ENSIKLOPEDIA
Pengguna:Anicyandra/Sunda
| Aksara Sunda ᮃᮾᮞᮛᮞᮥᮔ᮫ᮓ | |
|---|---|
Langgam aksara Sunda yang dipahat di prasasti Kawali | |
| Jenis aksara | Abugida
|
| Bahasa | Sunda Kuno, Jawa Kuno, Sangsekerta |
| Disiarkan | 16 Juni 1999[a]
|
Periode | Abad ⅩⅣ – ⅩⅧ Masehi |
| Arah penulisan | Kiri ke kanan |
| Aksara terkait | |
Silsilah | Menurut hipotesis hubungan antara abjad Aramea dengan Brahmi, maka silsilahnya sebagai berikut:
Dari aksara Brahmi diturunkanlah:[b]
|
Aksara turunan | Aksara Sunda Baku |
Aksara kerabat | Bali Batak Baybayin Bugis Incung Jawa Lampung Makassar Sunda Ulu |
| ISO 15924 | |
| ISO 15924 | Sund, 362 |
| Pengkodean Unicode | |
Nama Unicode | Sundanese |
| |
| |
| Halaman ini mengandung transkripsi fonetik dalam Alfabet Fonetik Internasional (AFI). Untuk bantuan dalam membaca simbol AFI, lihat Bantuan:Pengucapan. Untuk penjelasan perbedaan [ ], / / dan ⟨ ⟩, Lihat IPA § Tanda kurung dan delimitasi transkripsi. | |
Aksara Sunda adalah salah satu sistem tulisan yang pernah berkembang di wilayah barat Pulau Jawa, Indonesia, khususnya di Tatar Sunda. Aksara ini digunakan untuk menulis Bahasa Sunda Kuno, Jawa Kuno, serta Sanskerta. Secara genealogi, Aksara Sunda merupakan turunan dari aksara Brahmi, yang diwarisi melalui perantara aksara Kawi. Aksara ini memiliki hubungan kekerabatan yang erat dengan Aksara Bali dan Aksara Jawa, meskipun secara desain huruf lebih mendekati bentuk aksara Kawi yang sederhana dan minim ornamen.
Aksara Sunda digunakan secara aktif dalam sastra maupun komunikasi sehari-hari oleh masyarakat Sunda sejak pertengahan abad ke-14 hingga pertengahan abad ke-18. Namun, seiring waktu, penggunaannya mulai berkurang dan secara bertahap digantikan oleh sistem tulisan lain, seperti huruf Cacarakan, Pegon, dan Latin.
Secara sistematis, Aksara Sunda termasuk dalam kategori abugida, yang terdiri dari sekitar 18 hingga 25 aksara dasar, tergantung pada kebutuhan bahasa yang digunakan. Seperti aksara-aksara Brahmi lainnya, setiap konsonan dalam sistem ini secara inheren mengandung vokal /a/, yang dapat diubah dengan penambahan diakritik tertentu. Arah penulisan aksara ini mengikuti pola dari kiri ke kanan. Dalam tradisi penulisannya, Aksara Sunda awalnya diterapkan dalam bentuk scriptio continua—tanpa spasi antarkata—namun sering kali diselingi oleh tanda baca yang bersifat dekoratif.
Sejarah
Awal mula
Aksara Sunda merupakan sistem tulisan yang digunakan oleh masyarakat Sunda di wilayah barat Pulau Jawa. Perkembangan aksara ini dapat ditelusuri dari berbagai prasasti dan naskah kuno yang ditemukan di wilayah tersebut. Bukti tertua keberaksaraan di tanah Sunda berasal dari Kerajaan Tarumanagara pada abad ke-5, dengan ditemukannya Prasasti Kebon Kopi I di Bogor. Prasasti ini berisi pahatan telapak kaki gajah serta tulisan dalam aksara Pallawa, yang menunjukkan pengaruh kuat dari India, khususnya dalam tradisi tulisan Brahmi Selatan Akhir.
Masa keemasan
Setelah runtuhnya Kerajaan Tarumanagara, berbagai kerajaan muncul di wilayah Sunda, tetapi bukti tertulis mengenai perkembangan aksara di daerah ini masih terbatas hingga abad ke-14. Pada periode ini, masyarakat Sunda mulai menggunakan sistem tulisan yang lebih khas, yang kemudian dikenal sebagai Aksara Sunda Kuno. Bukti penggunaan aksara ini dapat ditemukan dalam beberapa prasasti penting dari abad ke-14 hingga abad ke-16.
Salah satu prasasti tertua yang menggunakan Aksara Sunda Kuno adalah Prasasti Sanghyang Tapak, yang ditemukan di Sukabumi dan berasal dari abad ke-14. Prasasti ini berisi aturan hukum serta perlindungan terhadap wilayah suci. Selain itu, Prasasti Kawali dari abad yang sama ditemukan di Ciamis dan berisi pesan dari raja Sunda Galuh mengenai kepemimpinan serta kemakmuran kerajaan. Pada abad ke-16, Prasasti Batutulis ditemukan di Bogor sebagai bentuk penghormatan terhadap Raja Pajajaran, Sri Baduga Maharaja.
Selain prasasti, Aksara Sunda Kuno juga digunakan dalam berbagai naskah yang ditulis di atas daun lontar. Naskah-naskah ini memuat beragam teks, termasuk sastra (prosa serta puisi), ajaran keagamaan, dan kronik sejarah. Masa ini dianggap sebagai masa keemasan Aksara Sunda Kuno karena banyaknya naskah yang diciptakan. Naskah yang direka tidak hanya mengenai ajaran agama Hindu, tetapi juga ajaran agama Islam. Beberapa naskah penting dari periode ini antara lain Carita Parahyangan, Bujangga Manik, Fragmen Carita Parahyangan, Kawih Pangeuyeukan, Sewaka Darma, Carita Ratu Pakuan, Pakeling, Carita Purnawijaya, Kawih Paningkes, Jatiniskala atau Jatiraga, Darmajati, Sanghyang Jati Maha Pitutur, Pituturning Jalma, Tutur Bwana, Sanghyang Sasana Maha Guru, Warugan Lemah, Bima Swarga, Sri Ajnyana, Sanghyang Siksa Kandang Karesian, Sanghyang Swawarcinta, Amanat Galunggung, Sanghyang Hayu, Pabyantaraan, Ajaran Gunung Jati, Wirid Nur Muhammad, dan Darmapulih – Bacaan Salat Fardu.
Salah satu naskah terakhir yang menggunakan Aksara Sunda Kuno adalah Carita Waruga Guru, yang ditulis di atas kertas Eropa di awal abad ke-18. Salinan naskah ini kini tersimpan di Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (PNRI) dan menjadi salah satu bukti terakhir penggunaan aksara ini.
Kemunduran
Kemunduran aksara Sunda Kuno mulai terjadi setelah wilayah bekas Kerajaan Sunda berada di bawah pengaruh Kesultanan Mataram pada abad ke-17. Pada periode ini, budaya Jawa semakin mendominasi, terutama di kalangan aristokrasi Sunda yang mulai beralih menggunakan bahasa dan aksara Jawa dalam berbagai aspek kehidupan. Perubahan ini berlanjut hingga abad ke-18, ketika wilayah Priangan berada di bawah kekuasaan kolonial Belanda. Pada masa ini, aksara Sunda tidak lagi digunakan oleh masyarakat Sunda. Sebagai gantinya, abjad Pegon[1]—yang merupakan adaptasi dari abjad Arab—menjadi sistem tulisan utama dalam kehidupan sehari-hari, terutama untuk keperluan keagamaan dan komunikasi umum. Sementara itu, kaum ningrat Sunda lebih sering menggunakan aksara Jawa dalam korespondensi resmi, baik dengan Kesultanan Mataram maupun dengan pemerintahan kolonial Belanda.[2] Dominasi aksara Jawa dan abjad Pegon dalam berbagai bidang menyebabkan aksara Sunda Kuno semakin tersisih hingga akhirnya benar-benar ditinggalkan. Dengan demikian, perjalanan aksara Sunda yang telah digunakan selama lebih dari 400 tahun berakhir pada periode ini.[a]
Penelitian
Pada abad ke-19, penelitian terhadap aksara Sunda mulai dilakukan oleh para sarjana Belanda. KF. Holle (1867) menjadi pelopor dalam mengklasifikasikan karakter aksara dari berbagai artefak di Jawa Barat, diikuti oleh Cohen Stuart (1887). Pada abad ke-20, penelitian lebih lanjut dilakukan oleh sejumlah sarjana seperti Pleyte (1911), N.J. Krom (1914), Poerbatjaraka (1916), dan H. Ten Dam (1957). J.G. de Casparis (1975) kemudian menyebut aksara ini sebagai "aksara Pajajaran" dan menyoroti perbedaannya yang mencolok dibandingkan dengan aksara Jawa.
Penelitian terhadap aksara dan naskah Sunda kuna terus berkembang pada awal 1960-an dengan kontribusi para peneliti seperti Amir Sutaarga, Atja, Saleh Danasasmita, dan Ayatrohaedi. Seorang sarjana Belanda, Noordyun, juga turut meneliti aksara ini. Generasi berikutnya melanjutkan kajian terhadap aksara Sunda melalui penelitian yang dilakukan oleh Tien Wartini, Kalsum, Ruhaliah, Undang Ahmad Darsa, Elis Suryani, Agus Suherman, dan Tedi Permadi. Hingga kini, kajian tentang aksara dan naskah Sunda masih terus berlanjut, dengan kontribusi para peneliti muda seperti Aditia Gunawan, Mamat Rahmat, Rahmat Sopian, Sinta Ridwan, Reza Saefulrahman, Ilham Nurwansah, Ade Ahmad Suprianto, Riki Nawawi, dan Aditia.
Revitalisasi
Pada akhir abad ke-20, dalam upaya menghidupkan kembali aksara ini, Pemerintah Provinsi Jawa Barat mengeluarkan Peraturan Daerah Nomor 6 Tahun 1996 tentang Bahasa, Sastra, dan Aksara Sunda. Kebijakan ini dilatarbelakangi oleh Keputusan Presiden Nomor 082/B/1991 tanggal 24 Juli 1991 yang menekankan pentingnya pemeliharaan kebudayaan daerah.
Sebagai langkah konkret dalam proses revitalisasi, pada 21 Oktober 1997, Pemerintah Provinsi Jawa Barat bekerja sama dengan Fakultas Sastra Universitas Padjadjaran menyelenggarakan Lokakarya Aksara Sunda di Aula Pusat Studi Bahasa Jepang (PSBJ), Kampus Fakultas Sastra Universitas Padjadjaran, Jatinangor. Lokakarya ini dihadiri oleh perwakilan berbagai elemen masyarakat dari kabupaten dan kota di Jawa Barat. Dalam forum ini, para peserta membahas serta merumuskan standar aksara Sunda yang sesuai dengan ketentuan Perda Nomor 6 Tahun 1996.
Hasil lokakarya menyepakati bahwa aksara yang akan dihidupkan kembali adalah aksara yang pernah digunakan pada abad ke-14 hingga abad ke-18. Aksara ini sebelumnya dikenal sebagai Aksara Sunda Kuno, namun dalam lokakarya diputuskan untuk disebut sebagai Aksara Sunda tanpa tambahan kata "Kuno". Dalam upaya pembakuan, dilakukan penyederhanaan serta penggabungan berbagai variasi aksara yang ditemukan dalam naskah dan prasasti Aksara Sunda. Selain itu, beberapa huruf baru juga diciptakan. Hasil dari proses ini kemudian ditetapkan sebagai Aksara Sunda Baku.
Meskipun demikian, Aksara Sunda Baku tidak sepenuhnya merepresentasikan bentuk asli Aksara Sunda Kuno. Banyak karakter dalam aksara baku mengalami distorsi bentuk dan penyederhanaan yang signifikan, sehingga ciri-ciri yang menunjukkan keterikatannya dengan Aksara Kawi hilang. Hal ini menyebabkan Aksara Sunda Baku tampak seperti sistem tulisan yang dibuat dari awal dan dianggap terpisah dari Aksara Sunda. Selain itu, Aksara Sunda Baku juga mencakup beberapa huruf baru yang tidak sesuai dengan sistem fonologi bahasa Sunda. Meskipun bermasalah, aksara ini tetap diajarkan di sekolah sebagai bagian dari muatan lokal.[4]
Media
Sepanjang sejarahnya, aksara Sunda telah ditulis menggunakan berbagai media yang berkembang seiring waktu. Setiap media memiliki karakteristik tersendiri yang memengaruhi teknik penulisan dan bentuk aksara yang dihasilkan.
Pada masa awal, sama seperti aksara Kawi, aksara Sunda banyak ditemukan pada prasasti batu dan lempengan logam, sebagaimana terlihat pada Prasasti Batutulis dan Prasasti Kebantenan yang ditulis di atas lempeng tembaga. Penggunaan batu dan logam sebagai media penulisan menunjukkan bahwa aksara pada masa itu memiliki bentuk yang lebih tegas dan kokoh, disesuaikan dengan teknik pemahatan yang digunakan.
Seiring berjalannya waktu, media penulisan berkembang ke bahan organik seperti daun palem siwal (Borassus flabellifer) dan daun gebang (Corypha gebanga). Lontar diolah sedemikian rupa hingga dapat ditulisi dengan cara menggoreskan pisau kecil, yang dalam bahasa Sunda disebut péso pangot. Tulisan pada lontar dibuat dengan teknik carik, yaitu menggoreskan pisau kecil untuk membentuk aksara, kemudian dihitamkan menggunakan minyak kemiri agar lebih terbaca. Bentuk aksara yang dihasilkan pada lontar cenderung memiliki garis-garis melengkung dan miring karena sifat alami lontar yang lebih lentur. Daun lontar tidak digunakan untuk menulis teks yang dianggap sakral, melainkan lebih sering digunakan untuk naskah sastra umum.
Sementara itu, daun gebang digunakan dengan teknik yang berbeda. Alih-alih digores, aksara pada daun gebang ditulis menggunakan tinta (wīra) dan pena (tanu). Teknik ini disebut cemeng, yang berarti 'hitam', mengacu pada penggunaan tinta hitam dari campuran jelaga halus dan getah pohon Nagasari (Mesua ferrea). Pena yang dipakai bukanlah pena modern, melainkan harupat. Harupat adalah lidi dari pohon enau (Arenga pinnata) yang digunakan sebagai pena alami untuk menulis di atas gebang karena sifatnya yang tajam, lentur, dan mudah diasah. Tulisan pada gebang cenderung memiliki ketebalan garis yang bervariasi karena pengaruh alat tulisnya, serta lebih dekoratif dibandingkan dengan lontar. Penggunaan gebang juga memiliki signifikansi tersendiri karena lebih sering digunakan untuk menulis naskah yang bersifat sakral atau keagamaan, seperti tutur dan tattwa, yang berisi ajaran dalam bentuk dialog antara guru dan murid. Meskipun secara fisik gebang lebih rapuh dibandingkan lontar, gebang terbukti lebih tahan lama dalam iklim tropis Indonesia, sebagaimana dibuktikan oleh naskah gebang Arjunawiwāha yang berusia hampir 700 tahun.
Selain lontar dan gebang, media lain yang digunakan dalam penulisan aksara Sunda meliputi bambu, daluwang, dan kertas. Bambu memiliki permukaan yang keras dan melengkung, sehingga aksara yang dituliskan di atasnya cenderung lebih sederhana dengan minim lengkungan. Teknik penulisannya mirip dengan lontar, yakni dengan cara menggoreskan alat tajam. Daluwang, sejenis kertas yang dibuat dari kulit pohon saéh (Broussonetia papyrifera), serta kertas Eropa yang mulai digunakan kemudian, memungkinkan penulisan dengan wīra dan harupat. Berbeda dengan lontar dan bambu yang harus digores, daluwang dan kertas memberikan lebih banyak keleluasaan dalam menulis aksara dengan bentuk yang lebih kompleks dan dekoratif, serupa dengan yang ditemukan pada gebang.
Penggunaan
Aksara Sunda digunakan dalam berbagai konteks, mencerminkan fungsinya yang luas dalam kehidupan masyarakat Sunda. Sejumlah prasasti dan naskah menunjukkan bahwa aksara ini berperan dalam bidang administratif, hukum, keagamaan, serta kesusastraan. Dalam bidang pemerintahan dan hukum misalnya, aksara Sunda digunakan untuk mencatat peristiwa penting, keputusan kerajaan, serta berbagai aturan sosial. Prasasti Batutulis (1533 M) merupakan salah satu contoh penggunaan aksara Sunda dalam memperingati Raja Siliwangi. Sementara itu, Prasasti Sanghyang Tapak memuat aturan-aturan tentang perlindungan wilayah suci, yang menunjukkan peran aksara ini dalam hukum dan pemerintahan.
Aksara Sunda juga berkembang dalam konteks diglosia dan digrafia—digunakan bersamaan dengan aksara lain, yakni aksara Buda. Aksara Buda lebih sering dipakai untuk menulis bahasa Kawi, sedangkan aksara Sunda secara dominan digunakan untuk bahasa Sunda atau bahasa campuran. Dalam kehidupan intelektual dan keagamaan, aksara Sunda menjadi medium utama dalam penulisan berbagai naskah penting, seperti Carita Parahyangan, Séwaka Darma, Amanat Galunggung, dan Bujangga Manik. Selain itu, ditemukan pula naskah yang menggunakan bahasa Jawa Kuno tetapi ditulis dengan aksara Sunda, seperti Sang Hyang Hayu dan Bhīma Svarga. Dalam ranah keagamaan, naskah Sanghyang Siksa Kandang Karesian berisi ajaran moral dan spiritual yang memberikan pedoman hidup bagi masyarakat Sunda.[b] Aksara Sunda juga digunakan dalam tulisan keagamaan Islam, seperti Wirid Nur Muhammad, Pakeling, dan Ajaran Gunung Jati.
Selain itu, aksara Sunda memainkan peran penting dalam pelestarian sastra lisan dan kesusastraan tertulis. Puisi, prosa, dan pantun yang ditulis dengan aksara Sunda sering kali mengandung nilai-nilai budaya serta sejarah yang diwariskan dari generasi ke generasi. Keberadaan teks-teks sastra, seperti Carita Waruga Guru, menunjukkan bahwa aksara ini digunakan untuk mencatat kisah-kisah mitologi dan sejarah masyarakat Sunda.
Bentuk
Aksara
Aksara merupakan lambang grafis yang merepresentasikan satu suku kata dalam suatu sistem tulisan. Sejauh ini telah ditemukan 7 aksara vokal serta 25 aksara dasar dan tampaknya akan terus bertambah mengingat belum semua naskah Sunda Kuno diteliti. Dalam perkembangannya, beberapa aksara tidak lagi digunakan karena fonem yang diwakilinya telah melebur ke dalam sistem fonologi bahasa Sunda.
Sora
Aksara sora (ᮃᮾᮞᮛᮞᮧᮛ) adalah aksara yang digunakan untuk menulis suku kata yang tidak memiliki konsonan di awal, atau dalam kata lain suku kata yang hanya terdiri vokal. Bentuknya dapat dilihat sebagaimana berikut:
| Tempat pelafalan | Velar | Palatal | Labial | Retrofleks | Dental | Velar-Palatal | Velar-Labial | |||
|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|
| Pendek | ᮃ a |
ᮄ i |
ᮅ u |
ᮻ ṛ/re[1] |
ᮼ ḷ/le[2] |
ᮆ é[3] |
ᮇ o | |||
Catatan
Pelafalan berikut tidak digunakan dalam bahasa Jawa modern:
| ||||||||||
Sebagaimana aksara wyanjana, bahasa Jawa modern tidak lagi menggunakan keseluruhan aksara swara dalam deret Sanskerta-Kawi, dan kini hanya aksara untuk vokal pendek yang umumnya diajarkan. Dalam penulisan modern, aksara swara digunakan untuk menggantikan aksara wyanjana ha ꦲ (yang pelafalannya bisa jadi ambigu karena berperan ganda sebagai fonem /ha/ dan /a/) pada nama atau istilah asing yang pelafalannya perlu diperjelas.[6]
Pa cerek ꦉ, pa cerek dirgha ꦉꦴ, nga lelet ꦊ, dan nga lelet raswadi ꦋ adalah konsonan silabis yang dalam bahasa Sanskerta-Kawi dianggap sebagai huruf vokal.[5][7] Ketika digunakan untuk bahasa selain Sanskerta, pelafalan keempat aksara ini sering kali bervariasi. Dalam perkembangan bahasa Jawa modern, hanya pa cerek dan nga lelet yang digunakan; pa cerek dilafalkan /rə/ (sebagaimana re dalam kata "remah") sementara nga lelet dilafalkan /lə/ (sebagaimana le dalam kata "lemah"). Dalam pengajaran modern, aksara ini sering kali dipisahkan dari aksara swara menjadi kategori sendiri yang disebut aksara gantèn. Kedua aksara ini wajib digunakan untuk mengganti tiap kombinasi ra+pepet (ꦫꦼ → ꦉ) serta la+pepet (ꦭꦼ → ꦊ) tanpa terkecuali.[8]
Ngalagena
Aksara ngalagena (ᮃᮾᮞᮛᮍᮜᮌᮨᮔ) merupakan aksara konsonan dalam sistem Aksara Sunda yang memiliki vokal inheren /a/. Bentuk aksara-aksara tersebut dapat dilihat sebagaimana berikut:
| Tempat pelafalan | Nirsuara | Bersuara | Sengauan | Semivokal | Sibilan | Celah-suara | ||||
|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|
| Nirhembus | Berhembus | Nirhembus | Berhembus | |||||||
| Lelangit-belakang | ᮊ ka |
ᮌ ga |
gha |
ᮍ ṅa[1] |
ᮠ ha | |||||
| Lelangit | ᮎ ca |
ᮏ ja |
ᮑ ña[2] |
ᮚ ya |
śa[5] |
|||||
| Gelungan | ṭa[3] |
ḍa[4] |
ṇa |
ᮛ ra |
ṣa |
|||||
| Gigi | ᮒ ta |
ᮓ da |
ᮔ na |
ᮜ la |
ᮞ sa |
|||||
| Bibir | ᮕ pa |
pha |
ᮘ ba |
ᮙ ma |
ᮝ wa |
|||||
| Catatan | ||||||||||
Dalam perkembangannya, bahasa Sunda tidak lagi menggunakan keseluruhan aksara ngalagena dalam deret Sanskerta-Kawi. Aksara Sunda pada akhirnya hanya menggunakan 18 bunyi konsonan dan 19 aksara dasar.
| ha | na | ca | ra | ka | da | ta | sa | wa | la | pa | ja | ya | nya | ma | ga | ba | tra | nga | ||
|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|
ᮠ |
ᮔ |
ᮎ |
ᮛ |
ᮊ |
ᮓ |
ᮒ |
ᮞ |
ᮝ |
ᮜ |
ᮕ |
ᮏ |
ᮚ |
ᮑ |
ᮙ |
ᮌ |
ᮘ |
[1] |
ᮍ | ||
Catatan
| ||||||||||||||||||||
Diakritik
Diakritik (rarangkén ᮛᮛᮀᮊᮦᮔ᮪) adalah tanda yang melekat pada aksara untuk mengubah vokal inheren aksara yang bersangkutan dan menambah konsonan.
Sora
Rarangkén sora (ᮛᮛᮀᮊᮦᮔ᮪ᮞᮧᮛ) adalah rarangkén yang digunakan untuk mengubah vokal inheren /a/ menjadi vokal lainnya, sebagaimana berikut:[9]
| Pendek | Panjang | ||||||||
|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|
| -a | -i[1] | -u[1] | -é[2][4] | -e[3][5] | -o/ā[4] | -ī | -ū | -ai | -au |
| - | ᮤ |
ᮥ |
ᮦ |
ᮨ |
ᮧ |
ᮤᮧ |
ᮥᮧ |
||
| - | panghulu | panyuku | panéléng | pamepet | panolong | panghulu-panolong | panyuku-panolong | dirga muré | dirga muré-tarung |
| ka | ki | ku | ké | ke | kā | kī | kū | kai | kau |
| ᮊ | ᮊᮤ | ᮊᮥ | ᮊᮦ | ᮊᮨ | ᮊᮧ | ᮊᮤᮧ | ᮊᮥᮧ | ||
Catatan
| |||||||||
Sama seperti tradisi Cacarakan nantinya, aksara Sunda belum mengenal pemisahan antara e dan eu. Sehingga kata benang dan beunang sama-sama ditulis ᮘᮨᮔᮀ.
Patén
Rarangkén patén (ᮛᮛᮀᮊᮦᮔ᮪ᮕᮒᮦᮔ᮪) digunakan untuk menutup suatu suku kata dengan konsonan, sebagaimana berikut:[10]
| -ng | -r | -h | -n | -k | pemati[2] | |
|---|---|---|---|---|---|---|
ᮀ |
ᮁ |
ᮂ |
᮪ | |||
| panyecek | panglayar | pangwisad | pamaéh | |||
| kang | kar | kah | kan | kak | k | |
| ꦏꦁ | ꦏꦂ | ꦏꦃ | ꦏ꧀ | |||
| Catatan | ||||||
Wyanjana
Sandhangan wyanjana (ꦱꦤ꧀ꦝꦁꦔꦤ꧀ꦮꦾꦚ꧀ꦗꦤ) digunakan untuk menuliskan gugus konsonan dengan semivokal dalam satu suku kata, sebagaimana berikut:[11]
| -re | -y- | -r- | -l- | -w- |
|---|---|---|---|---|
ꦽ |
ꦾ |
ꦿ |
꧀ꦭ |
꧀ꦮ |
| keret | pengkal | cakra | panjingan la | gembung |
| kre | kya | kra | kla | kwa |
| ꦏꦽ | ꦏꦾ | ꦏꦿ | ꦏ꧀ꦭ | ꦏ꧀ꦮ |
Pasangan
Vokal inheren dari tiap aksara dasar dapat dimatikan dengan penggunaan diaktrik pangkon. Akan tetapi, pangkon normalnya tidak digunakan di tengah kata atau kalimat, sehingga untuk menuliskan suku kata tertutup di tengah kata dan kalimat, digunakanlah bentuk pasangan (ꦥꦱꦔꦤ꧀). Berbeda dengan pangkon, pasangan tidak hanya mematikan konsonan yang diiringinya tetapi juga menunjukkan konsonan selanjutnya. Sebagai contoh, aksara ma (ꦩ) yang diiringi bentuk pasangan dari pa (꧀ꦥ) menjadi mpa (ꦩ꧀ꦥ). Bentuk pasangan setiap aksara ada di tabel berikut:[12]
| ha/a | na | ca | ra | ka | da | ta | sa | wa | la | pa | dha | ja | ya | nya | ma | ga | ba | tha | nga | |||
|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|
| Nglegena | Aksara | ꦲ |
ꦤ |
ꦕ |
ꦫ |
ꦏ |
ꦢ |
ꦠ |
ꦱ |
ꦮ |
ꦭ |
ꦥ |
ꦝ |
ꦗ |
ꦪ |
ꦚ |
ꦩ |
ꦒ |
ꦧ |
ꦛ |
ꦔ | |
| Pasangan | ꧀ꦲ |
꧀ꦤ |
꧀ꦕ |
꧀ꦫ |
꧀ꦏ |
꧀ꦢ |
꧀ꦠ |
꧀ꦱ |
꧀ꦮ |
꧀ꦭ |
꧀ꦥ |
꧀ꦝ |
꧀ꦗ |
꧀ꦪ |
꧀ꦚ |
꧀ꦩ |
꧀ꦒ |
꧀ꦧ |
꧀ꦛ |
꧀ꦔ | ||
| Murda | Aksara | ꦟ |
ꦖ |
ꦬ |
ꦑ |
ꦡ |
ꦯ |
ꦦ |
ꦘ |
ꦒ |
ꦨ |
|||||||||||
| Pasangan | ꦟ |
꧀ꦖ[1] |
꧀ꦬ |
꧀ꦑ |
꧀ꦡ |
꧀ꦯ |
꧀ꦦ |
꧀ꦘ |
꧀ꦓ |
꧀ꦨ |
||||||||||||
| Mahaprana | Aksara | ꦣ |
ꦰ |
ꦞ |
ꦙ |
ꦜ |
||||||||||||||||
| Pasangan | ꧀ꦣ |
꧀ꦰ |
꧀ꦞ |
꧀ꦙ |
꧀ꦜ |
|||||||||||||||||
Catatan
| ||||||||||||||||||||||
Contoh pemakaian pasangan dapat dilihat sebagaimana berikut:
Angka
Aksara Sunda memiliki lambang bilangannya sendiri yang berlaku selayaknya angka Arab, tetapi sebagian bentuknya memiliki rupa yang persis sama dengan beberapa aksara Sunda, semisal angka 1 ᮱ dengan aksara wyanjana ga ꦒ, atau angka 8 ꧘ dengan aksara murda pa ꦦ. Karena persamaan bentuk ini, angka yang digunakan di tengah kalimat perlu diapit dengan tanda baca pada pangkat atau pada lingsa untuk memperjelas fungsinya sebagai lambang bilangan. Semisal, "tanggal 17 Juni" ditulis ꦠꦁꦒꦭ꧀꧇꧑꧗꧇ꦗꦸꦤꦶ atau ꦠꦁꦒꦭ꧀꧈꧑꧗꧈ꦗꦸꦤꦶ. Pengapit ini dapat diabaikan apabila fungsi lambang bilangan sudah jelas dari konteks, misal nomor halaman di pojok kertas. Bentuknya dapat dilihat sebagaimana berikut:[13][14]
| 0 | 1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 | 8 | 9 |
|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|
꧐ |
꧑ |
꧒ |
꧓ |
꧔ |
꧕ |
꧖ |
꧗ |
꧘ |
꧙ |
Tanda baca
Teks tradisional Jawa ditulis tanpa spasi antarkata (scriptio continua) dan memiliki sejumlah tanda baca yang disebut pada (ꦥꦢ).
Sebagai pemisah antar kalimat, aksara Jawa menggunakan pada lungsi (꧉) apabila suku kata terakhir terbuka (tidak ada pangkon), tetapi menggunakan pada lingsa (꧈) apabila suku kata terakhir tertutup (menggunakan pangkon). Sebaliknya, sebagai pemisah antar anak kalimat, aksara Jawa menggunakan pada lingsa (꧈) apabila suku kata terakhir tertutup, tetapi menggunakan pemisah spasi apabila suku kata terakhir terbuka. Peraturan penulisan ini berbeda dengan penggunaan titik dan koma pada penulisan Latin, dan tidak jarang tidak dipahami dengan baik oleh pengguna aksara Jawa.
Selain itu, dalam aksara Jawa tidak memiliki padanan untuk tanda baca tanda tanya, tanda seru, tanda hubung, simbol-simbol matematika (termasuk garis miring), dan titik koma. Oleh karena itu, suatu kalimat yang ditulis dalam aksara Jawa dapat diketahui sebagai kalimat interogatif (tanya) atau imperatif (perintah) dari konteksnya saja.
Berbagai bentuk pada sebagaimana berikut:
| lingsa | lungsi | adeg | adeg-adeg | pisèlèh | rerenggan | pangkat | rangkap | surat | koreksi | |||||
|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|
| andhap | madya | luhur | guru | pancak | tirta tumètès | isèn-isèn | ||||||||
꧈ |
꧉ |
꧊ |
꧋ |
꧌...꧍ |
꧁...꧂ |
꧇ |
ꧏ |
꧃ |
꧄ |
꧅ |
꧋꧆꧋ |
꧉꧆꧉ |
꧞꧞꧞ |
꧟꧟꧟ |
Dalam pengajaran modern, tanda baca yang paling sering digunakan adalah pada adeg-adeg, pada lingsa, dan pada lungsi, yang masing-masing berfungsi untuk membuka paragraf (sebagaimana pillcrow), memisahkan kalimat (sebagaimana koma), dan mengakhiri kalimat (sebagaimana titik). Pada adeg dan pada pisèlèh umumnya digunakan untuk mengapit sisipan di tengah teks seperti kurung atau petik, sementara pada pangkat berfungsi seperti titik dua. Pada rangkap kadang digunakan sebagai tanda pengulangan kata yang dalam bahasa Indonesia informal setara dengan penggunaan angka 2 untuk kata berulang (misal kata-kata ꦏꦠꦏꦠ → kata2 ꦏꦠꧏ).[15]
Beberapa tanda baca tidak memiliki ekivalen dalam ejaan latin dan sering kali bersifat dekoratif, karena itu bentuk dan penggunaannya cenderung bervariasi antarpenulis, semisal rerenggan yang kadang digunakan untuk mengapit judul. Dalam surat-menyurat, seperangkat tanda baca digunakan di awal surat sebagai tanda pembuka dan kadang digunakan pula sebagai penanda status sosial dari sang pengirim surat; dari pada andhap yang rendah, pada madya yang menengah, hingga pada luhur yang tinggi. Pada guru kadang digunakan sebagai pilihan netral yang tidak memiliki konotasi sosial, sementara pada pancak digunakan untuk mengakhiri surat. Namun perlu diperhatikan bahwa bentuk dan fungsi ini merupakan kaidah yang digeneralisasi. Sebagaimana rerenggan, tanda baca pemulai dan pengakhir surat dalam prakteknya bersifat dekoratif dan opsional, dengan beragam susunan bentuk yang bervariasi antara daerah dan juru tulis.[15]
Ketika terjadi kesalahan dalam penulisan naskah, beberapa juru tulis keraton menggunakan tanda koreksi khusus alih-alih mencoret bagian yang salah: tirta tumétès yang ditemukan di naskah-naskah Yogyakarta, dan isèn-isèn yang ditemukan di naskah Surakarta. Tanda koreksi ini langsung dibubuhkan mengikuti bagian yang salah sebelum penulis melanjutkan dengan penulisan yang benar. Semisal seorang juru tulis ingin menulis pada luhur ꦥꦢꦭꦸꦲꦸꦂ namun terlanjur menulis pada hu ꦥꦢꦲꦸ sebelum ia sadar kesalahannya, maka kata ini dapat dikoreksi menjadi pada hu···luhur ꦥꦢꦲꦸ꧞꧞꧞ꦭꦸꦲꦸꦂ atau ꦥꦢꦲꦸ꧟꧟꧟ꦭꦸꦲꦸꦂ.[16]
Pepadan
Selain tanda baca biasa, salah satu ciri khas penulis aksara Jawa adalah pepadan (ꦥꦼꦥꦢꦤ꧀), yakni seperangkat tanda baca penanda sajak yang bentuk dan pengerjaannya sering kali memiliki nilai artisik tinggi. Beberapa bentuknya dapat dilihat sebagaimana berikut:
| pada kecil | pada besar | |||
|---|---|---|---|---|
꧅ |
꧅ ꦧ꧀ꦖ ꧅ | |||
Perangkat tanda baca pepadan dapat dikenal dengan berbagai nama dalam teks-teks tradisional. Behrend (1996) membagi pepadan ke dalam dua kelompok umum: pada kecil yang merupakan tanda baca tunggal, serta pada besar yang sering kali disusun berderet dari beberapa tanda baca. Pada kecil digunakan untuk menandakan pergantian bait yang biasanya muncul setiap 32 hingga 48 suku kata tergantung metrum yang digunakan. Pada besar digunakan untuk menandakan pergantian tembang (diikuti pula oleh metrum, irama, dan citra pelantunan) yang biasanya muncul tiap 5 hingga 10 halaman, meski hal ini sangat tergantung dari susunan naskah yang bersangkutan.[17] Pedoman penulisan aksara Jawa sering kali membagi pada besar menjadi tiga jenis pada, purwa pada ꧅ ꦧ꧀ꦖ ꧅ yang digunakan di awal tembang pertama, madya pada ꧅ ꦟ꧀ꦢꦿ ꧅ yang digunakan di pergantian tembang, dan wasana pada ꧅ ꦆ ꧅ yang digunakan di penutup tembang terakhir.[15] Namun karena bentuknya yang sangat bervariasi antarnaskah, tiga tanda baca ini sering kali melebur dan dianggap satu dalam praktek penulisan sebagian besar naskah Jawa.[18]
Pepadan adalah elemen aksara yang paling menonjol dalam naskah Jawa dan hampir selalu ditulis dengan kemampuan artisik tinggi yang meliputi kaligrafi, pewarnaan, hingga penyepuhan dengan kertas emas.[19] Dalam sejumlah naskah mewah, bentuk pepadan bahkan bisa menjadi petunjuk untuk tembang yang digunakan; pepadan dengan elemen sayap atau figur burung yang menyerupai gagak (dhandhang dalam bahasa Jawa) merujuk pada tembang dhandhanggula, sementara pepadan dengan elemen ikan mas merujuk pada tembang maskumambang (secara harfiah berarti "emas mengambang di air"). Salah satu pusat penulisan naskah dengan gubahan pepadan yang paling indah adalah skriptorium Kadipaten Pakualaman di Yogyakarta.[18][20]
Contoh teks
Berikut adalah cuplikan Serat Katuranggan Kucing yang dicetak pada tahun 1871 dengan bahasa dan ejaan Jawa modern.[21]
| Pada | Bahasa Jawa | Bahasa Indonesia | |
|---|---|---|---|
| Aksara Jawa | Latin | ||
| 7 | ꧅ꦭꦩꦸꦤ꧀ꦱꦶꦫꦔꦶꦔꦸꦏꦸꦕꦶꦁ꧈ ꦲꦮꦏ꧀ꦏꦺꦲꦶꦉꦁꦱꦢꦪ꧈ ꦭꦩ꧀ꦧꦸꦁꦏꦶꦮꦠꦺꦩ꧀ꦧꦺꦴꦁꦥꦸꦠꦶꦃ꧈ ꦊꦏ꧀ꦱꦤꦤ꧀ꦤꦶꦫꦥꦿꦪꦺꦴꦒ꧈ ꦲꦫꦤ꧀ꦮꦸꦭꦤ꧀ꦏꦿꦲꦶꦤꦤ꧀꧈ ꦠꦶꦤꦼꦏꦤꦤ꧀ꦱꦱꦼꦢꦾꦤ꧀ꦤꦶꦥꦸꦤ꧀꧈ ꦪꦺꦤ꧀ꦧꦸꦟ꧀ꦝꦼꦭ꧀ꦭꦁꦏꦸꦁꦲꦸꦠꦩ꧈ | Lamun sira ngingu kucing, awaké ireng sadaya, lambung kiwa tèmbong putih, leksanira prayoga, aran wulan krahinan, tinekanan sasedyanira ipun, yèn bundhel langkung utama | Kucing yang berwarna hitam semua tetapi perut sebelah kirinya terdapat tèmbong (bercak) putih disebut wulan krahinan. Kucing ini membawa kebaikan berupa tercapainya semua keinginan. Lebih baik jika ekornya buṇḍel (membulat). |
| 8 | ꧅ꦲꦗꦱꦶꦫꦔꦶꦔꦸꦏꦸꦕꦶꦁ꧈ ꦭꦸꦫꦶꦏ꧀ꦲꦶꦉꦁꦧꦸꦤ꧀ꦠꦸꦠ꧀ꦥꦚ꧀ꦗꦁ꧈ ꦥꦸꦤꦶꦏꦲꦮꦺꦴꦤ꧀ꦭꦩꦠ꧀ꦠꦺ꧈ ꦱꦼꦏꦼꦭꦤ꧀ꦱꦿꦶꦁꦠꦸꦏꦂꦫꦤ꧀꧈ ꦲꦫꦤ꧀ꦝꦣꦁꦱꦸꦁꦏꦮ꧈ ꦥꦤ꧀ꦲꦢꦺꦴꦃꦫꦶꦗꦼꦏꦶꦤꦶꦥꦸꦤ꧀꧈ ꦪꦺꦤ꧀ꦧꦸꦟ꧀ꦝꦼꦭ꧀ꦤꦺꦴꦫꦔꦥꦲ꧈}} | Aja sira ngingu kucing, lurik ireng buntut panjang, punika awon lamaté, sekelan sring tukaran, aran dhadhang sungkawa, pan adoh rijeki nipun, yèn bundhel nora ngapa | Kucing dengan bulu lurik hitam berekor panjang jangan dipelihara. Kucing itu disebut dhadhang sungkawa. Kehidupanmu akan sering bertengkar dan jauh dari rizki. Apabila ekornya buṇḍel, maka tidak masalah. |
Berikut adalah cuplikan dari Kakawin Rāmāyaṇa yang dicetak pada tahun 1900 dengan bahasa dan ejaan Kawi.[22][23]
| Pada | Bahasa Jawa | Bahasa Indonesia | |
|---|---|---|---|
| Aksara Jawa | Latin | ||
| XVI 31 |
ᮃᮚᮙᮔᮥᮅᮛᮀᮓᮦᮾᮎᮨᮒ ᮅᮜᮂᮞᮜᮂᮌᮨᮞᮔ᮪ᮔᮑ ᮠᮚᮀᮑᮠᮧᮓᮤᮎᮛᮦᮾᮕᮛᮔᮥᮞᮙ ᮎᮛᮦᮾᮎᮤᮔᮊᮨᮜᮤᮀᮕᮛᮞᮤ ᮙᮨᮞᮨᮁ ᮞᮙᮥᮓᮢ ᮘᮀᮌᮜᮤᮙᮊᮞᮁ ᮕᮜᮦᮙ᮫ᮘᮀ ᮞᮤᮃᮨᮙ᮪ ᮊᮜᮒᮨ ᮘᮊ ᮆᮘᮒᮨᮔ᮪ ᮒᮥᮜᮀᮘᮝᮀ ᮞᮦᮜ ᮕᮞᮚ᮪ ᮕᮛᮚᮙᮔ᮪ ᮍᮛᮌᮤᮓᮔ᮪ ᮓᮤᮔᮂ ᮃᮓᮤᮘᮞ᮪ ᮒᮦᮌᮧ ᮙᮧᮜᮧᮊᮧ ᮘᮓᮔ᮪ ᮕᮦᮌᮧ ᮙᮜᮀᮊᮘᮧᮒ᮪ᮘᮥᮛᮦᮒᮦᮔ᮪ ᮜᮝᮦ ᮞᮾᮞᮾ ᮞᮨᮘᮝ ᮘᮜᮤ ᮞᮘᮔᮤ ᮍᮧᮌᮤᮥᮌᮔ᮪ᮊᮔᮀᮍᮨᮔ᮪ ᮊᮥᮙᮨᮔᮨᮀ ᮞᮙᮛᮀ ᮒᮤᮌ ᮌᮥᮙᮔ᮪ᮒᮥᮀ ᮙᮔᮥᮘᮤ ᮘᮥᮘᮥᮂᮑᮤᮛᮤᮀ ᮕᮒᮥᮊᮀᮍᮔ᮪ ᮞᮥᮛᮘᮚ ᮜᮙᮛᮥᮀ ᮏᮘᮥᮓᮤᮕ ᮞᮦᮛᮔ᮪ ᮞᮧᮜᮧᮒ᮪ ᮄᮓᮢᮌᮤᮛᮤ ᮒᮥᮏᮥᮀᮕᮥᮛᮞᮊᮙ᮫ᮕᮥᮀᮃᮒᮞ᮪ᮃᮀᮍᮤᮔ᮪ ᮎᮨᮙᮛᮘᮜᮥᮌᮥ ᮏᮝ ᮞᮤᮀᮞᮝᮒᮨᮾ ᮕᮛᮔᮥᮞᮙ ᮞᮀᮏᮥᮛᮥᮘᮞᮒᮑ ᮞᮀᮓᮁᮙᮥᮁᮎᮚᮒᮑ | Aya ma nu urang dék ceta, ulah salah geusan nanya. Hayang nyaho di carék paranusa ma, carék cina, keling, parasi, mesir, samudra, banggali, makasar, palémbang, siem, kalanten, bangka, béten, tulang bawang, séla, pasay, parayaman, nagara dékan, dinah, andalas, tégo, moloko, badan, pégo, malangkabo, burétén, lawé, saksak, sembawa, bali, sabini, ngogan, kanangen, kumering, samarang tiga, gumantung, manumbi, bubuh, nyiring, patukangan, surabaya, lamarung, jambudipa, séran, solot, indragiri, tanjung pura, sakampung, atas angin, cempa, baluk, jawa, sing sawatek paranusa ma, sang juru basa tanya, sang darmamurcarya tanya. | Bila kita hendak bertindak, jangan salah tempat bertanya. Bila ingin tahu bahasa negara-negara lain: bahasa Cina, Keling, Parsi, Mesir, Samudra, Benggali, Makasar, Palembang, Siam, Kelantan, Bangka, Banten, Tulangbawang, Sela, Pasai, Parayaman, Negara Dekan, (Ma)dinah, Andalas, Tégo, Moloko, Badan, Pégo, Malangkabo, Burétén, Lawé, Sasak, Sembawa, Bali, Sabini, Ngogan, Kanangen, Komering, Samarang Tiga, Gumantung, Manumbi, Bubuh, Nyiring, Patukangan, Surabaya, Lamarung , Jambudipa, Seran, Solot, Indragiri, Tanjung Pura, Sakampung, Atas Angin, Cempa, Baluk, Jawa, segala macam (bahasa) negara-negara lain, tanyalah juru basa, tanyalah sang darmamurcaya. |
Unicode
Blok
Aksara Sunda resmi dimasukkan ke dalam Unicode pada April 2008 dengan dirilisnya versi Unicode 5.1. Pada versi 6.3 yang dirilis pada tahun 2010, sejumlah huruf dan simbol tambahan diperkenalkan untuk mendukung aksara Sunda Kuno. Blok Unicode untuk aksara Sunda terletak pada titik kode U+1B80–U+1BBF dan U+1CC0–U+1CCF. Titik kode yang berwarna abu-abu menunjukkan ruang yang belum terpakai.
| Sundanese[1] Official Unicode Consortium code chart (PDF) | ||||||||||||||||
| 0 | 1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 | 8 | 9 | A | B | C | D | E | F | |
| U+1B8x | ᮀ | ᮁ | ᮂ | ᮃ | ᮄ | ᮅ | ᮆ | ᮇ | ᮈ | ᮉ | ᮊ | ᮋ | ᮌ | ᮍ | ᮎ | ᮏ |
| U+1B9x | ᮐ | ᮑ | ᮒ | ᮓ | ᮔ | ᮕ | ᮖ | ᮗ | ᮘ | ᮙ | ᮚ | ᮛ | ᮜ | ᮝ | ᮞ | ᮟ |
| U+1BAx | ᮠ | ᮡ | ᮢ | ᮣ | ᮤ | ᮥ | ᮦ | ᮧ | ᮨ | ᮩ | ᮪ | ᮫ | ᮬ | ᮭ | ᮮ | ᮯ |
| U+1BBx | ᮰ | ᮱ | ᮲ | ᮳ | ᮴ | ᮵ | ᮶ | ᮷ | ᮸ | ᮹ | ᮺ | ᮻ | ᮼ | ᮽ | ᮾ | ᮿ |
Catatan
| ||||||||||||||||
| Sundanese Supplement[1][2] Official Unicode Consortium code chart (PDF) | ||||||||||||||||
| 0 | 1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 | 8 | 9 | A | B | C | D | E | F | |
| U+1CCx | ᳀ | ᳁ | ᳂ | ᳃ | ᳄ | ᳅ | ᳆ | ᳇ | ||||||||
| Catatan | ||||||||||||||||
Meskipun demikian, akibat keterbatasan sumber referensi pada masa itu, sejumlah kesalahan pengkodean aksara Sunda terjadi, baik berupa misnomer maupun kesalahan glif, yang kemudian diperbaiki pada versi berikutnya.
Kompatibilitas Fon
Sayangnya, font-font yang menjadi dasar bagi penulisan aksara Sunda di berbagai platform, seperti Noto Sans Sundanese dan Sans Serif Collection, hingga saat ini belum mendukung penulisan pasangan aksara Sunda. Sehingga memerlukan fon dari pihak ketiga seperti dari situs web ADN dan Kairaga.
Galeri
|
Lihat pula
Catatan
- ↑ Di pertengahan abad ke-19, Sierk Coolsma dalam kesaksiannya berkata:
De Soendanezen hebben geen eigen schrift, maar bedienen zich of van het Javaansche óf van het Arabische.[3]
Orang Sunda tidak mempunyai aksara sendiri, melainkan menggunakan aksara Jawa atau Arab.
—Behrend (1996:162) - ↑ Naskah ini masih digunakan di era modern sebagai panduan hidup penganut Sunda Wiwitan.
Rujukan
- ↑ Moriyama 1996, hlm. 167.
- ↑ Moriyama 1996, hlm. 166.
- ↑ Behrend 1996, hlm. 162.
- ↑ "Perda Prov. Jawa Barat No. 14 Tahun 2014". Database Peraturan | JDIH BPK. Diakses tanggal 2025-03-05.
- 1 2 3 Woodard, Roger D (2008). The Ancient Languages of Asia and the Americas. Cambridge University Press. hlm. 9. ISBN 0521684943.
- ↑ Darusuprapta 2002, hlm. 13-15.
- ↑ Poerwadarminta 1930, hlm. 11.
- ↑ Darusuprapta 2002, hlm. 20.
- ↑ Darusuprapta 2002, hlm. 19-24.
- ↑ Darusuprapta 2002, hlm. 24-28.
- ↑ Darusuprapta 2002, hlm. 29-32.
- ↑ Everson 2008, hlm. 2.
- ↑ Everson 2008, hlm. 4.
- ↑ Darusuprapta 2002, hlm. 44-45.
- 1 2 3 Everson 2008, hlm. 4-5.
- ↑ Everson 2008, hlm. 5.
- ↑ Behrend 1996, hlm. 188.
- 1 2 Behrend 1996, hlm. 190.
- ↑ Behrend 1996, hlm. 189-190.
- ↑ Saktimulya, Sri Ratna (2016). Naskah-naskah Skriptorium Pakualaman. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia. ISBN 602424228X.
- ↑ Serat Katoerangganing ning Koetjing (ꦱꦼꦫꦠ꧀ꦏꦠꦸꦫꦁꦒꦤ꧀ꦤꦶꦁꦏꦸꦠ꧀ꦕꦶꦁ ), diterbitkan oleh Percetakan GCT Van Dorp & Co di Semarang, tahun 1871. Pindaian Google Books dari koleksi Perpustakaan Nasional Belanda, No 859 B33.
- ↑ Kern, Hendrik (1900). Rāmāyaṇa Kakawin. Oudjavaansch heldendicht. ’s Gravenhage: Martinus Nijhoff.
- ↑ Santoso, Soewito (1980). Rāmāyaṇa Kakawin. Vol. II. New Delhi: International Academy of Indian Culture. hlm. 398.
Daftar pustaka
- Arps, B (1999). "How a Javanese Gentleman put his Library in Order". Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde. 155 (3): 416-469.
- Behrend, T E (1993). "Manuscript Production in Nineteenth Century Java. Codicology and the Writing of Javanese Literary History". Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde. 149 (3): 407–437. doi:10.1163/22134379-90003115.
- Behrend, T E (1996). "Textual Gateways: the Javanese Manuscript Tradition". Dalam Ann Kumar; John H. McGlynn (ed.). Illuminations: The Writing Traditions of Indonesia (dalam bahasa Inggris). Jakarta: Lontar Foundation. ISBN 0834803496.
- Coolsma, Sierk (1985) [1904]. Tata Bahasa Sunda. Diterjemahkan oleh Widjajakusumah, Rusyana, Husein, Yus. Jakarta: (Penerbit Asli) Fa. A.W. Sijthoff. OCLC 13986971. Pemeliharaan CS1: Banyak nama: translators list (link) Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
- Ekadjati, Edi S. (1999). Direktori Edisi Naskah Nusantara. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia dan Masyarakat Pernaskahan Nusantara. ISBN 9794613347. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
- Everson, Michael (6 Maret 2008). "Proposal for encoding the Javanese script in the UCS" (PDF). ISO/IEC JTC1/SC2/WG2 (N3319R3). Unicode.
- Molen, Willem van der (1993). Javaans Schrift (dalam bahasa Belanda). Vol. Semaian 8. Leiden: Rijksuniversiteit te Leiden. ISBN 90 73084 09 1. ;
- Molen, Willem van der (2000). "Hoe Heft Zulks Kunnen Geschieden? Het Begin van de Javaanse Typografie". Dalam Willem van der Molen (ed.). Woord en Schrift in de Oost. De betekenis van zending en missie voor de studie van taal en literatuur in Zuidoost-Azie (dalam bahasa Belanda). Vol. Semaian 19. Leiden: Vakgroep Talen en Culturen van Zuidoost-Azië en Oceanië, Rijksuniversiteit te Leiden. hlm. 132-162. ISBN 9074956238.
- Moriyama, Mikihiro (Juni 1996). "Discovering the 'Language' and the 'Literature' of West Java: An Introduction to the Formation of Sundanese Writing in 19th Century West Java" (PDF). Southeast Asian Studies. 34 (1): 151–183.
- Poerwadarminta, W.J.S (1939). Baoesastra Djawa (dalam bahasa Jawa). Batavia: J.B. Wolters. ISBN 0834803496. ;
- Robson, Stuart Owen (2011). "Javanese script as cultural artifact: Historical background". RIMA: Review of Indonesian and Malaysian Affairs. 45 (1–2): 9-36.
- Rochkyatmo, Amir (1 Januari 1996). Pelestarian dan Modernisasi Aksara Daerah: Perkembangan Metode dan Teknis Menulis Aksara Jawa (PDF). Direktorat Jenderal Kebudayaan.
- Rosyadi (1997). Pelestarian Dan Usaha Pengembangan Aksara Daerah Sunda (PDF). Jakarta: Proyek Pengkajian dan Pembinaan Nilai-Nilai Budaya Pusat Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional Direktorat Jenderal Kebudayaan. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
Pedoman penulisan
- Koemisi Kasoesastran ing Sriwedari, Soerakarta (1926). Wawaton Panjeratipoen Temboeng Djawi mawi Sastra Djawi dalasan Angka. Kongres Sriwedari. Weltevreden: Landsdrukkerij. Dikenal juga sebagai Wewaton Sriwedari atau Paugeran Sriwedari. Terjemahan bahasa Indonesia dapat dibaca di sini
- Darusuprapta (2002). Pedoman Penulisan Aksara Jawa. Yogyakarta: Yayasan Pustaka Nusantara bekerja sama dengan Pemerintahan Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, Daerah Tingkat I Jawa Tengah, dan Daerah Tingkat I Jawa Timur. ISBN 979-8628-00-4.
Bahasa Sanskerta dan Kawi
- Poerwadarminta, W J S (1930). Serat Mardi Kawi. Vol. 1. Solo: De Bliksem.
- Poerwadarminta, W J S (1931). Serat Mardi Kawi. Vol. 2. Solo: De Bliksem.
- Poerwadarminta, W J S (1931). Serat Mardi Kawi. Vol. 3. Solo: De Bliksem.
Bahasa Sunda
- Holle, K F (1862). Soendasch spel- en lees boek, met Soendasche letter. Batavia: Landsdrukkerij.
Bahasa Madura
- Kiliaan, Hendrik Nicolaas (1897). Madoereesche spraakkunst. Batavia: Landsdrukkerij.
- Sorat tjarakan Madurah. Batavia. 1866. Pemeliharaan CS1: Lokasi tanpa penerbit (link)
Pranala luar
Koleksi digital
Naskah digital
- Babad Tanah Jawi (1862) koleksi Perpustakaan Kongres AS no. DS646.27
- Catatan utang pada selempir lontar (1708) koleksi British Library no. Sloane MS 1403E
- Kamus bahasa Melayu-Jawa-Madura dari awal abad ke-19, koleksi British Library no. MSS Malay A 3
- Kumpulan dokumen Keraton Yogyakarta (1786–1812) koleksi British Library no. Add Ms 12341
- Papakem Pawukon dari Bupati Sepuh Demak di Bogor (1814) koleksi British Library no. Or 15932
- Wejangan Hamengkubuwana I (1812) koleksi British Library no. Add MS 12337
- Raffles Paper - vol III (1816) kumpulan surat-surat yang diterima Raffles dari penguasa-penguasa Nusantara, koleksi British Library no. Add MS 45273
- Serat Jaya Lengkara Wulang (1803) koleksi British Library no. MSS Jav 24
- Serat Selarasa (1804) koleksi British Library no. MSS Jav 28
- Usana Bali Diarsipkan 2020-06-19 di Wayback Machine. (1870) salinan Jawa dari sebuah lontar Bali berjudul sama, koleksi Perpustakaan Nasional Indonesia no. CS 152
- Dongèng-dongèng Pieuntengen (1867) kumpulan dongeng berbahasa Sunda dan beraksara Jawa yang dikompilasikan oleh Muhammad Musa
Lainnya
- Proposal Unicode untuk aksara Jawa
- Dokumentasi Unicode mengenai diakritik KERET
- Dokumentasi Unicode mengenai diakritik CAKRA
- Dokumentasi Unicode mengenai diakritik PENGKAL
- Dokumentasi Unicode mengenai diakritik TOLONG
- Blog Studi Asia-Afrika British Library, topik Jawa
- Artikel aksara Jawa di omniglot.com
- Character Picker aksara Jawa oleh Richard Ishida
- Laman transliterasi aksara Jawa oleh Benny Lin
- Unduh fon aksara Jawa di situs web Tuladha Jejeg Diarsipkan 2021-10-27 di Wayback Machine., Aksara di Nusantara, atau repositori Google Noto
| Sejarah |
| ||||||||||||
|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|
| Sistem penulisan |
| ||||||||||||
| Tingkat tutur |
| ||||||||||||
| Ragam |
| ||||||||||||
| Bahasa terkait | |||||||||||||
| Gramatika | |||||||||||||
| Otoritas | |||||||||||||
| Topik terkait | |||||||||||||