Habib Usman bin Abdullah bin Aqil bin Yahya Ba’alawi belajar agama di Ḥaḍramaut. Ia Pergi kembali ke Nusantara dan membantu pemerintah kolonial serta diangkat oleh penjajah belanda menjadi adviseur of honorair sampai meninggalnya. Ia pun mendapatkan bintang Salib Singa Belanda (Nederlandsch Liew) dan bekerja mendampingi Snouck Hurgronje sebagai penasehat pemerintah kolonial untuk urusan pribumi dan Arab yang kelak menjadi Kantor Penasehat urusan pribumi (Het Kantoor voor Inlandsche Zaken).[2]
Selain menjadi adviseur of honorair, ia juga menjabat sebagai mufti Batavia atau disebut Mufti Jakarta dan aktif dalam karya tulis keagamaan. Habib Usman telah menjadi bagian dari elemen pemerintah penjajah kolonial yang sering dimintai pertimbangan dan saran oleh Snouck Hurgronje dalam memberi masukan dan saran kepada pemerintah penjajah kolonial yang akhirnya menjadi sebuah kebijakan di Hindia Belanda. Habib Usman memberikan pertimbangan-pertimbangan khusus yang berbeda dari keadaan yang terjadi pada masyarakat pribumi pada umumnya.[3]
Sejumlah kontroversi menyelimuti Habib Usman. Bagi pemerintah penjajah kolonial ia merupakan sosok yang sangat disegani karena kontribusinya yang cukup besar bagi pemerintah penjajah kolonial. Namun bagi pejuang pribumi ada yang mencintai nya dan membenci nya, Di antara kebijakan kontroversi Habib Usman sebagai mufti Batavia saat itu,yg tidak membolehkan rakyat pribumi melawan pemerintah penjajah kolonial, dengan alasan ketakutan beliau rakyat pribumi kalah jika memberontak penjajah sebab waktu itu rakyat pribumi sama sekali tidak punya kekuatan apalgi senjata,rakyat pribumi hanya punya senjata pacul yg akan di pakai melawan penjajah kolonial yg bersenjata meriam, senapan otomotis ak 37.[butuh rujukan]
Ketakutan jika rakyat pribumi memberontak malah akan menjadikan pribumi musnah di bantai penjajah inilah yg membuat beliau tidak mengizinkan rakyat memberontak. Beliau belajar dari pengalaman perang jawa atau perang diponegoro yg ratusan ribu pejuang pribumi gugur karena kalah persenjataan dan strategi perang walaupun waktu perang jawa pasukan pejuang pribumi lebih banyak dari pada pasukan penjajah kolonial dan centeng-centengnya.[4][5][6]
Referensi
↑Syamsu As, Muhammad (1996). Ulama Pembawa Islam Di Indonesia Dan Sekitarnya. Seri Buku Sejarah Islam. Vol.4 (Edisi 2). Lentera. ISBN978-9798880162.
↑Aqib Suminto, Politik Islam Hindia Belanda, 102,159,160