Rumah Budaya Sumba adalah museum khusus yang digunakan untuk memperkenalkan sejarah dan budayaSumba. Fungsi Rumah Budaya Sumba adalah sebagai museum sekaligus tempat wisata, penelitian, dan pertemuan, serta pusat pembelajaran kebudayaan Sumba. Rumah Budaya Sumba mengoleksi berbagai macam peninggalan kelompok etnik daerah Sumba yang berasal dari masa prasejarah hingga masa kini. Koleksi-koleksi ini merupakan sumbangan koleksi pribadi Pater Robert Ramone dan sumbangan dari setiap rumah adat Sumba. Rumah Budaya Sumba terletak di Jalan Rumah Budaya Nomor 212,[1] Kalembu Nga’banga Waitabula, Kabupaten Sumba Barat Daya, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Jarak tempuh ke museum mencapai 6,5 kilometer melalui Bandar Udara Tambolaka dan mencapai 9 kilometer melalui Pelabuhan Waikelo. Rumah Budaya Sumba dibangun pada Maret 2010 atas prakarsa Pater Robert Ramone dengan bantuan dan dari Yayasan Tirta Utomo. Peresmian Rumah Budaya Sumba dilakukan pada tanggal 22 Oktober 2011.[2]
Pendiri
Rumah Budaya Sumba berlokasi di Pulau Sumba, tepatnya di Waitabula, Kabupaten Sumba Barat Daya, Provinsi Nusa Tenggara Timur.[3] Rumah Budaya Sumba dibuka pada tanggal 22 Oktober 2011 bersamaan dengan pembukaan Lembaga Studi dan Pelestarian Budaya Sumba. Rumah budaya ini didirikan atas upaya dan prakarsa dari Pater Robert Ramone yang bekerja sebagai seorang pastor dari CSsR (Conggregatio Sanctisimi Redemptoris). Pater Robert Ramone telah dikenal oleh masyarakatSumba sebagai pastor dan sekaligus sebagai pengumpul dokumentasibudayaSumba. Selama menjelajah Pulau Sumba, ia membuat berbagai dokumenpengamatan langsung dengan menggunakan kamera. Ia berhasil mengumpulkan berbagai foto dokumentasi yang berhubungan dengan budayaSumba. Pendirian Rumah Budaya Sumba telah diupayakan oleh Ramone sejak tahun 2004 dan akhirnya dapat dilaksanakan pada tahun 2010. Rumah budaya ini berhasil dibangun dengan bantuan keuangan dari berbagai pihak. Pendirian Rumah Budaya Sumba didasari pada kekuatan fisik, kekuatan pemikiran, dan juga kekuatan penghayatan dari orang-orang yang peduli terhadap budaya Sumba.[4]
Koleksi
Rumah Budaya Sumba mengoleksi benda-benda bersejarah yang dikumpulkan oleh Pater Robert Ramone.[3] Di dalam galeri terdapat beragam peninggalan tradisiSumba. Beberapa di antaranya adalah totem, menhir, perhiasan, peralatan dapur, dan juga foto-foto karya Pater Robert Ramone.[4]
Desain
Rumah Budaya Sumba dibangun di atas lahan seluas tiga hektar. Pembangunannya terbagi menjadi dua gedung kembar yang berbentuk rumah adat Sumba. Gedung yang berada di sebelah kiri digunakan sebagai kantor dan tempat tinggal. Sedangkan gedung yang berada di sebelah kanan dijadikan galeri dan tokocenderamata. Bagian tengah antara kedua gedung merupakan area pelataran yang dijadikan sebagai panggung untuk pementasan seni dan budaya. Pada lantai pelataran terdapat inisial huruf C yang merupakan singkatan dari ‘cor’ yang dalam Bahasa Indonesi berarti hati. Dalam tradisiSumba, pada peletakan huruf C di pohon merupakan pertanda sahnya suat kampung. Huruf C itu juga diartikan sebaga center atau culture yang dimaknai sebagai pusat budaya.[4]
Rumah Budaya Sumba memiliki museum dengan ruangan yang tidak bersekat. Museum ini menerapkan gaya arsitektur rumah adat Sumba. Ciri khas dari rumah adat Sumba adalah atap tinggi yang dinamakan menara dan ditopang oleh empat buah pilar di bawahnya. Di setiap pilar terdapat ukiran berupa lambang, sedangkan ketinggian atap melambangkan tingkat kekayaan pemilik rumah.[3]
↑Rusmiyati; etal. (2018). Katalog Museum Indonesia Jilid II. Jakarta: Direktorat Pelestarian Cagar Budaya dan Permuseuman. hlm.288. ISBN978-979-8250-67-5.Pemeliharaan CS1: Status URL (link)