Walau sejarah mencatat kisah suram penjajahan Jepang di Indonesia, saat ini kedua negara telah membina hubungan persahabatan yang sangat erat selama lebih dari 60 tahun yang berlandaskan hubungan kerja sama dan pertukaran di berbagai bidang seperti politik, ekonomi, kebudayaan dan sebagainya.
Hubungan persahabatan seperti ini, bukanlah sesuatu yang dapat dibangun dalam sehari saja. Di Indonesia ada sekitar 11.000 orang Jepang, sebaliknya di Jepang terdapat lebih 24.000 orang Indonesia. Perusahaan-perusahaan Jepang yang beroperasi di Indonesia berjumlah lebih dari 1000 perusahaan, di mana bekerja 300.000 orang Indonesia. Sementara itu, di Indonesia terdapat lebih dari 85.000 orang yang belajar Bahasa Jepang, jumlah ini terbesar di Asia Tenggara dan menempati kedudukan ke-6 di dunia.
Sejarah
Masa kolonial
Mahasiswa Indonesia pertama yang belajar di Jepang adalah jurnalis asal Padang, Abdoel Madjid Usman di Universitas Meiji yang belajar hukum. Selama berada di sana, ia ikut mendirikan Serikat Indonesia, sebuah organisasi untuk mahasiswa Indonesia di Jepang, dan aktif mempromosikan kemerdekaan Indonesia di berbagai forum internasional. Ia nantinya menjadi pemimpin kolaborator Jepang dan pejuang kemerdekaan.[1]
Pasca-kemerdekaan
Pasca-perang Yom Kippur, Jepang terdampak krisis minyak akibat embargo yang diberlakukan oleh Raja Faisal. Dalam situasi tersebut, pemerintah Jepang mencari jalur diplomasi melalui Indonesia untuk mengamankan kembali pasokan minyak. Perdana Menteri Jepang saat itu, Kakuei Tanaka, melalui utusannya, Nakajima, mendatangi Mohammad Natsir, yang saat itu sedang dipenjara. Meskipun berada dalam tahanan, Natsir tetap dihormati sebagai tokoh Muslim berpengaruh dengan jaringan luas di dunia Islam, termasuk hubungan baik dengan Arab Saudi. Atas pengaruh Mohammad Natsir, Arab Saudi mengakhiri embargo minyak ke Jepang.[2][3][4]
Hubungan
Hubungan Bilateral kedua negara dibuka pada bulan April1958 dengan Penandatanganan Perjanjian Perdamaian antara Jepang dan Republik Indonesia. Pada tahun yang sama ditandatangani pula Perjanjian Pampasan Perang.[butuh rujukan]
Pandangan terhadap Jepang
Hasil jajak pendapat Pew Research Center 2013[5] Pandangan Asia/Pasifik terhadap Jepang berdasarkan negara (diurut dari positif ke negatif)
Menurut jajak pendapat BBC World Service 2011, 85% orang Indonesia memandang pengaruh Jepang secara positif, sementara 7% mengungkapkan pandangan negatif, menjadikan Indonesia salah satu negara paling pro-Jepang di dunia.[6]
Fukihara Yutaka/吹原豊 (2007), エスニックコミュニティの成立と発展一大洗町における定住インドネシア人共同体の事例一[Birth and Development of an Ethnic Community: In the Case of Indonesian Migrant Community in Oarai](PDF), 地域文化研究 (dalam bahasa Jepang), vol.5, hlm.21–36, diarsipkan dari asli(PDF) tanggal 2012-03-19
畠山清行 [Hatakeyama Seikō]; 保阪正康 [Hosaka Masayasu] (2004), 陸軍中野学校終戦秘史 [The secret post-war history of the Nakano Infantry School], 新潮社 [Shinchōsha], ISBN978-4-10-115522-7
目黒潮 [Meguro Ushio] (2005), 茨城県大洗町における日系インドネシア人の集住化と就労構造[Establishment of the Nikkei Indonesian Community and their employment system in Oarai Town, Ibaraki](PDF), Intercultural Communication Studies (dalam bahasa Jepang) (17): 49–78, diarsipkan dari asli(PDF) tanggal 2007-10-28, diakses tanggal 2007-08-11
Murayama, Yoshitada (1993), "The Pattern of Economic Penetration of the Dutch East Indies", dalam Shiraishi, Saya; Shiraishi, Takashi (ed.), The Japanese in colonial Southeast Asia, Southeast Asian Publications, vol.3, Cornell University, hlm.87–110, ISBN978-0-87727-402-5
Shiraishi, Saya; Shiraishi, Takashi, ed. (1993), "The Japanese in Colonial Southeast Asia: An Overview", The Japanese in colonial Southeast Asia, Southeast Asian Publications, vol.3, Cornell University, hlm.1–20, ISBN978-0-87727-402-5.