ENSIKLOPEDIA
The Devil Wears Prada (film)
| The Devil Wears Prada | |
|---|---|
![]() Poster rilis di bioskop | |
| Sutradara | David Frankel |
| Produser | Wendy Finerman |
| Skenario | Aline Brosh McKenna |
Berdasarkan | The Devil Wears Prada oleh Lauren Weisberger |
| Pemeran | |
| Penata musik | Theodore Shapiro |
| Sinematografer | Florian Ballhaus |
| Editor | Mark Livolsi |
Perusahaan produksi | Fox 2000 Pictures
Wendy Finerman Productions |
| Distributor | 20th Century Fox |
Tanggal rilis |
|
| Durasi | 109 menit |
| Negara | Amerika Serikat |
| Bahasa | Inggris |
| Anggaran | $35–41 juta[1][2] |
Pendapatan kotor | $327 juta[1] |
The Devil Wears Prada adalah film komedi-drama Amerika Serikat tahun 2006 yang disutradarai oleh David Frankel dan diproduksi oleh Wendy Finerman. Skenarionya ditulis oleh Aline Brosh McKenna, berdasarkan novel tahun 2003 karya Lauren Weisberger. Film ini dibintangi Meryl Streep, Anne Hathaway, Stanley Tucci, dan Emily Blunt. Ceritanya mengikuti Andy Sachs (Hathaway), seorang jurnalis muda yang bercita-cita tinggi dan mendapat pekerjaan di sebuah majalah mode, tetapi kemudian harus menghadapi tuntutan keras dari editornya yang perfeksionis, Miranda Priestly (Streep).
20th Century Fox membeli hak adaptasi film dari novel Weisberger pada 2003, sebelum novel tersebut selesai ditulis, namun proyek ini tidak mendapat lampu hijau hingga Streep dipastikan ikut bermain. Pengambilan gambar utama berlangsung selama 57 hari dari September hingga Desember 2005, sebagian besar dilakukan di Kota New York. Pengambilan gambar tambahan dilakukan di Paris.
The Devil Wears Prada ditayangkan perdana di Festival Film Los Angeles pada 22 Juni 2006,[3] dan dirilis di bioskop Amerika Serikat pada 30 Juni. Film ini mendapat ulasan positif, terutama atas penampilan Streep; ia meraih Penghargaan Golden Globe untuk Aktris Terbaik Film Musikal atau Komedi dan dinominasikan sebagai Aktris Utama Terbaik untuk Academy Award, BAFTA Award, SAG, serta Critics' Choice. Film ini meraup pendapatan sebesar 327 juta dolar AS di seluruh dunia dengan anggaran 35–41 juta dolar AS. Sekuel berjudul The Devil Wears Prada 2 dirilis pada Mei 2026.[4]
Plot
Jurnalis muda yang bercita-cita tinggi, Andrea "Andy" Sachs, baru saja lulus dari Universitas Northwestern. Meskipun tidak memahami dunia mode, ia diterima sebagai asisten pribadi junior Miranda Priestly, pemimpin redaksi Runway yang terkenal sangat kejam di Kota New York. Hari-hari Andy diisi oleh tuntutan kerja yang luar biasa berat dan sikap intimidatif Miranda, yang menuntut kesempurnaan dalam segala hal. Pada awalnya, Andy kesulitan menyesuaikan diri dengan lingkungan kerja yang sangat terobsesi pada mode, termasuk menghadapi Emily Charlton, asisten senior Miranda. Ia juga kewalahan memenuhi permintaan Miranda yang kerap tidak masuk akal. Meskipun demikian, Andy bertekad bertahan sampai ia dapat memanfaatkan jaringan koneksi di Runway untuk mendapatkan pekerjaan yang lebih sesuai dengan bidang jurnalistik.
Setelah gagal mengatur penerbangan Miranda dari Miami saat terjadi badai, Andy dimarahi habis-habisan oleh Miranda. Ia kemudian mengeluhkan hal tersebut kepada Nigel, direktur seni Runway, yang menegaskan bahwa Andy sebenarnya belum berusaha cukup keras. Nigel kemudian membantu Andy memilih pakaian yang lebih modis agar sesuai dengan lingkungan kerja di Runway yang sangat menekankan penampilan. Melihat peningkatan komitmen Andy dan keberhasilannya mendapatkan manuskrip Harry Potter yang belum terbit untuk kedua anak kembar Miranda, Miranda mulai memberinya tugas-tugas yang lebih penting. Andy pun dengan cepat melampaui kinerja Emily, yang sangat ingin mendampingi Miranda ke Paris Fashion Week sebagai asisten pribadi. Demi mempersiapkan acara itu, Emily menjalani diet ekstrem yang membahayakan kesehatannya. Suatu ketika, saat Emily datang bekerja dalam kondisi sakit dan lupa menyebutkan nama tamu penting di sebuah acara amal, Andy turun tangan dan menyelamatkan Miranda dari rasa malu. Kesibukan Andy mulai mengganggu hubungannya dengan pacarnya, Nate, terutama setelah ia pulang larut malam pada hari ulang tahun Nate.
Bagusnya kinerja Andy membuat Miranda mulai menjadikannya asisten utama ketimbang Emily sehingga akhirnya memilih Andy untuk menemaninya ke Paris Fashion Week. Emily terkejut sekaligus marah karena Andy seharusnya tidak menerima tawaran tersebut. Sementara itu, kepergian Andy ke Paris membuat keretakan hubungannya dengan Nate mencapai puncaknya, sehingga Andy meminta agar mereka berpisah untuk sementara waktu. Di Paris, Andy mengetahui bahwa suami Miranda menggugat cerai Miranda. Malam itu, Nigel mengabarkan bahwa ia menerima tawaran sebagai direktur kreatif untuk desainer muda James Holt. Andy kemudian menghabiskan malam bersama penulis tampan, Christian Thompson, yang memberitahunya bahwa Jacqueline Follet—pemimpin redaksi Runway versi Prancis—sedang dipersiapkan untuk menggantikan Miranda. Andy mencoba memperingatkan Miranda, tetapi mendapat tanggapan yang dingin. Dalam sebuah jamuan makan, Miranda mengumumkan Jacqueline sebagai direktur kreatif baru Holt. Belakangan, Miranda mengungkap bahwa ia sudah mengetahui rencana penggulingan itu dan rela mengorbankan ambisi Nigel demi mempertahankan posisinya. Andy muak dengan pengkhianatan Miranda terhadap Nigel, tetapi Miranda menegaskan bahwa Andy pun melakukan hal serupa pada Emily. Tak ingin berubah menjadi sosok seperti Miranda, Andy pergi dengan marah. Saat Miranda mencoba meneleponnya, Andy melempar ponselnya ke Fontaines de la Concorde.
Kembali di New York, Andy bertemu Nate yang baru saja diterima sebagai sous-chef di Boston. Mereka sepakat untuk tetap berhubungan. Pada hari yang sama, Andy menjalani wawancara di surat kabar New York Mirror. Sang editor menceritakan bahwa ketika ia meminta referensi ke Runway, Miranda menyebut Andy sebagai asisten paling mengecewakan yang pernah ia miliki—dan bahwa hanya orang bodoh yang akan merekrutnya. Editor tersebut merasa Andy pasti melakukan hal yang benar sehingga keluar dari perusahaan itu. Setelah diterima bekerja, Andy menelepon Emily dan menawarkan pakaian yang ia dapatkan di Paris. Saat berjalan melewati gedung Runway, Andy melihat Miranda dan melambaikan tangan. Miranda tidak membalas, tetapi tersenyum kecil begitu duduk di dalam mobilnya.
Pemeran
- Meryl Streep sebagai Miranda Priestly, pemimpin redaksi majalah Runway (berdasarkan Anna Wintour)
- Anne Hathaway sebagai Andrea "Andy" Sachs, seorang jurnalis yang bercita-cita tinggi dan asisten kedua Miranda (berdasarkan Lauren Weisberger)
- Emily Blunt sebagai Emily Charlton, asisten pertama Miranda (berdasarkan Leslie Fremar)
- Stanley Tucci sebagai Nigel Kipling, direktur mode Runway yang berperan seperti mentor bagi Andy
- Simon Baker sebagai Christian Thompson, seorang jurnalis tampan terkenal yang menyukai Andy
- Adrian Grenier sebagai Nate Cooper, pacar Andy
- David Marshall Grant sebagai Richard Sachs, ayah Andy
- James Naughton sebagai Stephen, suami Miranda
- Tracie Thoms sebagai Lily, teman Andy
- Daniel Sunjata sebagai James Holt, seorang perancang busana
- Rebecca Mader sebagai Jocelyn, seorang editor Runway
- Rich Sommer sebagai Doug, teman Andy
- Tibor Feldman sebagai Irv Ravitz, ketua Runway
- Jimena Hoyos sebagai Lucia, seorang editor Runway
- Gisele Bündchen sebagai Serena, seorang anggota staf Runway
- John Rothman sebagai Greg Hill, seorang editor di Mirror New York
- Stéphanie Szostak sebagai Jacqueline Follet, pemimpin redaksi edisi Prancis Runway
- Colleen Dengel sebagai Caroline Priestly, Putri Miranda dan saudara kembar identik Cassidy
- Suzanne Dengel sebagai Cassidy Priestly, putri Miranda dan saudara kembar identik Caroline
- Ines Rivero sebagai karyawan modis di lift
- Alyssa Sutherland sebagai karyawan modis
- Paul Keany sebagai kepala pelayan St. Regis
- David Callegati sebagai Massimo, seorang desainer Italia
Heidi Klum, Valentino Garavani, dan Bridget Hall tampil sebagai cameo sebagai diri mereka sendiri. Robert Verdi muncul sebagai jurnalis mode di Paris yang mewawancarai Miranda, sementara penampilan tanpa kredit termasuk Giancarlo Giammetti, penulis novel asli Lauren Weisberger sebagai pengasuh si kembar, dan Nigel Barker.
Produksi
Fox membeli hak atas novel Weisberger sebelum naskah prosa buku tersebut selesai ditulis. Carla Hacken, yang saat itu menjabat sebagai wakil presiden eksekutif studio, hanya membaca seratus halaman pertama dari naskah serta garis besar alur cerita lanjutannya.[5] Sutradara David Frankel dan produser Wendy Finerman membaca The Devil Wears Prada dalam bentuk proposal buku.[6] Frankel mengenang pengalaman tersebut sebagai proyek dengan risiko tinggi, karena merupakan proyek terbesar yang pernah mereka tangani dengan sumber daya yang nyaris terbatas.[5]
Weisberger diyakini menjadikan Miranda berdasarkan sosok Anna Wintour, pemimpin redaksi Vogue, tempat ia pernah bekerja sebagai asisten pribadi. Kekhawatiran akan kemungkinan aksi balasan dari Wintour terhadap pihak yang terlihat bekerja sama dengan produksi ini menimbulkan hambatan baik di industri mode maupun industri film.[7][8]
Penulisan
Ketika buku tersebut menjadi laris, beberapa elemen alur cerita diadaptasi ke dalam skenario. Sebagian besar terinspirasi dari film Ben Stiller tahun 2001, Zoolander, yang menyindir industri mode.[5] David Frankel ditunjuk sebagai sutradara meskipun pengalamannya terbatas, di mana dia hanya pernah membuat satu film panjang, Miami Rhapsody, serta beberapa episode Sex and the City dan Entourage.[9] Ia menyebut Unzipped, film dokumenter tahun 1995 tentang desainer Isaac Mizrahi yang konyol sekaligus serius menjadi model dasar dari sikap film ini terhadap dunia mode. [10]
Dalam sebuah pertemuan dengan Finerman, Frankel menyatakan bahwa menurutnya cerita tersebut terlalu menghukum Miranda.[5] Ia sempat bersiap untuk beralih dan mempertimbangkan naskah lain. Dua hari kemudian, manajernya membujuknya untuk meninjau kembali dan mencari sesuatu yang ia sukai serta bisa ia bentuk menjadi film. Frankel akhirnya menerima pekerjaan itu, memberikan catatan rinci pada naskah dan menyusun visi detail untuk film.[9]
Empat penulis skenario mengerjakan proyek ini. Peter Hedges menulis draf pertama, kemudian diteruskan oleh penulis lain. Paul Rudnick mengerjakan beberapa adegan Miranda, diikuti oleh penulisan ulang oleh Don Roos.[9] Aline Brosh McKenna, yang mengaitkan pengalaman masa mudanya dengan cerita ini,[9][11] menghasilkan draf yang mampu menyeimbangkan pandangan Finerman dan Frankel. Catatan mereka dimasukkan ke dalam versi akhir, dengan penataan ulang alur cerita secara signifikan,[5] dan memusatkan kisah pada konflik antara Andy dan Miranda.[12][9] McKenna mengurangi kekejaman Miranda atas permintaan Finerman dan Frankel, namun kemudian mengembalikannya pada Streep.[6] Ia menyebut Don Rickles sebagai pengaruh utama dalam gaya penghinaan yang ditulisnya.[13] McKenna juga berkonsultasi dengan rekan-rekan di dunia mode untuk membuat skenarionya lebih realistis, meskipun sulit karena mereka tidak ingin menyinggung Wintour. Weisberger menyatakan bahwa draf McKenna menjauhkan film ini dari arah "chick flick" khas yang semula dituju.[7]
Pidato sweter biru samudra
Dalam "pidato biru samudra",[14] Miranda mengaitkan mode rancangan desainer yang ditampilkan di halaman Runway dengan sweter biru samudra milik Andy, sambil mengkritik sikap Andy yang meremehkan dunia mode.[13] Streep mengatakan bahwa adegan tersebut sebenarnya berbicara tentang pemasaran dan bisnis.[2][a] McKenna mengingat bahwa ia memperluas bagian tersebut agar sesuai dengan Streep dan Frankel.[13][16] Pidato tersebut kemudian menjadi salah satu momen paling berkesan dalam film.[14][17] Morwenna Ferrier, dalam The Guardian, sepakat bahwa mode memiliki arti, bahkan bagi orang-orang yang mengaku "tidak peduli dengan tren".[18] Mic menulis bahwa pidato tersebut berfungsi sebagai kritik terhadap apropriasi budaya.[19]
"Florals? For spring? Groundbreaking!"
Tanggapan sarkastik Miranda terhadap usulan cerita Jocelyn mengenai motif bunga musim semi cetak dianggap sebagai salah satu kalimat terbaik dalam film.[20][21][22] McKenna menulis adegan tersebut dengan Streep sebagai pertimbangan utama. Naskah ditulis dengan kata "florals." dan "spring." Streep mengucapkannya dengan intonasi naik seolah-olah diakhiri tanda tanya. McKenna menilai cara Streep mengucapkan "florals" memiliki resonansi yang sama dengan kalimat sebelumnya, "By all means move at a glacial pace; you know that thrills me." Menurutnya, "Kalimat itu seakan menampar wajah Anda dengan lembut, perlahan meruntuhkan rasa percaya diri."[20]
Pemilihan pemeran
Michelle Pfeiffer, Glenn Close, dan Catherine Zeta-Jones dipertimbangkan untuk memerankan karakter Miranda.[7] Streep hampir tidak dipilih karena ada anggapan bahwa ia bukan aktris yang lucu.[23] Pemilihan Streep membantu mengatasi kesulitan yang muncul akibat penolakan Wintour terhadap film ini.[7] Streep merasa bayaran yang awalnya ditawarkan terlalu rendah. Para produser kemudian menggandakan jumlahnya menjadi sekitar 4 juta dolar,[2] dan ia menandatangani kontrak, memungkinkan Fox untuk memberi lampu hijau pada produksi film.[5]
Untuk peran Andy, Fox menginginkan seorang aktris muda kelas A, dan merasa Rachel McAdams, yang saat itu baru saja meraih kesuksesan lewat Mean Girls dan The Notebook, akan membantu prospek komersial film. McAdams menolak beberapa tawaran untuk memerankan Andy.[5] Kate Hudson ditawari peran tersebut tetapi menolak karena bentrok jadwal dengan You, Me and Dupree.[24] Kirsten Dunst, Natalie Portman, dan Scarlett Johansson juga dipertimbangkan.[7] Anne Hathaway secara aktif mengejar peran tersebut, bahkan menuliskan "Hire me" di pasir taman zen di meja Hacken ketika berbicara tentang proyek ini dengan eksekutif. Meskipun Frankel cukup menyukainya sehingga tidak meminta audisi, Hathaway merasa dirinya bukan pilihan utama studio dan harus bersabar.[5][6]
Lebih dari 100 aktris dipertimbangkan untuk peran Emily sebelum seorang agen pemeran merekam Emily Blunt membaca beberapa dialog di area studio Fox setelah audisinya untuk Eragon. Ia membacanya dengan aksen Inggris aslinya, yang menarik perhatian Frankel[5] karena ia menyukai selera humor Blunt.[12] Setelah pembuat Eragon memilih Sienna Guillory, Frankel menghubungi Blunt dan mengatakan bahwa meskipun ia sudah cukup yakin hanya dari rekaman tersebut, studio tetap ingin melihat audisi dengan Blunt yang berpakaian lebih sesuai karakter.[5] Blunt bersikeras tetap memerankan karakter tersebut dengan aksen Inggris.[25]
Tucci menyetujui untuk memerankan Nigel hanya tiga hari sebelum pengambilan gambar dimulai.[5][7] Para pembuat film sebelumnya telah menguji direktur kreatif Barneys Simon Doonan dan E! Robert Verdi, keduanya pria gay yang terbuka dan dikenal luas sebagai komentator mode di media. Graham Norton dari BBC juga mengikuti audisi,[26] selain 150 aktor lainnya.[7] Verdi mengatakan tidak ada niat untuk merekrutnya dan para produser hanya menggunakan dirinya dan Doonan untuk memberikan rekaman referensi bagi aktor yang akhirnya dipilih agar dapat memerankan karakter gay; Tucci mengatakan ia tidak mengetahui hal ini. Ia membangun karakter tersebut berdasarkan berbagai orang yang dikenalnya, dan bersikeras menggunakan kacamata yang akhirnya ia kenakan.[27]
Daniel Sunjata sebenarnya kurang bersemangat saat membaca naskah untuk peran Tucci, tetapi kemudian mencoba peran Holt dan meminta agar ia bisa mengikuti audisi untuk itu. Simon Baker mengikuti audisi dengan mengirimkan video dirinya, mengenakan jaket hijau rancangan sendiri yang sama seperti yang ia kenakan saat pertama kali bertemu Andy.[28] Colleen dan Suzanne Dengel, yang memerankan putri Miranda, dipilih dua minggu setelah mengikuti audisi untuk Frankel dan Finerman.[29]
Wintour dikabarkan memperingatkan para desainer mode ternama bahwa mereka akan dilarang tampil di majalah jika muncul dalam film ini, meskipun juru bicara Wintour membantah klaim tersebut.[30] Para desainer justru membantu produksi dengan memberikan informasi latar.[7] Valentino Garavani, yang merancang gaun malam hitam yang dikenakan Miranda dalam adegan acara amal di museum, tampil sebagai cameo;[30] ia kebetulan berada di New York City saat produksi berlangsung dan Finerman menantang desainer kostum Patricia Field, yang mengenal Valentino, untuk memintanya secara langsung tampil dalam film.[31] Cameo lainnya termasuk Heidi Klum sebagai dirinya sendiri dan Weisberger sebagai pengasuh si kembar.[32] Gisele Bündchen setuju tampil dengan syarat ia tidak memerankan seorang model.[28]
Pengambilan gambar

Pengambilan gambar utama berlangsung selama 57 hari di New York dan Paris,[28] dimulai pada 17 September 2005 dan berakhir pertengahan Desember 2005.[33] Anggaran film awalnya sebesar 35 juta dolar dan hanya direncanakan untuk pengambilan gambar di New York.[2] Dewan di banyak gedung apartemen menolak memberikan izin penggunaan lokasi sebagai kediaman Miranda karena pengaruh Wintour.[7] Ballhaus menyusun banyak pengambilan gambar dengan latar suasana jalanan sibuk New York untuk menonjolkan kemewahan industri mode. Ia menggunakan kamera genggam di kantor Miranda untuk menampilkan alur aksi dengan lebih dinamis, serta teknik gerak lambat untuk adegan masuknya Andrea setelah menjalani perubahan penampilan.[28] Setelah enam minggu, Frankel berhasil meyakinkan studio untuk menambah anggaran guna pengambilan gambar terbatas di Paris. Namun, demi penghematan biaya, Streep tidak ikut serta.[5][2]
Akting
Para aktor berkumpul di New York untuk pembacaan naskah bersama. Hathaway merasa gugup, tetapi Blunt mengatakan bahwa tawa Streep membuatnya cukup rileks sehingga ia bisa tetap fokus memerankan Emily yang gugup dan mudah teralihkan. Sorotan utama sesi tersebut adalah kalimat pertama Streep sebagai Miranda, ketika ia membuat ruangan hening dengan berbicara hampir berbisik.[5] Devil merupakan satu-satunya film Streep yang menggunakan pendekatan akting metode, dengan tetap menjadi karakter yang diperankan di sela-sela pengambilan gambar.[7] Ia tidak menirukan Wintour secara langsung.[34][25][6] Ungkapan-ungkapan khas "that's all,"[35] "please bore someone else …"[36]; aksi melempar mantel ke meja Andrea[37] dan makan siang steak yang ditinggalkan[38] diambil dari novel. Streep kehilangan begitu banyak berat badan selama pengambilan gambar sehingga pakaiannya harus dikecilkan.[34] Pada 2016, ia mengatakan kepada Variety bahwa gaya bicara lembut Miranda ia ambil dari Clint Eastwood, sementara selorohnya terinspirasi dari sutradara Mike Nichols. "untuk cara berjalan, sayangnya itu gaya saya sendiri," tambah Streep.[5]
Untuk penampilan Miranda, gaya rambut mengembang terinspirasi dari aktris Carmen Dell'Orefice, dipadukan dengan "keanggunan dan wibawa tak tergoyahkan dari [politikus Prancis] Christine Lagarde".[5][13] Streep menginginkan rambut Miranda berwarna putih, yang awalnya ditakuti para produser akan membuatnya terlihat terlalu tua, tetapi studio mempercayainya.[7] Ketika McKenna pertama kali melihat Streep sebagai Miranda di lokasi syuting, ia mengingat betapa takutnya ia hingga refleks mengangkat tangan di depan Frankel "seperti kami sedang mengalami kecelakaan mobil".[13] Hathaway mempersiapkan perannya dengan menjadi sukarelawan selama seminggu sebagai asisten di sebuah balai lelang.[39] Sang sutradara mengatakan Hathaway "sangat gugup" sebelum memulai adegan pertamanya bersama Streep, yang memulai hubungan kerja dengan Hathaway dengan mengatakan, "Saya rasa kamu sangat cocok untuk peran ini dan saya senang kita akan bekerja bersama," lalu memperingatkan bahwa itu adalah satu-satunya hal baik yang akan ia katakan.[40] Adegan ketika Andy menyerahkan maket majalah yang sedang disusun, menurut keluarga Dengel sepenuhnya merupakan improvisasi.[29]
Kostum
Frankel menyadari bahwa busana yang dikenakan para pemeran akan menjadi hal yang sangat penting.[41] Streep mengenang bahwa industri mode "takut pada Anna [Wintour], sehingga kami tidak mendapatkan pinjaman pakaian dari para desainer".[8] Walau hanya Valentino Garavani yang tampil di layar, tetapi banyak desainer lain yang turut membantu.[42] Frankel mengingat bahwa keputusan Prada untuk membantu Field "membantunya mencairkan suasana".[7]
Anggaran kostum sebesar 100.000 dolar Amerika ditambah dengan bantuan dari rekan-rekan Field di industri, ia memperkirakan bahwa pakaian senilai satu juta dolar tampil di layar.[43] Barang termahal adalah kalung Fred Leighton milik Streep senilai 100.000 dolar Amerika,[42] yang menyamakan keberhasilan Field dalam menata kostum dengan efek khusus dalam film Mission: Impossible.[7]
Ketika Hathaway masuk setelah Nigel memberinya akses ke lemari Runway, ia mengenakan busana lengkap dari Chanel. Field menjelaskan bahwa ia merasa Hathaway "secara alami adalah gadis Chanel", dan perusahaan tersebut senang membantu membangun citra mudanya.[44] Sebagian besar busana yang tampil di layar adalah pinjaman; Streep bahkan tidak bisa makan spageti saat makan siang dengan salah satu gaun agar bisa dikembalikan dalam keadaan bersih.[7] Namun, seperti Wintour dan pendahulunya di Vogue, Diana Vreeland, keduanya memberi Miranda tampilan khas dengan wig putih dan poni.[6][45]
Blunt dan Streep hanya mengenakan sepatu kostum mereka ketika ditampilkan secara penuh, sementara di luar itu mereka memakai alas kaki yang lebih nyaman seperti Uggs. Hathaway selalu mengenakan sepatu yang diberikan kepadanya. "[Dia berlari] di jalan berbatu seperti kambing gunung kecil yang lincah," kenang Blunt.[7]

Field membedakan gaya busana Andy dan Emily dengan memberi Andy gaya yang aman, seolah-olah pakaian yang dia kenakan adalah pakaian yang biasanya ada di majalah mode untuk pemotretan.[7] Sementara Blunt, menurut Field, gaya pakaiannya tergolong ekstrem dan sedikit nyentrik[46] Untuknya, Field memilih busana karya Vivienne Westwood dan Rick Owens yang memiliki selera pada pakaian yang lebih unik dan tidak umum.[47] Setelah film dirilis, beberapa gaya tersebut menjadi populer, yang membuat para pembuat film terhibur.[32][48] Tucci memuji keterampilan Field dalam menyusun busana yang tidak hanya bergaya tetapi juga secara halus membantunya mengembangkan karakter.[27] Tucci menemukan satu dasi Dries van Noten yang ia kenakan dalam film dan menyimpannya karena ia menyukainya.[27]
Desain produksi
Setelah meninjau kantor majalah mode, Jess Gonchor menghadirkan tampilan serba putih bersih pada kantor Runway yang dirancang menyerupai kotak bedak.[28] Kantor Miranda dibuat mirip dengan kantor Wintour, lengkap dengan cermin segi delapan, foto-foto, dan rangkaian bunga di atas meja.[49] Gonchor mengatakan kepada Women's Wear Daily bahwa ia mendasarkan set tersebut pada foto kantor Wintour yang ditemukan secara daring; Wintour kemudian mendekorasi ulang kantornya setelah film dirilis.[50] Pada 2021, Frankel mengatakan bahwa Gonchor berhasil menyelinap ke kantor Vogue untuk melihat kantor Wintour. "Mereka membuatnya benar-benar, benar-benar mirip," kata Weisberger.[7] Gonchor memilih wallpaper komputer yang berbeda untuk menonjolkan karakter Blunt dan Hathaway: gambar Arc de Triomphe di Paris pada komputer Blunt menunjukkan aspirasinya untuk mendampingi Miranda ke pertunjukan di sana, sementara gambar bunga pada komputer Andy mencerminkan sifat alami dan sederhana yang ia tunjukkan saat mulai bekerja di majalah. Untuk foto Andy bersama orang tuanya, Hathaway berpose dengan ibunya sendiri dan David Marshall Grant.[28] Kembar Dengel mengatakan bahwa selama tiga tahun mereka ditanya setiap hari apakah salinan awal Harry Potter itu asli, tetapi sebenarnya "semuanya omong kosong". Mereka melelangnya seharga 586 dolar Amerika di eBay, bersama dengan pakaian yang digunakan dalam film, untuk mendukung amal Dress for Success.[29]

Lokasi
Banyak lokasi pengambilan gambar berada di New York, termasuk kafetaria Reuters di Manhattan,[28] sementara apartemen Nate dan Andy berada di Lower East Side,[32][51] dan Andy naik kereta bawah tanah di Spring Street lalu turun di 51st Street.[51] Restoran steak Smith & Wollensky beserta dapurnya digunakan,[28] sementara studio Holt adalah loteng yang memang digunakan oleh seorang desainer.[32] American Museum of Natural History digunakan sebagai eksterior acara amal museum, sedangkan lobi gedung pengadilan di Foley Square digunakan sebagai interiornya.[28] Ruang redaksi New York Mirror tempat Andy diterima bekerja di akhir film sebenarnya adalah ruang redaksi New York Sun yang kini sudah tidak beroperasi.[28]
Kru hanya berada di Paris selama dua hari, dan hanya menggunakan lokasi eksterior. Streep tidak ikut dalam perjalanan tersebut.[6] Semua interior hotel diambil di St. Regis di Manhattan. Pertunjukan mode difilmkan di soundstage di Queens. Demikian pula, hotel tempat Christian menginap adalah W Hotel di Times Square.[28]
Pasca produksi
Penyuntingan
Mark Livolsi menyadari, sebagaimana McKenna di sisi lain, bahwa film ini bekerja paling baik ketika berfokus pada alur cerita Andrea–Miranda. Karena itu, ia memotong sejumlah adegan transisi, seperti wawancara kerja Andrea dan kunjungan staf Runway ke studio Holt. Ia juga menghapus adegan awal ketika Miranda memuji Andrea. Saat meninjau ulang untuk DVD, Frankel mengakui bahwa ia bahkan belum pernah melihat adegan-adegan tersebut sebelumnya, karena Livolsi tidak menyertakannya dalam cetakan apa pun yang dikirimkan kepada sang sutradara.[52]
Frankel memuji Livolsi atas keberhasilannya membuat empat montase utama dalam film—kredit pembuka, adegan Miranda melempar mantel, perubahan penampilan Andrea, dan pengenalan Paris—berfungsi dengan baik. Montase ketiga menjadi tantangan tersendiri karena menggunakan mobil yang lewat dan berbagai penghalang lain untuk menutupi pergantian busana Hathaway. Beberapa adegan bahkan diciptakan di ruang penyuntingan, seperti resepsi di museum, di mana Livolsi menyisipkan cuplikan B-roll untuk menjaga alur tetap mengalir.[28]
Pada 2021, McKenna memperkirakan bahwa ia telah menyetujui pemotongan adegan senilai 10 juta dolar Amerika. Adegan pembuka yang memperlihatkan Andy masuk ke gedung yang salah saat menuju wawancara dihapus agar cerita bisa dimulai lebih cepat. Adegan ketika ia melewatkan ulang tahun Nate awalnya lebih rumit, dengan rencana pasangan itu bertemu teman-teman mereka di sebuah konser, tetapi hal itu terbukti terlalu mahal sehingga diganti dengan adegan kue mangkuk. "Kami memiliki banyak versi adegan itu." Selain itu, sebuah akhir alternatif untuk alur pasangan tersebut—di mana mereka membicarakan masa depan hubungan sambil berlari di taman—telah difilmkan, tetapi akhirnya diganti dengan adegan yang lebih pesimistis di restoran.[7]
Soundtrack
Komposer Theodore Shapiro banyak mengandalkan gitar dan perkusi, dengan dukungan penuh orkestra, untuk menghadirkan nuansa suara urban kontemporer. Ia menulis total 35 menit musik untuk film ini, yang dibawakan dan direkam oleh Hollywood Studio Symphony, dipimpin oleh Pete Anthony.[53]
Karyanya dipadukan dengan lagu-lagu dari U2 ("City of Blinding Lights", adegan Miranda dan Andy di Paris), Madonna ("Vogue" dan "Jump", masing-masing untuk montase mode Andrea dan hari pertamanya bekerja), KT Tunstall ("Suddenly I See", montase perempuan pada kredit pembuka), Alanis Morissette ("Crazy", pemotretan di Central Park), Bitter:Sweet ("Our Remains", Andy mengambil sketsa James Holt untuk Miranda, "Bittersweet Faith", pameran seni Lily), Azure Ray ("Sleep", setelah hubungan Andy dan Nate berakhir), Jamiroquai ("Seven Days in Sunny June", Andy dan Christian bertemu di pesta James Holt), serta beberapa lainnya. Frankel ingin menggunakan "City of Blinding Lights" setelah sebelumnya memakainya sebagai latar musik montase video Paris yang ia buat saat survei lokasi.[28] Demikian pula, Field sangat mendukung penggunaan "Vogue".[47]
Album soundtrack dirilis pada 11 Juli 2006 oleh Warner Music. Album ini memuat sebagian besar lagu yang disebutkan di atas, serta rangkaian tema karya Shapiro. Di antara trek yang tidak disertakan adalah "Suddenly I See", sebuah kelalaian yang mengecewakan banyak penggemar.[54]
Pra-perilisan dan pemasaran
Awalnya video cuplikan buatan Frankel hanya dimaksudkan untuk meyakinkan Fox agar mendanai pengambilan gambar di Paris. Namun, cuplikan itu justru mendorong studio untuk memberikan dukungan pemasaran yang lebih kuat bagi film ini. Tanggal perilisan dipindahkan dari Februari ke musim panas, dijadwalkan sebagai alternatif tontonan ringan bagi penonton yang mempertimbangkan untuk menonton Superman Returns pada akhir Juni 2006, dan mulai diposisikan sebagai tayangan unggulan tersendiri.[5]
Dua keputusan dari departemen pemasaran studio yang awalnya bersifat sementara ternyata menjadi bagian penting dalam promosi film. Yang pertama adalah pembuatan poster teaser berupa sepatu hak tinggi merah yang ujungnya berakhir dengan garpu tiga. Poster ini sangat berhasil dan efektif, bahkan disebut hampir "ikonik" oleh Finerman, sehingga akhirnya digunakan juga sebagai poster rilis resmi. Poster tersebut menjadi identitas merek dan kemudian digunakan di semua media terkait film—termasuk cetak ulang novel, album soundtrack, serta sampul DVD.[6]
Studio juga menyusun trailer berisi adegan dan gambar dari tiga menit pertama film, ketika Andy pertama kali bertemu Miranda, untuk digunakan dalam penayangan perdana dan festival film hingga mereka dapat membuat trailer standar yang mencakup keseluruhan film. Namun, trailer ini terbukti sangat efektif bagi penonton awal sehingga tetap dipertahankan sebagai trailer utama, karena mampu membangun antisipasi terhadap keseluruhan film tanpa membocorkan jalan cerita.[6]
Gabler memuji tim pemasaran studio karena "sangat kreatif". Fox melihat film ini sebagai "counter-programming" pada akhir pekan ketika Superman Returns dirilis. Mereka menyadari bahwa materi film dan kehadiran Hathaway akan menarik penonton perempuan muda yang mungkin kurang tertarik menonton film tersebut, tetapi "kami tidak ingin film ini hanya tampak seperti chick flick yang kebetulan dirilis".[55]
Penerimaan

Box office
Pada akhir pekan pembukaan tanggal 30 Juni, tepat sebelum libur Hari Kemerdekaan, film ini diputar di 2.847 layar. Hingga Minggu, 2 Juli, film tersebut meraup 27 juta dolar AS, hanya kalah dari Superman Returns yang berbiaya besar,[56] memecahkan rekor enam tahun milik The Patriot sebagai perolehan terbesar oleh film yang dirilis pada akhir pekan libur tersebut tanpa menempati posisi pertama,[57] sebuah rekor yang bertahan hingga Ice Age: Dawn of the Dinosaurs memecahkannya pada 2009.[58]
Pada pekan pertamanya film ini menambah 13 juta dolar AS. Hal ini mendorong Fox menambah 35 layar lagi pada akhir pekan berikutnya, distribusi domestik terluas yang pernah dicapai film tersebut. Meskipun tidak pernah menjadi film dengan pendapatan tertinggi mingguan, film ini tetap berada di 10 besar sepanjang Juli. Masa tayang di bioskop berlanjut hingga 10 Desember, tak lama sebelum perilisan DVD.[59]
“Pemasaran film ini pada dasarnya jelas ditujukan kepada perempuan,” kenang Gabler, “tetapi para pria tidak menolak untuk menonton film ini.” Ia merasa penonton laki-laki merespons positif karena mereka ingin melihat sisi dalam dunia mode, dan karena Miranda “menyenangkan untuk ditonton”. Tanggal perilisan membantu menghasilkan dari mulut ke mulut di acara kumpul keluarga saat liburan. “Mereka membicarakannya, seperti buku bacaan musim panas,” kata Gabler.[55]
Film ini meraih kesuksesan di bioskop, dengan pendapatan 125 juta dolar AS di Amerika Serikat dan Kanada serta 327 juta dolar AS di seluruh dunia,[1] menjadi pencapaian tertinggi dalam karier ketiga aktris utama saat itu. Streep melampauinya dua tahun kemudian lewat Mamma Mia[60] sementara Hathaway melampauinya pada 2010 lewat Alice in Wonderland.[61][b] Blunt baru tampil dalam film dengan pendapatan lebih tinggi pada 2014 lewat Edge of Tomorrow.[63][c] Film ini merupakan karya dengan pendapatan tertinggi Tucci hingga Captain America: The First Avenger (2011).[65]
Internasional

Novel Weisberger telah diterjemahkan ke dalam 37 bahasa, memberikan film ini potensi besar untuk menarik penonton internasional. Perolehan box office internasional menyumbang 60% dari total pendapatan film. “Kami mengadakan pemutaran perdana Eropa di Festival Film Venesia,” kata Gabler, di mana para gondolier kota tersebut mengenakan kaus merah dengan logo film. “Begitu banyak orang di seluruh dunia yang terpesona oleh dunia mode yang berkilau. Itu terasa glamor dan internasional.”[55]
Film ini menempati puncak tangga box office pada perilisan Eropa tanggal 9 Oktober. Pada akhir pekan itu, film ini menjadi yang berpendapatan tertinggi di Britania Raya, Spanyol, dan Rusia, dengan perolehan 41,5 juta dolar AS.[66] Film ini juga dibuka dengan kuat di seluruh Eropa, membuatnya tetap berada di puncak tangga box office internasional sepanjang bulan.[67][68][69] Film ini tayang perdana di Tiongkok pada akhir Februari 2007, dengan perolehan 2,4 juta dolar AS.[70] Bagian terbesar dari total pendapatan internasional sebesar 201,8 juta dolar AS berasal dari Britania Raya dengan 26,5 juta dolar AS, diikuti Jerman dengan 23,1 juta dolar AS, Italia 19,3 juta dolar AS, dan Prancis 17,9 juta dolar AS. Di luar Eropa, Jepang menjadi pasar terbesar dengan 14,6 juta dolar AS, disusul Australia dengan 12,6 juta dolar AS.[70]
Sebagian besar ulasan dari pers internasional memuji Streep dan para aktor lainnya, tetapi menyebut film ini “mudah ditebak”.[71] The Guardian melalui Peter Bradshaw, yang menilai film ini “cukup menghibur”, mengkritik Blunt dengan menyebutnya sebagai “kekecewaan nyata… kaku dan canggung”.[72] Dalam The Independent, Anthony Quinn mengatakan Streep “mungkin saja telah memberikan sebuah karya klasik di sini” dan menyimpulkan bahwa film ini “segar dan renyah seperti permen karet baru”.[73]
Tanggapan kritikus
The Devil Wears Prada mendapat ulasan positif dari para kritikus.[74][75][76] Di situs web agregator pengulas Rotten Tomatoes, 75 dari 196 ulasan kritikus positif, dengan peringkat rata-rata 6.9/10. Konsensus situs web menyatakan: "Film langka yang berhasil melampaui kualitas novel aslinya, Si Iblis ini adalah sindiran cerdas tentang hiruk-pikuk dunia mode New York. Meryl Streep tampil dalam performa terbaiknya, sementara Anne Hathaway sama sekali tidak kalah bersaing."[77] Di Metacritic, film ini memperoleh skor rata-rata tertimbang 62 dari 100, berdasarkan 40 ulasan kritikus, yang menunjukkan "ulasan umumnya positif".[78] Penonton yang disurvei oleh CinemaScore memberikan nilai rata-rata "B" pada skala A+ hingga F.[79]
Ulasan awal film ini terutama menyoroti penampilan Streep, yang dipuji karena mampu menjadikan karakter yang sangat tidak simpatik menjadi jauh lebih kompleks dibandingkan versi novel. "Dengan rambut perak dan kulit pucat, diksi berbisik yang sempurna seperti posturnya, Miranda versi Streep menimbulkan rasa takut sekaligus kekaguman," tulis A. O. Scott di The New York Times. "Ia tidak lagi sekadar perwujudan kejahatan, melainkan kini menjadi gambaran anggun yang aristokrat, penuh tujuan, dan mengejutkan karena tetap manusiawi".[80]
David Edelstein, dalam majalah New York, mengkritik film ini sebagai "dangkal", tetapi memuji Streep atas "penampilan minimalis yang luar biasa".[81] J. Hoberman, mantan kolega Edelstein di The Village Voice, menyebut film ini sebagai peningkatan dibandingkan novelnya dan mengatakan Streep adalah "penjahat perempuan paling menakutkan, penuh nuansa, sekaligus paling lucu sejak Tilda Swinton memerankan bernuansa Nazi White Witch dalam The Chronicles of Narnia: The Lion, the Witch and the Wardrobe.[82]
Blunt juga mendapat perhatian positif. "[Dia] memiliki banyak dialog terbaik dalam film dan hampir selalu mencuri perhatian di setiap adegan yang ia mainkan," tulis Clifford Pugh di Houston Chronicle.[83] Kritikus lain dan para penggemar sependapat.[84][85] Meskipun semua kritikus sepakat mengenai Streep dan Blunt, mereka juga menyoroti kelemahan lain, khususnya pada alur cerita. Kritikus yang mengenal novel Weisberger sependapat dengan penilaiannya bahwa naskah McKenna jauh lebih baik dibandingkan novel.[86][80] Pengecualian datang dari Angela Baldassare di Microsoft Network Kanada, yang merasa film ini membutuhkan lebih banyak sisi kejam sebagaimana yang dikatakan orang lain banyak terdapat dalam novel.[87]
Beberapa ulasan menggambarkan film ini sebagai dangkal atau kurang memiliki kedalaman tema, lebih menekankan pada kemewahan permukaan dibandingkan komentar tentang pekerjaan, ambisi, dan kekuasaan.[88] David Denby dalam The New Yorker menulis "The Devil Wears Prada menceritakan kisah yang familiar, dan tidak pernah benar-benar menyelami lebih dalam dari apa yang ingin disampaikan. Namun, permukaannya luar biasa!"[86] Denby mengatakan Hathaway "dengan hanya satu lirikan panik ke samping, mampu menyampaikan apa yang Weisberger butuh berhalaman-halaman untuk menggambarkannya",[86] sementara Baldassare menilai ia "hampir tidak mampu menanggung beban".[87]
Penggambaran industri mode
Beberapa media memberi kesempatan kepada wartawan mode mereka untuk mengomentari film tersebut. Booth Moore dari Los Angeles Times menegur Field karena menciptakan sebuah "fantasi fesyen yang indah namun tidak banyak berkaitan dengan kenyataan". Ia mengatakan bahwa para pencinta mode cenderung jarang memakai riasan dan lebih menghargai gaya berpakaian yang berani (tidak termasuk cincin jari kaki).[89] Field menanggapi bahwa film tersebut bukanlah sebuah dokumenter.[43] Penulis mdoe Hadley Freeman dari The Guardian mengeluhkan bahwa film itu dipenuhi seksisme dan klise.[90] Charla Krupp, editor eksekutif SHOP, Inc., menulis, "Ini adalah film pertama yang saya lihat yang benar-benar tepat… [Film ini] menangkap nuansa politik dan ketegangan lebih baik daripada film mana pun—serta intrik dan sikap menjilat."[42] Joanna Coles, editor edisi Amerika Serikat Marie Claire, sependapat bahwa film tersebut "secara brilian menyindir tipe perempuan muda tertentu yang hidup, bernapas, dan berpikir tentang mode di atas segalanya".[42] Ginia Bellefante dari The New York Times menyebutnya "dengan mudah menjadi penggambaran paling nyata tentang budaya mode sejak Unzipped (1995)".[91] Rekannya, Ruth La Ferla, melaporkan bahwa orang-orang dalam industri menilai fesyen dalam film tersebut terlalu aman dan kecantikan yang ditampilkan terlalu dilebih-lebihkan.[43]
Anna Wintour

Anna Wintour menghadiri pemutaran perdana film di New York dengan mengenakan Prada. Temannya, Barbara Amiel, melaporkan bahwa Wintour mengatakan film tersebut akan langsung dirilis dalam bentuk DVD.[92] Frankel mengenang bahwa putri Wintour terus meyakinkan ibunya bahwa film tersebut menggambarkan banyak hal dengan tepat.[7] Dalam sebuah wawancara dengan Barbara Walters, Wintour menyebut film itu “sangat menghibur” dan mengatakan ia menghargai sifat “tegas” dari penampilan Streep.[4] Streep mengatakan Wintour “mungkin lebih terganggu oleh bukunya daripada filmnya”.[93] Popularitas Wintour melonjak setelah penggambaran dirinya dalam film. Streep mengatakan ia tidak mendasarkan karakternya pada Wintour, melainkan terinspirasi oleh pria-pria yang pernah ia kenal.[94] Frankel mengatakan bahwa pada sebuah turnamen tenis di Miami setelah film dirilis, Wintour menolak untuk menjabat tangannya.[7] Pada 2025, Wintour menyatakan, “Saya menonton film itu, dan saya merasa sangat terhibur. Filmnya sangat lucu. Penuh humor. Penuh kecerdikan. Ada Meryl Streep. Maksud saya, ada Emily Blunt, [dan] mereka semua luar biasa. Pada akhirnya, saya pikir itu adalah gambaran yang adil.”[95] Streep dan Wintour tampil bersama di sampul majalah Vogue pada 2026 untuk mempromosikan The Devil Wears Prada 2.[8]
Media rumah
DVD dirilis pada 12 Desember 2006 dengan komentar audio, sebuah adegan salah berdurasi lima menit yang bersifat humoris,[96] serta lima featurette.[97] Blu-ray Disc dirilis bersamaan, tetapi tanpa featurette.[98]
Penerimaan
Segera setelah dirilis pada 12 Desember, DVD ini menjadi film sewaan teratas di Amerika Serikat. Posisi tersebut bertahan hingga akhir tahun, menambah 26,5 juta dolar AS pada pendapatan film. Pada akhir Maret, DVD ini keluar dari 50 besar, dengan pendapatan hampir dua kali lipat.[99] Pada pekan berikutnya, DVD ini debut di tangga penjualan DVD pada posisi ketiga. Hingga akhir 2007, DVD ini telah terjual hampir 5,6 juta unit, dengan total penjualan mencapai 94,4 juta dolar AS.[100]
Adegan yang dihapus
Beberapa adegan yang dihapus menambahkan latar belakang, dengan komentar dari penyunting dan sutradara. Sebagian besar dihapus oleh Livolsi.[52] Frankel menyetujui pilihan penyuntingnya, kecuali pada satu adegan yang memperlihatkan Andy saat menjalankan tugas di ruang pamer Calvin Klein. Ia merasa adegan tersebut menunjukkan bahwa pekerjaan Andrea lebih dari sekadar menjalankan urusan pribadi Miranda.[52] Versi berbeda dari adegan di gala ditemukan kembali oleh Spencer Althouse, manajer komunitas BuzzFeed. Dalam adegan itu, alih-alih Andy mengingatkan Miranda tentang nama seorang tamu setelah Emily yang sakit tidak mampu melakukannya, suami Miranda muncul dan melontarkan komentar kasar tidak hanya kepada istrinya tetapi juga kepada Ravitz, kepala Elias-Clarke. Andy mendapat ucapan “terima kasih” tanpa kata dari Miranda ketika ia membantu mencegah konfrontasi semakin memanas dengan mengalihkan perhatian Ravitz melalui pertanyaannya sendiri.[101]
Dampak budaya dan warisan
Pada 2016, Vanity Fair mencatat bagaimana beberapa film yang lebih diingat justru dikalahkan oleh film-film yang tidak mampu bertahan dalam ujian waktu. Majalah tersebut menyebut kemenangan Superman Returns atas The Devil Wears Prada sebagai kemenangan yang "paling ironis".[102] Pada 2025, film ini terpilih dalam edisi "Pilihan Pembaca" dari daftar The New York Times berjudul "100 Film Terbaik Abad ke-21", menempati peringkat ke-111.[103]
Dolce & Gabbana dan Calvin Klein membantu Field dengan kontribusi dari desainer Lebanon Georges Chakra.[104] Meskipun Field menghindari membuat Streep terlihat seperti Wintour, ia tetap mengenakan banyak busana Prada.[105] Field mengatakan ia tidak ingin orang dengan mudah mengenali apa yang dikenakan Miranda.[47]
Pemeran
Variety menilai bahwa film ini memberikan keuntungan bagi ketiga aktris utamanya. Film tersebut membuktikan bahwa Streep mampu menjadi daya tarik box office secara mandiri, membuka peluang baginya untuk memimpin film musim panas seperti Mamma Mia! (2008) dan Julie & Julia (2009). Bagi Hathaway, ini merupakan peran utama pertamanya dalam sebuah film untuk penonton dewasa. Para produser berikutnya terkesan karena ia mampu tampil seimbang beradu akting dengan Streep, yang kemudian membawanya mendapatkan peran-peran lebih serius seperti Rachel Getting Married (2008) dan Les Misérables (2012), yang membuatnya meraih Oscar.[5]
Hathaway meyakini bahwa karier Blunt melejit berkat perannya dalam film ini, dengan mengatakan "Saya belum pernah menyaksikan lahirnya seorang bintang sebelumnya." Blunt setuju bahwa itu merupakan "perubahan besar" baginya — sehari setelah film dirilis, ia mengatakan kepada Variety bahwa para staf di kedai kopi tempat ia biasa sarapan setiap pagi di Los Angeles tiba-tiba mengenalinya. Bahkan sepuluh tahun kemudian, menurutnya orang-orang masih mengutip dialognya dari film ini setidaknya sekali dalam seminggu.[5]
Meski industri mode sempat khawatir bahwa bekerja sama dengan produksi film ini akan menyebabkan pengucilan dari Vogue, baik Hathaway maupun Streep tetap beberapa kali tampil di sampul majalah tersebut setelahnya.[8]
Budaya populer dan masyarakat
Film ini memberikan dampak yang bertahan lama pada budaya populer. Pada 2009, The Simpsons menampilkan sebuah episode berjudul "The Devil Wears Nada" yang memparodikan beberapa adegan. Versi Amerika dari The Office memulai sebuah episode dengan Steve Carell sebagai Michael Scott menirukan Miranda setelah menonton film tersebut di Netflix. Pada episode ke-18 musim ke-14 Keeping Up with the Kardashians, Kris Jenner berdandan sebagai Miranda, menampilkan persona 'Boss Lady'-nya.[106][107] Pada 2019, laporan mengenai Minnesota Senator Amy Klobuchar, yang saat itu mencalonkan diri sebagai kandidat Demokrat untuk pemilihan presiden, dikabarkan memperlakukan stafnya dengan buruk dan membuat tuntutan yang tidak masuk akal, sehingga beberapa penulis membandingkannya dengan Miranda.[108][109]
Pada 2008, The New York Times menulis bahwa film ini telah membentuk citra publik tentang seorang asisten pribadi.[110] Tujuh tahun kemudian, Francesca Mari dari Dissent menyebut The Devil Wears Prada sebagai narasi paling dikenal tentang profesi asisten.[111] Setahun berikutnya, ketika menulis tentang usulan perubahan peraturan lembur federal Amerika Serikat yang mengancam praktik tersebut, Times menyebutnya sebagai "ekonomi Devil Wears Prada".[112]
Pada peringatan 10 tahun film, Alyssa Rosenberg menulis di The Washington Post bahwa Miranda telah mendahului tokoh antihero perempuan dalam serial televisi populer seperti Olivia Pope dalam Scandal dan Cersei Lannister dalam Game of Thrones. Seperti mereka, Miranda digambarkan mampu memegang posisi otoritas meskipun memiliki kelemahan moral, dan harus mempertahankannya dari upaya menjatuhkannya melalui kehidupan pribadinya. Namun, dalam proses itu, "ia mengurung dirinya dalam kehidupan yang teratur dan terbatas seperti rok pensil ketat".[113]
Lima tahun kemudian, Mekia Rivas di Harper's Bazaar mengkritik penggambaran hubungan Miranda dan Andy yang dianggap memperkuat keyakinan keliru bahwa seorang perempuan muda hanya mendapat satu kesempatan besar dalam karier, sehingga harus menerimanya apa pun yang harus ditanggung dari atasannya. Pada saat film dirilis, Rivas mencatat bahwa "bos wanita" yang diwujudkan oleh Miranda dipandang berpotensi merevolusi dunia kerja. Rivas menggambarkan Miranda sebagai "atasan yang benar-benar beracun yang pada akhirnya lebih tertarik mempertahankan status quo daripada melakukan perubahan, meskipun memiliki semua kekuasaan dan otoritas untuk melakukannya. Ia ingin Andy percaya bahwa menolak dirinya berarti akhir dari kariernya, meskipun ia tahu Andy memiliki semua potensi untuk berhasil tanpa dirinya atau koneksinya".[114]
"Seperti banyak klasik instan, Prada diuntungkan oleh waktu yang tepat," tulis artikel Variety tahun 2016, yang mencoba menjelaskan daya tarik film ini yang bertahan lama. "Film ini menandai awal dari demokratisasi industri mode—ketika masyarakat luas mulai memperhatikan bisnis dari apa yang mereka kenakan." Artikel tersebut juga menilai film ini membantu membangkitkan minat terhadap Ugly Betty, adaptasi Amerika dari telenovela Kolombia Yo soy Betty, la fea, yang tayang perdana beberapa bulan setelah film dirilis.[5]
Film ini dianggap telah meningkatkan minat terhadap R.J. Cutler melalui film dokumenter The September Issue, yang mengikuti Wintour dan para editor Vogue lainnya saat mereka menyiapkan edisi bulan September 2007.[5] Menulis di The Ringer pada peringatan sepuluh tahun, Alison Herman mencatat bahwa "The Devil Wears Prada mengubah citra Wintour dari sekadar figur publik menjadi ikon budaya". Sebelumnya dikenal terutama sebagai editor mode, kini ia digambarkan sebagai "setiap atasan yang pernah Anda keluhkan setelah beberapa gelas di happy hour, hanya untuk kembali patuh mengambilkan kopinya keesokan harinya". Pada akhirnya, Herman berpendapat bahwa film ini membawa perubahan positif pada citra Wintour, "dari seorang tiran berbulu chinchilla menjadi idola bagi era pasca-Sandberg".[14]
Saat film ini berusia 10 tahun, artikel Variety tahun 2016 menyatakan, "[Penggambaran tersebut] menunjukkan kepada Hollywood bahwa tidak pernah bijak meremehkan nilai seorang perempuan yang tangguh".[5]
Antipati terhadap Nate

Pada 2021, Grenier berbicara tentang bagaimana Nate akhirnya dipandang sebagai “penjahat sebenarnya” dalam film tersebut.[7] Pratishruti Ganguly, menulis untuk Firstpost, menggambarkannya sebagai “bukan hanya pacar yang tidak percaya diri, ia juga menghakimi, beracun, dan menjijikkan”.[115] “Ia mengejek minat baru Andy pada mode, meremehkan majalah tempatnya bekerja, dan mengabaikan kerja kerasnya,” tulis Entertainment Weekly pada 2017, mengumpulkan unggahan media sosial yang mengkritik karakter tersebut. Banyak orang, termasuk penulis artikel itu, merasa sangat terganggu karena Nate memarahi Andy yang tidak hadir di pesta ulang tahunnya meskipun Andy memiliki alasan yang kuat yaitu karena pekerjaan. McKenna membela karakter tersebut: “[Yang] orang fokuskan adalah bahwa ia mencoba membatasi ambisi Andy [...] Tetapi ambisi itu mengarah pada sesuatu yang sebenarnya tidak benar-benar ia yakini, jadi ia punya alasan”.[116]
Pada peringatan 15 tahun film, Grenier menanggapi: “Ketika semua itu pertama kali muncul, saya tidak bisa memahami sepenuhnya.” Ia akhirnya menyadari bahwa saat itu ia memiliki banyak kesamaan dengan karakter Nate dan, seperti Nate, belum sepenuhnya dewasa. “Setelah meluangkan waktu untuk merenung dan banyak diskusi daring, saya bisa menerima kebenaran dari sudut pandang itu… Ia tidak bisa mendukung Andy seperti yang dibutuhkan karena ia masih seorang pemuda rapuh yang terluka.” Hathaway lebih memaklumi, dengan menekankan bahwa siapa pun bisa bersikap cemberut sesekali.[7]
Sekuel
Pada 2013, Weisberger menulis sekuel novel berjudul Revenge Wears Prada: The Devil Returns. Namun, tampaknya kecil kemungkinan akan dibuat adaptasi film dari novel tersebut, atau sekuel apa pun, karena dua bintang utama film tidak begitu antusias. Streep dikabarkan mengatakan bahwa ia tidak tertarik dengan sekuel, sementara Hathaway menyatakan bahwa ia bersedia bekerja dengan orang-orang yang sama, tetapi proyek tersebut harus berupa "sesuatu yang benar-benar berbeda".[5] Pada Juli 2024, dilaporkan bahwa Walt Disney Studios mulai mengembangkan sekuel pada tahap awal. Frankel dikabarkan sedang dalam pembicaraan untuk kembali sebagai sutradara, sementara McKenna dan Finerman ditetapkan kembali sebagai penulis naskah dan produser.[117]
The Devil Wears Prada 2 dirilis pada 1 Mei 2026 oleh 20th Century Studios. Film ini mengikuti kisah Miranda yang menavigasi kariernya dan kembalinya Andy ke Runway di tengah kemunduran penerbitan majalah tradisional, serta mempertemukannya kembali dengan Emily, yang kini menjadi eksekutif tinggi di sebuah grup mewah dengan pendanaan iklan yang dibutuhkan Runway.[118] Streep, Hathaway, Blunt, dan Tucci kembali memerankan karakter mereka, dengan Kenneth Branagh, Lucy Liu, Justin Theroux, B. J. Novak, Simone Ashley, dan Pauline Chalamet bergabung sebagai tambahan pemeran baru.[119][120]
Catatan
- ↑ Dalam sebuah tulisan yang membandingkan alur film dengan mitos Psyche, akademisi Janet Brennan Croft menyatakan bahwa pidato tersebut "membalikkan anggapan bahwa mode, yang dianggap sebagai puncak pekerjaan feminin, adalah hal yang sepele", sebuah prasangka yang dimiliki Andy dan menjadi tugas Miranda untuk meluruskannya, sebagaimana peran Aphrodite dalam mitos asli dan tokoh ibu-mentor dalam narasi "perjalanan pahlawan perempuan" lainnya: "Monolog Miranda tentang warna 'sweter biru kusut Andy dan posisinya dalam jaringan ekonomi luas (yang ia akui secara pribadi mengendalikannya) merayakan kekuatan feminin."[15]
- ↑ Pada 2008, Get Smart melampaui pendapatan domestik Devil tetapi jauh lebih rendah di luar negeri.[62]
- ↑ Pada tahun yang sama, adaptasi film dari musikal Broadway Into the Woods (juga dibintangi Streep) melampaui pendapatan domestik Devil tetapi jauh lebih rendah di luar negeri.[64]
Referensi
- 1 2 3 "The Devil Wears Prada". Box Office Mojo. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 23 Februari 2011. Diakses tanggal 6 Juni 2026.
- 1 2 3 4 5 Thompson, Anne (1 Juli 2016). "'The Devil Wears Prada' At 10: Meryl Streep and More on How Their Risky Project Became a Massive Hit". Indiewire. hlm. 2. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 19 April 2023. Diakses tanggal 7 Juli 2016.
- ↑ "'Devil Wears Prada' will open L.A. Film Festival". Los Angeles Times. 31 Mei 2006.
- 1 2 Walters, Barbara (December 12, 2006). "The 10 Most Fascinating People of 2006". ABC News. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal December 13, 2006. Diakses tanggal June 9, 2018.
- 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 Setoodeh, Ramin (23 Juni 2016). "'The Devil Wears Prada' Turns 10: Meryl Streep, Anne Hathaway and Emily Blunt Tell All". Variety. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 3 Desember 2019. Diakses tanggal 3 Juli 2016.
- 1 2 3 4 5 6 7 8 Grove, Martin A. (28 Juni 2006). "Oscar-Worthy 'Devil Wears Prada' Most Enjoyable Film in Long Time". The Hollywood Reporter. Diarsipkan dari asli tanggal 8 Juli 2006. Diakses tanggal 13 Juli 2016.
- 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 Nolfi, Joey (14 Juni 2021). "The Devil Wears Prada oral history: Cast reunites to dish on making the best-dressed hit". Entertainment Weekly. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 23 Juni 2021. Diakses tanggal 24 Juni 2021.
- 1 2 3 4 D'Addario, Daniel (7 April 2026). "Why Is Anna Wintour on the Cover of Vogue for 'The Devil Wears Prada 2'?". Variety (dalam bahasa American English). Diakses tanggal 6 Juni 2026.
- 1 2 3 4 5 Thompson, Anne (1 Juli 2016). "'The Devil Wears Prada' At 10: Meryl Streep and More on How Their Risky Project Became a Massive Hit". IndieWire. hlm. 1. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 9 Juni 2018. Diakses tanggal 9 Juni 2018.
- ↑ Merin, Jennifer (13 Desember 2006). "Jennifer Merin interviews David Frankel re 'The Devil Wears Prada'". New York Press. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 27 Juni 2016. Diakses tanggal 14 Juli 2016 – via Alliance of Women Film Journalists.
- ↑ Callaghan, Dylan (2006). "Clothes Encounters". Writers Guild of America, West. Diarsipkan dari asli tanggal 27 Mei 2008. Diakses tanggal 13 Juli 2016.
- 1 2 Finerman, Wendy (2006). "Trip to the Big Screen" on The Devil Wears Prada (DVD). Amerika Serikat: 20th Century Fox.
- 1 2 3 4 5 Miller, Julie (29 Juni 2016). "How Meryl Streep Terrified The Devil Wears Prada's Screenwriter". Vanity Fair. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2 Juli 2016. Diakses tanggal 7 Juli 2016.
- 1 2 3 Herman, Alison (30 Juni 2016). "Everybody Wants to Be Us". The Ringer. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 26 Februari 2024. Diakses tanggal 9 Juli 2016.
- ↑ Croft, Janet Beecher (2012). "Psyche in New York: The Devil Wears Prada Updates the Myth" (PDF). Mythlore. 30 (3/4): 55–69. Diarsipkan (PDF) dari versi aslinya tanggal 28 Februari 2023. Diakses tanggal 16 Mei 2019.
- ↑ McKenna, Aline Brosh (Desember 2005). "The Devil Wears Prada – Second Blue in Progress – 12/00/05" (PDF). hlm. 45–46. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 30 Maret 2019. Diakses tanggal 20 April 2021.
- ↑ Wang, Connie (5 September 2017). "Stop Quoting The Cerulean Speech Because It's Not Even Right". Refinery 29. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 7 Juni 2024. Diakses tanggal 7 Juni 2024.
- ↑ Ferrier, Morwenna (14 Agustus 2018). "Why is everyone still talking about this cerulean blue jumper?". The Guardian. Diakses tanggal 24 September 2020.
- ↑ Lubitz, Rachel (30 Juni 2016). "How, In One Monologue, 'The Devil Wears Prada' Nailed the Cultural Appropriation Issue". Mic. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 30 November 2020. Diakses tanggal 24 September 2020.
- 1 2 Zuckerman, Esther (13 Juni 2019). "How Aline Brosh McKenna Wrote One of the Best Lines of the 21st Century for 'The Devil Wears Prada'". Thrillist. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 8 Juni 2024. Diakses tanggal 8 Juni 2024.
- ↑ Ziss, Sophy (14 April 2023). "Florals For Spring That Are Groundbreaking, Thank You Very Much". E!. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 8 Juni 2024. Diakses tanggal 8 Juni 2024.
- ↑ Hall, Amalissa (19 Mei 2023). "Florals? For spring? It can be groundbreaking when done right—here's how to wear this motif in 2023". Tatler. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 8 Juni 2024. Diakses tanggal 8 Juni 2024.
- ↑ Sharf, Zack (8 Desember 2023). "Meryl Streep's 'Devil Wears Prada' Casting Got Pushback, Producer Was Told: 'Are You Out of Your Mind? She's Never Been Funny a Day in Her Life'". Variety. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 11 Desember 2023. Diakses tanggal 11 Desember 2023.
- ↑ Tinoco, Armando (21 Februari 2025). "Kate Hudson Regrets Not Making Time To Star In 'The Devil Wears Prada': "That Was A Bad Call"".
- 1 2 Davies, Hugh (September 9, 2006). "Meryl Streep plays the Devil her own way". The Daily Telegraph. Diarsipkan dari asli tanggal November 7, 2007. Diakses tanggal Juni 9, 2018.
- ↑ Stanley Tucci on Graham Norton, "The Graham Norton Show 2011 S8x19 Stanley Tucci, Miriam Margolyes, Jimmy Carr Part 2. Diarsipkan dari asli tanggal Maret 13, 2017. Diakses tanggal Agustus 22, 2017.
- 1 2 3 Lamphier, Jason. "Playing Devil's Advocate". Out. Diarsipkan dari asli tanggal 12 Oktober 2007. Diakses tanggal 1 Januari 2021.
- 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 Frankel, David (2006). Commentary track pada The Devil Wears Prada [DVD]. USA: 20th Century Fox.
- 1 2 3 Blackmon, Michael (11 Mei 2017). "12 Things You Need To Know About The Twins From "The Devil Wears Prada"". BuzzFeed. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 11 Mei 2017. Diakses tanggal 11 Mei 2017.
- 1 2 "The Devil You Know, On Line One". Radar Intelligence. 9 November 2005. Diarsipkan dari asli tanggal 6 Mei 2006. Diakses tanggal 1 Juli 2006.
- ↑ Field, Patricia. (2006). "Getting Valentino" pada The Devil Wears Prada [DVD]. USA: 20th Century Fox.
- 1 2 3 4 Finerman, Wendy. (2006). Commentary track pada The Devil Wears Prada [DVD]. USA: 20th Century Fox.
- ↑ "The Devil Wears Prada". American Film Institute. Diakses tanggal 12 April 2026.
- 1 2 Streep, Meryl (31 Januari 2007). "Exclusive Interview: Meryl Streep". Who. Pacific Magazines. Diarsipkan dari asli tanggal 30 Agustus 2007. Diakses tanggal 30 April 2017.
I wanted the freedom to make this person up
- ↑ Weisberger 2003, hlm. 80.
- ↑ Weisberger 2003, hlm. 204.
- ↑ Weisberger 2003, hlm. 201.
- ↑ Weisberger 2003, hlm. 150–51.
- ↑ Young, Sage (30 Juni 2016). "What Meryl Streep Was Like On 'The Devil Wears Prada' Set, According To Author Lauren Weisberger". Bustle. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 13 Februari 2018. Diakses tanggal 7 Juli 2016.
- ↑ Hill, Amelia; 8 Oktober 2006; "The secret of success? Kindness "; The Observer; diakses 10 Januari 2007.
- ↑ Frankel, David (2006). "NYC and Fashion" on The Devil Wears Prada (DVD). Amerika Serikat: 20th Century Fox.
- 1 2 3 4 "Meet the acid queen of New York fashion". The Guardian. 25 Juni 2006. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 4 Januari 2008. Diakses tanggal 9 Juni 2018.
- 1 2 3 La Ferla, Ruth (29 Juni 2006). "The Duds of 'The Devil Wears Prada'". The New York Times. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 12 Juni 2018. Diakses tanggal 10 Juni 2018.
- ↑ Smith, C. Molly (30 Juni 2016). "The Makeover Ensemble". Entertainment Weekly. Diarsipkan dari asli tanggal 7 Juli 2016. Diakses tanggal 9 Juli 2016.
- ↑ Nordstrom, Leigh (22 Februari 2016). "'The Devil Wears Prada' Turns Ten: Talking With Costumer Patricia Field". Women's Wear Daily. Diakses tanggal 7 Juli 2016.
- ↑ Field, Patricia (2006). "NYC and Fashion" on The Devil Wears Prada (DVD). Amerika Serikat: 20th Century Fox.
- 1 2 3 Field, Patricia (2006). Commentary track on The Devil Wears Prada [DVD]. Amerika Serikat: 20th Century Fox.
- ↑ McKenna, Aline Brosh (2006). Commentary track on The Devil Wears Prada [DVD]. Amerika Serikat: 20th Century Fox.
- ↑ "Photographs of office". www.oficinadeestilo.com.br. Diarsipkan dari asli tanggal 25 November 2006.
- ↑ Lee, Helen (6 Agustus 2006). "Anna Wintour Redecorates Her Office Because of The Devil Wears Prada". Sassybella.com. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 6 Januari 2017. Diakses tanggal 9 Mei 2017.
- 1 2 Yandoli, Krystie Lee; Rackham, Casey (30 Juni 2016). "This Is What 'The Devil Wears Prada' Looks Like in Real Life". BuzzFeed. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 1 Juli 2016. Diakses tanggal 3 Juli 2016.
- 1 2 3 Frankel, David and Livolsi, Mark, commentary on deleted scenes on The Devil Wears Prada [DVD]. USA: 20th Century Fox.
- ↑ Goldwasser, Dan (3 Mei 2006). "Theodore Shapiro scores The Devil Wears Prada". Scoring-sessions.net. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 12 Juni 2018. Diakses tanggal 9 Juni 2018.
- ↑ Customer reviews, as of December 12, 2006; The Devil Wears Prada Diarsipkan 11 Oktober 2007 di Wayback Machine. soundtrack; amazon.com; retrieved December 18, 2006.
- 1 2 3 Thompson, Anne (1 Juli 2016). "'The Devil Wears Prada' At 10: Meryl Streep and More on How Their Risky Project Became a Massive Hit". IndieWire. hlm. 3. Diakses tanggal 9 Juni 2018.
- ↑ "30 Juni–2 Juli 2006". Box Office Mojo. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 6 Agustus 2016. Diakses tanggal 12 Juli 2016.
- ↑ "30 Juni–2 Juli 2000". Box Office Mojo. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 17 Agustus 2016. Diakses tanggal 12 Juli 2016.
- ↑ "3–5 Juli 2009". Box Office Mojo. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 18 Juni 2016. Diakses tanggal 12 Juli 2016.
- ↑ "The Devil Wears Prada". Box Office Mojo. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 19 Januari 2016. Diakses tanggal 12 Juli 2016.
- ↑ "Meryl Streep Movie Box Office". Boxofficemojo. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 22 September 2018. Diakses tanggal 12 Juli 2020.
- ↑ "Anne Hathaway Movie Box Office". Boxofficemojo. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 22 September 2018. Diakses tanggal 18 Juli 2020.
- ↑ "Get Smart". Boxofficemojo. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 24 Februari 2018. Diakses tanggal 5 Juli 2016.
- ↑ "Emily Blunt Movie Box Office". Boxofficemojo. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 14 Juli 2019. Diakses tanggal 12 Juli 2020.
- ↑ "Into the Woods". Box Office Mojo. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 8 Desember 2015. Diakses tanggal 28 November 2015.
- ↑ "Stanley Tucci Movie Box Office". Boxofficemojo. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 16 November 2017. Diakses tanggal 12 Juli 2020.
- ↑ Bresnan, Conor (9 Oktober 2006). "Around the World Roundup: 'Prada' Prances to the Top". Box Office Mojo. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 12 Juni 2018. Diakses tanggal 10 Juni 2018.
- ↑ Bresnan, Conor (16 Oktober 2006). "Around the World Roundup: 'Prada' Parade Continues". Box Office Mojo. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2 Februari 2007. Diakses tanggal 8 Januari 2007.
- ↑ Bresnan, Conor (23 Oktober 2006). "Around the World Roundup: 'Prada' Struts to Third Victory". Box Office Mojo. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2 Februari 2007. Diakses tanggal 8 Januari 2007.
- ↑ Bresnan, Conor (30 Oktober 2006). "Around the World Roundup: 'Prada' Still in Vogue". Box Office Mojo. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 29 Juli 2010. Diakses tanggal 8 Januari 2007.
- 1 2 "The Devil Wears Prada By Country". Box Office Mojo. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 13 Maret 2016. Diakses tanggal 12 Juli 2016.
- ↑ French, Philip (8 Oktober 2006). "The Devil Wears Prada". The Guardian. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 29 Agustus 2024. Diakses tanggal 10 Juni 2018.
- ↑ Bradshaw, Peter (5 Oktober 2006). "The Devil Wears Prada". The Guardian. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 29 Agustus 2024. Diakses tanggal 10 Juni 2018.
- ↑ Quinn, Anthony (6 Oktober 2006). "The Devil Wears Prada (PG) Claws out, dressed to kill". The Independent. Diarsipkan dari asli tanggal 8 November 2006. Diakses tanggal 10 Juni 2018.
- ↑ Cartwright, Lexie (1 Desember 2021). "Simon Baker's awkward response to The Devil Wears Prada question". The New Zealand Herald. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 18 Juli 2024. Diakses tanggal 18 Juli 2024.
The Devil Wears Prada received largely positive reviews
- ↑ Eames, Tom (13 September 2023). "The Devil Wears Prada Musical by Elton John is coming to London". Smooth Radio. Diakses tanggal 8 Januari 2025.
The movie was released in 2006 and received positive reviews from critics, especially for Streep's performance
- ↑ Juvet, Aedan (18 Juni 2025). "Emily Blunt Says The Devil Wears Prada Sequel Will Film in July". Bleeding Cool. Diakses tanggal 8 Januari 2025.
received generally positive reviews for its performances and satirical tone
- ↑ "The Devil Wears Prada". Rotten Tomatoes. Fandango Media. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 9 Mei 2026. Diakses tanggal 14 Mei 2026.

- ↑ "The Devil Wears Prada". Metacritic. Fandom, Inc. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 13 Juli 2024. Diakses tanggal 13 Juli 2024.
- ↑ "Cinemascore". Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 20 Desember 2018.
- 1 2 Scott, A. O. (30 Juni 2006). "In 'The Devil Wears Prada,' Meryl Streep Plays the Terror of the Fashion World". The New York Times. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 12 Juni 2018. Diakses tanggal 9 Juni 2018.
- ↑ Edelstein, David. "The Devil Wears Prada". New York. Diarsipkan dari asli tanggal 22 September 2018. Diakses tanggal 10 Juni 2018.
- ↑ Hoberman, J.; 27 Juni 2006; Myths American Diarsipkan 5 Juli 2006 di Wayback Machine.; The_Village_Voice; retrieved 30 Juni 2006. Diarsipkan 5 Juli 2006 di Wayback Machine.
- ↑ Pugh, Clifford (30 Juni 2006). "The Devil Wears Prada More about runaway egos than runway ensembles". The Houston Chronicle. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 12 Juni 2018. Diakses tanggal 9 Juni 2018.
- ↑ Elliot, Michael. "A Movie Parable: The Devil Wears Prada". ChristianCritic. Diarsipkan dari asli tanggal 26 November 2006. Diakses tanggal 10 Juni 2018.
- ↑ Slezak, Michael (11 Agustus 2006). "Who's your favorite summer-movie scene stealer?". Entertainment Weekly. Diarsipkan dari asli tanggal 25 Desember 2006. Diakses tanggal 27 November 2021.
- 1 2 3 Denby, David (3 Juli 2006). "Dressed to Kill "The Devil Wears Prada"". The New Yorker. Diarsipkan dari asli tanggal 25 November 2006. Diakses tanggal 10 Juni 2018.
- 1 2 Baldassare, Angela. "The Devil Wears Predictability". Diarsipkan dari asli tanggal 14 Juni 2007.
- ↑ Siede, Caroline (9 November 2018). "The Devil Wears Prada pulls off the perfect romantic comedy look, even though it really isn't one". The A.V. Club. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 16 November 2018. Diakses tanggal 8 Januari 2025.
- ↑ Moore, Booth (30 Juni 2006). "This fashion world exists only in the movies". Los Angeles Times. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 1 Desember 2020. Diakses tanggal 10 Juni 2018.
- ↑ Freeman, Hadley (5 September 2006). "Prada and prejudice". The Guardian. Diakses tanggal 10 Juni 2018.
- ↑ Bellafante, Ginia (18 Juni 2006). "In 'The Devil Wears Prada,' It's Not Couture, It's Business (With Accessories)". The New York Times. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2 April 2019. Diakses tanggal 10 Juni 2018.
- ↑ Amiel, Barbara (2 Juli 2006). "The 'Devil' I know". The Telegraph. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 11 Januari 2022. Diakses tanggal 10 Juni 2018.
- ↑ Brockes, Emma (23 September 2006). "The devil in Ms Streep". The Guardian. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 3 Juli 2015. Diakses tanggal 10 Juni 2018.
- ↑ Wigham, Helen (30 Juni 2011). "Anna Wintour Reaction to The Devil Wears Prada". Vogue UK. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 7 November 2017. Diakses tanggal 5 November 2017.
- ↑ "Anna Wintour Reveals Thoughts on Meryl Streep's Character in 'The Devil Wears Prada'". Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 10 September 2025. Diakses tanggal 10 September 2025.
- ↑ Sommer, Rich (3 Januari 2007). "Fun". Vox. Diarsipkan dari asli tanggal 18 Januari 2008. Diakses tanggal 10 Juni 2018.
- ↑ "DVD Review: The Devil Wears Prada". Current Film. Diarsipkan dari asli tanggal 12 Februari 2007. Diakses tanggal 10 Juni 2018.
- ↑ Bracke, Peter (11 Desember 2006). "The Devil Wears Prada Blu-ray Review". Highdef Digest. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 12 Juni 2018. Diakses tanggal 10 Juni 2018.
- ↑ "The Devil Wears Prada (2006) – DVD/Home Video rentals". Box Office Mojo. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 4 Maret 2016. Diakses tanggal 13 Juli 2016.
- ↑ "The Devil Wears Prada: Weekly US DVD Sales". The Numbers. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 5 Agustus 2016. Diakses tanggal 13 Juli 2016.
- ↑ Weiner, Zoe (30 Agustus 2017). "This 'Devil Wears Prada' Deleted Scene Tells a Completely Different Story". Glamour. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 7 Oktober 2019. Diakses tanggal 7 Oktober 2019.
- ↑ Bradley, Laura (1 Juli 2016). "Independence Day Weekend Is for Blockbusters, Except When It Isn't". Vanity Fair. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 11 Juli 2016. Diakses tanggal 12 Juli 2016.
- ↑ "Readers Choose Their Top Movies of the 21st Century". The New York Times. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2 Juli 2025. Diakses tanggal 2 Juli 2025.
- ↑ "Flirting with the '20s". Lucire. 7 Juli 2009. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 18 Januari 2010. Diakses tanggal 27 Februari 2010.
- ↑ Fields, Patricia (28 Juni 2016). "10 Years After 'The Devil Wears Prada,' Patricia Field Explains How the Costumes Came Together". Racked.com. Diwawancarai oleh Elana Fishman. Vox Media. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 6 Agustus 2020. Diakses tanggal 9 Mei 2017.
- ↑ "The Kardashian Sisters Take a Break From Fertility Concerns by Playing Dress-Up". Thecut.com. 26 Februari 2018. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 29 Agustus 2024. Diakses tanggal 13 September 2018.
- ↑ "Too Many Miranda Priestlys!KUWTK". YouTube. 4 September 2018. Diarsipkan dari asli tanggal 2021-10-30.
- ↑ Timson, Judith (25 Februari 2019). "Maybe Amy Klobuchar needs to treat staffers better, but she can handle it". Toronto Star. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 11 Oktober 2019. Diakses tanggal 11 Oktober 2019.
- ↑ Torres, Monica (15 Februari 2019). "How to Tell When Your 'Tough Boss' Is Really A Toxic Boss". HuffPost. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 11 Oktober 2019. Diakses tanggal 11 Oktober 2019.
- ↑ Rozhon, Tracie (18 Maret 2008). "Upstairs, Downstairs and Above the Garage". The New York Times. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 17 Juli 2016. Diakses tanggal 6 Juli 2016.
The term 'personal assistant' has been degraded over the years and is now almost synonymous with the overworked, underpaid heroine of the movie and book The Devil Wears Prada.
- ↑ Mari, Francesca (Musim Semi 2015). "The Assistant Economy". Dissent. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 29 Agustus 2024. Diakses tanggal 13 Juli 2015.
- ↑ Scheiber, Noam (30 Mei 2016). "President Obama's Overtime Pay Plan Threatens the 'Prada' Economy". The New York Times. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 17 Juli 2016. Diakses tanggal 13 Juli 2016.
- ↑ Rosenberg, Alyssa (30 Juni 2016). "How 'The Devil Wears Prada' foreshadowed an age of antiheroines". The Washington Post. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 9 Juli 2016. Diakses tanggal 7 Juli 2016.
- ↑ Rivas, Mekita (1 Juli 2021). "The Devil Wears Prada and the Myth of the One and Only 'Big Break'". Harper's Bazaar. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 14 Juli 2021. Diakses tanggal 14 Juli 2021.
- ↑ "The Devil Wears Prada may be a pop-culture landmark, but it fails to be a feminist narrative". Firstpost (dalam bahasa Inggris). 14 Oktober 2020. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 12 Oktober 2023. Diakses tanggal 10 Oktober 2023.
- ↑ Schwarts, Dana (28 September 2017). "The Devil Wears Prada screenwriter knows everyone hates Nate". Entertainment Weekly. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 6 Oktober 2019. Diakses tanggal 6 Oktober 2019.
- ↑ Grobar, Matt (8 Juli 2024). "'The Devil Wears Prada' Sequel Scripted By Aline Brosh McKenna In Early Development At Disney". Deadline Hollywood. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 8 Juli 2024. Diakses tanggal 8 Juli 2024.
- ↑ Jackson, Angelique (23 Mei 2025). "'The Devil Wears Prada' Sequel Set for May 2026; Ridley Scott's 'The Dog Stars' Dated for March". Variety. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 23 Mei 2025. Diakses tanggal 23 Mei 2025.
- ↑ "'Devil Wears Prada 2' Starts Filming With Meryl Streep, Anne Hathaway, Emily Blunt and Stanley Tucci Returning; Kenneth Branagh Joins Cast". Variety. 30 Juni 2025. Diakses tanggal 30 Juni 2025.
- ↑ "'Devil Wears Prada 2' Adds Lucy Liu, Justin Theroux, B.J. Novak, Pauline Chalamet and More to Cast (EXCLUSIVE)". Variety. 8 Juli 2025. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 7 Januari 2026. Diakses tanggal 8 Juli 2025.
Buku
- Weisberger, Laura (2003). The Devil Wears Prada. New York: Broadway Books. ISBN 0-7679-1476-7.
Pranala luar
- The Devil Wears Prada di IMDb (dalam bahasa Inggris)
- (Inggris) The Devil Wears Prada di AllMovie
- The Devil Wears Prada di Rotten Tomatoes (dalam bahasa Inggris)
- (Inggris) The Devil Wears Prada di Metacritic
- (Inggris) The Devil Wears Prada di Box Office Mojo
Film yang disutradarai oleh David Frankel | |
|---|---|
|
| Films |
|
|---|---|
| Musical | |
| Character | |
