Sentral Organisasi Karyawan Swadiri Indonesia (SOKSI) sebelumnya bernama Sentral Organisasi Karyawan Sosialis Indonesia adalah organisasi buruh atau pekerja perusahaan-perusahaan negara (BUMN) yang didirikan pada tanggal 20 Mei1960 oleh Letkol Suhardiman dan TNI Angkatan Darat untuk mengimbangi keberadaan Sentral Organisasi Buruh Seluruh Indonesia (SOBSI) yang merupakan organisasi buruh sayap Partai Komunis Indonesia (PKI). SOKSI juga sebagai organisasi paling pertama yang mencetuskan dan menggunakan kata "karyawan".[1]
Sukarno berpidato dalam Musyawarah Besar SOKSI, 1962
Sekitar tahun 1960-an, keberadaan Pancasila, Undang-undang Dasar 1945, dan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) mengalami berbagai cobaan terutama rongrongan dari PKI dengan onderbouw-nya.
Atas kondisi itu, SOKSI lahir. Awalnya nama dan embrio SOKSI adalah Badan Koordinasi Pusat Persatuan Karyawan Perusahaan Negara (BKPPKPN) sebagai wadah pekerja perusahaan-perusahaan Belanda yang dinasionalisasi. Saat itu pendiri SOKSI, Suhardiman menjabat sebagai Sekretaris Badan Nasionalisasi (BANAS) perusahaan-perusahaan Belanda yang dipimpin oleh Dadang Suprayogi sebagai Ketua.
BANAS ditugaskan oleh negara melalui Menteri Djuanda Kartawidjaja untuk melakukan nasionalisasi dan restrukturisasi terhadap perusahaan-perusahaan Belanda.
Nama SOKSI kemudian muncul pada pertemuan BKPPKPN di Palembang pada tanggal 20 Mei1960 yang akhirnya diwaktu tersebut menjadi tanggal kelahiran SOKSI. Waktu itu, Suhardiman menugaskan Adolf Rahman dan Suwignyo untuk mencari nama yang tepat untuk pergerakan mereka. Tetapi, keduanya belum juga menemukan nama yang tepat, sehingga Suhardiman akhirnya menyampaikan nama SOKSI sebagai singkatan dari Sentral Organisasi Karyawan Sosialis Indonesia.
Sukarno membuka Mubes II SOKSI di Istora Senayan
Suhardiman memilih nama SOKSI juga secara politis untuk menunjukkan sikap perlawanan yang tegas terhadap PKI. Khususnya terhadap SOBSI.
Pendiri SOKSI menaruh perhatian khusus dalam memainkan politik bahasa sejak duduk dalam tampuk kekuasaan dan usaha untuk melegitimasi kekuatan.[5][6][7][note 2]
Organisasi Konsentrasi dan Lembaga
Organisasi Konsentrasi
Organisasi Konsentrasi adalah organisasi bentukan SOKSI yang berfungsi menjadi sarana pengkaderan dan pengabdian kekaryaan. Organisasi Konsentrasi SOKSI terdiri dari:
Wanita Swadiri Indonesia (WSI), bergerak dalam urusan wanita. Sebelumnya bernama Gerakan Wanita Sosialis Indonesia (Gerwasi).
Forum Komunikasi Studi Mahasiswa Kekaryaan (FOKUSMAKER), bergerak dalam urusan kemahasiswaan dan pergerakan kaum intelektual muda. Sebelumnya bernama Pelopor Mahasiswa Sosialis Indonesia (PELMASI).
Wira Karya Indonesia (WKI), bergerak dalam urusan kepemudaan, kepeloporan dan kewirausahaan. Membagi kadernya atas 3 (tiga) kategori yakni Wirapraja, Wiratama dan Wiraniaga.
Baladhika Karya, berfungsi sebagai organisasi pertahanan dan keamanan. Sebelumnya bernama Brigade Satuan Serbaguna (Brigade SS) kemudian berubah menjadi Pemuda Pelopor Progresif Indonesia (P3I), berubah kembali menjadi Baladhika Wirapati sebelum terakhir berganti menjadi Baladhika Karya.
Lembaga dan Badan
Lembaga dan Badan SOKSI adalah sarana pengabdian kader dalam memperjuangkan kepentingan masyarakat. Lembaga SOKSI antara lain:
↑Di sisi lain ada organisasi yang bernama SOKSI dengan kepanjangan Serikat Organisasi Karyawan Sosialis Indonesia yang berdiri pada 31 Mei 1961 sebagai payung untuk persatuan dagang dan kelompok fungsional (terkontrol militer) organisasi anti komunis yang di akhir 1960 bergabung ke dalam Golkar.[3]
↑Lembaga Kebudayaan Rakyat Indonesia (LEKRI) yang merupakan organ afiliasi didirikan untuk mengimbangi Lembaga Kebudayaan Rakyat (LEKRA) yang secara personal mayoritas tokohnya beraliran kiri dan dekat dengan Partai Komunis Indonesia.
Referensi
↑Ford, Michele (2023). Buruh dan Intelektual: LSM, Mahasiswa, dan Gerakan Buruh Indonesia. Diterjemahkan oleh Muliawarman Ford dan Achmad Choirudin. Sleman: INSISTPress. ISBN978-623-6179-19-2. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)