Gunung Padang adalah situs arkeologi yang terletak di Karyamukti, Jawa Barat, Indonesia, 50 kilometer (31mi) barat daya Cianjur. Terletak pada ketinggian 885 meter (2.904ft) di atas permukaan laut, situs ini meliputi sebuah bukit—sebuah gunung berapi yang sudah tidak aktif—dalam serangkaian lima teras yang dibatasi oleh dinding penahan batu yang dapat diakses melalui 370 anak tangga andesit yang berurutan dengan ketinggian sekitar 95 meter (312ft). Situs ini ditutupi oleh kolom-kolom batu heksagonal besar yang berasal dari gunung berapi.[1]Masyarakat Sunda menganggap situs ini suci dan percaya bahwa situs ini merupakan hasil upaya Prabu Siliwangi untuk membangun istana dalam satu malam.[2]
Kompleks utama situs ini memiliki luas sekitar 900 m², terletak pada ketinggian 885 meter dpl, dengan areal situs sekitar 3 ha, menjadikannya sebagai kompleks punden berundak terbesar di Asia Tenggara.[3]
Penemuan
Laporan pertama mengenai keberadaan situs ini dimuat pada Rapporten van de Oudheidkundige Dienst (ROD, "Buletin Dinas Kepurbakalaan") tahun 1914. Arkeolog dari Belanda, Nicolaas Johannes Krom, juga telah menyinggungnya pada tahun 1949.[4]
Setelah sempat "terlupakan", pada tahun 1979 tiga penduduk setempat, Endi, Soma, dan Abidin, melaporkan kepada Edi, Penilik Kebudayaan Kecamatan Campaka, mengenai keberadaan tumpukan batu-batu persegi besar dengan berbagai ukuran yang tersusun dalam suatu tempat berundak yang mengarah ke Gunung Gede.[5] Selanjutnya, bersama-sama dengan Kepala Seksi Kebudayaan Departemen Pendidikan Kebudayaan Kabupaten Cianjur, R. Adang Suwanda, ia mengadakan pengecekan. Tindak lanjutnya adalah kajian arkeologi, sejarah, dan geologi yang dilakukan Puslit Arkenas pada tahun 1979 terhadap situs ini.
Lokasi
Lokasi situs berbukit-bukit curam dan sulit dijangkau. Kompleksnya memanjang, menutupi permukaan sebuah bukit yang dibatasi oleh jajaran batu andesit besar berbentuk persegi. Situs itu dikelilingi oleh lembah-lembah yang sangat dalam.[5] Tempat ini sebelumnya memang telah dikeramatkan oleh warga setempat.[6] Penduduk menganggapnya sebagai tempat Prabu Siliwangi, raja Sunda, berusaha membangun istana dalam semalam.
Perkiraan usia
Uji penanggalan karbon mengindikasikan bahwa bagian tertentu situs ini berusia sekitar 500–200 SM.[7]Harry Truman Simanjuntak berpendapat bahwa situs Gunung Padang dibangun pada sekitar abad ke-6 hingga 8 Masehi, serta Lutfi Yondri berpendapat bahwa situs ini dibangun pada sekitar abad ke-2 hingga 5 Masehi.[8]
Hipotesis lainnya
Danny Hilman Natawidjaja mengklaim bahwa situs Gunung Padang merupakan sebuah piramida besar yang dibangun sejak 9.000 hingga 20.000 tahun yang lalu.[9] Seorang vulkanolog bernama Sutikno Bronto menyatakan situs Gunung Padang merupakan leher gunung berapi purba dan bukan piramida yang dibangun oleh manusia.[10] Selain itu, seorang arkeolog bernama Víctor Pérez menyebutkan klaim Danny adalah arkeologi semu.[11]
Sebuah artikel milik Danny dkk. yang dipublikasikan di Archaeological Prospection pada Oktober 2023, dengan menyebutkan klaim usia situs Gunung Padang lebih dari 27.000 tahun lalu, ditarik kembali pada Maret 2024 oleh pihak penerbitnya yaitu Wiley.[12]
Fungsi
Fungsi situs Gunung Padang diperkirakan adalah tempat pemujaan bagi masyarakat yang bermukim di sana pada sekitar 2000 tahun SM.[6] Hasil penelitian menunjukkan kemungkinan adanya pelibatan musik dari beberapa batu megalit yang ada.[13] Selain Gunung Padang, terdapat beberapa tapak lain di Cianjur yang merupakan peninggalan periode megalitikum/Zaman Batu.[butuh rujukan]
↑Pérez García, Víctor Lluís (2017). "Gunung Padang y el megalitismo indo-malayo: Arqueología y pseudoarqueología"[Gunung Padang and Indo-Malay Megalithism: Archeology and Pseudoarchaeology](PDF). Arqueoweb: Journal of Archeology on the Internet. 18 (1): 62–104. Diarsipkan dari asli(PDF) tanggal 5 May 2018. Diakses tanggal 12 November 2022.
↑Atja (2004). Naskah Sunda Kuno dan Situs Megalitikum. Balai Arkeologi Bandung.
↑Pérez García, Víctor Lluís (2017). "Gunung Padang y el megalitismo indo-malayo: Arqueología y pseudoarqueología"[Gunung Padang and Indo-Malay Megalithism: Archeology and Pseudoarchaeology](PDF). Arqueoweb: Journal of Archeology on the Internet. 18 (1): 62–104. Diarsipkan dari asli(PDF) tanggal 5 May 2018. Diakses tanggal 12 November 2022.