Perintis perbankan nasional dan kemandirian teknis perfilman Indonesia
Penghargaan
Satya Lencana Wirakarya (anumerta, 2004)
Njoo Han Siang (Hanzi:杨汉祥) (31 Agustus 1930–30 September 1985) adalah seorang perintis perbankan nasional dan perfilman Indonesia. Njoo dikenal sebagai sosok yang idealis, unik, dan mempunyai minat yang begitu luas. Ia dikenal sebagai seorang wartawan, pengusaha, pendidik, tokoh pembauran etnis Tionghoa, pecinta seni dan kebudayaan Indonesia serta seseorang yang peduli dengan kehidupan sosial serta politik bangsa.[1]
Ia lahir pada tanggal 31 Agustus tahun 1930 di Yogyakarta ini berasal dari keluarga Tionghoa yang mampu berbicara Bahasa Hokkian dan Jawa sebagai bahasa sehari-hari. Walaupun Njoo lahir dari generasi pertama Tionghoa, beliau telah mewarisi nilai-nilai kebudayaan Jawa yang telah mengalir dalam dirinya sejak kecil. Akulturasi ini telah mewarnai perjalanan hidupnya di mana naluri bisnis yang diwarisi dari orang tuanya berpadu dengan kepeduliannya terhadap bangsa Indonesia.
Lingkaran pergaulannya yang begitu luas meliputi beragam etnis dan agama serta berbagai macam profesi seperti pengusaha, militer, budayawan, politikus, intelelektual, pribumi maupun non-pribumi.
Karier
Jurnalistik
Pada awal dekade 1950-an, Njoo Han Siang memulai kariernya sebagai wartawan foto. Pengalaman jurnalistik ini membentuk kepekaannya terhadap realitas sosial dan perkembangan politik nasional, serta memperluas jejaring pergaulannya di kalangan pers dan tokoh masyarakat.
Bisnis, perbankan, dan pendidikan
Sejak akhir 1950-an, Njoo terlibat dalam berbagai kegiatan usaha, termasuk di bidang pelayaran dan perdagangan ekspor-impor. Dalam dunia perbankan, ia dikenal sebagai salah satu tokoh yang berperan dalam pendirian Bank Dharma Ekonomi pada tahun 1966.
Njoo Han Siang juga memprakarsai pendirian Akademi Perbankan Nasional, yang kemudian berkembang menjadi Perbanas Institute. Melalui lembaga ini, ia berkontribusi besar dalam pengembangan sumber daya manusia perbankan nasional serta aktif dalam organisasi profesi perbankan.
Pada tahun 1970, Njoo Han Siang bersama Sri Budoyo memperkenalkan sistem kartu kredit di Indonesia melalui pendirian Diners Club Indonesia.
Perfilman dan kebudayaan
Pada tahun 1972, Njoo Han Siang bersama sejumlah sineas mendirikan PT Inter Pratama Studio Laboratorium (Inter Studio) di kawasan Pasar Minggu, Jakarta. Studio ini menjadi salah satu laboratorium film berwarna terbesar dan terpenting di Indonesia pada masanya dan berperan penting dalam upaya mengurangi ketergantungan industri film nasional terhadap fasilitas pemrosesan film di luar negeri.[2]
Selain perfilman, Njoo Han Siang juga tercatat mendukung perkembangan seni dan musik populer Indonesia, antara lain melalui keterlibatannya dalam penyelenggaraan acara musik besar “Summer 28” pada tahun 1973.[3]
Filmografi
Berikut adalah daftar film yang diproduksi atau melibatkan Njoo Han Siang berdasarkan data dari FilmIndonesia.or.id:[4]
Chicha (1976)
Duo Kribo (1977)
November 1828 (1978)
Rembulan dan Matahari (1979)
Dr. Siti Pertiwi Kembali ke Desa (1979)
Seputih Hatinya Semerah Bibirnya (1980)
Usia 18 (1980)
Jaka Tarub dan Tujuh Bidadari (1981)
Penghargaan dan warisan
Atas kontribusinya terhadap pengembangan perfilman Indonesia, Njoo Han Siang dianugerahi Satya Lencana Wirakarya secara anumerta pada tahun 2004. Namanya juga diabadikan dalam Penghargaan Khusus Njoo Han Siang pada ajang Festival Film Indonesia.
Pada awal dekade 1950-an, Njoo Han Siang memulai kariernya sebagai wartawan foto. Pengalaman jurnalistik ini membentuk kepekaannya terhadap realitas sosial dan perkembangan politik nasional, serta memperluas jejaring pergaulannya di kalangan pers dan tokoh masyarakat.[1]
Business, banking, and education
Sejak akhir 1950-an, Njoo terlibat dalam berbagai kegiatan usaha, termasuk pelayaran dan perdagangan ekspor-impor. Dalam dunia perbankan, ia berperan dalam pendirian Bank Dharma Ekonomi pada tahun 1966.
Njoo juga memprakarsai pendirian Akademi Perbankan Nasional, yang kemudian berkembang menjadi Perbanas Institute. Melalui lembaga ini, ia berkontribusi besar dalam pengembangan sumber daya manusia perbankan nasional serta aktif dalam organisasi profesi perbankan.
Pada tahun 1970, Njoo Han Siang bersama Sri Budoyo memperkenalkan sistem kartu kredit di Indonesia melalui pendirian Diners Club Indonesia.
Film and culture
Pada tahun 1972, Njoo Han Siang mendirikan PT Inter Pratama Studio Laboratorium (Inter Studio) di kawasan Pasar Minggu, Jakarta. Studio ini menjadi salah satu laboratorium film berwarna terbesar di Indonesia pada masanya dan berperan penting dalam mengurangi ketergantungan industri film nasional terhadap fasilitas pemrosesan film di luar negeri.[1]
Selain perfilman, Njoo juga tercatat mendukung perkembangan seni dan musik populer Indonesia, antara lain melalui keterlibatannya dalam penyelenggaraan konser musik besar “Summer 28” pada tahun 1973, yang dikenang sebagai salah satu konser musik modern awal berskala besar di Indonesia.[1]
Filmography
Daftar berikut berdasarkan data dari FilmIndonesia.or.id:[2]
Chicha (1976)
Duo Kribo (1977)
November 1828 (1978)
Rembulan dan Matahari (1979)
Dr. Siti Pertiwi Kembali ke Desa (1979)
Seputih Hatinya Semerah Bibirnya (1980)
Usia 18 (1980)
Jaka Tarub dan Tujuh Bidadari (1981)
Awards and legacy
Atas kontribusinya terhadap pengembangan perfilman Indonesia, Njoo Han Siang dianugerahi Satya Lencana Wirakarya secara anumerta pada tahun 2004. Namanya juga diabadikan dalam Njoo Han Siang Special Award pada ajang Festival Film Indonesia.
Pada awal dekade 1950-an, Njoo Han Siang memulai kariernya sebagai wartawan foto. Pengalaman jurnalistik ini membentuk kepekaannya terhadap realitas sosial dan perkembangan politik nasional, serta memperluas jejaring pergaulannya di kalangan pers dan tokoh masyarakat.
Bisnis, perbankan, dan pendidikan
Sejak akhir 1950-an, Njoo terlibat dalam berbagai kegiatan usaha, termasuk di bidang pelayaran dan perdagangan ekspor-impor. Dalam dunia perbankan, ia dikenal sebagai salah satu tokoh yang berperan dalam pendirian Bank Dharma Ekonomi pada tahun 1966.
Njoo Han Siang juga memprakarsai pendirian Akademi Perbankan Nasional, yang kemudian berkembang menjadi Perbanas Institute. Melalui lembaga ini, ia berkontribusi besar dalam pengembangan sumber daya manusia perbankan nasional serta aktif dalam organisasi profesi perbankan.
Pada tahun 1970, Njoo Han Siang bersama Sri Budoyo memperkenalkan sistem kartu kredit di Indonesia melalui pendirian Diners Club Indonesia.
Perfilman dan kebudayaan
Pada tahun 1972, Njoo Han Siang bersama sejumlah sineas mendirikan PT Inter Pratama Studio Laboratorium (Inter Studio) di kawasan Pasar Minggu, Jakarta. Studio ini menjadi salah satu laboratorium film berwarna terbesar dan terpenting di Indonesia pada masanya dan berperan penting dalam upaya mengurangi ketergantungan industri film nasional terhadap fasilitas pemrosesan film di luar negeri.[1]
Selain perfilman, Njoo Han Siang juga tercatat mendukung perkembangan seni dan musik populer Indonesia, antara lain melalui keterlibatannya dalam penyelenggaraan acara musik besar “Summer 28” pada tahun 1973.[2]
Filmografi
Berikut adalah daftar film yang diproduksi atau melibatkan Njoo Han Siang berdasarkan data dari FilmIndonesia.or.id:[3]
Chicha (1976)
Duo Kribo (1977)
November 1828 (1978)
Rembulan dan Matahari (1979)
Dr. Siti Pertiwi Kembali ke Desa (1979)
Seputih Hatinya Semerah Bibirnya (1980)
Usia 18 (1980)
Jaka Tarub dan Tujuh Bidadari (1981)
Penghargaan dan warisan
Atas kontribusinya terhadap pengembangan perfilman Indonesia, Njoo Han Siang dianugerahi Satya Lencana Wirakarya secara anumerta pada tahun 2004. Namanya juga diabadikan dalam Penghargaan Khusus Njoo Han Siang pada ajang Festival Film Indonesia.
Pada awal dekade 1950-an, Njoo Han Siang memulai kariernya sebagai wartawan foto. Pengalaman jurnalistik ini membentuk kepekaannya terhadap realitas sosial dan perkembangan politik nasional, serta memperluas jejaring pergaulannya di kalangan pers dan tokoh masyarakat.
Bisnis, perbankan, dan pendidikan
Sejak akhir 1950-an, Njoo terlibat dalam berbagai kegiatan usaha, termasuk di bidang pelayaran dan perdagangan ekspor-impor. Dalam dunia perbankan, ia dikenal sebagai salah satu tokoh yang berperan dalam pendirian Bank Dharma Ekonomi pada tahun 1966.
Njoo Han Siang juga memprakarsai pendirian Akademi Perbankan Nasional, yang kemudian berkembang menjadi Perbanas Institute. Melalui lembaga ini, ia berkontribusi besar dalam pengembangan sumber daya manusia perbankan nasional serta aktif dalam organisasi profesi perbankan.
Pada tahun 1970, Njoo Han Siang bersama Sri Budoyo memperkenalkan sistem kartu kredit di Indonesia melalui pendirian Diners Club Indonesia, yang menjadi salah satu tonggak awal modernisasi sistem pembayaran nasional.
Perfilman dan kebudayaan
Pada tahun 1972, Njoo Han Siang bersama sejumlah sineas mendirikan PT Inter Pratama Studio Laboratorium (Inter Studio) di kawasan Pasar Minggu, Jakarta. Studio ini menjadi salah satu laboratorium film berwarna terbesar dan terpenting di Indonesia pada masanya, dengan tujuan mengurangi ketergantungan industri film nasional terhadap fasilitas pemrosesan film di luar negeri.
Menurut laporan Tempo, Njoo Han Siang dipandang sebagai salah satu tokoh kunci dalam perjuangan kemandirian teknis perfilman Indonesia. Melalui Inter Studio, ia secara konsisten mendorong penggunaan fasilitas film dalam negeri serta peningkatan kualitas teknis dan artistik produksi film nasional.
Selain perfilman, Njoo Han Siang juga tercatat mendukung perkembangan seni dan musik populer Indonesia, antara lain melalui keterlibatannya dalam penyelenggaraan acara musik besar “Summer 28” pada tahun 1973, yang dikenang sebagai salah satu konser musik modern awal berskala besar di Indonesia.
Filmografi
Berikut adalah daftar film yang diproduksi atau melibatkan Njoo Han Siang berdasarkan data dari FilmIndonesia.or.id:
Chicha (1976)
Duo Kribo (1977)
November 1828 (1978)
Rembulan dan Matahari (1979)
Dr. Siti Pertiwi Kembali ke Desa (1979)
Seputih Hatinya Semerah Bibirnya (1980)
Usia 18 (1980)
Jaka Tarub dan Tujuh Bidadari (1981)
Penghargaan dan warisan
Atas kontribusinya terhadap pengembangan perfilman Indonesia, Njoo Han Siang dianugerahi Satya Lencana Wirakarya secara anumerta pada tahun 2004. Namanya juga diabadikan dalam Penghargaan Khusus Njoo Han Siang pada ajang Festival Film Indonesia, yang diberikan kepada produser yang berkontribusi dalam penggunaan dan pengembangan fasilitas teknis film dalam negeri.
Njoo Han Siang dikenang sebagai tokoh lintas bidang yang berperan penting dalam pembangunan ekonomi, pendidikan, dan kebudayaan Indonesia, serta sebagai simbol pembauran dan kontribusi warga Tionghoa dalam sejarah nasional Indonesia.
Referensi
Tempo. Mengenang Njoo Han Siang dan Film Indonesia.
Njoo Han Siang lahir di Yogyakarta dari keluarga Tionghoa yang dalam kehidupan sehari-hari menggunakan bahasa Hokkien dan Jawa. Sejak kecil ia tumbuh dalam lingkungan budaya yang terakulturasi, di mana nilai-nilai kebudayaan Jawa berpadu dengan latar belakang Tionghoa keluarganya. Akulturasi ini memengaruhi pandangan hidupnya, terutama dalam memadukan naluri bisnis dengan kepedulian sosial dan nasionalisme Indonesia.
Lingkaran pergaulannya tergolong luas dan lintas latar belakang, mencakup berbagai etnis, agama, dan profesi seperti pengusaha, kalangan militer, budayawan, politikus, dan intelektual, baik dari kalangan pribumi maupun non-pribumi.
Karier
Jurnalistik
Pada awal dekade 1950-an, Njoo Han Siang mengawali kariernya sebagai wartawan foto. Pengalaman di dunia jurnalistik membentuk kepekaannya terhadap realitas sosial dan perkembangan politik nasional, serta menjadi fondasi jejaring sosialnya di kemudian hari.
Bisnis, perbankan, dan pendidikan
Sejak akhir 1950-an, Njoo terlibat dalam berbagai kegiatan usaha, termasuk pelayaran dan perdagangan ekspor-impor. Di bidang perbankan, ia dikenal sebagai salah satu tokoh yang berperan dalam pendirian dan pengembangan Bank Dharma Ekonomi pada tahun 1966.
Njoo juga berperan dalam pengembangan pendidikan perbankan melalui pendirian Akademi Perbankan Nasional, yang kemudian berkembang menjadi Perbanas Institute. Ia turut aktif dalam organisasi profesi perbankan serta mendorong peningkatan kualitas sumber daya manusia di sektor keuangan nasional.
Pada tahun 1970, Njoo Han Siang bersama Sri Budoyo memperkenalkan sistem kartu kredit di Indonesia melalui pendirian Diners Club Indonesia, yang menjadi salah satu tonggak awal modernisasi sistem pembayaran di Indonesia.
Perfilman dan kebudayaan
Pada tahun 1972, Njoo Han Siang bersama sejumlah sineas mendirikan PT Inter Pratama Studio Laboratorium (Inter Studio) di kawasan Pasar Minggu, Jakarta. Studio ini menjadi salah satu laboratorium film berwarna terbesar dan terpenting di Indonesia pada masanya, dengan tujuan mengurangi ketergantungan industri film nasional terhadap fasilitas luar negeri.
Menurut laporan *Tempo*, kontribusi Njoo Han Siang dalam perfilman Indonesia tidak hanya terbatas pada produksi film, tetapi juga pada pembangunan infrastruktur teknis dan dukungan terhadap sineas nasional. Ia dikenal konsisten mendorong penggunaan fasilitas dalam negeri dan mengedepankan kualitas artistik serta teknis film Indonesia.
Selain film, Njoo juga mendukung perkembangan seni dan musik populer, antara lain melalui keterlibatannya dalam penyelenggaraan acara musik besar “Summer 28” pada tahun 1973, yang dikenang sebagai salah satu konser musik modern awal berskala besar di Indonesia.
Filmografi
Berikut adalah daftar film yang diproduksi atau melibatkan Njoo Han Siang berdasarkan data dari FilmIndonesia.or.id dan sumber media:
Chicha (1976)
Duo Kribo (1977)
November 1828 (1978)
Rembulan dan Matahari (1979)
Dr. Siti Pertiwi Kembali ke Desa (1979)
Seputih Hatinya Semerah Bibirnya (1980)
Usia 18 (1980)
Jaka Tarub dan Tujuh Bidadari (1981)
Penghargaan dan warisan
Atas jasa-jasanya dalam pengembangan perfilman Indonesia, Njoo Han Siang dianugerahi Satya Lencana Wirakarya secara anumerta pada tahun 2004. Namanya juga diabadikan dalam Penghargaan Khusus Njoo Han Siang pada Festival Film Indonesia, yang diberikan kepada produser yang berkontribusi dalam penggunaan dan pengembangan fasilitas teknis film dalam negeri.
Njoo Han Siang dikenang sebagai tokoh lintas bidang yang berperan penting dalam pembangunan ekonomi, pendidikan, dan kebudayaan Indonesia, serta sebagai simbol pembauran dan kontribusi warga Tionghoa dalam sejarah nasional Indonesia.
Referensi
Tempo. “Mengenang Njoo Han Siang dan Film Indonesia.”
1958 – Njoo mendirikan maskapai pelayaran PT. Delta Baru dan sekaligus menjadi pengusaha ekspor-impor bahan pangan (beras dan terigu) dengan nama CV. Krisna.
1969 – Njoo membantu Ali Murtopo menjadi pemasok logistik untuk Pepera di Papua. Dari hasil operasi logistik ini, kelompok Ali Murtopo menyisihkan dana untuk membeli Bank Umum Nasional (BUN). BUN didirikan dan dimiliki oleh tokoh-tokoh PNI, Njoo menjabat sebagai Presiden Komisaris BUN.
1969 – Njoo Han Siang juga memprakarsai dan merintis pendirian Akademi Perbankan Nasional yang berkembang menjadi STIE Perbanas dan pernah menjabat sebagai Ketua Umum Perbanas. Atas jasanya, Njoo Han Siang diabadikan dalam bentuk monumen yang dibangun di depan kampus STIE Perbanas.
1972 – Njoo bersama dengan Wim Umboh (seorang sutradara senior dari etnis Tionghoa Manado yang fasih berbahasa Mandarin dan menjadi penerjemah film bahasa Mandarin ke bahasa Indonesia) dan Aloysius Soegianto (mantan kolonel RPKAD yang pernah berperan dalam operasi Seroja dan deklarasi Balibo di Timor timur 1975 dan juga mantan ketua Perkumpulan Kinologi Indonesia) mendirikan PT. Inter Pratama Studio Laboratorium (Inter Studio) di Pasar Minggu dengan tujuan membebaskan industri film Indonesia dari ketergantungan luar negeri.
1973 – Njoo bersama Lie Siong Thay dan Go Swie Kie mendirikan perusahan agrobisnis PT. Great Giant Pinneaple Company (GGPC) serta PT. Darmo Permai di Surabaya. Pada tahun yang sama, Njoo juga menyelenggarakan pesta musik Summer 28 (memperingati hari kemerdekaan RI ke 28) yang diikuti oleh 17 grup musik yang tengah populer di masa itu seperti Koes Plus, The Pros, AKA, dan God Bless.
1978 – Njoo mendirikan sebuah restoran, bar dan klab malam yang bernama Golden Gate di Bandar Udara Kemayoran sekaligus mendirikan PT. Wai Halim di Lampung, perusahaan yang bergerak dalam bidang perumahan.
2004 – Departemen Kebudayaan dan Pariwisata, melalui Badan Pertimbangan Perfilman Nasional (BPPN) selaku penyelenggara Festival Film Indonesia, menganugerahkan penghargaan khusus bernama Piala Njoo Han Siang kepada produser yang paling banyak memanfaatkan jasa teknik perfilman dalam negeri. Ini dimaksudkan untuk mengenang dan menghargai perjuangan Njoo serta untuk melanjutkan dan memotivasi semangat kemandirian membebaskan perfilman Indonesia dari ketergantungan luar negeri. Disain piala itu merupakan hasil rancangan Heru Sudjarwo.
Filmografi
Berikut ini adalah beberapa karya film yang diproduksi oleh Njoo Han Siang: