Di sebelah barat stasiun ini terdapat flyover Jalan Raya Krian yang menggantikan perlintasan sebidang untuk menghindari kecelakaan dan kemacetan lalu lintas di perlintasan tersebut.
Dahulu dari stasiun ini ke arah barat, terdapat jalur kereta api menuju Stasiun Ploso.
Sejarah
Stasiun Krian didirikan oleh Staatpoorwagen bersamaan dengan kereta di lintas Tarik-Wonokromo ditahun 1897, untuk dijadikan jalur short cut agar lebih meringkas waktu ke Surabaya, Stasiun ini juga terdapat Percabangan mengarah ke stasiun Ploso sebelum di non aktifkan pada dekade 70 an karena kalah saing dengan kendaraan pribadi.
Pada mulanya, semua stasiun kereta api di jalur Staatsspoorwegen menggunakan persinyalan tebeng. Stasiun Krian merupakan stasiun kereta api pertama di lintas SS yang menggunakan sinyal tebeng dengan peralatan pengunci, yang dikenal sebagai "sinyal krian".[4] Kini sinyal krian tersebut dijadikan monumen di dekat gerbang utama bangunan baru stasiun ini, yang diambilkan dari Stasiun Prajekan di jalur kereta api Kalisat–Panarukan.[5]
Stasiun Krian pada awalnya memiliki lima jalur kereta api dengan jalur 2 merupakan sepur lurus. Setelah jalur ganda segmen Mojokerto–Sepanjang dioperasikan per 1 Desember 2023,[6] tata letak jalur di stasiun ini sedikit diubah sehingga jumlah jalurnya berkurang menjadi empat. Jalur 5 dibongkar karena terdampak pembangunan peron sisi tinggi yang baru di sebelah jalur 4 sebagai pengganti peron pulau yang juga sudah dibongkar. Jalur 2 dijadikan sebagai sepur lurus untuk arah Kertosono saja, jalur 3 dijadikan sebagai sepur lurus baru untuk arah Wonokromo, sedangkan jalur 1 dan 4 digunakan untuk persusulan antarkereta api sekaligus pemberhentian kereta api lokal. Sistem persinyalan elektrik yang lama (tipe Ansaldo) di stasiun ini sudah digantikan dengan tipe Elsicom.
Emplasemen Stasiun Krian pada 2025, tampak adanya JPO sebagai fasilitas penumpang berpindah jalur
Operasional stasiun ini sudah menggunakan bangunan baru berukuran sedikit lebih besar yang dibangun oleh Balai Teknik Perkeretaapian Surabaya, Direktorat Jenderal Perkeretaapian. Posisi bangunan baru stasiun ini berada di sebelah timur laut bangunan lama. Bangunan lama yang merupakan peninggalan Staatsspoorwegen sempat dipertahankan hingga akhirnya dibongkar pada Februari 2024.
Peron sisi eksisting stasiun ini sudah diperpanjang dan ditinggikan agar memudahkan naik turun penumpang kereta api. Kedua peron sisi tersebut dilengkapi kanopi agar penumpang yang menunggu kereta api tidak lagi basah kuyup kehujanan maupun terkena panas terik matahari. Selain itu, dibangun pula jembatan penyeberangan di dekat bangunan baru stasiun agar penumpang yang ingin berpindah peron tidak harus melalui jalur rel.
Layanan kereta api
Berikut ini adalah layanan kereta api yang berhenti di stasiun ini sesuai Gapeka 2025 per 1 Februari 2025.[7]