Stasiun ini dibuka pada tahun 1893 oleh Staatsspoorwegen (SS). Di awal-awal operasinya, SS menempatkan seorang pribumi bernama Abdoel untuk menduduki jabatan kepala stasiunnya.[3]
Pada 2010, dilaporkan bahwa sebagian bangunan stasiun ini telah menjalani renovasi pada atap, bangunan, jendela, dan ruang tunggu. Benda-benda peninggalan SS yang tersisa di stasiun ini antara lain pelubang tiket, perangkat sinyal lama, dan genta peron.[4]
Ke arah barat laut stasiun ini, sebelum Stasiun Rajapolah, dahulu terdapat wesel pemisah Babakanjawa yang digunakan untuk operasional kereta api angkutan pasir Gunung Galunggung pascaletusan 1982. Lokasi percabangannya berada di dekat tugu gapura perbatasan antara Kabupaten dan Kota Tasikmalaya. Namun, jalur tersebut saat ini sudah tak lagi beroperasi karena jumlah pasir yang menipis sehingga cukup diangkut menggunakan truk pasir saja.[5][6]
Saat ini stasiun ini hanya melayani persilangan dan penyusulan antarkereta api saja, bukan untuk menaikturunkan penumpang. Stasiun ini merupakan salah satu stasiun yang berada di lintas Bandung—Tasikmalaya yang masih memakai persinyalan mekanik, seperti Stasiun Rajapolah, Ciawi, Cirahayu dan stasiun lainnya hingga Stasiun Nagreg. Setelah Stasiun Nagreg, sistem persinyalan telah menggunakan sistem elektrik.
↑""Surga" dari Galunggung". Pikiran Rakyat (dikutip oleh Tekmira ESDM). 6 April 2010. Diarsipkan dari asli tanggal 2017-08-06. Diakses tanggal 2019-01-14. Rel kereta api tersebut, hingga sekarang masih bisa disaksikan dari Kecamatan Sukaratu (Kabupaten Tasikmalaya) hingga ke Kecamatan Indihiang (Kota Tasikmalaya). Rel ini paling tidak menunjukkan betapa menguntungkan dan besarnya potensi pasir Galunggung.