Museum Pengkhianatan PKI merupakan museum yang dibangun untuk mengenang kejadian pemberontakan G30S/PKI (Gerakan 30 September 1965 oleh Partai Komunis Indonesia). Lokasi museumnya terletak di kawasan Monumen Pancasila Sakti. Hal yang ditampilkan dari Museum Pengkhianatan PKI di antaranya diorama yang menceritakan peristiwa G30S/PKI. Selain itu, ada beberapa koleksi barang yang ditampilkan seperti pakaian yang digunakan oleh Jendral Ahmad Yani, mobil dinas Jendral Ahmad Yani, dan mobil yang digunakan untuk menculik D.I Pandjaitan.[1]
Museum Pengkhianatan PKI berlokasi di Jl. Raya Pondok Gede, Lubang Buaya, Cipayung, Jakarta Timur. Pengelola Museum Pengkhianatan PKI ini dikelola oleh Pusat Sejarah TNI, dan instansi terkait. Biaya yang harus dikeluarkan oleh pengunjung yaitu Rp.2.500 / orang. Biaya parkir kendaraan untuk bus Rp. 3.000, mobil Rp. 2.000, dan sepeda motor Rp. 1.000.[2]
Sejarah
Pada 30 September 1965 menjadi salah satu kejadian yang mencekam di Indonesia. Karena pada penghujung September itu menjadi tragedi terjadinya banyak pembunuhan para perwiraTNI yang disebut dengan G30S/PKI. Dengan adanya kejadian tersebut, pada masa pemerintahan Presiden Soeharto 1 Oktober 1992 beliau meresmikan sebuah museum yang terletak di daerah Jakarta Utara. Tujuan dibuatnya museum tersebut sebagai sarana informasi dan penggambaran visual pada masyarakat luas, bahwa pada zaman G30S/PKI itu sangat kejam.[3]
Koleksi
Diorama Peristiwa Tiga Daerah
Diorama ini berkisah tentang hal yang terjadi pada 4 November 1945 di tiga daerah. Tiga daerah yang dimaksud adalah Tegal, Brebes, dan Pekalongan.[4] Setelah teks proklamasi diikrarkan oleh Soekarno-Hatta, anggota kelompok komunis mulai bergabung ke dalam organisasi masyarakat, salah satu contohnya masuk ke dalam Angkatan Pemuda Indonesia (API) dan Angkatan Muda Republik Indonesia. Pada 8 Oktober 1945, organisasi AMRI mulai melakukan serangan dengan cara membantai para pejabat pemerintahan. Serangan lainnya yang dilakukan AMRI adalah serangan ke kantor-kantor kabupaten dan markas TKR Tegal pada 4 November 1945. Namun, hasilnya gagal. Karena serangannya gagal, anggota komunis tersebut membuat organisasi Gabungan Badan Perjuangan Tiga Daerah dengan tujuan merebut kekuasaan di wilayah Tegal, Brebes dan Pekalongan.[5]
Diorama Teror C'Mamat
Diorama ini menceritakan tentang kisah Teror Ce' Mamat. Ce' Mamat adalah tokoh komunis yang terkenal pada 1926, Ia juga merupakan adalah ketua Komite Nasional Indonesia Serang. Ia menghasut masyarakat supaya tidak percaya terhadap pemerintahan. Ia dibantu oleh Laskar Gulkut. Pejabat yang menjadi korban pembunuhan oleh mereka yaitu Bupati Lebak yang bernama R. Hardiwinangun.[5]
Diorama Ubel-Ubel
Diorama ini berkisah tentang Pasukan Ubel-Ubel yang memberikan teror di daerah Sepatan dan Tangerang. Pasukan ini dipimpin oleh Usman. Ia mengambil alih kekuasaan pemerintah RI Tangerang dari Bupati Agus Padmanegara. Selain memberikan teror, pasukan ini juga berhasil membubarkan aparatur pemerintahan desa sampai kabupaten dan menolak mengakui pemerintahan pusat Republik Indonesia. Hal lain yang dilakukan oleh pasukan ini juga melakukan perampokan kepada penduduk desa dan pembunuhan. Tokoh nasional Otto Iskandar Dinata juga ikut terbunuh oleh Pasukan Ubel-Ubel pada 12 Desember 1945.[5]