Sejarah
Persatu Tuban secara resmi berdiri pada 17 Oktober 1975. Meskipun demikian, nama Persatu sempat tercatat lebih awal, seperti dalam buku PSSI 30 Tahun yang diterbitkan pada 1960.[1] Minimnya dokumentasi membuat keberadaan klub ini sulit ditelusuri sebelum dekade 2010-an, terutama jika dibandingkan dengan klub-klub tetangga seperti Persela Lamongan yang kerap berkiprah di kasta tertinggi sepak bola Indonesia serta Persibo Bojonegoro yang sempat tampil di kompetisi Asia.
Persatu memiliki julukan Laskar Ronggolawe, yang diambil dari nama Ranggalawe, Adipati Tuban dan salah satu pengikut Raden Wijaya yang berperan dalam perjuangan pendirian Kerajaan Majapahit. Julukan tersebut merepresentasikan semangat perjuangan dan keberanian yang melekat pada identitas masyarakat Tuban.
Kiprah Persatu mulai menunjukkan perkembangan signifikan pada musim 2012 ketika berhasil mencapai babak ketiga Divisi II dan meraih promosi ke Divisi I 2013. Pada musim berikutnya, Persatu mampu bertahan di Divisi I setelah mencapai babak kedua kompetisi. Prestasi klub meningkat pada musim 2014 dengan menembus babak delapan besar Divisi I 2014, sekaligus berhak mengikuti putaran nasional Liga Nusantara 2014 bersama tiga tim lainnya yang gagal melaju ke partai final.
Pada ajang Liga Nusantara 2014, Persatu Tuban mencatatkan prestasi tertinggi dalam sejarah klub dengan keluar sebagai juara setelah mengalahkan Laga FC dengan skor 2–1 pada partai final yang digelar di Stadion Sultan Agung, Bantul, Yogyakarta. Gelar tersebut memastikan Persatu promosi ke Divisi Utama Liga Indonesia musim 2015, sementara pemainnya, Edy Winarno, dinobatkan sebagai pemain terbaik kompetisi.[2][3]
Belum sempat berkompetisi di kasta kedua Liga Indonesia, PSSI harus dibekukan oleh FIFA pada pertengahan 2015. Akibatnya, Persatu baru bisa berpartisipasi di kasta kedua, yang telah berganti nama menjadi Liga 2 pada musim 2017.
Pada musim tersebut, Persatu tergabung di Grup 5 bersama sejumlah tim kuat dan berpengalaman, seperti Persebaya Surabaya, Martapura FC, dan PSIM Yogyakarta. Persatu harus puas mengakhiri musim di peringkat kelima Grup 5 dengan raihan 18 poin, hasil dari 5 kemenangan, 3 kali imbang, dan 6 kekalahan. Persatu memiliki jumlah poin yang sama dengan Persepam Madura Utama yang berada di peringkat keempat, tetapi kalah dalam selisih gol, sehingga harus terdegradasi ke Liga 3 pada musim berikutnya.
Kembali berlaga di kasta ketiga, Persatu mampu bangkit dengan mencapai babak ketiga nasional wilayah Timur dan finis di posisi kedua di bawah Persik Kediri yang keluar sebagai juara musim tersebut. Hasil ini mengantarkan Persatu promosi kembali ke Liga 2.
Menjelang dimulainya Liga 2 musim 2019, Persatu memindahkan kandang dari Stadion Lokajaya ke Stadion Bumi Wali. Namun, Persatu kembali mengalami kesulitan dan harus mengakhiri musim sebagai juru kunci Wilayah Timur, sehingga kembali terdegradasi ke Liga 3. Pada musim tersebut, Persatu mengoleksi 20 poin dari 6 kemenangan, 2 hasil imbang, dan 12 kekalahan.
Sejak periode tersebut, performa Persatu Tuban terus mengalami penurunan. Setelah kompetisi musim 2020 dibatalkan akibat pandemi Covid-19, Persatu bisa kembali berkompetisi pada musim 2021, tetapi hanya mampu mencapai babak 16 besar putaran provinsi Jawa Timur setelah kalah 1–2 dari Persewangi Banyuwangi.
Kompetisi musim 2022–2023 kembali dibatalkan menyusul terjadinya Tragedi Kanjuruhan. Pada Liga 3 musim 2023, Persatu kembali gagal melangkah jauh setelah tersingkir di babak penyisihan wilayah Jawa Timur dengan hanya meraih 5 poin dari 6 pertandingan, hasil yang lebih buruk dibandingkan musim sebelumnya.
Pada 2024, dibentuk kompetisi baru bernama Liga 4, namun Persatu tidak mengikuti kompetisi musim 2024–2025 akibat permasalahan finansial.[4] Klub sempat terancam dikeluarkan dari keanggotaan asosiasi provinsi (Asprov) Jawa Timur apabila kembali absen pada musim 2025–2026. [5]
Menjelang bergulirnya kompetisi Liga 4 2025–2026 Jawa Timur, kepengurusan klub resmi beralih ke manajemen baru di bawah pimpinan Eko Wahyudi. Manajemen baru menunjuk Khoirul Anam, mantan pelatih Sang Maestro FC yang sukses membawa klub tersebut promosi ke Liga 3, sebagai pelatih kepala. Persatu berhasil lolos ke babak 32 besar, namun kerja sama dengan Khoirul Anam harus berakhir. Manajemen kemudian memutuskan untuk menunjuk Slamet Sampurno sebagai bagian dari upaya penyegaran tim dan penataan ulang arah klub ke depan.