Pelaksanaan
Pada awalnya, prosesi Ngabekten dilaksanakan selama tujuh hari pertama dalam bulan Syawal selama berturut-turut, kemudian menjadi tiga hari berturut-turut dan terakhir, sampai saat ini hanya diadakan selama dua hari berturut-turut, yaitu pada bulan Syawal tepatnya tanggal 1 dan 2 Syawal.
Pada hari pertama, dilakukan ngabekten kakung yaitu prosesi yang diikuti oleh para abdi dalem dari pangkat bekel anom sampai dengan pangkat pangeran sentana, Adipati Paku Alam atau Adipati Mangkunagara, para pangeran dan para kerabat dekat Sultan/Susuhunan dari cucu sampai dengan canggah yang laki-laki serta para suami cucu, sampai dengan canggah perempuan dan para duda cucu sampai dengan canggah perempuan yang belum kawin lagi. Pelaksanaan tersebut dilaksanakan setelah selesai melaksanakan sembahyang Idul Fitri, di Bangsal dan Tratag Bangsal Kencana dengan waktu yang berbeda. Sedang Lebaran hari kedua disebut dengan ngabekten putri yang dilakukan oleh wanita yaitu permaisuri Sultan/Susuhunan, permaisuri Adipati, para saudara perempuan dan anak perempuan Sultan/Susuhunan yang belum kawin, para janda Sultan/Susuhunan terdahulu yang belum kawin lagi, para istri pangeran, para janda pangeran yang belum kawin lagi, para abdi dalem keparak dari pangkat bekel enom sampai pangkat bupati anom, para istri abdi dalem bupati, para janda abdi dalem bupati yang belum kawin lagi, para kerabat dekat Sultan/Susuhunan dari cucu sampai dengan canggah yang perempuan serta para istri cucu sampai dengan canggah laki-laki Sultan/Susuhunan dan para janda cucu sampai dengan canggah laki-laki yang belum kawin lagi.[3]
Adat dan Tata Cara
Selama prosesi ngabekten, biasanya dilakukan dengan sungkem sambil
mencium kaki Susuhunan (Surakarta) atau mencium lutut Sultan (Yogyakarta). Urutannya dimulai dari peserta dengan status sosial paling tinggi, hingga yang rendah. Sedangkan khusus untuk Adipati atau abdi dalem dan kerabat yang usianya lebih tua dari raja, biasanya hanya melakukan sembah karna dengan mengangkat kedua tangan hingga sejajar dengan telinga.[4]
Dalam prosesi ngabekten diatur pula ageman (busana) yang digunakan oleh Sultan, Adipati, dan peserta ngabekten. Pada masa lalu, para pangeran dan abdi dalem tingkat tinggi memakai pakaian keprabon atau kebesaran, misalnya untuk pria mengenakan kain kampuh, bercelana panjang putih, berkuluk biru, tidak berbaju dan tidak bersandal. Busana untuk abdidalem bupati hanya kuluknya yang putih, sedangkan untuk wanita mengenakan kampuh, tidak berbaju dan tidak bersandal.[1]
Setelah zaman Jepang, dalam pemerintahan Sultan Hamengkubuwana IX atau Susuhunan Pakubuwana XI,
pakaian kebesaran tidak digunakan lagi. Hanya berpakaian biasa tetapi harus sesuai dengan
ketentuan yang berlaku, misalnya menggunakan kebaya warna warni tetapi tidak menggunakan kuthubaru untuk wanita, sedangkan untuk pria mengenakan pranakan, atela, atau beskap sesuai dengan paugeran yang berlaku.