu sekitar tahun 645.[9]:179 Beliau menamai anak-anaknya dengan nama Syuhada agar mereka menjadi syuhada dijalan Allah.
Abdullah bin Zubair, diambil dari sahabat yang syahid Abdullah bin Jahsy.
Al-Mundzir diambil dari Nama sahabat yang syahid, Al Mundzir bin Amr
Asim
Al-Muhajir
Khadijah al-Akbar
Ummul Hasan
Aisyah
Urwah diambil dari nama sahabat yang syahid, Urwah bin Amr
Ummu Kultsum binti Uqbah dari klan Umayyah. Mereka menikah pada 629, tetapi "Ummu Kultsum tidak menyukainya", dan mereka bercerai dalam beberapa bulan. Setelah putri mereka lahir, Ummu Kultsum menikah dengan Abdurrahman bin Auf.[9]:163
Zainab
Al-Halal binti Qais dari suku Asad.
Khadijah al-Asghar
Ummu Khalid Ama binti Khalid dari klan Umayyah. Ia adalah salah satu dari wanita yang hijrah dan kembali dari Abisinia pada tahun 628.[9]:164
Khalid
Amr
Habibah
Saudah
Hindun
Ar-Rabab binti Unaif dari suku Kalb.
Mush'ab diambil dari nama sahabat yang syahid, Mush'ab bin Umair
Hamzah , DIambil dari nama paman Muhammad yang syahid di Uhud, Hamzah bin Abdul Muthalib
Ramlah
Atikah binti Zaid.[3] Zubair menikahinya sebagai janda setelah Umar bin Khathab wafat.
Kematian
Makam Zubair bin Awwam di Basra, Irak
Az-Zubair Radhiyallahu anhu meninggal dunia di tangan Amr bin Jurmuz (atau Umair bin Jarmuz) bersama Fadhalah bin Habis dan Nufai dalam suatu pembunuhan yang licik disergap mendadak dari belakang setelah Perang Jamal di lembah as-Saba` atau Safwan, yaitu nama daerah sejauh tujuh farsakh (kurang lebih 35 KM) dari Basra pada bulan Jumadil ula tahun 36 H di usia 54 tahun lebih dengan mewariskan kekayaan 50 juta dirham (sekitar 200 miliar rupiah).[2][10] Atikah binti Zaid bin Amru bin Nufail, istri Zubair, mendapatkan warisannya mencapai 80.000 dirham (320 juta rupiah).[3]
Ali bin Abi Thalib mendatangi ke makamnya menangis melepas kepergian sahabat tercintanya, "Semoga keselamatan dilimpahkan kepada Az Zubair dalam kematian sesudah mencapai kejayaan hidupnya, Selamat. dan sekali lagi selamat untuk pengikut setia Muhammad.[11] Ali menegaskan bahwa pembunuh Zubair tempatnya di neraka.[2]
Amr bin Jurmuz di kemudian hari bertobat dan meminta qishash (hukuman mati) atas perbuatannya kepada Mushab bin Zubair (putra Zubair bin Awwam) saat menjadi Gubernur Irak namun ditolak.[2]