Revitalisasi Terminal Pinang Ranti dimulai pada 25 Juli 2014 dan pada awalnya ditargetkan selesai pada Desember 2014.[1] Proyek ini mencakup area seluas sekitar 6.065 meter persegi dan dikerjakan oleh kontraktor PT Karya Bisa.[1] Revitalisasi dilakukan bersamaan dengan pembaruan terminal lain di Jakarta Timur, seperti Terminal Rawamangun dan Terminal Klender.[1]
Program revitalisasi terminal ini merupakan bagian dari rencana Pemerintah Provinsi DKI Jakarta untuk memperbaiki prasarana transportasi publik. Biaya pembangunan Terminal Pinang Ranti berkisar sekitar Rp23 miliar,[2] sementara total revitalisasi 15 terminal di Jakarta memakan biaya 1,7 triliun Rupiah.[3]
Bangunan
Setelah revitalisasi, tata letak terminal menempatkan jalur masuk bus dan angkutan kota di sisi kiri bangunan, sedangkan jalur keluar berada di sisi kanan. Terminal ini dilengkapi dengan eskalator untuk menuju lantai dua bangunan utama. Namun, hanya eskalator untuk naik yang berfungsi, sementara eskalator turun tidak beroperasi. Selain itu, tangga di jalur keluar masih berupa tangga biasa tanpa eskalator.[4]
Pada Februari 2015, proses revitalisasi terminal telah relatif selesai.[2] Namun demikian, hingga September 2015, Terminal Pinang Ranti belum langsung beroperasi secara maksimal.[5]
Operasional
Terminal Pinang Ranti melayani beberapa jenis angkutan, termasuk angkutan kota dan bus antarkota. Perusahaan otobus yang beroperasi di terminal ini antara lain Agramas, Handoyo, Pelangi, Sumber Alam, Santoso, dan Tunggal Dara Putera dengan tujuan ke sejumlah kota di Indonesia.[4] Terminal Pinang Ranti jua menjadi terminus Koridor 9 Transjakarta, dengan keberadaan halte Transjakarta di terminal ini.[6]
Bus berukuran besar dapat keluar masuk terminal ini.[4] Namun, terdapat kendala pada jalur masuk yang relatif sempit sehingga pengemudi harus berhati-hati saat berbelok agar tidak terkena trotoar.[4] Kondisi tersebut dipengaruhi oleh lebar jalan serta posisi marka pembatas yang kurang mendukung manuver kendaraan besar.[4]