Monarki Belanda adalah monarki konstitusional. Dengan demikian, peran dan posisi monarki ditentukan dan dibatasi oleh Konstitusi Belanda. Sehingga, sebagian besar isi konstitusi dikhususkan untuk monarki. Kira-kira sepertiga dari dokumen tersebut menjelaskan suksesi, mekanisme aksesi & turun takhta, serta peran dan tugas monarki. Ini termasuk formalitas komunikasi antara Dewan Negara dan peran monarki dalam menciptakan undang-undang.
Willem menjadi pemimpin Pemberontakan Belanda dan Republik Belanda yang merdeka. Sebagai stadhouder, ia diteruskan oleh beberapa keturunannya. Pada tahun 1747, fungsi stadhouder menjadi posisi turun-temurun di semua provinsi di Republik Belanda yang "dimahkotai" itu. Stadhouder terakhir adalah Willem V.
Siklus monarki dijelaskan dalam bagian pertama Bab 2 Konstitusi Belanda, yang didedikasikan untuk kabinet. Willem-Alexander telah menjadi Raja Belanda sejak 30 April 2013.
Wangsa Oranye-Nassau berasal dari Diez di Jerman, psuat dari salah satu wilayah Nassau. Gelar "Pangeran Oranye" diperoleh melalui pewarisan Kepangeranan Orange di selatan Prancis pada tahun 1544. Willem dari Oranye (juga dikenal sebagai Willem Sang Pendiam) adalah stadhouder Oranye pertama (yang secara ironis ditunjuk oleh Felipe II dari Spanyol). Dari tahun 1568 hingga kematiannya pada tahun 1584, ia memimpin perjuangan kemerdekaan Belanda dari Spanyol. Adik laki-lakinya, Johann VI, Pangeran Nassau-Dillenburg, Stadhouder dari Utrecht, adalah garis patrilineal langsung dari Stadtholder Friesland dan Groningen, stadhouder turun-temurun di kemudian hari dan Raja Belanda pertama.
Secara resmi, Belanda tetap menjadi sebuah republik konfederasi, bahkan pada tahun 1747 ketika jabatan stadhouder disentralisasi (satu stadhouder untuk semua provinsi) dan secara resmi menjadi turun-temurun di bawah Wangsa Oranye-Nassau.
Monarki saat ini didirikan pada tahun 1813 ketika Prancis berhasil diusir Belanda. Rezim baru yang dipimpin oleh Pangeran William Frederick dari Orange, putra stadhouder terakhir. Awalnya dia hanya memerintah wilayah di republik lama sebagai "pangeran berdaulat". Pada tahun 1815, setelah Napoleon melarikan diri dari Elba, William Frederick mengangkat status Belanda sebagai kerajaan dan memproklamirkan dirinya sebagai Raja Willem I. Sebagai bagian dari pengturan kembali Eropa di Kongres Wina, Wangsa Oranye-Nassau dikukuhkan sebagai penguasa Kerajaan Belanda, ditambah dengan apa yang kini menjadi bagian dari Belgia dan Luksemburg. Pada saat yang sama, Willem menjadi Adipati Agung Luksemburg secara turun-temurun dengan imbalan menyerahkan tanah warisan keluarganya di Jerman kepada Nassau-Weilburg dan Prusia. Kadipaten Agung Luksemburg adalah bagian dari Belanda (sampai 1839), sementara di saat yang sama menjadi negara anggota Konfederasi Jerman. Mereka sepenuhnya merdeka pada tahun 1839, tetapi masih dalam uni personal dengan Kerajaan Belanda sampai tahun 1890.[1][2][3][4]
Sebagian besar anggota keluarga kerajaan Belanda, selain gelar lainnya, juga memegang (atau pernah memegang) gelar pangeran "Pangeran Oranye-Nassau". Anak-anak Pangeran Friso dan Pangeran Constantijn memiliki gelar adipati (count) dan adipati wanita (countess) Oranye-Nassau. Selain gelar Raja/Pangeran Belanda dan Pangeran Oranye-Nassau, putri-putri Ratu Juliana dan Pangeran Bernhard dari Lippe-Biesterfeld juga memiliki gelar lain — Putri Lippe-Biesterfeld. Anak-anak Ratu Beatrix dan keturunan garis laki-lakinya (kecuali anak-anak Raja Willem-Alexander) juga menyandang sebutan kehormatan Jonkheer/Jonkvrouw disertai nama "Van Amsberg".
Ratu Juliana, anak tunggal Ratu Wilhelmina dan Adipati Hendrik dari Mecklenburg-Schwerin, juga bergelar Adipati Besar Wanita (Duchess) Mecklenburg-Schwerin. Karena gelar ini hanya diwariskan lewat garis laki-laki, keturunan Ratu Juliana tidak lagi memegang gelar tersebut.
Gelar Pangeran Belanda hanya diberikan kepada anggota paling penting dari keluarga kerajaan (anak-anak raja dan pewaris takhta). Anggota keluarga kerajaan dapat kehilangan keanggotaannya bila menikah tanpa izin parlemen.
Selain itu, Raja Belanda juga memiliki sejumlah gelar tambahan yang bersifat historis, diwariskan melalui Wangsa Oranye-Nassau, mencerminkan akumulasi wilayah dan pengaruh leluhur mereka:
Adipati Limburg, Pangeran Katzenelnbogen, Vianden, Diez, Spiegelberg, Buren, Leerdam, dan Culemborg; Markis Veere dan Vlissingen; Baron Breda, Diest, Beilstein, kota Grave dan tanah Cuyk, IJsselstein, Cranendonk, Eindhoven, dan Liesveld; Tuan turun-temurun Ameland; serta Tuan Borculo, Bredevoort, Lichtenvoorde, ’t Loo, Geertruidenberg, Klundert, Zevenbergen, Hoge dan Lage Zwaluwe, Naaldwijk, Polanen, St. Maartensdijk, Soest, Baarn dan Ter Eem, Willemstad, Steenbergen, Montfort, St. Vith, Bütgenbach dan Dasburg; serta Vikom Antwerpen.[5][6]
Dari semua gelar ini, yang paling penting adalah Baron Breda, yang menjadi pusat wilayah Nassau di Belanda (Brabant) bahkan sebelum mereka mewarisi Kepangeranan Orange di Prancis selatan. Setelah itu menyusul Vikom Antwerpen, yang memberi Willem Sang Pendiam pengaruh besar di kota penting tersebut, dan Markis Veere, yang memungkinkannya serta keturunannya mengendalikan suara di provinsi Zeeland.[7][8][9][10][11]
Di Belanda, terdapat perbedaan antara keluarga kerajaan dan wangsa kerajaan. Keluarga kerajaan mencakup orang yang lahir dalam keluarga (dan diakui secara hukum) atau yang menikah masuk ke dalamnya. Namun, tidak semua anggota keluarga kerajaan termasuk dalam wangsa kerajaan.
Menurut Undang-Undang Parlemen, anggota wangsa kerajaan adalah:[12]
Raja atau Ratu yang berkuasa;
Mantan raja/ratu (setelah turun takhta);
Anggota keluarga kerajaan yang berada dalam garis suksesi takhta dan tidak lebih dari dua derajat hubungan darah dari raja;
Anggota wangsa kerajaan dapat kehilangan keanggotaan dan gelar pangeran/putri Belanda jika menikah tanpa izin Parlemen Belanda. Hal ini terjadi pada Pangeran Friso ketika ia menikahi Mabel Wisse Smit, sebagaimana tercantum dalam Konstitusi Belanda yang mengatur monarki.[12]
↑Koninklijkhuis (2013). "Frequently asked questions re King William-Alexander". Rijksvoorlichtingsdienst (RVD). Diarsipkan dari asli(web) tanggal 21 June 2013. Diakses tanggal 30 May 2013. The King's full official titles are King of the Netherlands, Prince of Orange-Nassau, Jonkheer van Amsberg, Count of Katzenelnbogen, Vianden, Diez, Spiegelberg, Buren, Leerdam and Culemborg, Marquis of Veere and Vlissingen, Baron of Breda, Diest, Beilstein, the town of Grave and the lands of Cuyk, IJsselstein, Cranendonk, Eindhoven and Liesveld, Hereditary Lord and Seigneur of Ameland, Lord of Borculo, Bredevoort, Lichtenvoorde, 't Loo, Geertruidenberg, Klundert, Zevenbergen, Hoge and Lage Zwaluwe, Naaldwijk, Polanen, St Maartensdijk, Soest, Baarn and Ter Eem, Willemstad, Steenbergen, Montfort, St Vith, Bütgenbach and Dasburg, Viscount of Antwerp.
↑Rowen, Herbert H. (1990). The Princes of Orange: The Stadholders in the Dutch Republic. Cambridge Univ. Press. In 1582 William the Silent purchased the marquisate of Veere and Vlissingen. It had been the property of Philip II since 1567, but had fallen into arrears to the province. In 1580 the Court of Holland ordered it sold. William bought it as it gave him two more votes in the States of Zeeland. He owned the government of the two towns, and so could appoint their magistrates. He already had one as First Noble for Philip William, who had inherited Maartensdijk. This made William the predominant member of the States of Zeeland. It was a smaller version of the countship of Zeeland (& Holland) promised to William, and was a potent political base for his descendants.
Cetak miring berarti Persemakmuran, satu sama lain berbagi kepala negara monarki yang sama. 1 Kepala monarki dipertentangkan sebagai Kepala Negara.2 Teknisnya konstitusional, praktisnya mutlak.3 Menggunakan gelar Presiden.