Sungai Ijo Gading adalah sungai di Kabupaten Jembrana, Bali.[1] Sungai ini berhulu di kawasan pegunungan sebelah utara Negara, tepatnya di lembah Gunung Merebuk dan bermuara di Perancak kawasan pesisir selatan Bali.[2] Sungai atau disebut juga Tukad ini merupakan jalur transportasi dan perdagangan bersejarah serta pusat penyebaran Islam pada abad 17 di kawasan tersebut.[3]
Namun, sungai ini juga mengalami pencemaran oleh limbah pertanian, rumah tangga, perbengkelan, dan sampah, hingga menyebabkan warna airnya berubah dan mengancam ekosistemnya. Upaya pelestarian dan pengembangan sungai telah dilakukan, termasuk penanaman pohon, pengembangan wisata alam, dan penanggulangan pencemaran, dengan tujuan menjadikan sungai sebagai destinasi wisata dan menjaga kelestarian lingkungannya.[3]
Daerah aliran sungai
Tukad Ijo Gading merupakan aliran utama dalam sistem daerah aliran sungai Loloan atau sering disingkat DAS Loloan dengan luas daerah tangkapan air mencapai 20.148ha (201,48km2). DAS Loloan berbatasan dengan DAS Biluk Poh di sebelah timur serta DAS Aya Barat di sebelah barat. Keduanya sama-sama bermuara di pesisir selatan Bali. Sedangkan di sebelah utara berbatasan dengan DAS Banyupoh yang bermuara di pesisir utara Bali.[2]
Perancak adalah satu dari empat kawasan mangrove utama di Bali, selain Taman Nasional Bali Barat, Nusa Penida, dan Taman Hutan Raya Ngurah Rai. Kawasan ini menjadi satu dengan daerah tujuan wisata Perancak.[5] Di sekitar lokasi hutan Mangrove ini terdapat Balai Riset Observasi Laut (BROL) yang dibangun sejak 2005 dibawah Badan Riset SDM - Kementerian Kelautan dan Perikanan RI.[6] Secara alami, kawasan ini menjadi Estuari yang menjadi perpaduan antara laut (muara) dan hutan bakau dan sebagai habitat alami dari Penyu Hijau (Chelonia midas) yang terancam punah.[5][7]
Kerusakan & Bencana Hidrologi DAS
Perubahan tutupan lahan dapat sangat memengaruhi hidrologi DAS dan kualitas air. Urbanisasi dan pembangunan dapat meningkatkan tutupan lahan kedap air, menyebabkan lebih banyak air mengalir di permukaan daripada meresap ke dalam tanah. Hal ini dapat mengurangi pengisian ulang air tanah dan aliran dasar sungai, atau aliran yang terjadi selama musim kemarau. Deforestasi dan pembukaan lahan pertanian seringkali disertai dengan peningkatan erosi tanah dan beban sedimen. Jenis penggunaan lahan lainnya berkaitan dengan pencemaran air. Misalnya, pertanian dapat meningkatkan beban pestisida dan nutrisi (nitrogen dan fosfor) dari pupuk. Urbanisasi dan industrialisasi dapat menyebabkan kontaminasi dari berbagai macam bahan kimia yang digunakan di rumah tangga dan industri.
Sungai Ijo Gading rentan terhadap bencana alam hidrologi. Hal ini disebabkan oleh perambahan hutan yang tidak terkendali di daerah aliran sungai di wilayah tersebut. Kabupaten Jembrana yang luasnya 84.140 ha, memiliki kawasan hutan seluas 41.307,27 ha (50,91%) dari luas wilayah Kabupaten Jembrana yang tersebar pada 4 kecamatan yaitu Kecamatan Melaya, Kecamatan Negara, Kecamatan Mendoyo dan Kecamatan Pekutatan. Namun, berdasarkan data dinas kehutanan Kabupaten Jembrana mengalami kerusakan akibat perambahan. Perambahan terjadi di empat Kecamatan itu dan jumlah Perambahan yang terjadi di Kecamatan Negara adalah seluas 302,00 ha atau hanya 5,65%.[3]
Histori banjir DAS Loloan
Banjir 2025
Banjir besar dan terparah dalam 10 tahun terakhir telah melanda Kabupaten Jembrana dan sejumlah wilayah di Bali[8] setelah hujan deras terjadi lebih dari 24 jam sejak Selasa (9/9/2025). Bencana ini menelan korban jiwa, merendam ratusan rumah di Desa Pengambengan. Jalan raya yang menghubungkan Denpasar-Gilimanuk turut terdampak menyebabkan kemacetan panjang di jalur utama penghubung Jawa-Bali. Balai Besar Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BBMKG) Wilayah III Denpasar mengklaim hujan lebat dipicu oleh gelombang ekuatorial Rossby yang aktif di wilayah Bali. Fenomena atmosfer ini meningkatkan pertumbuhan awan hujan.[9]