Monumen Pancasila Sakti dibangun atas gagasan Presiden ke-2 Indonesia, Soeharto. Monumen ini merupakan museum khusus yang berada di bawah kepemilikan TNI dan dikelola oleh Pusat Sejarah TNI.[2] Monumen ini dibangun di atas tanah seluas 14,6 hektar dengan tujuan untuk mengingat perjuangan para Pahlawan Revolusi yang berjuang mempertahankan ideologi negara Republik Indonesia, Pancasila dari ancaman ideologi komunis.[3]
Monumen yang terletak di daerah Lubang Buaya, Cipayung, Jakarta Timur ini, berisikan bermacam-macam hal dari masa pemberontakan G30S - PKI, seperti pakaian asli para Pahlawan Revolusi.[5][6]
Sebelum menjadi sebuah museumsejarah, tempat ini merupakan kebun karet yang sudah tidak berfungsi lagi yang dijadikan sebagai tempat pembuangan terakhir para korban Gerakan 30 September 1965 (G30S).
Di kawasan kebun kosong itu terdapat sebuah sumur tua dengan dalam 12 meter dan diameter 75cm. Sumur ini yang digunakan untuk membuang jenazah para korban G30S.[7]
Kompleks monumen
Monumen ini berdiri di atas lahan seluas 14,6 Hektar[8] dan terdiri dari beberapa tempat yang bersejarah seperti Museum Pengkhianatan PKI, Sumur Tua tempat membuang jenazah tujuh Pahlawan Revolusi, Rumah Penyiksaan, Pos Komando, Dapur Umum, Mobil-Mobil tua peninggalan Pahlawan Revolusi, dan Museum Paseban.[9]
Museum Pengkhianatan PKI
Museum Pengkhianatan PKI
Museum Pengkhuanatan PKI bersisi sejarah pemberontakan-pemberontakan PKI untuk menggantikan Pancasila dengan komunis. Sejarah tersebut terekam hingga pemberontakan G30S/PKI.[10] Di pintu masuk, terdapat beberapa koleksi foto pemberontakan PKI, Pengangkatan Jenazah 7 Pahlawan Revolusi, dan beberapa diorama yang menceritakan tentang pemberontakan PKI di berbagai daerah di Indonesia.[11]
Sumur Tua
Sumur Tua ini adalah sebuah sumur tua di daerah Lubang Buaya, dekat lapangan terbang Halim Perdanakusuma, Jakarta. Pada sumur ini, ditemukan jenazah 7 Pahlawan Revolusi,[12] yaitu:
Rumah ini adalah milik seorang penduduk RW 02 Lubang Buaya bernama Haji Sueb. Tempat ini dipakai oleh pimpinan G30S/PKI yaitu Letnan Kolonel Untung dalam rangka perencanaan penculikan terhadap 7 Pahlawan Revolusi. Di dalam pos komando ini masih ada barang-barang asli yang menjadi saksi bisu pemberontakan PKI seperti: 3 buah petromaks, mesin jahit, dan lemarikaca.[18]
Dapur Umum
Tempat ini sebenarnya sebuah rumah yang dialihfungsikan oleh PKI sebagai Dapur Umum sebagai tempat sarana konsumsi anggota G30S/PKI.[19]
Museum Paseban
Museum Paseban yang terletak di Kompleks Monumen Pahlawan Revolusi ini diresmikan oleh PresidenSoeharto pada tanggal 1 Oktober 1981 bertepatan dengan Dwi Windu Hari Kesaktian Pancasila, di dalam ruangan ini terdapat beberapa diorama[20] sebagai berikut:
Usaha terhadap Pemerintah RI dan mengganti dasar negara Pancasila telah dua kali dijalankan,[21] yang pertama pada tahun 1948, dikenal sebagai pemberontakan PKI di Madiun yang dipimpin oleh Muso[22] dan yang kedua ialah pemberontakan G30S/PKI dalam bulan September 1965. Selain itu tempat ini juga terdapat foto ketujuh Pahlawan Revolusi, yang ukuran foto tersebut sudah diperbesar dari aslinya.[21]
Ruang Relik
Ruang Relik merupakan tempat dipamerkannya barang-barang, terutama pakaian yang mereka kenakan ketika mereka diculik, disiksa, sampai akhirnya dibunuh, dengan hasil visum dari dokter.[butuh rujukan] Selain itu terdapat pula aqualung, sebuah alat bantu pernapasan yang digunakan untuk mengangkat jenazah 7 Pahlawan Revolusi dari dalam sumur tua.[23]