Keutamaan
Ubay bin Ka'ab termasuk salah seorang yang pertama-tama mencatatkan ayat-ayat Al-Qur'an ke dalam bentuk tulisan, karena Ubay merupakan salah seorang juru tulis bagi Nabi Muhammad. Ubay diriwayatkan memiliki suatu mushaf khusus susunannya sendiri,[5] dan ia termasuk di antara para sahabat yang merupakan penghafal Al-Qur'an (hafiz).
Ia juga termasuk salah satu anggota kelompok penasihat (Musyawirah) yang dibentuk oleh khalifah Abu Bakar sebagai tempat bertanya atas berbagai permasalahan. Dewan tersebut terdiri dari Umar bin Khattab, Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Abdurrahman bin Auf, Mua'dz bin Jabal, Zaid bin Tsabit dan Ubay bin Ka'ab sendiri. Setelah menjadi khalifah, Umar bin Khattab kemudian juga meminta nasihat dari kelompok yang sama. Secara spesifik, ia meminta nasihat mengenai fatwa-fatwa kepada Utsman, Ubay dan Zaid bin Tsabit.
Ia termasuk sahabat yang menjadi patokan dalam ilmu qira'ah, di mana Nabi Muhammad bersabda :"Pelajarilah al-Qur'an dari empat orang: Abdullah bin Mas'ud, Salim maula Abi Hudzaifah, Ubay bin Ka'ab dan Mu'adz bin Jabal".[6]
Nabi SAW juga pernah bersabda kepadanya dengan mengatakan: "Semoga ilmu datang tunduk padamu wahai Abu Mundzir"[7]
Dalam riwayat lain Nabi bersabda : "Sungguh Allah memerintahkan padaku untuk membacakan ayat (لَم يَكُنِ الّذِينَ كَفَرُو) kepadamu", Ubay berkata : apakah Allah menyebutkanku secara langsung ? Nabi menjawab :"Ya, benar", maka Ubay pun menangis terharu.[8]
Dalam sebuah riwayat juga disebutkan bahwa Nabi sedang menjelaskan tentang penyakit yang menimpa seorang muslim adalah sebuah kafarat atau pelebur dosa bagi penderitanya, Ubay bertanya: meskipun jika hanya sedikit? Nabi bersabda: "Meskipun hanya berupa duri atau selebihnya". Maka Ubay berdoa (atau minta didoakan) supaya dirinya diberikan penyakit semacam demam, namun yang tidak menghalanginya dari haji, umrah, atau shalat fardhu berjamaah. Abu Sa'id Al-Khudry mengatakan bahwa semua orang yang menyentuh badan Ubay merasakan panas dari demam tersebut hingga kematiannya.[9]