Setelah Gunung Galunggung mengalami erupsi pada 5 April1982, pasir yang menggunung dari hasil letusan menarik minat pemerintah pada masa Orde Baru yang turut mengeruk dan membawanya ke Jakarta untuk material pembangunan jalan dan gedung bertingkat.[3][4] Salah satu metode pengangkutan galian pasir ini ialah menggunakan kereta api. Oleh karena itu, PJKA membangun jalur cabang baru menuju dekat lokasi galian. Pembangunan stasiun dan jalur ini dimulai pada 1982 atau setahun setelah meletusnya Gunung Galunggung.[5]
Jalur cabang ini dimulai dari pos pengendali wesel, kini menjadi pos perlintasan sebidang nomor 336, di petak jalan antara Stasiun Rajapolah dan Indihiang. Jalur ini kemudian berbelok ke barat menuju Stasiun Pirusa di Kampung Pirusa, Sukaratu yang terletak dekat Kantong Pasir Negla di lereng Gunung Galunggung.[3] Dari Babakanjawa, jalur ini memiliki panjang sekitar 4,96 kilometer.[2]
Jalur dan wesel percabangan ini dioperasikan untuk angkutan pasir mulai 1 Desember 1983.[5] Jalur simpang menuju Pirusa dapat diakses melalui wesel di sisi utara pos kendali wesel yang mengarah ke Rajapolah. Babakanjawa juga memiliki sebuah sepur badug di ujung utara jalur simpang yang berfungsi sebagai luncuran.[2]
Pada 1991, Badan Kerja Sama Internasional Jepang (JICA) merekomendasikan peningkatan status pos kendali wesel ini menjadi halte atau stasiun yang dapat melayani penumpang serta persilangan dan penyusulan kereta api. Peningkatan ini mengharuskan dibangunnya wesel baru di sisi selatan serta dua peron sisi.[6] Namun, rekomendasi ini kemungkinan tidak direalisasikan dan layanan angkutan pasir ke Pirusa berhenti beroperasi pada 1993.[7]
↑""Surga" dari Galunggung". Pikiran Rakyat (dikutip oleh Tekmira ESDM). 6 April 2010. Diarsipkan dari asli tanggal 2017-08-06. Diakses tanggal 2021-02-17. Rel kereta api tersebut, hingga sekarang masih bisa disaksikan dari Kecamatan Sukaratu (Kabupaten Tasikmalaya) hingga ke Kecamatan Indihiang (Kota Tasikmalaya). Rel ini paling tidak menunjukkan betapa menguntungkan dan besarnya potensi pasir Galunggung.