Nama Gentala Arasy berasal dari kata gentala yang berarti lonceng penyelaras dan kata arasy yang merupakan tempat tertinggi Allah. Selain itu, Gentala Arasy juga memiliki makna lain sebagai akronim dari Genah Tanah Lahir Abdurrahman Sayoeti. Kata “genah” dalam bahasa Melayu Jambi merujuk pada tempat. Abdurrahman Sayoeti adalah seorang mantan gubernur Jambi yang lahir di Jambi Kota Seberang dan menjabat dari tahun 1989 hingga 1999.[4]
Nama Gentala Arasy diperoleh dari tiga kata yaitu genta yang berarti suara, tala yang berarti keselarasan, dan arasy yang berarti menggema ke langit.[8] Maka makna dari Genta Arasy adalah bunyi yang selaras dan menggema ke langit. Bunyi ini berasal dari lonceng Menara Gentala Arasy yang mengeluarkan bunyi sebagai pertanda waktu salat fardu bagi umat muslim di Kota Jambi.[7]
Keunikan dari Museum Menara Gentala Arasy adalah ruanganmuseum yang tidak terlalu besar dengan bentuk yang menyerupai lingkaran. Ruangan ini digunakan untuk memamerkan koleksi museum. Keunikan lain dari Museum Menara Gentala Arasy adalah adanya koleksi berupa bedug dan Al-Quran yang berukuran sangat besar. Keduanya merupakan penanda bahwa Kota Jambi merupakan salah satu bagian penting dari sejarah perkembangan Islam di Indonesia.[10]
Koleksi
Museum Menara Gentala Arasy memiliki koleksi dengan jumlah sekurangnya 100 koleksi. Koleksi tersebut ada yang diperoleh dari hibah, beli, dan meminjam dari lembaga lainnya yang sewaktu-waktu bisa diambil kembali.[11] Koleksi dari museum ini berupa buku-buku suci yang sangat tua, kain kafan, selendang, jubah milik Sri Sultan Mangkubumi. mangkuk, dan uang logam kuno.[12] Uang koin ini rata-rata peninggalan mata uang zaman penjajagan Belanda dahulu. Hal ini menandakan bahwa Jambi merupakan wilayah yang diduki Belanda dahulunya. Beberapa uang koin itu bertuliskan Nederlandsch Indie dengan gambar makhota dan gandum, kemudian ada juga yang bergambar Inggeris Island of Sumatra tahun 1804.[13] Koleksi museum dipamerkan di sebuah ruangan yang melingkar.[14]
Salah satu koleksi utama adalah Mushaf Al-Qur’an al-Jambi yang megah, dengan ukuran 125 x 180 cm. Setiap halamannya dihiasi dengan motif ukiran khas Jambi, memperkuat nuansa budaya lokal.[17] Qur’an Mushaf Jambi ini dipamerkan di atas meja dengan ukiran khas Jambi yang begitu memukau, dan di atasnya ditutup dengan lapisan kaca yang melindunginya. Mushaf Al-Qur’an ini adalah salah satu mahakarya museum yang dibuat pada tahun 2014. Al-Qur’an ini menjadi simbol kebanggaan dengan menggabungkan unsur-unsur budaya Melayu Jambi di dalamnya. Setiap lembar Al-Qur’an ini memiliki motif ukiran yang berbeda-beda.[18]
Kunjungan
Harga tiket masuk untuk anak-anak: Rp 2.000, orang dewasa: Rp 3.000, dan turis: Rp 5.000,[19] memungkinkan Anda untuk menjelajahi warisan sejarah dan budaya Kota Jambi.[20]
Museum buka setiap hari kecuali libur nasional
Senin - Jumat mulai dari pukul 07.30 - 17.00 WIB
Sabtu - Ahad mulai dari pukul 07.30 - 13.00 WIB.[3]