ENSIKLOPEDIA
Rhoma Irama
Artikel ini memiliki beberapa masalah. Tolong bantu memperbaikinya atau diskusikan masalah-masalah ini di halaman pembicaraannya. (Pelajari bagaimana dan kapan saat yang tepat untuk menghapus templat pesan ini)
(Pelajari cara dan kapan saatnya untuk menghapus pesan templat ini)
|
Rhoma Irama | |
|---|---|
Rhoma Irama pada tahun 2010 | |
| Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia | |
| Masa jabatan 1 Oktober 1997 – 1 Oktober 1999 | |
| Presiden | Soeharto B.J. Habibie |
| Grup parlemen | Fraksi Golkar |
| Daerah pemilihan | Jakarta I |
| Informasi pribadi | |
| Lahir | Oma Irama 11 Desember 1946 (umur 79) Tasikmalaya, Jawa Barat, Indonesia |
| Partai politik | PPP[1] Partai Islam Damai Aman (2015–2018) |
| Suami/istri |
|
| Anak | 5, termasuk Debby Irama, Vicky Irama, dan Ridho Rhoma |
| Pekerjaan | |
| Tanda tangan | |
| Situs web | rhomairama |
| Karier musik | |
| Nama lain | Raja Dangdut & pendakwah |
| Genre | Dangdut |
| Instrumen | |
| Tahun aktif | 1958–sekarang |
| Label | |
| Artis terkait | |
|
| |
R.H. Oma Irama atau yang lebih dikenal sebagai Rhoma Irama (lahir 11 Desember 1946) adalah seorang penyanyi, musikus, penulis lagu, produser dan aktor Indonesia berdarah Sunda. Beliau lahir tahun 1946, menjadikan Rhoma Irama sebagai penyanyi tertua di Indonesia.[2]
Mulai akhir 1960-an, ia memulai karier musiknya sebagai Rhoma Irama sebagai bagian dari band pop Orkes Melayu Purnama, merintis beberapa elemen musik dangdut. Dia kemudian membentuk bandnya Soneta Group, mencapai banyak kesuksesan musik dengan gaya dangdut inovatif yang menggabungkan pengaruh Barat, Melayu, dan Bollywood.
Dari akhir 1970-an, ia mulai berubah menjadi gaya yang lebih berorientasi Islam, memimpin budaya musik populer yang saleh.[3] Selama puncak ketenarannya di tahun 1970-an, ia dijuluki "Raja Dangdut" dengan Grup Soneta-nya.[4]
Ia juga membangun kariernya di industri film. Ia juga aktif di arena politik, dengan riwayat bergabung dengan kampanye untuk Partai Persatuan Pembangunan (PPP).[5]
Karier
Karier bermusik
Awal kariernya di dunia hiburan, ketika mulai dikenal sebagian bintang film kanak-kanak. Djendral Kantjil, sekitar tahun 1958. Kariernya di musik dimulai sejak ia usia 11 tahun, Rhoma sudah menjadi penyanyi, gitaris, pimpinan dan musisi ternama setelah jatuh bangun ia menjadi penyanyi, gitaris ritme dan pimpinan dalam mendirikan band musik, mulai membentuk band Tornado bersama kakaknya Benny Muharam menjadi penyanyi, gitaris utama dan tiga orang tahun 1959. Rhoma dan Benny penyanyi duet itu adalah Everly Brothers, dua penyanyi Inggris bersaudara yang kembar. Rhoma dan Benny adalah penyanyi duet dan twin dari gaya Everly Brothers di Tornado. Menjelang akhir 1960-an lagu-lagu Elvis Presley mulai masuk ke Indonesia. Mereka Rhoma dan Benny yang masih remaja kala itu pun ikut terkontaminasi. Dari sebelumnya bergaya rock n' roll ala Rockabilly, Rhoma dan Benny mereka terkena pengaruh musik rock ala Elvis. Kemudian ia menjadi gitaris utama, penyanyi dan pimpinannya yang menggantikan posisi kakaknya Benny Muharam yang sudah keluar ketika Tornado memutuskan untuk dibubarkan saja. Tornado menjadi membentuk Gayhand saja tahun 1963. Selain penyanyi, Rhoma juga pernah terjun di dunia akting. Ia menjadi pemeran pembantu dengan penyanyi dan bermain gitar melodi bersama Gayhand dalam dua film Madju Tak Gentar dan Langkah-Langkah di Persimpangan pada tahun 1965. Tak lama kemudian, ia pindah masuk Orkes Chandra Leka, sampai akhirnya membentuk band sendiri bernama Soneta[5] yang sejak 13 Oktober 1973 mulai berkibar. Bersama grup Soneta yang dipimpinnya, Rhoma tercatat pernah memperoleh 11 Golden Record dari kaset-kasetnya.
Berdasarkan data penjualan kaset, dan jumlah penonton film-film yang dibintanginya, penggemar Rhoma tidak kurang dari 15 juta atau 10% penduduk Indonesia. Ini catatan sampai pertengahan 1984. "Tak ada jenis kesenian mutakhir yang memiliki lingkup sedemikian luas", tulis majalah TEMPO, 30 Juni 1984. Sementara itu, Rhoma sendiri bilang, "Saya takut publikasi. Ternyata, saya sudah terseret jauh."
Rhoma Irama terhitung sebagai salah satu penghibur yang paling sukses dalam mengumpulkan massa. Rhoma Irama bukan hanya tampil di dalam negeri tetapi ia juga pernah tampil di Kuala Lumpur, Singapura, dan Brunei dengan jumlah penonton yang hampir sama ketika ia tampil di Indonesia. Sering dalam konser Rhoma Irama, penonton jatuh pingsan akibat berdesakan. Orang menyebut musik Rhoma adalah musik dangdut, sementara ia sendiri lebih suka bila musiknya disebut sebagai irama Melayu.
Pada 13 Oktober 1973, Rhoma mencanangkan semboyan "Voice of Moslem" (Suara Muslim) yang bertujuan menjadi agen pembaru musik Melayu yang memadukan unsur musik rock dalam musik Melayu serta melakukan improvisasi atas aransemen, syair, lirik, kostum, dan penampilan di atas panggung. Menurut Achmad Albar, penyanyi rock Indonesia, "Rhoma pionir. Pintar mengawinkan orkes Melayu dengan rock". Tetapi jika kita amati ternyata bukan hanya rock yang dipadu oleh Rhoma Irama tetapi musik pop, India, dan orkestra juga. inilah yang menyebabkan setiap lagu Rhoma memiiki cita rasa yang berbeda.
Bagi para penyanyi dangdut lagu Rhoma mewakili semua suasana ada nuansa agama, cinta remaja, cinta kepada orang tua, kepada bangsa, kritik sosial, dan lain-lain. "Mustahil mengadakan panggung dangdut tanpa menampilkan lagu Bang Rhoma, karena semua menyukai lagu Rhoma," begitu tanggapan beberapa penyanyi dangdut dalam suatu acara TV.
Karier akting
Rhoma juga sukses di dunia film, setidaknya secara komersial. Data PT Perfin menyebutkan, hampir semua film Rhoma selalu laku. Bahkan sebelum sebuah film selesai diproses, orang sudah membelinya. Satria Bergitar, misalnya. Film yang dibuat dengan biaya Rp 750 juta ini, ketika belum rampung sudah memperoleh pialang Rp 400 juta. Tetapi, "Rhoma tidak pernah makan dari uang film. Ia hidup dari uang kaset," kata Benny Muharam, kakak Rhoma, yang jadi produser PT Rhoma Film. Hasil film tersebut antara lain disumbangkan untuk masjid, yatim piatu, kegiatan remaja, dan perbaikan kampung.
Karier politik
Ia juga terlibat dalam dunia politik. Di masa awal Orde Baru, ia sempat menjadi maskot penting PPP,[5] setelah terus dimusuhi oleh Pemerintah Orde baru karena menolak untuk bergabung dengan Golkar. Rhoma Sempat tidak aktif berpolitik untuk beberapa waktu, sebelum akhirnya terpilih sebagai anggota DPR mewakili utusan Golongan yakni mewakili seniman dan artis pada tahun 1993. Pada pemilu 2004 Rhoma Irama tampil pula di panggung kampanye PKS.
Pendidikan
Rhoma Irama sempat kuliah di Universitas 17 Agustus 1945 Jakarta, tetapi tidak menyelesaikannya. "Ternyata belajar di luar lebih asyik dan menantang," katanya suatu saat. Ia sendiri mengatakan bahwa ia banyak menjadi rujukan penelitian ada kurang lebih 7 skripsi tentang musiknya telah dihasilkan. Selain itu, peneliti asing juga kerap menjadikannya sebagai objek penelitian seperti William H. Frederick, doktor sosiologi Universitas Ohio, AS yang meneliti tentang kekuatan popularitas serta pengaruh Rhoma Irama pada masyarakat.
Pada bulan Februari 2005, dia memperoleh gelar doktor honoris causa dari American University of Hawaii dalam bidang dangdut, namun gelar tersebut dipertanyakan banyak pihak karena universitas ini diketahui tidak mempunyai murid sama sekali di Amerika Serikat sendiri, dan hanya mengeluarkan gelar kepada warga non-AS di luar negeri. Selain itu, universitas ini tidak diakreditasikan oleh pemerintah negara bagian Hawaii.
Sebagai musisi, pencipta lagu, dan bintang layar lebar, Rhoma selama kariernya, seperti yang diungkapkan, telah menciptakan kurang lebih 1000 buah lagu dan bermain di lebih 20 film.
Pada tanggal 11 Desember 2007, Rhoma merayakan ulang tahunnya yang ke 61 yang juga merupakan perayaan ultah pertama kali sejak dari orok, sekaligus pertanda peluncuran website pribadinya, rajadangdut.com.[6]
Instrumen dalam bermusik
Sepanjang lebih dari lima puluh tahun kariernya, Rhoma Irama dikenal sebagai penyanyi sekaligus gitaris yang kerap berganti-ganti gitar. Penggunaan gitar dalam penampilannya tidak hanya berfungsi sebagai instrumen musik, tetapi juga menjadi bagian dari upaya meningkatkan citra musik dangdut. Pada dekade 1960-an hingga 1970-an, ketika musik rock and roll dan dangdut masih sering dipandang sebagai musik kelas bawah—baik dari segi lirik, gaya penampilan, maupun instrumen yang digunakan—Rhoma Irama berupaya mengubah pandangan tersebut melalui apa yang sering disebut sebagai revolusi musik dangdut. Perubahan ini tidak hanya mencakup irama dan gaya bermusik, tetapi juga penggunaan instrumen modern, terutama gitar listrik. Sepanjang kariernya, ia tercatat hanya menggunakan beberapa merek gitar utama, yaitu Gibson, Fender, Rickenbaker dan Steinberger.
Pada masa awal kariernya sekitar tahun 1959 hingga 1963, ketika masih tergabung dalam grup Tornado, Rhoma Irama menggunakan gitar Gibson ES-335. Setelah membentuk grup Gayhand, ia beralih menggunakan Gibson Les Paul Standard berwarna gold top yang digunakan dalam album Gayhand Volume 1 (1965), Volume 2 (1966), dan Volume 3 (1967). Memasuki dekade 1970-an, Rhoma Irama menggunakan Fender Telecaster Deluxe. Setelah mendirikan Soneta, ia mulai menggunakan Fender Stratocaster era CBS berwarna natural wood yang ditempeli stiker SONETA pada bagian depan bodinya. Ia juga pernah menggunakan gitar Rickenbacker 481 yang tampil ketika membawakan lagu "Laailahaillallah" dalam film Raja Dangdut.
Beberapa varian Fender Stratocaster juga digunakan oleh Rhoma Irama dalam berbagai penampilan dan produksi film. Fender Stratocaster Anniversary 25th dikenal sebagai gitar yang digunakan dalam sejumlah lagu hit Rhoma Irama bersama Soneta. Selain itu, Fender Stratocaster CBS berwarna putih sering terlihat dalam film Camelia, Perjuangan dan Doa, dan Melody Cinta. Ia juga memiliki Fender Stratocaster CBS berwarna merah yang digunakan dalam sejumlah pertunjukan pada akhir 1980-an, termasuk ketika tampil di Kuala Lumpur pada tahun 1985. Gitar tersebut juga muncul sebagai sampul album Stop.
Pada tahun 1980, Rhoma Irama mulai menggunakan gitar Steinberger, yaitu gitar listrik tanpa kepala (headless guitar) yang dibelinya di Hong Kong saat menjalani syuting film. Gitar tersebut awalnya merupakan prototipe yang dipajang di etalase toko musik Tom Lee Music Shop dan tidak diperuntukkan untuk dijual. Setelah beberapa kali mengunjungi toko tersebut, pemilik toko akhirnya menghubungi Ned Steinberger dan gitar tersebut kemudian dijual kepada Rhoma Irama. Gitar Steinberger GM1T tersebut kemudian menjadi salah satu ciri khas Rhoma Irama dalam penampilannya di atas panggung. Ia kemudian menambah koleksi gitar Steinberger, termasuk dua unit berwarna hitam dan satu unit berwarna putih. Gitar ini memiliki keunggulan berupa fret sebanyak 24 serta leher gitar yang relatif lebih kecil dibandingkan gitar Fender.
Beberapa gitar Steinberger milik Rhoma Irama juga mengalami modifikasi. Steinberger GM1T yang awalnya hanya memiliki satu pickup kemudian dimodifikasi menjadi dua pickup sehingga menyerupai seri Steinberger GM2. Selain itu terdapat Steinberger GP2S yang diberi nama “Aswad” dan digunakan ketika suara GM1T dianggap kurang sesuai. Gitar ini juga sempat digunakan sebagai gitar rhythm dalam klip lagu "Judi" dan "Haram". Rhoma Irama juga memiliki gitar Steinberger Custom yang dibuat oleh teknisi gitarnya, De Yanto, dengan merek "Rhoma Irama" pada bagian atas bodi gitar. Gitar tersebut menggunakan konfigurasi pickup single coil dan tampil dalam klip lagu "Setan Pasti Kalah" pada film Tabir Biru.
Selain itu terdapat pula gitar Soneta Record "SR" Guitar yang dibuat sebagai properti dan tidak digunakan dalam pertunjukan langsung. Pada dekade 2000-an, Rhoma Irama juga menggunakan Steinberger GU-7 Deluxe buatan Korea dari Music Yo, meskipun gitar tersebut kemudian tidak lagi digunakan. Koleksi lainnya termasuk Steinberger GM2S yang sempat dicat putih serta Steinberger GM4T Koa Rose Limited Edition yang diperolehnya pada tahun 2019. Gitar edisi terbatas ini dibuat pada tahun 1989 dengan bodi berbahan kayu koa dan leher berbahan graphite. Produksi gitar ini hanya berlangsung selama satu tahun, yaitu antara 1989 hingga 1990. Gitar tersebut memiliki konfigurasi pickup dua single coil dan satu humbucker serta menggunakan sistem bridge TransTrem.
Selain gitar, Rhoma Irama juga menggunakan efek gitar dalam permainannya. Pada awal kariernya ia sering menggunakan efek booster dari seri Maxon MB buatan Jepang. Efek ini dikenal sebagai “booster tempel” karena cara penggunaannya yang langsung ditempelkan pada output jack gitar. Efek tersebut menghasilkan karakter suara yang khas, terutama ketika digunakan pada gitar Stratocaster, dan juga pernah digunakan pada gitar Steinberger GP2S.
Kontroversi
- Pada tahun 2003, Rhoma kembali menjadi sorotan media karena mengkritik Inul Daratista, penyanyi dangdut yang sedang naik daun karena mengandalkan gaya tarinya yang dianggap mesum. Rhoma dengan mengatas-namakan organisasi PAMMI (Persatuan Artis Musik Melayu Indonesia), menentang peredaran album Goyang Inul yang dirilis Blackboard pada akhir Mei 2003. Pada saat itu Rhoma Irama kemudian dikecam sebagai seorang munafik oleh pendukung Inul.
- Juga pada tahun 2003, Rhoma dalam sebuah pengerebekan, tertangkap basah sedang berduaan di apartemen Angel Lelga, sekitar jam 11-4 pagi. Pengerebekan ini banyak ditayangkan media infotainment, dan menjadi permulaan turunnya pamor raja dangdut ini. Kejadian ini disanggah Rhoma dengan berdalih bahwa ia hanya memberikan nasihat dan petuah agar menghindarkan Angel Lelga dari jurang kenistaan, setelah beberapa waktu kemudian Rhoma mengakui bahwa ia sebenarnya telah menikah dengan Angel Lelga.
- Pada November 2005, tayangan Kabar-kabari memberitakan Rhoma Irama mengatakan GIGI adalah band frustasi dan tidak kreatif. Komentar tersebut berhubungan dengan kesuksesan album rohani Raihlah Kemenangan yang dirilis GIGI. Menurut Rhoma, album yang sepenuhnya berisi lagu aransemen ulang itu mengesankan kelompok musik tersebut sebagai band yang frustasi dan tidak kreatif. Berita ini kemudian disanggah oleh Rhoma. (Sebenarnya berita ini sudah diralat, setelah Rhoma Irama mengirimkan protes ke meja redaksi RCTI dan manajemen acara infotaintment KABAR-KABARI. Berita ini beredar karena kesalahan narator dalam menanggapi berita tentang pernyataan Rhoma Irama. Dan Rhoma Irama sendiri dengan band GIGI tidak ada masalah dan "santai" saja.[7]
- Pada Januari 2006, kembali Rhoma di hadapan anggota DPR mengeluarkan pernyataan menentang aksi panggung Inul, dalam dengar pendapat pembahasan RUU Antipornografi antara DPR dan kalangan artis.
- Pada Juli 2012, dalam sebuah ceramah di sebuah masjid di Jakarta, Rhoma Irama dikecam atas ceramah yang mengandung isu SARA, berkaitan dengan Pemilukada DKI Jakarta putaran ke-2 yang sedang hangat dibicarakan pada waktu itu. Panitia Pengawas Pemilu memeriksa Rhoma atas pernyataan kontroversial yang menuai kecaman di media massa dan internet, tetapi kemudian dinyatakan tidak bersalah.
- Pada akhir tahun 2012, publik dikejutkan dengan pernyataan bahwa Rhoma Irama siap maju sebagai calon presiden 2014. Ia mengaku dalam sebuah wawancara dengan Najwa Shihab, bahwa ia maju atas dorongan berbagai ulama, dan juga "anak bangsa, khususnya Umat Islam". Walaupun beberapa parpol sempat melirik Rhoma Irama sebagai calon presiden, berbagai kecaman terus bermunculan di media internet akibat pandangan politik yang menyinggung SARA.[8]
Kehidupan pribadi
Rhoma Irama menikah untuk pertama kalinya pada tahun 1966 pada usia sekitar 19 tahun, tidak lama setelah menyelesaikan pendidikan sekolah menengah atas. Ia menikahi Titiek, seorang perempuan beragama Kristen yang kemudian memeluk Islam setelah menikah dengannya. Pernikahan tersebut tidak dikaruniai anak dan berakhir dengan perceraian pada tahun 1970. Setelah perceraian tersebut, Rhoma menjalin hubungan dengan Veronica pada tahun 1970 dan menikahinya pada tahun 1971. Veronica juga merupakan perempuan beragama Kristen yang kemudian memeluk Islam setelah menikah. Dari pernikahan ini Rhoma Irama memperoleh tiga orang anak, yaitu Debby Verama Sari (lahir 18 Desember 1971), Fikri Rhoma Irama (lahir 30 September 1976), dan Romy. Pernikahan Rhoma dan Veronica berakhir dengan perceraian pada Mei 1985.
Sekitar satu tahun sebelum perceraian tersebut, Rhoma Irama menikah dengan Ricca Rachim. Ricca sebelumnya dikenal sebagai lawan main Rhoma Irama dalam sejumlah film, antara lain Melodi Cinta, Badai di Awal Bahagia, Camelia, Cinta Segitiga, Pengabdian, Pengorbanan, dan Satria Bergitar. Hingga kini Ricca Rachim tetap mendampingi Rhoma Irama sebagai istrinya. Rhoma Irama juga memiliki seorang anak bernama Ridho Rhoma dari hubungannya dengan Marwah Ali, yang dinikahinya pada tahun 1986.[9][10]
Pada 2 Agustus 2005, Rhoma Irama mengumumkan bahwa ia pernah menikah secara siri dengan artis Angel Lelga pada 6 Maret 2003. Pada hari yang sama, ia juga menyatakan telah menceraikan Angel Lelga. Setelah bercerai dari Rhoma Irama, Veronica menikah kembali pada tahun 1991 dengan seorang pejabat. Suaminya kemudian meninggal dunia. Veronica sendiri meninggal pada awal tahun 2006 setelah mengalami sejumlah penyakit. Anak-anaknya menyatakan kepada pers bahwa selama masa sakit tersebut Rhoma Irama menanggung biaya perawatannya, termasuk perawatan medis hingga ke Singapura.
Rhoma Irama juga pernah menjadi sorotan media ketika digerebek oleh wartawan di sebuah apartemen bersama Angel Lelga. Pada saat kejadian tersebut keduanya diketahui telah menikah secara siri. Disebutkan bahwa penggerebekan tersebut melibatkan Yati Octavia dan suaminya Pangky Suwito, yang turut hadir bersama wartawan dalam peristiwa tersebut.[11]
Diskografi
Album (Pop)
- Volume 1 [Tornado] (1962)
- Volume 1 [Gayhand] (1965)
- Volume 2 [Gayhand] (1966)
- Volume 3 [Gayhand] (1967)
- Djangan Kau Marah [The Galaxies] (1967)
- Di Rumah Sadja [Zaenal Combo] (1967)
- Sip Sipan Bedue [Zaenal Combo] (1967)
- Djangan Dekati Aku [Zaenal Combo] (1968)
- Biarkan Aku Pergi [Zaenal Combo] (1968)
- Aneka Lagu² Pop Vol. 1 [The Galaxies/Zaenal Combo] (1968)
Album (Melayu)
- Pelita Hidup [OM. Candraleka] (1967)
- Djangan Putus Asa [OM. Purnama] (1968)
- Ke Bina Ria [OM. Purnama] (1968)
- Aku Saudaramu [OM. Purnama] (1969)
- Kepasar Minggu [OM. Purnama] (1969)
- Malam Cemerlang [OM. Purnama] (1970)
- Malam Gembira [OM. Purnama] (1970)
- Usah Diganggu [OM. Purnama] (1970)
- Cukup Satu [OM. Purnama] (1972)
- Melodi Cintaku [OM. Purnama] (1973)
- Kisah Dibulan Juni [OM. Purnama] (1973)
- Pendekar Melayu [Zaenal Combo] (1971)
- Di Dalam Bemo [OM. Pancaran Muda] (1971)
- Django [OM. Prahasta] (1971)
- Sayonara/Anak Pertama [El Sitara] (1972)
- In Dan Dip [El Sitara] (1972)
- Tukang Ramal [El Sitara] (1972)
- Bertamu [OM. Sagita] (1972)
- 1 Antara 2 [OM. Sagita] (1972)
Album (Dangdut)
- Ratu dan Radja (1972)
- Pemburu (1973)
- Risalah Penyanyi (1973)
- Janda Kembang (1973)
- Tiada Lagi (1973)
- Dangdut (1974)
- Berbulan Madu (1974)
- Joget (1974)
- Berpacaran (1974)
- Ke Monas (1974)
- Gelandangan (1975)
Album (Volume)
- Soneta Vol. 1 - Begadang (1975)
- Soneta Vol. 2 - Penasaran (1975)
- Soneta Vol. 3 - Rupiah (1975)
- Soneta Vol. 4 - Darah Muda (1976)
- Soneta Vol. 5 - Musik (1976)
- Soneta Vol. 6 - 135.000.000 (1976)
- Soneta Vol. 7 - Santai (1977)
- Soneta Vol. 8 - Hak Azazi (1978)
- Soneta Vol. 9 - Begadang 2 (1978)
- Soneta Vol. 10 - Sahabat (1979)
- Soneta Vol. 11 - Indonesia (1981)
- Soneta Vol. 12 - Renungan Dalam Nada (1982)
- Soneta Vol. 13 - Emansipasi Wanita (1984)
- Soneta Vol. 14 - Judi (1988)
- Soneta Vol. 15 - Gali Lobang Tutup Lobang (1989)
- Soneta Vol. 16 - Bujangan (1994)
Movie Soundtrack
- Oma Irama Penasaran (1976)
- Gitar Tua Oma Irama (1977)
- Darah Muda (1977)
- Begadang (1978)
- Berkelana I (1978)
- Berkelana II [Piano] (1978)
- Raja Dangdut (1979)
- Cinta Segitiga [Lain Kepala Lain Hati] (1979)
- Camelia (1979)
- Perjuangan dan Doa (1980)
- Melodi Cinta (1980)
- Badai di Awal Bahagia (1981)
- Sebuah Pengorbanan (1982)
- Satria Bergitar (1983)
- Cinta Kembar (1984)
- Pengabdian (1984)
- Kemilau Cinta di Langit Jingga (1985)
- Menggapai Matahari I (1986)
- Menggapai Matahari II (1987)
- Nada-Nada Rindu [Riza Umami] (1987)
- Bunga Desa (1988)
- Jaka Swara (1990)
- Nada dan Dakwah (1991)
- Tabir Biru (1993)
- Sajadah Ka'bah (2011)
Album (Special)
- Sekar Catur [OGSS. Bhinneka Tunggal Ika] (1971)
- Idih Papa Genit [Debby Irama] (1976)
- Remaja dan Bulan [Naviri] (1977)
- Cok Kaligacok [Debby Irama] (1977)
- Tak Berdaya (1980)
- Ya Jamilah [OG. Alfata] (1983)
- Bul Bul [OG. Alfata] (1983)
- Anak Yang Malang (1986)
- Nada-Nada Rindu [Elvy Sukaesih] (1988)
- Renungkan [Kharisma/Sagita] (1988)
- Sahar Talail [OG. Al Badr] (1988)
- Kabar dan Dosa [Kharisma/Sagita] (1989)
- Purnama (1993)
- Sifana (1994)
- Gulali (1995)
- Partai Idaman (2015)
Mini Album
- Lebaran / Takbiran (1984)
- Tiga Bencana / 5 Miliar [OG. Al Badr] (1989)
- Salawat Nabi (1991)
- Puja / Wahai Pesona (1997)
- Azza / Gala Gala (2010)
- Virus Corona / Corona Virus (2020)
Album (Assosiated)
- Parade 111 Bintang Gemerlap [All PAMMI] (2006)
- Eist.. [Fairuz] (2017)
Single
- Pemilu (1982)
- Persaingan (1986)
- Kehilangan Tongkat (1993)
- Rana Duka (1994)
- Stress (1995)
- Viva Dangdut (1996)
- Reformasi (1998)
- Kampung Dangdut (2006)
- Rabbana (2018)
- Akhlak (2019)
- Mahiteli (2021)
- Rela (2021)
- Cinta Dalam Khayalan (2022)
Album [Single+Remake]
- Haji [1988] (1991)
- Mirasantika (1997)
- Euforia (1999)
- Jana Jana (2008)
- Boxset Special 50 Tahun Soneta (2020)
Remake [Album]
- 17 Soundtrack Naviri [Modern / Laaillahailallah] (1989)
- Haram 90 (1990)
- Stop [JMFI 1991] (1991)
- Syahdu 2001 (2001)
- Asmara [Terajana '03] (2003)
- Virus Corona / Rabbana [Anissa Rahman] (2020)
Remake [Single]
- Haram [Asean Pop Singer Festival] (1981)
- Baca [Derita Tiada Akhir '95] (1995)
- Kurang Garam [Risalah Penyanyi '14] (2014)
- Tulus Hati Luhur Budi [Rita Sugiarto] (2020)
- Dosa Yang Menghantui [Anissa Rahman] (2021)
- Andai Kau Tahu/Laa Illaha Ilallah [Ungu] (2022)
Live
- Pementasan Soneta 82 [Std Tambak Sari Surabaya] (1983)
- Live Soneta Show [Std Negara Kuala Lumpur] (1985)
- Live Show Soneta [Std Negara Kuala Lumpur] (1992)
- Live at Syncronize Fest 2018 (2019)
Filmografi
Film
| Tahun | Judul | Peran | Catatan |
|---|---|---|---|
| 1965 | Madju Tak Gentar | ||
| Langkah-Langkah di Persimpangan | |||
| 1975 | Krisis X | ||
| 1976 | Oma Irama Penasaran | Oma | |
| 1977 | Gitar Tua Oma Irama | ||
| 1978 | Darah Muda | Rhoma | |
| 1979 | Rhoma Irama Berkelana I | Rhoma/Budi | |
| Rhoma Irama Berkelana II | |||
| Begadang | Rhoma | ||
| Raja Dangdut | |||
| 1980 | Cinta Segitiga | ||
| Camelia | |||
| 1981 | Perjuangan & Doa | Rhoma Irama | |
| Melodi Cinta Rhoma Irama | |||
| 1982 | Badai di Awal Bahagia | Rhoma | |
| 1983 | Sebuah Pengorbanan | ||
| 1984 | Satria Bergitar | ||
| Pengabdian | |||
| Cinta Kembar | Rhoma Irama | ||
| 1985 | Kemilau Cinta di Langit Jingga | ||
| 1986 | Menggapai Matahari | ||
| Menggapai Matahari II | |||
| 1987 | Nada-Nada Rindu | Rhoma/Zulfikar | |
| 1988 | Bunga Desa | Rhoma | |
| 1990 | Jaka Swara | Jaka Swara | |
| 1991 | Nada & Dakwah | Rhoma | |
| 1993 | Tabir Biru | ||
| 2010 | Dawai 2 Asmara | ||
| 2011 | Sajadah Ka'bah |
| Tahun | Judul | Peran | Catatan |
|---|---|---|---|
| 1977 | Gitar Tua Oma Irama | Sebagai penulis dan penata musik | Debut dalam penulisan |
| 1978 | Darah Muda | Sebagai penata musik | |
| 1979 | Rhoma Irama Berkelana I | Sebagai penulis dan penata musik | |
| Rhoma Irama Berkelana II | |||
| Begadang | |||
| Raja Dangdut | |||
| 1980 | Cinta Segitiga | Sebagai penulis | |
| Camelia | Sebagai penulis dan penata musik | ||
| 1981 | Melodi Cinta Rhoma Irama | Sebagai penulis dan produser | |
| Perjuangan & Doa | Sebagai penulis, penata musik dan produser | ||
| 1982 | Badai di Awal Bahagia | Sebagai penulis dan penata musik | |
| 1983 | Sebuah Pengorbanan | Sebagai penulis, penata musik dan produser | |
| 1984 | Satria Bergitar | Sebagai penulis dan penata musik | |
| Pengabdian | |||
| Cinta Kembar | Sebagai produser | ||
| 1985 | Kemilau Cinta di Langit Jingga | Sebagai penata musik | |
| 1986 | Menggapai Matahari | ||
| Menggapai Matahari II | |||
| 1987 | Nada-Nada Rindu | Sebagai penulis dan penata musik | |
| 1988 | Bunga Desa | Sebagai penata musik | |
| 1990 | Jaka Swara | Sebagai penulis dan penata musik | |
| 2010 | Dawai 2 Asmara | Sebagai penata musik dan produser eksekutif | |
| 2011 | Sajadah Ka'bah | Sebagai produser eksekutif dan sutradara | Debut dalam penyutradaraan |
Sinetron
- Ibnu Sabil (2002)
- Kampung Dangdut (2006)
- Rhoma Irama: Cinta dan Do'a (2018)
- Sentuhan Illahi (2020)
- Banyak Jalan Menuju Rhoma (2020)
- Banyak Jalan Menuju Rhoma Tingkat 2 (2020)
Prestasi dan pengakuan
- Tahun 1971, juara 1 lomba menyanyi tingkat ASEAN di Singapura.
- Dekade 70-an, Rhoma banyak mendapatkan penghargaan puluhan Piringan Emas atau yang disebut Golden Record atas kesuksesan penjualan Kaset-kasetnya.
- Agustus 1985, majalah Asia Week edisi XVI menempatkan Rhoma Irama sebagai Raja Musik Asia Tenggara, setelah memuat liputan pertunjukan Soneta Group di Kuala Lumpur.
- Tahun 1992, Rhoma mendapatkan pengakuan oleh dunia musik Amerika, saat majalah Entertainment edisi Februari tahun tersebut mencantumkannya sebagai The Indonesian Rocker.
- Akhir April tahun 1994, Rhoma Irama menandatangani Memorandum of Understanding (MoU) dengan Mr. Tanaka dari Life Record Jepang di Tokyo. Sebanyak 200 buah judul lagunya akan direkam ke dalam bahasa Inggris dan Jepang, untuk diedarkan di pasar Internasional. Rencananya lagu-lagu tersebut akan dibuat dalam bentuk laser disc (LD) dan compact disc (CD).
- Legenda Dangdut Indonesia, Anugerah Dangdut Indonesia tahun 1997
- Pengaransemen Musik Terbaik lagu Euforia, TPI Awards tahun 2000
- Special Legend of Music, Anugerah Music Indonesia RCTI tahun 2002.
- 16 November 2007 Rhoma menerima penghargaan sebagai “The South East Asia Superstar Legend” di Singapura.
- Bersama Elvie Sukaesih mendapatkan penghargaan dari Museum Dunia Rekor Indonesia (MURI) dengan kategori Raja dan Ratu Dangdut Indonesia.
- 23 Desember 2007 Rhoma menerima Lifetime Achievement Award pada penyelenggaran perdana Anugerah Musik Indonesia (AMI) Dangdut Awards.
- Album Begadang masuk dalam 150 Album terbaik sepanjang masa versi majalah Rolling Stones.
- Diabadikan oleh majalah Rolling Stone Indonesia sebagai salah satu dari The Immortals: 25 Artis Indonesia Terbesar Sepanjang Masa pada tahun 2008
- Rhoma telah menciptakan 1000 lebih lagu Dangdut, sekaligus memperoleh predikat pencipta lagu Dangdut terlaris.
- Tahun 2009, Presiden SBY menganugerahkan penghargaan kepada Rhoma Irama sebagai Seniman Indonesia Terbaik.
- Rhoma Irama meraih penghargaan dari Musium Rekor Indonesia / MURI, sebagai Penyanyi Legenda.
- Mendapatkan gelar Profesor Honoris Causa dalam bidang musik yang diterimanya dari dua universitas berbeda, yaitu dari Northern California Global University dan dari American University of Hawaii, keduanya dari Amerika.
- Nama Rhoma Irama diabadikan sebagai nama piala untuk 6 kategori permainan instrumen musik Dangdut.
- Berdasarkan hasil survei yang diadakan oleh Reform Institute 2008, menempatkan Rhoma di atas penyanyi maupun grup-grup musik seperti: Ungu, Peterpan, Iwan Fals, maupun Dewa 19.
- The South East Asia Superstar Legend di Singapura
- Lifetime Achievement Awards 2011, SCTV.[12]
- Lifetime Achievement Awards 2014, MNCTV Dangdut Awards 2014.[13]
- Hak Kekayaan Intelektual (HKI) dari Kementerian Hukum dan HAM, 2014.[14]
- Muslim Choice Awards, 2018.
- Legenda Dangdut Paling Mantul, Anugerah Dangdut Indonesia 2019.
Penghargaan dan nominasi
Referensi
- ↑ "Salinan arsip". Diarsipkan dari asli tanggal 2022-11-19. Diakses tanggal 2022-09-04.
- ↑ "Rhoma Irama". suara.com. Diakses tanggal 2026-01-27.
- ↑ Maribeth Erb, Priyambudi Sulistiyanto (2009). Deepening Democracy in Indonesia?: Direct Elections for Local Leaders (Pilkada). Singapore: Institute of Southeast Asian Studies. p.219.
- ↑ "Rhoma Irama". Diarsipkan dari asli tanggal February 17, 2010. Diakses tanggal February 27, 2010.
- 1 2 3 Raditya, Michael H.B.; Surahman, Sigit; Rahmah, Mamluatur; Baihaqi, Mohamad; Arifin, Samsul; Setodewo, Resa; Adha, Yasril; Listya, Agastya Rahma (2024). MUSIK DI INDONESIA; Sejarah dan Perkembangan Kontemporer (PDF). Semarang: eLSA Press. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
- ↑ Rayakan Ultah, Rhoma Irama Luncurkan Website, diakses 13 Desember 2007
- ↑ "Gigi Sesalkan Komentar Rhoma Irama". Diarsipkan dari asli tanggal 2008-12-04. Diakses tanggal 2006-02-21.
- ↑ "Rhoma Irama Didaulat Jadi Capres 2014". Diarsipkan dari asli tanggal 2023-07-26. Diakses tanggal 2013-02-18.
- ↑ "Ridho Rhoma, Magnet Sang Pangeran Dangdut". Diarsipkan dari asli tanggal 2010-05-04. Diakses tanggal 2010-09-17.
- ↑ Indonesia, PT Rilis Multimedia. "Inilah Istri-Istri Rhoma Irama, Ibunya Ridho Cantik..." RILIS.ID. Diarsipkan dari asli tanggal 2017-08-03. Diakses tanggal 2017-08-03.
- ↑ "Menyibak Kelambu Pornografi". Diarsipkan dari asli tanggal 2007-09-30. Diakses tanggal 2007-05-21.
- ↑ "Penghargaan Rhoma Irama". Diarsipkan dari asli tanggal 2018-09-12. Diakses tanggal 2021-03-05.
- ↑ "Malam penganugerahan MNCTV Dangdut Awards 2014". Diarsipkan dari asli tanggal 2014-12-23. Diakses tanggal 2014-12-23.
- ↑ "Penghargaan Hak Cipta". Diarsipkan dari asli tanggal 2015-07-08. Diakses tanggal 2015-02-01.
Pranala luar
- (Indonesia) Profil di KapanLagi.com
- (Indonesia) Situs web resmi Rhoma Irama Diarsipkan 2011-03-23 di Wayback Machine.
- (Indonesia) Blog Rhoma Irama
- (Indonesia) Deretan Wanita Rhoma Irama Diarsipkan 2011-08-10 di Wayback Machine.
- (Indonesia) Bang Rhoma keseleo soal SARA saat ceramah Diarsipkan 2013-09-05 di Wayback Machine.
- (Indonesia) Profil Unik Tentang H. Rhoma Irama Diarsipkan 2015-04-12 di Wayback Machine.
- Rhoma Irama di IMDb (dalam bahasa Inggris)
- Diskografi Rhoma Irama di Discogs

| Album studio |
| ||||||||
|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|
| Filmografi |
| ||||||||
| Topik terkait | |||||||||

