Bandar Udara Internasional Banjul juga dikenal sebagai Bandar Udara Internasional Yundum(IATA: BJL,ICAO: GBYD) adalah bandar udara internasional yang terletak di Banjul, ibu kota dari Gambia.
Pada tahun 2004, bandara ini menampung 967,719 penumpang.
Pada kondisi darurat pada setiap pesawat ulang alikNASA, Bandar Udara Internasional Banjul dipilih menjadi salah satu titik pendaratan alternatif. Gambia menjadi lokasi tang strategis apabila pesawat ulang alik diluncurkan dalan sudut kemirinya yang rendah, 28 derajat[1][2]
Pada tahun 2001 NASA mengumumkan bahwa Bandara Banjul tidak lagi dipergunakan sebagai bandara alternatif, karena NASA akan mengirimkan pesawat ulang alik hingga pada sudut kemiringan 51,6 derajat menuju Stasiun Luar Angkasa Internasional, yang membuat pangkalan udara di Spayol dan Prancis lebih sesuai untuk menjadi titik pendaratan darurat.[3]
Pada 4 Juli 1946, sebuah Bristol Freighter 170 registrasi G-AHJB terbang dari Bathurst (sekarang Banjul) menuju Natal dalam sebuah penerbangan pengiriman menuju Argentina, karena kekurangan bahan bakar, memaksa awaknya untuk mendarat di air. Awak pesawat kemudian diselamatkan oleh sebuah American Steamer. Penyebabnya diperkirakan karena kerusakan sistem tenaga yang menyebabkan konsumsi bahan bakar berlebihan karena kesalahan navigasi. Tidak ada korban jjiwa dalam kecelakaan ini.[4]