Gender dalam masyarakat BugisDalam suku Bugis, bissu adalah pemimpin besar agama, dukun, dan perantara spiritual yang androgini.
Suku Bugis merupakan kelompok etnis terbesar, dari tiga kelompok etnis besar di Sulawesi Selatan, Indonesia,[1][2]dengan jumlah sekitar tiga juta jiwa. Sebagian besar orang Bugis menganut agama Islam, tetapi banyak ritual pra-Islam yang masih dihormati dalam budayanya, termasuk pandangan bahwa gender memiliki spektrum.[3] Kebanyakan orang Bugis pindah kepercayaan dari Animisme ke Islam di awal abad ke-17;[4] beberapa dalam jumlah yang sedikit pindah ke Kristen, tetapi pengaruh Islam masih sangat kentara dalam kehidupan bermasyarakatnya.[5]
Berbeda dengan binerisme gender, orang Bugis mengakui lima gender: makkunraicode: bug is deprecated , oroanécode: bug is deprecated , bissucode: bug is deprecated , calabaicode: bug is deprecated , and calalaicode: bug is deprecated .[6] Konsep lima gender ini adalah sebagian kunci dari budaya mereka selama sedikitnya enam abad, berdasarkan antropolog Sharyn Graham Davies, yang mengamati kemiripan tradisi di Thailand, Malaysia, India, dan Bangladesh.[7]
Oroanécode: bug is deprecated dapat disamakan dengan laki-laki cisgender, makkunrai dengan perempuan cisgender, calalai dengan laki-laki transgender, dan calabai dengan perempuan transgender, sementara bissu disebut para-gender atau androgini.[7][8] Klasifikasi calabai, calalai, dan bissu sebagai gender ketiga masih diperdebatkan. Pembagian peran ini juga dianggap sebagai identitas mendasar dan panggilan spiritual, dan tidak terkait secara langsung dengan pemerian label laki-laki dan perempuan.[9][10]
Dalam kehidupan bersosial sehari-hari, bissu, calabai, dan calalai dapat memasukki rumah-rumah dan desa baik laki-laki maupun perempuan.[5]
Bissu
Bissu adalah salah satu dari lima gender Bugis. Ada beberapa teori perihal asal-usulnya.[11]
Untuk dianggap bissu, semua aspek gender harus tergabungkan menjadi satu kesatuan utuh. Konon, orang yang terlahir dengan kecondongan untuk menjadi seorang bissu ditandai oleh ambiguitas alat kelaminnya. Ambiguitas ini tidak melulu sesuatu yang terlihat; misalnya, anak yang terlahir laki-laki secara biologis menjadi seorang bissu karena 'dalamnya' perempuan. Kombinasi jenis kelamin ini berakibat pada kemunculan 'meta-gender'. Namun, bukan berarti ambiguitas alat kelamin menentukan bahwa orang tersebut pasti menjadi bissu.[12] Mempelajari bahasa, lagu dan mantra, serta bakat dalam memberikan berkat adalah keharusan bagi bissu. Untuk diakui sebagai bissu yang "sesungguhnya", orang tersebut harus mengikuti ritual inisiasi dan bimbingan dari bissu lain, tetapi praktik ini makin berkurang karena menurunnya jumlah bissu.[13]Bissu hidup selibat dan mengenakan pakaian yang konservatif.[7] Dalam praktiknya, banyak bissu yang melakukan kegiatan seksual (terutama dengan oroané), tetapi hal ini tak diakui secara luas karena dianggap menurunkan derajat kekuatan spiritual bissu.[14]
Berdasarkan seorang profesor antropologi Indonesia, Halilintar Latief, di budaya Bugis pra-Islam, bissu dianggap sebagai perantara antara manusia dengan dewa. Bissu dianggap sebagai keturunan spiritual dari dewi bulan yang perempuan tapi androgini.[13] Sampai sekitar tahun 1940-an, bissu masih menjadi kunci dalam menghidupkan ritual di istana-istana kuno, seperti upacara pemahkotaan raja dan ratu.[7] Secara historis, bissu telah memegang peranan penting dalam upacara lain, terutama di upacara pernikahan dan kelahiran bayi.
Dalam kategori bissu, ada beberapa subkategori dengan peranan masing-masing, seperti yang dicatat dalam puisi La Galigo. Pertama, bissu yang merupakan keturunan langsung dewa dan memiliki tugas dengan kerajaan dan para bangsawan. Bissu kedua adalah bissu pemilik tanah, yang tidak menjalankan tugas-tugas spiritual. Bissu yang terakhir adalah yang memegang peranan penting dalam pengadaan ritual agama.[13]
Persekusi
Era kolonial
Terdapat reaksi yang bertentangan terhadap bissu pada masa pendudukan kolonial Belanda di Indonesia. Pemerintah kolonial mengizinkan beberapa struktur sosial adat tetap berlaku demi kelancaran produktivitas agrikultur, dan tradisi adat dianggap sebagai benteng melawan Islam.[15][16] Namun, pemerintahan Belanda juga berkontribusi dalam perlakuan buruk terhadap praktik dan identitas seksual yang "amoral", sebagai upaya membedakan mereka dari masyarakat adat.[17]
Pasca-kemerdekaan
Pada tahun 1949, kerajaan Bugis kuno melebur ke republik yang baru dan peran bissu menjadi makin terpinggirkan akibat keterkaitan mereka dengan bangsawan Bugis. Meskipun tradisi bissu masih bisa hidup berdampingan dengan ideal Islam selama pra-kemerdekaan, pemberontakan daerah Islam di Sulawesi Selatan berujung pada persekusi bissu. Bagian dari pemberontakan Darul Islam dikenal sebagai Operasi Tobat). Karena kondisi semakin mengecam kelompok dari minoritas gender dan seksual, sedikit orang yang bersedia mengambil peran bissu.[7] Dengan berdirinya pemerintahan Orde BaruSoeharto, bissu kian termarjinalkan sebagai warga Indonesia yang menyimpang dan non-Islamiah.[14]Bissu juga menjadi target selama era Orde Baru karena diisukan terkait dengan Partai Komunis Indonesia.[9][18] Persekusi ini melarang praktik bissu, penghancuran obyek-obyek spiritual yang penting, asimilasi paksa bissu ke peranan laki-laki, dan pembunuhan.
Era kontemporer
Di era pos-Soeharto, terdapat beberapa upaya revitalisasi praktik tradisional bissu, dipadukan dengan tradisi Islam. Terdapat bissu yang memberikan berkat kepada jemaah haji atau bahkan ikut pergi naik haji.[14] Namun, upaya ini juga membuat tradisi bissu ini dipandang sebagai atraksi turisme, sehingga membuat fungsinya sekadar sebagai sumber hiburan dan abai terhadap latar belakang spiritualnya. Bissu juga mendapatkan penerimaan sosial dan penghormatan yang lebih baik ketika mereka terlihat aktif dalam menjalankan peran spiritual mereka; ketika tidak, peran kaku laki-laki/perempuan lebih ditekankan kepada mereka.[14] Meskipun secara umum, secara spiritual dan kultural bissu berbeda dari nonbiner dan interseks, perbedaan ini makin kabur. Banyak bissu yang kini melakukan pekerjaan yang sering diasosiasikan dengan waria, seperti perias wajah pengantin.[9] Bahkan di masyarakat Bugis, peran bissu sering tercampur dengan calalai dan calabai. Akibat penurunan bissu, calalai, dan calabai menggantikan bissu dalam beberapa ritual.[13]
Masyrakat Bugis memiliki kepercayaan bahwa kelima gender harus hidup bersama secara harmonis;[5] tapi di tahun 2019 jumlah bissu menurun drastis, setelah persekusi menahun dan tradisi yang memuja bissu sebagai pemuka agama tradisional. Bissu yang bertahan umumnya turut berpartisipasi dalam upacara pernikahan sebagai pendamping pengantin dan bekerja sebagai petani. Kelompok Islam konservatif, polisi dan politisi memiliki andil dalam meningkatnya kekerasan dan diskriminasi terhadap kelompok minoritas seksual dan gender di Indonesia.
Calabai
Penari Calabai, 1953
Berdasarkan sistem kasta suku Bugis, calabai umumnya lahir secara biologis laki-laki tapi mengambil peran perempuan heteroseksual. Gaya berpakaian dan ekspresi gendernya feminin tapi bukan "tipikal" perempuan heteroseksual. Terutama di era modern, gaya berpakaian calabai juga dipengaruhi oleh gaya selain budaya tradisional Bugis, seperti Islam dan Kristen.[19] Peran tradisional calabai meliputi penyusunan acara dan penataan rambut untuk upacara pernikahan.
Calabai merangkul feminitasnya dan hidup sebagai perempuan, tapi secara umum tidak menganggap diri mereka perempuan, tetapi tidak juga ingin menjadi perempuan maupun merasa terperangkap dalam tubuh laki-laki. Operasi penggantian kelamin berskala besar umumnya tidak dilakukan karena alat kelamin laki-laki mereka dianggap tidak bertentangan dengan identitas calabai mereka.[19] Namun, harga tinggi dan aksesibilitas rendah untuk operasi semacam itu tak dapat dianggap bukan rintangan pula.[19] Keluarga nuklir dan heteronormativitas dianggap penting di kehidupan bermasyarakat Indonesia, oleh karena itu calabai biasanya mengambil peran istri dalam sebuah keluarga nuklir untuk menuruti asas kekeluargaan tersebut. Untuk itu, beberapa calabai melakukan prosedur pernikahan di bawah tangan, atau pernikahan yang tidak resmi secara sipil.[19]
Identitas calabai dianggap sebuah takdir, permanen, dan diberikan oleh Tuhan. Meskipun pandangan ini membantu calabai untuk lebih diterima oleh masyarakat modern Bugis, dalam beberapa kasus malah membuat pengucilan calabai karena rasa iba dan ketiadaan agensi individual.[19][20] Selain itu, mereka juga tidak memiliki signifikansi spiritual seperti bissu. Terdapat ketimpangan rasa hormat pada calabai dibandingkan dengan bissu.[20]
Calalai
Calalai terlahir sebagai perempuan secara biologis tapi mengambil peran laki-laki heteroseksual. Mereka tampil sebagai laki-laki, mengerjakan pekerjaan maskulin dan biasanya tinggal bersama pasangan hidup perempuan dan mengangkat anak.[21] Meski secara tipikal mereka berdandan maskulin, banyak calalai menambah penanda tambahan yang khas identitas calalai serta tak berdandan seperti oroané, seperti memakai giwang hanya di kuping kanan (oroané hanya pakai di kuping kiri, sementara makkunrai di kedua kuping).[19]Calalai biasanya dapat menunjukkan campuran sifat-sifat feminin perempuan dan laki-laki, misalnya ketekunan dan keberanian.[19]Calalai juga dapat bertingkah maskulin dan feminin; ada fluiditas yang tergantung situasi.[20]
Jumlah calalai sangat sedikit dibandingkan bissu dan calabai karena kurangnya insentif sebagai calalai. Ada tingkat diskriminasi tinggi terhadap orang-orang yang dilahirkan perempuan secara biologis namun tidak mengambil peran ibu dan istri, mereka dicap pemalas. Banyak dari pekerjaan mereka juga luput dari pengelihatan publik, seperti di pertanian, apabila dibandingkan dengan calabai yang sering terlihat bekerja sebagai tukang masak, penata rambut dan pengurus acara pernikahan; kontras ini bisa jadi mengundang stereotipe tersebut.[19] Dibandingkan dengan calabai yang umumnya bisa memamerkan identitas mereka, banyak calalai yang terlihat seperti laki-laki biologis dan merahasiakan jenis kelamin biologis mereka.[6]
Pada tahun 1990-an, beberapa calalai melabeli diri mereka menggunakan kata-kata dalam bahasa Inggris seperti "tomboi", "lesbian", dan "hunters" (lit. "pemburu"). Kata terakhir tersebut merujuk pada "memburu" impian mereka untuk diterima sebagai gender yang mereka pilih.[6]
Referensi
↑Peletz, Michael G. (2009). Gender pluralism: southeast Asia since early modern times. New York: Routledge. ISBN978-0-415-93160-1.
↑Thamrin, Umar (November 2015). "How Economy Matters to Indigenous Identity of Bissu, Transgender Priests of South Sulawesi, Indonesia". Asia Research Institute. Working Paper Series (241).