Qais bin Mu'awiyah[2](ayah) Habbah binti Amr[3](ibu)
Abu Bahr al-Ahnaf bin Qais (bahasa Arab:الأحنف بن قيسcode: ar is deprecated , translit.al-ʾAḥnaf bin Qays)[4] adalah seorang komandan Muslim dan pemimpin suku Bani Tamim yang hidup pada masa nabi Islam Muhammad.[5] Dia berasal dari suku Arab Bani Tamim dan lahir dari orang tua bangsawan.
Biografi
Ahnaf lahir kira-kira dua puluh tahun sebelum Muhammad beremigrasi ke Madinah. Beberapa sejarawan mencatat bahwa ia lahir sekitar tahun 602 M.[6] Saat lahir, ia menderita cacat di kakinya yang menyebabkan salah satu kakinya bengkok dan dia dijuluki sebagai al-Ahnaf yang berarti "kaki pengkor".[7]
Awalnya ayahnya menamainya ad-Dhahhak, tetapi orang-orang memanggilnya al-Ahnaf, yang berarti "kaki pengkor" dalam bahasa Arab Klasik. Sejarawan Sunni al-Baladzuri mencatat bahwa dia juga diidentifikasi sebagai Abdullah bin Khazim.[8]
Ahnaf murtad setelah kematian Muhammad dan mengikuti Sajjah, salah seorang nabi palsu. Hingga Sajjah pergi menemui Musailamah al-Kazzab di Yamamah. Ketika ia bersama pamannya menghadap Musailamah, Ahnaf berkata "saya pikir dia hanyalah seorang pendusta". Dan ketika Musailamah membacakan wahyu yang diklaim turun kepadanya, Ahnaf berkata, "saya tidak pernah melihat orang yang paling bodoh selain nabi ini". Ia dan kaumnya diperangi oleh khalifah Abu Bakar (m.632–634) selama Perang Riddah, tetapi kemudian dimaafkan.[9]
Era Umar dan Utsman
Pada masa pemerintahan khalifah Umar (m.634–644), Ahnaf ikut serta dalam penaklukan Irak, Khorasan, dan sebagian besar wilayah Kekaisaran Sasaniyah.[10] Sementara pada masa pemerintahan Utsman (m.644–656), ia ditunjuk sebagai komandan perang di wilayah Tukharistan.[11] Pada masa pemerintahan Utsman juga, Ahnaf meluncurkan serangkaian ekspansi militer lebih lanjut dan terus mendesak pasukan Yazdegerd III di dekat Sungai Oxus di Turkmenistan[12][13]
Pada Pertempuran Jamal (Unta), sebagian besar Bani Tamim berpihak kepada Aisyah. Namun Ahnaf dan klan Bani Sa'ad memilih untuk berpihak kepada khalifah keempat, Ali (m.656–661).[14] Selama pertempuran, Zubair bin Awwam, salah satu pemuka Quraisy yang memimpin pertempuran, merasa ragu dengan keadilan yang sedang ia perjuangkan.[15] Zubair kemudian memilih untuk mundur dari medan perang.[16] Tampaknya, Ahnaf mengetahui mengenai pengunduran tersebut.[17] Beberapa orang dari klannya mengikuti Zubair dan membunuhnya di Wadi al-Siba, dekat Basra.[16] Beberapa sumber awal menyebutkan bahwa Zubair dibunuh oleh Amr bin Jurmuz untuk menyenangkan hati Ali,[18] atau mungkin karena menganggap Zubair telah melakukan pengkhianatan dengan melarikan diri dari pertempuran.[19]
Pada Pertempuran Siffin, Ahnaf berada dalam sebuah delegasi Bani Tamim yang datang dari Basra ke Kufah selama pertempuran.[20] Ali mengangkatnya sebagai komandan Bani Tamim dan al-Rabab.[21][22]
Kekhalifahan Umayyah
Pada awalnya, Ahnaf menentang pendirian Kekhalifahan Umayyah oleh Mu'awiyah, mungkin karena dukungannya yang besar terhadap Ali.[23] Namun, setelah pembunuhan Ali, Kekhalifahan Rasyidin melemah dan penerus Ali, Hasan, menyerahkan kekhalifahan secara damai kepada Mu'awiyah.[24] Ahnaf memutuskan untuk menyetujui pemerintahan Bani Umayyah.[25]
Ahnaf adalah salah satu orang terkemuka yang menyetujui aksesi Yazid I, meskipun sumber lain menyatakan bahwa ia sebelumnya merasa keberatan.[26]
Sekitar tahun 72 H/691 M, Ahnaf meninggal dunia di Kufah, pada saat koflik antara al-Mukhtar dan loyalis Ibnu Zubair di Irak semakin memanas.[30] Ia meninggal dunia pada tahun-tahun pertama khalifah Umayyah Abdul Malik bin Marwan (m.685–705). Disebutkan bahwa gubernur Mush'ab juga turut menyalatkan jenazahnya dan mengikuti upacara pemakamannya. Ahnaf dimakamkan di Kufah, disamping makam Ziyad bin Abihi.[31]
Referensi
↑خير الدين الزركلي. "الأعلام المجلد الأول"(PDF) (dalam bahasa Arab). hlm.271. Diakses tanggal 2023-03-23.
↑Veccia Vaglieri, L. (2012b). "al-D̲j̲amal". Dalam Bearman, P.; Bianquis, Th.; Bosworth, C.E.; van Donzel, E.; Heinrichs, W.P. (ed.). Encyclopaedia of Islam (Edisi Second). doi:10.1163/1573-3912_islam_SIM_1962.