Amerika Serikat dengan Indonesia membuka hubungan diplomatik pada tahun 1949. Hubungan antara kedua negara cenderung dekat. Kedua negara tersebut merupakan negara republik dan keduanya mengakui kepentingan strategis kedua belah pihak.[1]
Masyarakat Indonesia cenderung melihat Amerika Serikat secara positif dengan 61% warga Indonesia melihat AS secara positif pada tahun 2002, menurun ke 54% pada tahun 2011 dan kembali meningkat ke 59% pada tahun 2014.[2][3] Namun, persepsi warga Indonesia terhadap AS menurun secara signifikan pada masa pemerintahan Presiden Donald Trump dengan 43% warga Indonesia melihat AS secara positif dibandingkan dengan 42% yang melihat AS secara negatif.[4]
Robert R Purvis menjadi Agen Perdagangan di Medan, Sumatra yang ditunjuk oleh Mentri Luar Negri AS pada 12 Juli1853; kemudian kantor Agen Perdagangan dijadikan kantor wakil konsulat pada tahun 1866 dan agen konsulat pada tahun 1898. Kantor agen perdagangan ini kemudian diperintahkan untuk ditutup pada 4 Januari1916 dan menjadi konsulat dengan Horace J. Dickinson sebagai konsul yang pertama pada 21 Juli1917. Konsulat ini sendiri kemudian ditutup pada 25 Juli1917.
Joseph Balestier menjadi konsul di Riau, Kepulauan Bintan pada 11 Oktober1833 penunjukannya disahkan pada 10 Februari1834. Tidak jelas kapan perwakilan di Riau ini akhirnya ditutup.
Carl Van Oven menjadi agen konsuler pada 11 Januari1866 di Surabaya, Jawa. Kantor ini kemudian menjadi konsulat dengan ditunjuknya Harry Campbel pada 25 Mei1918. Konsulat Surabaya kemudian ditutup pada 22 Februari1942 dan dibuka lagi untuk umum pada 27 Mei1950.
Amerika Serikat memiliki peran yang besar dalam menuntut kemerdekaan Indonesia. Adanya Perang Dingin bersamaan dengan Republik Indonesia yang menunjukan bisanya dalam menekan ancaman-ancaman komunis internal seperti Peristiwa Madiun pada tahun 1948. Kebijakan luar negeri AS terhadap Indonesia sejak tahun 1940an yaitu terus mendukung Indonesia untuk menghindari berkembangnya komunisme dan AS menjadi penyuplai senjata terbesar ke Indonesia. Setelah Jepang, Indonesia merupakan salah satu negara pro-AS terbesar di Asia. Investasi dari AS dalam industri minyak bumi dan sumber daya alam lainnya termasuk sangat besar dan Indonesia juga memiliki kendali atas jalur-jalur pelayaran yang strategis.[6]
Belanda mencoba mengambil alih kembali Indonesia setelah menyerahnya Jepang. Namun, nasionalisme Indonesia tumbuh secara signifikan pada masa okupansi Jepang yang kemudian menentang kembalinya Belanda sehingga menyebabkan terjadinya Revolusi Nasional Indonesia. AS berperan besar di PBB untuk menekan Belanda untuk menarik dari Indonesia dengan mengancam mencabut Belanda dari bantuan Marshall Plan. Indonesia meraih kemerdekaan penuh dari Belanda pada Desember 1949. Indonesia memberlakukan kebijakan nasionalisasi perusahaan-perusahaan Belanda yang ada di Indonesia dan sekitar 9 dari 10 warga Belanda kembali ke negara asalnya.[7] Indonesia berperan besar dalam terbentuknya Gerakan Non-Blok bersama dengan India dan Yugoslavia untuk menentang pengaruh dari Amerika Serikat dan Uni Soviet. Ketika Indonesia mulai menjual karet ke Tiongkok pada pertengahan 1950an, pemerintahan AS di bawah Presiden Eisenhower menentang kebijakan tersebut dan membujuk Indonesia untuk berhenti menjual karet ke Tiongkok sehingga hubungan diplomatik dapat berlangsung dengan baik.[8][9]
Dengan menangnya kelompok sayap kiri Fretilin dalam perang sipil di Timor Leste. Pemerintahan Soeharto khawatir jika adanya pemerintahan kiri sebagai tetangga dapat membangun gerakan-gerakan separatis di Indonesia.[13] Beberapa kelompok anti-Fretilin melarikan diri ke Timor Barat dan meminta pemerintah Indonesia untuk menganeksasi Timor Leste. Pada 6 Desember 1975, Presiden AS Gerald Ford dan menteri luar negeri Henry Kissinger bertemu dengan Soeharto dan mengindikasikan bahwa AS tidak akan menentang invasi Indonesia ke Timor Leste. Pada esok harinya Indonesia melakukan invasi ke Timor Leste dan menjadikannya provinsi ke-27 bernama Timor Timur. Posisi AS tersebut diakibatkan oleh inginnya AS mempertahankan hubungan diplomatik yang baik dengan Indonesia akibat dari berkembangnya pengaruh Indonesia dalam kawasan Asia Tenggara.[14] Setelah invasi, AS terus memberikan bantuan militer ke Indonesia sebesar $20 juta setiap tahunnya dan penjualan senjata ke Indonesia meningkat secara signifikan selama masa pemerintahan Jimmy Carter.[butuh rujukan]
Pendudukan Indonesia di Timor Leste selama hampir 25 tahun dipenuhi dengan konflik antara kelompok separatis terutama Fretilin dengan militer Indonesia. Indonesia mengalami sanksi dari AS di bawah pemerintahan Bill Clinton ketika terjadinya konflik berdarah setelah berlangsungnya referendum kemerdekaan yang menunjukan besarnya dukungan terhadap kemerdekaan pada tahun 1999.[15] Indonesia melepaskan kekuasaannya dari Timor Leste setelah masuknya intervensi asing yang dipimpin oleh Australia.[16][17]
Sejak 2000
Sejak berakhirnya Perang Dingin pada tahun 1989 dan krisis Timor Leste pada tahun 2000, hubungan diplomatik antara Amerika Serikat dengan Indonesia telah membaik. Hubungan antara kedua negara mencapai puncaknya pada tahun 2000 setelah Indonesia mengalami transisi dari pemerintahan otoriter menuju pemerintahan yang demokratis. Perbaikan hubungan juga diakibatkan oleh efektifnya kebijakan anti-terorisme di Indonesia. Presiden AS Barack Obama mengakui pentingnya peran Indonesia dalam urusan dunia.[18][19]
Amerika Serikat memiliki kepentingan ekonomi, komersial, dan keamanan di Indonesia. Hal itu didasari atas lokasi Indonesia yang strategis yang dilalui oleh beberapa jalur perdagangan dunia. Kooperasi keamanan antara kedua negara terus berkembang meskipun tidak adanya perjanjian resmi antara kedua negara. Kerjasama antara kedua negara dalam kontraterorisme terus berkembang terutama setelah terjadinya serangan bom Bali pada tahun 2002 dan diketahuinya adanya kelompok-kelompok teroris seperti Jamaah Islamiyah.[butuh rujukan]
↑"Global Indicators Database". Pew Research Center's Global Attitudes Project (dalam bahasa American English). Diakses tanggal 2019-09-07.
↑(Inggris) Samuel Eliot Morison, Sejarah Operasi Angkatan Laut Amerika pada Perang Dunia ke II, Volume VIII.
↑Marc Frey, "Decolonization and Dutch-American Relations," in Krabebbendam, ed., Four Centuries of Dutch-American Relations (2009) pp 609-20.
↑M. C. Ricklefs, A History of Modern Indonesia since c. 1200 (3rd ed. 2001) pp 261–90.
↑Soo Chun Lu, "'Trade with the Devil': Rubber, Cold War Embargo, and US–Indonesian Relations, 1951–1956." Diplomacy and Statecraft 19.1 (2008): 42–68.
↑Richard Mason, "The United States, the Cold War and Indonesia-People's Republic of China Relations, 1950–1955." KEMANUSIAAN: The Asian Journal of Humanities 23.1 (2016) Online.
↑David Webster, "Regimes in Motion: The Kennedy Administration and Indonesia's New Frontier, 1960–1962." Diplomatic History 33.1 (2009): 95–123.
↑Matthew Jones, "US relations with Indonesia, the Kennedy-Johnson transition, and the Vietnam connection, 1963–1965." Diplomatic History 26.2 (2002): 249–281. online
↑H. W. Brands, "The limits of Manipulation: How the United States didn't topple Sukarno." Journal of American History 76.3 (1989): 785–808. online
↑Brad Simpson, "‘Illegally and Beautifully’: The United States, the Indonesian Invasion of East Timor and the International Community, 1974–76." Cold War History 5.3 (2005): 281–315.
↑Benedict R. Andersen, "East Timor and Indonesia: Some Implications," in Peter Carey and G. Carter Bentley, eds., East Timor at the Crossroads: The Forging of a Nation (University of Hawaii Press, 1995), 138–40.
↑Adam Schwarz, A Nation in Waiting: Indonesia’s Search for Stability (Westview Press, 2000) pp 198–204.
↑Ann Marie Murphy, "US rapprochement with Indonesia: from problem state to partner." Contemporary Southeast Asia (2010): 362–387. online
↑Meidyatama Suryodiningrat, "US rapprochement with Indonesia: From problem state to partner—A response." Contemporary Southeast Asia 32.3 (2010): 388–394. excerpt
Bootsma, N. "The Discovery of Indonesia: Western (non-Dutch) Historiography on the Decolonization of Indonesia". in Bijdragen tot de Taal-, Land-en Volkenkunde 1ste Afl (1995): 1-22. online in English
Freise, Christopher. "American grand strategy and US foreign policy towards Indonesia" (PhD. Diss. U of Melbourne 2017) online bibliography on pp.253–269.
Hamilton-Hart, Natasha, and Dave McRae. "Indonesia: balancing the United States and China, aiming for independence". (United States Studies Centre at the University of Sydney, 2015) onlineDiarsipkan 2021-06-25 di Wayback Machine..
Inkiriwang, Frega Wenas. "The dynamic of the US–Indonesia defence relations: the 'IMET ban' period". Australian Journal of International Affairs 74.4 (2020): 377–393. online
Jones, Matthew. Conflict and Confrontation in South East Asia, 1961–1965: Britain, the United States, Indonesia and the Creation of Malaysia (Cambridge UP, 2001).
Koopmans, Joop W. Historical Dictionary of the Netherlands (Rowman & Littlefield, 2015).
Krabbendam, Hans, Cornelis A. van Minnen, and Giles Scott-Smith, eds. Four Centuries of Dutch-American Relations: 1609-2009 (SUNY Press, 2009). Excerpt; comprehensive coverage in 1190 pages.
Loeber, Hans, ed. Dutch-American Relations 1945-1969: A Partnership; Illusions and Facts (1992), scholarly essays
McMahon, Robert J. Colonialism and Cold War: The United States and the Struggle for Indonesian Independence, 1945–49 (1981)
McMahon, Robert J. The Limits of Empire: The United States and Southeast Asia Since World War II (Columbia UP, 1999)
Matray, James I. ed. East Asia and the United States: An Encyclopedia of relations since 1784 (2 vol. Greenwood, 2002). excerpt v 2
Mokken, Robert J. "Dutch-American comparisons of the "sense of political efficacy"". Quality & Quantity 3.1 (1969): 125-152.
Murphy, Ann Marie. "US Rapprochement with Indonesia: From Problem State to Partner". Contemporary Southeast Asia 32#3 (2010): 362-87.
Ricklefs, M.C. A History of Modern Indonesia since c. 1200 (4th ed. Macmillan 2008), a standard survey.
Roadnight, Andrew. United States Policy Towards Indonesia in the Truman and Eisenhower Years (2002).
Scott-Smith, Giles, and David J. Snyder. "'A Test of Sentiments': Civil Aviation, Alliance Politics, and the KLM Challenge in Dutch-American Relations". Diplomatic History 37.5 (2013): 917-945.
Scott-Smith, Giles. "The Ties that Bind: Dutch-American Relations, US Public Diplomacy and the Promotion of American Studies since the Second World War". Hague Journal of Diplomacy 2.3 (2007): 283-305. online
Simpson, Bradley R. "Denying the 'First Right': The United States, Indonesia, and the Ranking of Human Rights by the Carter Administration, 1976-1980". International History Review 31#4 (2009): 798-826.
Smith, Anthony L. "A Glass Half Full: Indonesia-US Relations in the Age of Terror". Contemporary Southeast Asia 25#3 (2003): 449-72.
van Dijk, Cornelis W. "The American Political Intervention in the Conflict in the Dutch East Indies 1945-1949" (Army Command And General Staff College, 2009) online.
Wardaya, Baskara T. "Diplomacy and Cultural Understanding: Learning from U.S. Policy toward Indonesia under Sukarno". International Journal 67#4 (2012).
Yang, Eveline. "Indonesian Americans". Gale Encyclopedia of Multicultural America, edited by Thomas Riggs, (3rd ed., vol. 2, Gale, 2014), pp. 401-411. online
Sumber utama
McMahon, Robert J., ed. Foreign Relations of the United States, 1958-1960: Indonesia vol. XVII. Washington, DC: GPO, 1994. online.