Wangsa Wessex, yang juga dikenal sebagai Wangsa Cerdic, Wangsa Saxon Barat, Wangsa Gewisse, Cerdicingas, dan Dinasti Saxon Barat, merujuk pada keluarga yang secara tradisional didirikan oleh Cerdic dari Gewisse, yang memerintah Wessex di Inggris Selatan sejak awal abad ke-6. Wangsa ini menjadi dominan di Inggris selatan setelah naik takhtanya Raja Ecgberht pada tahun 802. Alfred yang Agung menyelamatkan Inggris dari penaklukan bangsa Viking pada akhir abad ke-9, dan cucunya, Æthelstan, menjadi Raja Inggris pertama pada tahun 927.
Masa pemerintahan Æthelred yang Tidak Siap yang membawa bencana berakhir dengan penaklukan oleh bangsa Denmark pada tahun 1014. Æthelred dan putranya, Edmund Ironside, berusaha melawan bangsa Viking pada tahun 1016, tetapi setelah kematian mereka, Cnut yang Agung dari Denmark beserta putra-putranya memerintah hingga tahun 1042. Wangsa Wessex kemudian kembali berkuasa dalam waktu singkat di bawah putra Æthelred, Edward sang Pengaku, tetapi kehilangan kekuasaan tersebut setelah masa pemerintahan Sang Pengaku berakhir akibat Penaklukan Normandia pada tahun 1066.
Wangsa Wessex mulai mendominasi politik Inggris setelah bertahun-tahun berada di bawah hegemoni Mercia, yang dimulai sejak masa pemerintahan Egbert. Cucu Egbert, Alfred yang Agung, memerintah sebagai Raja Anglo-Saxon sejak tahun 886 dan seterusnya. Putra Alfred, Edward si Tua, menyatukan Inggris bagian selatan di bawah pemerintahannya dengan menaklukkan wilayah-wilayah yang diduduki Viking di Mercia dan Kerajaan Anglia Timur. Putranya, Æthelstan, memperluas kerajaan hingga ke wilayah utara Northumbria yang terletak di atas Sungai Mersey dan Humber, tetapi wilayah ini belum sepenuhnya dikonsolidasikan sampai keponakannya, Edgar, naik takhta.
Upaya Anglo-Saxon untuk memulihkan pemerintahan pribumi melalui sosok Edgar sang Ætheling (cucu Edmund Ironside yang awalnya dilewati demi memilih Harold) tidak berhasil, dan para keturunan William berhasil mengamankan kekuasaan mereka. Para penulis kronik menggambarkan kisah-kisah yang bertentangan tentang tahun-tahun terakhir kehidupan Edgar, termasuk dugaan keterlibatannya dalam Perang Salib Pertama; ia diperkirakan wafat sekitar tahun 1126. Sebuah pipe roll (catatan keuangan kerajaan) Northumberland menyebutkan seorang "Edgar Adeling" pada tahun 1158 dan 1167, yang jika benar, maka usia Edgar pada saat itu sudah lebih dari 100 tahun.[1] Di luar hal tersebut, tidak ada bukti historis yang menunjukkan bahwa garis keturunan laki-laki dari Cerdicings berlanjut setelah Edgar Ætheling.
Keponakan perempuan Edgar, Matilda dari Skotlandia, kemudian menikah dengan putra William, Henry I, untuk mengonsolidasikan klaim takhtanya. Hal ini dikarenakan ayahnya (William sang Penakluk) sudah memiliki klaim yang lemah atas takhta Inggris, dan klaim Henry I sendiri bahkan lebih lemah lagi, sehingga pernikahan ini membentuk ikatan di antara kedua dinasti tersebut. Henry II merupakan keturunan dari Wangsa Wessex dari garis perempuan, sebuah hal yang dicatat dengan nada setuju oleh para komentator Inggris pada masa itu.[2]
Garis waktu
Silsilah
Untuk pohon silsilah Wangsa Wessex dari Cerdic hingga anak-anak Raja Alfred yang Agung, lihat:
↑Freeman, Edward A. The History of the Norman Conquest of England (1869), Vol. III hlm. 766 mengutip Hodgson, J., dan Hinde, J. H. History of Northumberland (1820–1858), Bagian III, Vol. III, hlm. 3, 11
↑Harper-Hill, C. dan Vincent, N. (2007) Henry II: New Interpretations, Boydell Press, hlm. 382.