Sekitar 1 km ke arah timur dari stasiun ini terdapat Jembatan Sakalibel (Jembatan Kali Keruh) yang memiliki panjang 280 meter.[3] Jembatan ini merupakan jembatan KA terpanjang di Daop V.
Bangunan dan tata letak
Tempat penurunan penumpang di stasiun Bumiayu.
Awalnya, stasiun ini memiliki tiga jalur kereta api dengan jalur 2 merupakan sepur lurus ditambah dua sepur badug (satu di sisi timur dan satu di sisi barat stasiun). Sejak pengoperasian penuh jalur ganda segmen Kretek–Prupuk per 1 Desember 2011[4] dengan segmen parsial pada segmen Bumiayu–Prupuk, jumlah jalurnya bertambah menjadi empat. Jalur 2 sedikit digeser dan dijadikan sebagai sepur lurus untuk arah Kroya saja, jalur 3 juga sedikit digeser dan dijadikan sebagai sepur lurus hanya untuk arah Prupuk, dan jalur 4 ditambahkan pada sisi utara emplasemen stasiun sebagai sepur belok baru. Sepur badug di stasiun ini juga diubah sehingga menjadi ada satu di sisi barat (menyambung di jalur 4) dan satu di sisi timur (bercabang dari jalur 1).
G
Bangunan utama stasiun
Peron sisi, pintu terbuka di sebelah kanan kedatangan KA dari arah utara
Jalur 1
←
Pemberhentian kereta api antarkota ke arah selatan
Peron pulau, pintu terbuka di sebelah kanan kedatangan KA dari arah utara
Per Maret 2023 stasiun ini sudah dilengkapi kanopi sehingga para penumpang tidak lagi kepanasan ataupun kehujanan saat menunggu maupun naik turun kereta api. Peron di stasiun ini sedikit diperpanjang ke arah timur sehingga mempermudah para penumpang naik turun kereta api.
Layanan kereta api
Berikut ini adalah layanan kereta api yang berhenti di stasiun ini sesuai Gapeka 2025 revisi per 11 Maret 2026.[5]
Perjalanan KA menuju Cilacap hanya pada jadwal pagi, sedangkan relasi sebaliknya hanya pada jadwal siang.
Insiden
Pada tanggal 6 Maret2009 pukul 12.30, dua gerbongkereta api pengangkut BBM anjlok sekitar 300 meter dari Stasiun Bumiayu.[6] Tidak ada korban jiwa dalam peristiwa ini.[7]
Pada tanggal 11 Januari 2021 sekitar pukul 21.30 WIB, Jembatan Kali Glagah lama peninggalan kolonial yang terletak di petak Bumiayu–Linggapura ambruk karena diterjang banjir. Tidak ada korban jiwa dalam peristiwa ini, tetapi akibatnya selama beberapa hari kereta yang melewati petak tersebut sempat dialihkan ke lintas selatan Jawa melalui Bandung dan jalur utara melalui Semarang. Barulah keesokan harinya, jalur KA di petak tersebut dinyatakan sudah bisa dilewati, tetapi untuk sementara hanya satu jalur saja yang bisa digunakan.[8][9] Akhirnya per 15 April 2023, pembangunan jembatan baru sebagai pengganti jembatan lama tersebut rampung dikerjakan sehingga perjalanan kereta api di petak tersebut kembali normal.
Pada tanggal 6 April 2026 sekitar pukul 14.15, terjadi anjlokan KA 161 Bangunkarta di wesel barat Stasiun Bumiayu yang jaraknya sekitar 500 atau 600 meter dari Stasiun Bumiayu. Dan peristiwa tersebut menyebabkan tiga kereta keluar dari rel dan menggangu perjalan kereta maupun dari hulu atau hilir, bahkan terdapat rel yang patah akibat peristiwa ini.[10]
Galeri
Sisi barat Stasiun Bumiayu
Jalur 1 Stasiun Bumiayu (diambil dari KA Bengawan)
Papan nama utama Stasiun Bumiayu
Pegunungan Seribu yang terletak di sebelah timur Stasiun Bumiayu
Panorama Pegunungan Seribu dari Stasiun Bumiayu
Pegunungan Seribu setelah melewati Stasiun Bumiayu ke arah Stasiun Purwokerto
Suasana pada emplasemen Stasiun Bumiayu pada Oktober 2023