Afrika
Peran perempuan dan aktivitas mereka dalam sejarah Afrika sering kali tidak tercatat dalam sumber sejarah. Munculnya studi perempuan pada tahun 1980-an bertujuan untuk mengangkat kembali kontribusi perempuan yang sering terlupakan akibat kolonialisme serta sistem sosial patriarki yang masih bertahan setelah dekolonisasi.[5]: 12 Karena sistem yang lebih mendukung pendidikan anak laki-laki dibandingkan anak perempuan masih berlaku, pada era pasca-kemerdekaan jumlah perempuan yang melek huruf relatif sedikit. Perempuan yang memiliki kemampuan membaca dan menulis umumnya tidak didorong untuk meniti karier profesional, dan sering terlibat dalam aktivitas advokasi untuk menangani ketidaksetaraan pendidikan serta kendala lain yang dihadapi perempuan pada tahun 1960-an dan 1970-an. Generasi pertama cendekiawan menitikberatkan penelitiannya pada pendirian dan legitimasi sejarah pra-kolonial Afrika.[5]: 13 Mereka juga mempertanyakan apakah konstruksi gender ala Barat relevan diterapkan di Afrika, atau apakah konsep gender sudah ada dalam masyarakat Afrika pra-kolonial.[5]: 14–15
Karya Ifi Amadiume Male Daughters, Female Husbands (1987) dan Oyeronke Oyewumi The Invention of Women (1997) termasuk karya awal yang menelaah persepsi gender di Afrika. Pada tahun 1977, Association of African Women for Research and Development (AAWORD) didirikan untuk mempromosikan penelitian tentang perempuan Afrika yang dilakukan oleh perempuan Afrika. Cendekiawan yang terlibat sejak awal organisasi ini antara lain Simi Afonja (Nigeria), N'Dri Thérèse Assié-Lumumba (Pantai Gading), Bolanle Awe (Nigeria), Nawal El Saadawi (Mesir), Nina Mba (Nigeria), Omolara Ogundipe-Leslie (Nigeria), Achola Pala Okeyo (Kenya), Filomena Steady (Sierra Leone), Fatou Sow (Senegal), dan Zenebework Tadesse (Etiopia).[5]: 14–15
Beberapa cendekiawan Afrika juga bergabung dengan Development Alternatives with Women for a New Era (DAWN), sebuah jaringan akademisi dan aktivis feminis yang fokus pada isu-isu Global South, yang didirikan pada 1984.[6] Anggota pendiri Afrika DAWN antara lain Fatema Mernissi (Maroko), Pala Okeyo (Kenya), dan Marie-Angélique Savané (Senegal).[7] Kelompok ini kemudian menginspirasi generasi kedua peneliti dan aktivis, termasuk Rudo Gaidzanwa (Zimbabwe), Ayesha Imam (Nigeria), Patricia McFadden (Eswatini), Amina Mama (Nigeria), Takyiwaa Manuh (Ghana), Maria Nzomo (Kenya), dan Charmaine Pereira (Nigeria).[5]: 14–15
Perkembangan pendidikan formal dalam studi gender juga terjadi secara signifikan. Universitas Ghana mendirikan Program Pengembangan dan Studi Perempuan (Development and Women's Studies Program, disingkat : DAWS) pada 1989, yang pada 1996 telah menawarkan program sarjana dan pascasarjana.[8]: 415 After Setelah berakhirnya sistem Apartheid, Universitas Cape Town di Afrika Selatan mendirikan African Gender Institute pada 1996 untuk memfasilitasi penelitian dan studi gender di Afrika. Pada 2003, departemen yang sepenuhnya didedikasikan untuk studi gender dan perempuan juga telah didirikan di Universitas Makerere (Uganda), Universitas Buea (Kamerun), dan Universitas Zambia (Zambia).[9]: 128