Bangunan Rumah Dinas PT.BA-UPO W.30 dibangun pada 1914.[1] Sesuai dengan namanya, bangunan tersebut dibangun sebagai rumah dinas atau hunian bagi Opzichter, dan pejabat tambang Ombilin di Sawahlunto pada masa Kolonial Belanda.[2] Pasca kemerdekaan, bangunan rumah dinas itupun dialihkan sebagai museum, terlebih tidak ada lagi aktivitas tambang di sana.
Cagar Budaya
Rumah Dinas PT.BA-UPO W.30 merupakan cagar budaya. Bangunannya tercatat sebagai Cagar Budaya Peringkat Kota dengan Nomor Registrasi Nasional Cagar Budaya: CB.1767. Bangunanmuseum ditetapkan sebagai cagar budaya berdasarkan Surat Keputusan tingkat bupati/wali kota Nomor: 84 Tahun 2007 tertanggal 30 Maret 2007.[1]Wali kota Sawahlunto menetapkan museum ini sebagai benda cagar budaya dengan Surat Keputusan Wali kota Sawahlunto Nomor: 105 Tahun 2006 tentang Penetapan Bangunan, Gedung, Kompleks Bangunan, Situs dan Fitur Sebagai Benda Cagar Budaya.[3]
Museum ini juga masuk ke dalam ruang geografis kota lama tambang batubara Sawahlunto. Satuan ruang itu tercatat sebagai Cagar Budaya Peringkat Nasional berdasarkan Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI Nomor: 345/M/2014 tentang Penetapan Satuan Ruang Geografis Kota Lama Tambang Batubara Sawahlunto Sebagai Cagar Budaya Peringkat Nasional.[4]
Bangunan
Secara keseluruhan, Rumah Dinas PT.BA-UPO W.30 memiliki bangunan bergaya Indis dengan ciri khas tinggi sehingga dari depan sepintas terlihat bertingkat dua. Bangunannya berdenah leter L dengan luas 11 meter x 12 meter (132 meter²) yang berdiri di atas lahan 31 meter x 30 meter (930 meter²).[2]
Rumah Dinas PT.BA-UPO W.30 dibangun dengan bahan utama semen. Bagian dinding merupakan susunan batu bata yang direkatkan dengan semen kemudian lantai cor-an semen. Sedangkan untuk atap semuanya dari seng dengan rangka kayu.[2]
Di bagian dalam, bangunan museum ini dibagi menjadi dua bagian. Dulunya, bangunan pertama sebagai bangunan induk dan yang kedua sebagai bangunan pembantu rumah tangga. Bangunan induknya memiliki tujuh ruangan yang terdiri dari ruang tamu, ruang keluarga, ruangan makan dan kamar. Sedangakan bangunan pembantu terdiri dari 4 ruangan.[1] Sekarang semua bagian bangunan dijadikan tempat menyimpan koleksi museum.
Renovasi
Sebagai cagar budaya, bangunan ini belum banyak mengalami perubahan. Namun karena peralihan menjadi museum, bangunannya sedikit mengalami perbaikan disejumlah titik. Seperti pada bagian pintu dan jendela. Walakin masih manggunakan bahan yang sama dengan aslinya.[1]
Selain itu, pada bangunan utama sebuah bangunan baru ditambahkan pada sisi kanan sebagai garase mobil. kemudian pada bangunan khusus pembantu, sejumlah komponen yang rusak selain jendela diganti tetapi masih dengan bahan yang sama.[1]