Sejarah
Pada abad ke-19, bangunan museum ini merupakan rumah pribadi warga negara Prancis. Kemudian dibeli oleh Konsul Turki bernama Abdul Azis Al Mussawi Al Kazimi yang menetap di Indonesia. Selanjutnya, pada tahun 1942 kepemilikan bangunan ini beralih ke Karel Christian Crucq.[6]
Pada masa perjuangan kemerdekaan Indonesia, gedung ini menjadi markas Barisan Keamanan Rakyat (BKR) dan tahun 1947 didiami oleh Lie Sion Pin. Pada tahun 1952 dibeli oleh Departemen Sosial dan pada tanggal 25 Oktober 1975 diserahkan kepada Pemda DKI Jakarta yang untuk kemudian pada tanggal 28 Juni 1976 diresmikan penggunaannya oleh Ibu Tien Soeharto sebagai Museum Tekstil.[3][7][8]
Pendirian museum tekstil dilatarbelakangi oleh penurunan tren kain tradisional yang dimulai pada tahun 1970. Penurunan tersebut diiringi dengan berkurangnya pemahaman mengenai penggunaannya serta kuantitas dan kualitas kain tradisional.[9] Tak ayal, terdapat dorongan dari para pencinta kain tradisional untuk membuat organisasi yang berorientasi pada pelestarian kain tradisional. Organisasi Wastraprema pun terbentuk, mereka menyumbangkan 500 kain tradisional kepada pemerintahan DKI Jakarta.[10]
Setelah peresmian, pada tahun 1985 dibangun dua gedung baru yang dipergunakan untuk ruang perawatan, ruang penyimpanan koleksi, ruang pengenalan wastra, auditorium, perpustakaan dan kantor.[11] Selanjutnya, pada tanggal 2 Oktober 2010 Museum Tekstil melakukan bekerja sama dengan Yayasan Batik Indonesia dan meresmikan Galeri Batik yang menyajikan koleksi Batik dari seluruh Indonesia. Pada satu waktu, UNESCO mengakui batik sebagai warisan budaya dunia asal Indonesia piagam Warisan Budaya Tak Benda.[10]
Koleksi
Terdapat sekitar 1914 buah koleksi kain di museum tekstil.[8] Namun, hanya 120 kain yang dipilih untuk dipamerkan dan dipublikasikan. Kain-kain tersebut berasal dari tiap daerah dengan segala corak dan kekhasannya. Setiap koleksi ada yang didapatkan dari pembelian, sumbangan dan hibah. Secara umum terdapat empat jenis koleksi. Pertama kelompok koleksi kain tenun, kedua kelompok kain batik, ketiga kelompok kain kontemporer. Terakhir, kelompok kain campuran.[4]
Museum ini memiliki 50 batik koleksi Museum Tekstil diantaranya kain panjang batik tulis Sidomukti (Surakarta), selendang Loc Chan (Rembang), kain panjang (Cirebon), kain panjang Kawung Kamboja (Solo), dan kain sarung Poleng Madepun (Jawa Tengah). Ada pula tujuh batik yang didesain gambar tokoh-tokoh Irlandia di antaranya, Saint Brigid, Children of Lir, dan Queen Maeve.[14]
Koleks wastra perpaduan akulturasi budaya China, India, Islam dan Eropa juga dimiliki museum ini, diantaranya kain panjang, sarung, selendang, ikat kepala dan kain di meja sembahyang (tokwi) milik warga Tionghoa.[15]
Selain koleksi kain, terdapat juga koleksi bahpeaarrwana batik alami, motif-motif cap batik, tata cara proses membatik dan berbagai macam interior-interior yang bermotif batik seperti tempat tidur, furniture, topeng & wayang golek.[16] Di luar ruangan terdapat taman pewarna alam dengan luas 2.000m², taman tersebut difungsikan untuk melestarikan dan memperkenalkan pepohonan yang biasa dijadikan pewarna alami. Contoh pohon yang ditanam di sana adalah pohon nangka(pewarna kuning), pohon sawo(pewarna coklat), pohon lobi-lobi(pewarna mra..h)[4]