Queer atau kwir seringkali digunakan sebagai istilah payung untuk orang nonheteroseksual dan noncisgender.[1][2] Istilah ini juga dapat merujuk pada semua orang yang menolak norma seksual dan gender, serta memiliki politik radikal bersama yang dicirikan dengan solidaritas lintas identitas.[3][4][5][6][7][8] Queer juga adalah sebuah istilah swa-identitas bagi banyak orang (serupa tapi tak sama dengan istilah gay, lesbian, dan biseksual) yang dicirikan dengan penolakan maupun disrupsi terhadap kategori orientasi seksual dan gender yang biner.[9][10][6][11]
Istilah queer berasal dari Bahasa Inggris yang pada mulanya bermakna 'liyan', 'aneh', atau 'janggal' dan digunakan secara peyoratif kepada orang LGBTQ pada akhir abad ke-19. Namun, sejak akhir tahun 1980-an, para aktivis queer mulai mengambil alih kata tersebut menjadi istilah untuk mendeskripsikan diri dengan konotasi yang netral ataupun positif.[12][13][14]
Pada abad ke-21, istilah queer menjadi lebih sering digunakan untuk menggambarkan spektrum yang luas dari identitas dan politik mengenai gender dan seksualitas yang non-cisheteronormatif. [15][16] Di Indonesia, istilah ini mulai diterjemahkan sebagai 'kwir' sejak Indonesia Council Open Conference (ICOC) tahun 2023 melalui diskusi daring yang bertajuk "Teori Kwir Gaya Indonesia" yang memosisikan kekwiran (queerness) dalam konteks Indonesia yang beragam dan terfragmentasi—yang dimetaforakan sebagai gugusan pulau di Nusantara.[17][18]
Beberapa disiplin ilmiah seperti teori kwir dan studi kwir memiliki kesepahaman dalam menentang binerisme gender, normativitas, dan kurangnya interseksionalitas, tetapi beberapa di antaranya hanya memiliki sedikit kaitan dengan gerakan LGBTQ. Seni kwir, budaya kwir, dan politik kwir adalah beberapa bentuk ekspresi modern dari identitas kwir.
Karena istilah ini masih dan/atau sempat menjadi epitet anti-LGBT, beberapa orang LGBT tidak menyetujui istilah queer karena dianggap menyinggung.[19] Ada pula yang menghindarinya karena dikatakan terkait dengan radikalisme politik,[20] atau terlalu rancu maupun terlalu trendi.[21] Beberapa lainnya menyenangi istilah ini untuk mengontraskan diri mereka dengan kelompok asimilasionis pada gerakan hak gay, serta untuk menunjukan kesediaan yang lebih besar untuk menantang norma sosial demi memerdekakan identitas gender dan seksual. Mereka mungkin mengaitkan istilah ini dengan kemajuan perspektif radikal yang juga hadir pada gerakan pembebasan gay di masa lampau, seperti antikonsumerisme dan antiimperialisme, ataupun dengan peristiwa seperti pemberontakan Stonewall.[22][23]
Akademik
Dalam dunia akademik, istilah queer (dan kata kerja terkaitnya, queering [mengkwirkan]) secara luas merujuk pada kajian terhadap sastra, wacana, bidang-bidang akademik, serta ranah sosial-budaya lainnya dari sudut pandang nonheteroseksual atau noncisgender. Meskipun bidang studi queer dan teori queer bersifat luas, kajian-kajian tersebut sering kali berfokus pada kehidupan LGBTQ+, serta dapat melibatkan upaya menantang asumsi bahwa heteroseksualitas dan cisgender adalah keadaan bawaan atau "normal". Teori queer, khususnya, dapat merangkul ambiguitas dan fluiditas kategori-kategori yang secara tradisional dianggap "stabil", seperti gay atau straight.[24][25]
Penelitian kwir adalah studi mengenai isu-isu yang berkenaan dengan orientasi seksual dan identitas gender, yang biasanya berfokus pada individu dan budaya LGBTQ+. Bidang ini awalnya berpusat pada sejarah LGBTQ+ dan teori sastra, tetapi kemudian berkembang untuk mencakup kajian akademik terhadap berbagai persoalan yang muncul dalam biologi, sosiologi, antropologi, sejarah ilmu, filsafat, psikologi, seksologi, ilmu politik, etika, dan bidang-bidang lainnya, melalui penelaahan terhadap identitas, kehidupan, sejarah, serta persepsi tentang orang-orang kwir. Upaya-upaya untuk mengumpulkan dan melestarikan sejarah yang berkaitan dengan kajian kwir telah dilakukan oleh beberapa organisasi, seperti Irish Queer Archive atau Queer Indonesia Archive.
Teori kwir adalah suatu bidang teori kritis pascastrukturalis yang muncul pada awal 1990-an dan berakar dari kajian kwir dan kajian perempuan. Penerapan teori kwir mencakup, antara lain, teologi kwir dan pedagogi kwir. Filsuf Judith Butler menggambarkan teori kwir sebagai sebuah ruang "kontestasi kolektif", yang merujuk pada komitmennya untuk menantang kategori dan definisi yang dianggap sederhana dan mapan.[26] Para pengkritik teori kwir berpendapat bahwa penolakan terhadap kategori yang jelas dan lugas ini dapat membuat disiplin tersebut menjadi terlalu abstrak dan terlepas dari realitas.[27]
Teoretikus kwir seperti Rod Ferguson, Jasbir Puar, Lisa Duggan, dan Chong-suk Han mengkritik gerakan politik gay arus utama karena dianggap bersekutu dengan agenda neoliberal dan imperialis, termasuk pariwisata gay, pelibatan gay dan trans dalam militer, serta pernikahan pasangan gay monogamis yang disahkan oleh negara dan gereja. Puar yang merupakan seorang teoretikus kwir kulit berwarna, secara khusus mencetuskan istilah homonasionalisme yang merujuk pada meningkatnya eksepsionalisme Amerika Serikat, nasionalisme, supremasi kulit putih, dan patriarki di dalam komunitas gay yang dikatalisasi atas respons dari serangan 11 September.[28]
Dalam penelitian mereka tentang gerakan kwir di Indonesia dan Malaysia, para akademisi Jón Ingvar Kjaran dan Mohammad Naeimi menyatakan bahwa "pelokalan identitas queer modern", yang berakar dari penafsiran lokal mengenai teori kwir dan "modernisme Muslim", telah membantu individu kwir di Indonesia dan Malaysia untuk "mendorong pembentukan jati diri mereka, serta mengorganisasi mobilisasi kolektif guna memperjuangkan hak-hak mereka". Para akademisi tersebut membandingkan hal ini dengan retorika kelompok Muslim konservatif yang homofobik, yang menggambarkan identitas "gay" atau "LGBTQ" sebagai bentuk imperialisme Barat, serta dengan "wacana Eurosentris", homonasionalisme, dan homonormativitas dari "politik LGBTQ" di kawasan Global North.[29]