Sejak 25 Agustus 2025,[6][7][8]unjuk rasa disertai kerusuhan terjadi di berbagai wilayah di Indonesia. Unjuk rasa ini awalnya dipicu oleh protes terhadap adanya tunjangan baru bagi anggota Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia, yakni berupa tunjangan perumahan.[9][10] Selain itu juga didorong oleh adanya kenaikan pajak bumi dan bangunan yang terjadi di beberapa wilayah, serta ketidakpuasan masyarakat terhadap kinerja pemerintah dalam mengatasi kesenjangan ekonomi dan kenaikan biaya hidup.
Affan Kurniawan (18 Juli 2004–28 Agustus 2025) adalah seorang pengemudi ojek daringGojek asal Indonesia. Affan tinggal bersama keluarganya di rumah kontrakannya di Jalan Tayu, Menteng, Jakarta Pusat. Di kontrakan tersebut, dia hidup dengan tujuh anggota keluarga, termasuk di antaranya kedua orangtua, adik perempuan bernama Wulantika Ramadhanti, dan kakak laki-laki bernama Adam Al Rasyid juga merupakan pengemudi ojek daring. Sebelum bekerja sebagai pengemudi ojek daring pada 2022, dia bekerja sebagai satpam di kawasan Menteng.[12] Affan juga diketahui sudah bekerja lepas sejak 2015 setelah dia tidak melanjutkan pendidikan di tingkat sekolah menengah pertama.[13] Dia diketahui masih menjalankan pekerjaannya sebagai pengojek daring pada hari unjuk rasa. Dari bukti pesanan yang dia terima pada hari tersebut, Affan tidak berniat untuk terlibat langsung dalam aksi demonstrasi.[13][14]
Pada waktu itu, Affan sedang melewati lokasi unjuk rasa untuk mengantar pesanan.[13] Beberapa saksi mata menyebut bahwa Affan ditabrak dan dilindas setelah jatuh akibat terpeleset saat berusaha menyeberangi jalan untuk menghindari situasi ricuh saat sebuah kendaraan taktis milik Brimob berjenis Rimueng melintas di jalan yang sama.[15] Dari video yang beredar di media sosial, kendaraan taktis lapis baja tersebut terlihat sempat berhenti setelah menabrak Affan, tetapi setelah dikerumuni oleh massa yang berusaha memukuli dan melempari mobil tersebut, mobil tetap melaju dan menyeret Affan beberapa meter dan melindas tubuhnya. Ia segera dibawa menuju Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) dengan luka serius, tetapi upaya penyelamatan medis tidak berhasil. Ia dinyatakan meninggal dunia beberapa saat kemudian.[16][17]
Selain Affan Kurniawan, dilaporkan bahwa terdapat korban lain bernama Moh Umar Amirudin, yang juga merupakan pengemudi ojek daring. Umar mengalami luka serius akibat peristiwa serupa. Hingga hari Jumat dini hari, 29 Agustus 2025, kondisi Umar sudah sadar meski masih merasa kesakitan dan menjalani perawatan intensif di Rumah Sakit Pelni, Palmerah, Jakarta Barat.[19] Sejumlah media menyebut bahwa keduanya berada di lokasi karena kebetulan melintas, bukan sebagai bagian dari peserta unjuk rasa.[20]
Penyelidikan
Pada hari Kamis, 28 Agustus 2025, Kepala Divisi Profesi dan Pengamanan Polri, Irjen Pol. Abdul Karim, mengungkapkan bahwa Propam telah mengamankan tujuh anggota Brimob yang terlibat dalam penabrakan yang mengakibatkan Affan Kurniawan meninggal dunia pada unjuk rasa di DPR RI yang berujung pada kerusuhan.[21]
Abdul Karim menyebutkan bahwa tujuh anggota Brimob tersebut diantaranya Kompol Cosmas Kaju Gae, Aipda M. Rohyani, Bripka Rohmat, Briptu Danang, Bripda Mardin, serta dua anggota lainnya, Baraka Yohanes David dan Baraka Jana Edi.[21]
Pada 2 September 2025, usai menghadiri gelar perkara di Divisi Propam Mabes Polri, Komisioner Pemantauan Komnas HAM menyebut bahwa ada dugaan tindak pidana dan juga pelanggaran etik, dan akan dilimpahkan ke Bareskrim Polri. Dalam pernyataannya di salah satu stasiun televisi, Komnas HAM juga menyebut bahwa pada 3 September 2025, akan melakukan reka ulang dan mengumpulkan CCTV yang merekam insiden tersebut. Selain itu, Komnas HAM juga memberangkatkan tim ke Makassar terkait empat ASN yang menjadi korban tewas karena terjebak di dalam gedung DPRD yang dibakar.[22][23][24]
Pada tanggal 3 September 2025, Sidang Komisi Kode Etik Polri (KKEP) yang berlangsung di Gedung Transnational Crime Coordinating Center (TNCC) yang berada di kompleks Mabes Polri, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, memutuskan sanksi terhadap Komandan Batalyon C Resimen IV Pasukan Pelopor Brimob, Komisaris Polisi (Kompol) Cosmas Kaju Gae. Kompol Cosmas berasal dari Kampung Laja, Golewa, Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur, ia telah menjadi anggota Polri sejak tahun 1996. Sidang yang dipimpin oleh Ketua Komisi, Irjen Pol. Merdisyam, selaku Wakil Inspektur Pengawasan Umum (Irwasum) Polri, menetapkan sanksi berat berupa pemberhentian tidak dengan hormat (PTDH) sebagai anggota Polri.[25][26][27]
Tanggapan
Pemerintah
Presiden Prabowo Subianto bicara terkait unjuk rasa Agustus dan pembunuhan Affan Kurniawan, 29 Agustus 2025
Presiden Prabowo Subianto menyampaikan pidato di televisi, pidato publik pertamanya sejak kerusuhan dimulai, meminta maaf atas kematian Affan dan menyampaikan belasungkawa. Ia menyebut tindakan polisi "berlebihan" dan menjanjikan penyelidikan yang menyeluruh dan transparan, sekaligus mengimbau warga untuk tetap tenang dan waspada terhadap "oknum-oknum yang selalu ingin menimbulkan keresahan dan kekacauan."[28] Sehari setelah kematian Affan, Prabowo bersama Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin dan Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya mengunjungi orang tua Affan untuk menyampaikan belasungkawa secara langsung dan menghadiahkan mereka sebuah rumah di Cileungsi, yang diserahkan langsung oleh Menteri Perumahan Maruarar Sirait.[29]
Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka mengunjungi korban demonstrasi 28 Agustus di Jakarta. Ia mendatangi rumah sakit RS Pelni dan RSCM untuk bertemu dengan para korban luka, termasuk Umar Amirudin, seorang pengemudi ojek daring asal Sukabumi yang dilaporkan mengalami pemukulan oleh aparat keamanan. Dalam kunjungannya, Gibran memberikan semangat dan menekankan pentingnya istirahat untuk pemulihan.[30]
Masyarakat
Kematian Affan mengundang reaksi keras dari pengemudi ojek daring dan masyarakat luas. Setelah kejadian penabrakan tersebut, massa dari pengemudi ojek daring mendatangi Markas Satuan Brigade MobilPolda Metro Jaya yang berada di Jalan Kwitang Raya, Kecamatan Senen, Jakarta Pusat untuk menuntut tanggung jawab instansi yang telah melindas Affan hingga meninggal dunia. Salah satu petugas yang berjaga di markas tersebut telah memberikan permintaan maaf kepada massa atas kejadian ini.[31][32] Namun demikian, massa yang semakin mengerubungi Mako Brimob PMJ membuat aparat memaksa untuk membubarkan massa.[33][34] Kericuhan berlanjut hingga Jumat dini hari dan berimbas pada perusakan bangunan dan mobil di sepanjang Jalan Kwitang Raya, termasuk sebuah pos polisi di Simpang Lima Senen.[35]
Kepala Divisi Profesi dan Pengamanan Polri Irjen Abdul Karim memerintahkan jajarannya beserta Brimob untuk segera memulai proses penyelidikan terhadap tujuh anggota kepolisian yang berada di dalam kendaraan taktis yang menabrak Affan dan Umar.[37] Ketujuh terduga pelaku yang merupakan bagian dari satuan Brimob Polda Metro Jaya tersebut telah diamankan kepolisian untuk proses penyelidikan.[38][39]
GoTo Gojek Tokopedia yang menaungi Affan menjadi mitra Gojek menyampaikan duka cita mendalam kepada keluarga korban.[5] Pihaknya juga mempersiapkan santunan untuk keluarga korban.[43] Di sisi lain, Grab Indonesia mengajak masyarakat untuk menjaga empati dan suasana tetap kondusif pascawafatnya Affan. Mitra ojek daring lain yang mengalami luka, Umar Amaruddin, masih aktif bekerja di Grab pada hari kejadian.[44]