Maret
Pada tanggal 13 Maret 2020, Presiden Adama Barrow menghentikan seluruh penerbangan bagi pejabat pemerintah ke luar negeri sebagai langkah pencegahan.[3]
Pada tanggal 17 Maret 2020, Menteri Kesehatan Ahmadou Samateh mengumumkan kasus koronavirus yang pertama. Pasien adalah seorang wanita berusia 20-an tahun yang tiba di Bandar Udara Internasional Banjul dari Inggris Raya pada tanggal 15 Maret. Pasien segera diisolasi di sebuah klinik kesehatan di kota Fajara setelah menunjukkan gejala.[4][5] Sebagai akibat dari kasus tersebut, menteri memutuskan untuk melacak serta mengisolasi para penumpang yang berada dalam di penerbangan yang sama.[4] Dua warga negara Indonesia yang berada di Gambia dinyatakan negatif setelah pemeriksaan.[6] Satu hari kemudian, pemerintah mengumumkan untuk melarang seluruh kegiatan publik serta kegiatan sekolah selama tiga pekan.[4]
Pada tanggal 23 Maret 2020, seorang imam asal Bangladesh berusia 70 tahun, meninggal dunia dan menjadi korban jiwa koronavirus pertama di Gambia. Ia telah berceramah di beberapa negara dan tiba di Gambia pada tanggal 13 Maret. Pasien merupakan kasus koronavirus yang kedua dan memiliki riwayat penyakit diabetes.[7] Pada hari yang sama, pemerintah Gambia dan Senegal sepakat untuk menutup perbatasan antar kedua negara dengan pengecualian untuk "alasan keamanan, pengiriman pangan, serta anggota dan suplai medis".[8]
Pada tanggal 28 Maret 2020, Jack Ma dan Yayasan Alibaba mendonasikan ribuan perangkat uji serta alat pelindung diri kepada pemerintah Gambia. Pengiriman tersebut merupakan bagian dari dukungan terhadap seluruh benua Afrika untuk mengatasi koronavirus.[9]