Ensiklik tersebut mengecam yang dianggapnya “penyembahan negara secara pagan” (statolatry) oleh fasisme Italia dan “revolusi yang merenggut kaum muda dari Gereja dan dari Yesus Kristus, dan yang menanamkan kebencian, kekerasan, dan ketidak hormatan pada kaum mudanya sendiri.”[2]
Ensiklik ini dimulai dengan protes Paus terhadap penutupan organisasi Aksi Katolik dan Pemuda Katolik Italia oleh Benito Mussolini pada tahun yang sama. Pius XI tidak hanya memprotes penutupan asosiasi-asosiasi Katolik tersebut, tetapi juga laporan-laporan palsu dan fitnah yang diperintahkan Mussolini untuk dipublikasikan di media Italia. Pius juga menulis bahwa rezim Mussolini bersifat anti-Katolik.
Ensiklik tersebut menyatakan, yang mungkin merujuk pada Mussolini, bahwa:
55. Oleh karena itu, kami harus mengatakan, dan dengan ini kami nyatakan, bahwa ia hanya seorang Katolik dalam nama dan melalui baptisan (bertentangan dengan kewajiban dari nama itu dan janji-janji baptisan) yang mengadopsi dan mengembangkan program dengan doktrin dan prinsip yang sangat bertentangan dengan hak-hak Gereja Yesus Kristus dan hak-hak jiwa, dan yang juga salah menggambarkan, memerangi, dan menganiaya Aksi Katolik yang, sebagaimana diketahui secara universal, Gereja dan Kepala Gereja anggap sebagai sesuatu yang sangat berharga dan mulia.[4]
62. Dalam segala hal yang telah Kami sampaikan hingga saat ini, Kami tidak mengatakan bahwa Kami bermaksud mengutuk partai [Fasis] itu sendiri. Tujuan kami adalah untuk menunjukkan dan mengutuk semua hal dalam program dan kegiatan partai yang terbukti bertentangan dengan doktrin Katolik dan praktik Katolik, dan oleh karena itu tidak sesuai dengan nama dan pengakuan Katolik.