Maimunah binti al-Harits al-Hilaliyyah al-'Amiriyyah (bahasa Arab:ميمونة بنت الحارث الهلالية العامريةcode: ar is deprecated ) (lahir pada tahun 594, wafat pada tahun 51 H/673) adalah istri terakhir dari Nabi Muhammad, dan termasuk dari Ibu Para Mukminin.
Kehidupan & Pernikahannya
Maimunah memiliki nama asli Barrah, tetapi Nabi Muhammad mengubahnya menjadi Maimunah yang berarti "berita baik".[1] Maimunah berasal dari klan borjuisBanu Hilal. Ayahnya bernama Harits bin Hazm, ibunya bernama Hindun binti Aus. Saudara perempuannya, Lubabah atau Ummu al-Fadhal yang kedua masuk Islam setelah Khadijah, menikah dengan Abbas bin Abdul-Mutthalib yang merupakan salah satu orang terkaya dari Bani Hasyim,[2] yang mana kemudian menjadi wali-nya Maimunah.[3] Maimunah dinikahi oleh Rasulullah ketika beliau sedang melaksanakan umrah, tetapi baru disetubuhi setelah beliau selesai menjalankannya.[4]
Awalnya ia menikah dengan Mas'ud bin Amr (Abu Ruhm bin Abdul Uzza), lalu ia belajar dan mengenal Islam di rumah Ummu al-Fadhal. Suatu hari ia mendengar cerita kemenangan muslim dari pertempuran Khaibar, ia pun ikut begembira, sementara suaminya bersedih, lalu mereka bertengkar dan suaminya menceraikannya. Barrah pun tinggal di rumah Ummu al-Fadhal, kakaknya.[5]
Setelah perjanjian Hudaibiyah pada 6 H, setahun kemudian Muhammad beserta sahabat umrah ke Mekah, lalu Abbas melamarkan Maimunah kepada Muhammad dengan mahar 400 dirham (sekitar 16 juta rupiah), lalu diadakan pernikahan di Lembah Saraf / Sarif, 30km di utara kota Mekah.[5] Awalnya Muhammad menawarkan acara pernikahan di Mekah dengan memberi jamuan kepada penduduk Mekah, tetapi mereka (Quraisy Mekah) menolak.[6]
Maimunah dikenal sebagai perempuan yang baik hati. Ia pernah memiliki seorang budak perempuan yang kemudian ia bebaskan tanpa izin sang Nabi. Pada saat waktu gilirannya bersama Nabi, ia pun menceritakan apa yang telah dilakukannya. Nabi pun berkata kepada Maimunah, bahwa ketimbang membebaskannya, Maimunah akan mendapatkan pahala yang lebih besar bilamana ia memberikan budak itu kepada salah satu paman dari pihak ibunya.[7]
Muhammad memasuki rumah Maimunah binti Al Haris, ternyata di dalamnya ada beberapa biawak dengan telurnya. Ia saat itu bersama Abdullah bin Abbas dan Khalid bin Walid. Ia bertanya: "Dari mana ini?" Maimunah menjawab, "Saudariku, Hudzailah binti Al Harits menghadiahkannya kepadaku." Ia berkata kepada Abdullah bin Abbas dan Khalid bin Walid: "Kalian berdua, makanlah." Mereka bertanya; "Kenapa anda tidak memakannya, Wahai Rasulullah?' Ia menjawab: "Sesungguhnya telah hadir hidangan dari Allah." Maimunah bertanya; "Apakah anda mau kami hidangkan susu?" Ia menjawab: "Ya." Dan ketika ia akan meminum susu tersebut ia bertanya: "Dari mana ini?" Maimunah menjawab; "Saudariku, Hudzailah menghadiahkan kepadaku." Muhammad berkata: 'Apa pendapatmu tentang budak wanitamu yang engkau pernah minta agar aku membebaskannya? Berikan (kembalikan) kepada saudarimu dan sambunglah silaturrahim agar dia yang merawatnya karena itu lebih baik untukmu'."[8]
Makam Maimunah binti al Harits.
Maimunah pernah memiliki anak anjing yang ia simpan di bawah tempat tidurnya. Pada suatu hari ia melihat suasana hati Sang Nabi sedang buruk. Rupanya itu dikarenakan Malaikat Jibril tidak menepati janjinya menemui beliau di malam sebelumnya. Sang Nabi pun teringat dengan anak anjing di bawah tempat tidur Maimunah. Beliau pun memerintahkannya untuk dikeluarkan. Dan menyiramkan air di tempat tersebut. Ketika malam tiba, Malaikat Jibril pun datang dan menginformasikan beliau bahwa dirinya tidak memasuki rumah yang ada anjing ataupun gambar di dalamnya. Lalu pada pagi hari, Sang Nabi pun memerintahkan agar tiap-tiap anjing supaya dibunuh,[9] termasuk yang masih kecil.[10] Namun membiarkan anjing yang ditugaskan untuk menjaga perkebunan besar.[9]
Aisyah berkata, "Sesungguhnya Maimunah adalah orang yang paling bertakwa dan paling menyambung silaturahim di antara kami'."[11]
Nasabnya
Ayahnya: al-Harits bin Huzn bin Bujair bin Hazm bin Ruwaibah bin Abdullah bin Hilal bin 'Amir bin Sha'sha'ah bin Muawiyah bin Bakr bin Hawazin bin Manshur bin 'Ikrimah bin Khafshah bin Qais bin 'Ailan bin Mudhar bin Nizar bin Ma'ad bin Adnan.
Ibunya: Hindun binti 'Auf bin Zuhair bin Huthamah bin Jarasy bin Aslam bin Zaid bin Sahl bin 'Amru bin Qais bin Muawiyah bin Jasyam bin Abdu Syams bin Wa`il bin al-Ghauts bin Quthn bin 'Uraib bin Zuhair bin al-Ghauts bin Aiman bin al-Hamyasa' bin Humair bin Saba bin Yasyjub bin Ya'rib bin Qahthan.
Lubbabah ash-Shugra binti al-Harits al-Hilaliyyah, ibu dari Khalid bin Walid
Kematian
Saat pergi menunaikan haji bersama Abdullah bin Abbas pada masa Khalifah Muawiyah, Maimunah jatuh sakit lalu mewasiatkan agar dimakamkan di tempat pernikahannya, lalu rumahnya di Madinah dijadikan tempat majlis ilmu.[12] Maimunah wafat di Sarif, dekat Tan'im (di pinggir jalan tol Mekah-Madinah), tempat ia menikah dengan Muhammad, pada 61 H di usia 80 tahun, jenazahnya disolatkan oleh Abdullah bin Abbas.[13]
↑Ad-Dimasyqi, Ahmad Khalil Jam'ah, Syaikh Muhammad bin Yusuf (2020-12-18). Istri-Istri Para Nabi (dalam bahasa Melayu). Darul Falah. hlm.464. ISBN978-979-3036-17-5. Pemeliharaan CS1: Banyak nama: authors list (link) Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
↑Umairah, Dr Abdurrahman. Wanita-Wanita dalam Al-Qur'an (dalam bahasa Melayu). Pustaka Al-Kautsar. hlm.44. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)