Setelah Gunung Galunggung mengalami erupsi pada 5 April1982, pasir yang menggunung dari hasil letusan menarik minat pemerintah pada masa Orde Baru yang turut mengeruk dan membawanya ke Jakarta untuk material pembangunan jalan dan gedung bertingkat.[2][3] Salah satu metode pengangkutan galian pasir ini ialah menggunakan kereta api. Oleh karena itu, PJKA membangun jalur cabang baru menuju dekat lokasi galian. Pembangunan stasiun dan jalur ini dimulai pada 1982 atau setahun setelah meletusnya Gunung Galunggung.[4]
Pada 30 November 1983, Stasiun Pirusa selesai dibangun. Stasiun ini memiliki lima jalur kereta api untuk gerak langsir gerbong, lokomotif, dan pemuatan pasir menuju gerbong. Bagian utara stasiun juga memiliki peron setinggi gerbong untuk menimbun dan memuat pasir ke gerbong.[5] Stasiun ini mulai beroperasi pada 1 Desember 1983, ditandai dengan keberangkatan pertama kereta api angkutan pasir menuju Jakarta.[4]
Angkutan pasir ini beroperasi dengan relasi Pirusa–Cipinang dan Pirusa–Jakarta Gudang via Cikampek. Rangkaian gerbong kosong dari Cipinang sampai di Pirusa pada dini hari. Proses pengisian pasir ke gerbong membutuhkan waktu sekitar lima jam sebelum diberangkatkan kembali ke Cipinang pada siang dan sore hari.[2][6]
Selama beroperasi sekitar kurang lebih sepuluh tahun, stasiun ini menjadi salah satu stasiun penghasil pasir terbesar di Indonesia. Pada 1987 hingga 1988, tercatat 25.484–42.920 m³ pasir diangkut dari Stasiun Pirusa per bulan.[2] Selama sepuluh tahun beroperasi, angkutan pasir dari Pirusa diperkirakan mengangkut total 6.535.000 m³ menuju Jakarta.[4]
Stasiun dan segmen jalur ini ditutup pada tahun 1993 karena persediaan pasir yang menipis dan diangkut oleh truk.[7]
Kondisi saat ini
Sebagian besar rel di jalur cabang ini telah hilang dan hanya menyisakan tanah kosong bekas tubuh baan serta sebuah jembatan yang melintasi jalan. Sisa dua jalur rel sepanjang 20-30 meter, sebuah sinyal keluar, dan peron untuk memuat pasir masih dapat ditemui di bekas emplasemen Stasiun Pirusa.[8] Bangunan stasiunnya sendiri kini telah beralih fungsi menjadi rumah warga.[4] Terdapat pula papan yang menandai bahwa lahan bekas emplasemen tersebut kini dikuasai oleh Pemerintah Provinsi Jawa Barat.
Galeri
Bekas peron untuk mengisi pasir ke gerbong
Ujung peron Stasiun Pirusa dengan tulisan "Selamat Datang di Stasiun Pirusa Wil. Daop II Bandung"
Sinyal keluar di emplasemen Stasiun Pirusa pada 2025
Referensi
12Perumka (1992). Ikhtisar Lintas dan Emplasemen. Bandung: Perumka. hlm.05–044.
↑""Surga" dari Galunggung". Pikiran Rakyat (dikutip oleh Tekmira ESDM). 6 April 2010. Diarsipkan dari asli tanggal 2017-08-06. Diakses tanggal 2021-02-17. Rel kereta api tersebut, hingga sekarang masih bisa disaksikan dari Kecamatan Sukaratu (Kabupaten Tasikmalaya) hingga ke Kecamatan Indihiang (Kota Tasikmalaya). Rel ini paling tidak menunjukkan betapa menguntungkan dan besarnya potensi pasir Galunggung.