Museum ini diresmikan oleh salah seorang ahli waris Raja Luwu yang juga merupakan Bupati Luwu pada saat itu, Andi Achmad pada tanggal 26 Juli 1971. Pendirian museum ini bertujuan untuk melestarikan warisan budaya Kerajaan Luwu agar dapat diwariskan pada generasi selanjutnya.[2]
Museum Batara Guru terletak di tengah-tengah Kota Palopo, pusat Kerajaan Luwu pada masa lampau. Istana tersebut dibangun oleh Pemerintah Kolonial Belanda sekitar 1920-an di atas tanah bekas "Saoraja", yang diratakan dengan tanah oleh Pemerintah Belanda. Bangunan istana tersebut dibangun dengan arsitektur Eropa dimaksudkan untuk mengambil hati penguasa Kerajaan Luwu. Namun, oleh kebanyakan bangsawan Luwu dianggap sebagai cara untuk menghilangkan jejak sejarah Kerajaan Luwu.[3]
Bangunan
Bangunan Museum Batara Guru merupakan gedung museum bekas Istana Raja Luwu yang memiliki gaya arsitektur Eropa. Luas bangunannya sekitar 968 m2 yang dibangun pada lahan seluas 10.000 m2. Ketinggian bangunan Museum Batara Guru sekitar sekitar 20 meter di atas permukaan laut.[4]
Museum ini dilengkapi dengan fasilitas berupa ruang pamer seluas 120 m², ruang administrasi, ruang perpustakaan, ruang mushola, dan toilet. Museum Batara Guru ini juga memiliki banyak koleksi, yakni 831 koleksi yang terdiri dari koleksi prasejarah, heraldik, keramik, etnografi, naskah, numismatik, dan foto.[2]
Koleksi
Patung Toddo` Puli Temmalara yang berada di halaman depan museum.
Museum Batara Guru merupakan satu-satunya museum yang ada di wilayah bekas Kerajaan Luwu yang merupakan kerajaan tertua, khususnya di Sulawesi Selatan. Di dalam museum ini terdapat berbagai informasi tentang Kerajaan Luwu pada masa lampau, seperti:[3]
Kursi Datu Luwu
Bendera Kerajaan Luwu
Peralatan Perang Kerajaan Luwu
Topi Perang dan Perisai Kerajaan Luwu
Keramik Asing
Tempayan Domestik
Guci Keramik Asing
Bosara, salah satu perlengkapan pesta Kerajaan Luwu
Aksesoris Pesat
Lukisan Mitos Sawerigading
Lukisan Datu Luwu ke-35 Andi Jemma
Keramik
Guci dan Tempayan
Peralatan Pesta
Lukisan dan Foto
Pengunjung Museum
Akses dan lokasi
Museum ini berjarak sekitar 1,5 km dari Pelabuhan Laut Tanjungringgit serta 3 km dari Terminal Dangerakko. Waktu kunjung museum Batara Guru ini yaitu hari Selasa-Kamis pukul 08.00-16.00 WITA, hari Jumat pukul 08.00-10.30 WITA, hari Minggu pukul 08.00-16.00 WITA. Adapun mengenai biaya tiket masuk museum ini tidak ditentukan tarifnya, melainkan para pengunjung bisa membayar tarif secara sukarela. Bagi yang ingin masuk kedalam museum diharuskan untuk menggunakan sarung. Tidak perlu khawatir karena dibagian informasi tersedia sarung yang bisa disewa dengan harga Rp. 10.000. Apabila kalian berkunjung atas nama instansi atau organisasi perlu untuk membawa surat pengantar kemudian ditujukan kepada dinas Kebudayaan. Setelah itu kalian akan diberikan surat rekomendasi untuk bisa masuk kedalam Museum. Nantinya akan ada satu pengurus Museum yang akan menemani kalian berkeliling dan pastinya akan membantu para pengunjung untuk menjelaskan sejarah museum dan semua hal yang ada di dalam museum termasuk koleksi museum. [5][6]
12Sirua Sarapang, Simon (2017). Istana Kerajaan Luwu. Makassar: Pusat Sawerigading bekerjasama Dinas Perpustakaan dan KEarsipan Prov. Sulsel. ISBN978-602-9248-23-4. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
↑Nurkidam, A., dkk. (2022). Khatimah, Khusnul (ed.). Jejak Arkeologi Islam Luwu(PDF). Parepare: IAIN Parepare Nusantara Press. hlm.29. ISBN978-623-5781-67-9. Pemeliharaan CS1: Banyak nama: authors list (link) Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
↑Direktori Museum Indonesia. Jakarta: Sekretariat Direktorat Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. 2012. hlm.586–588. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)