Pada waktu itu, pada hari Sabat, Yesus berjalan di ladang gandum. Karena lapar, murid-murid-Nya memetik bulir gandum dan memakannya.[3]
Perkara memetik bulir gandum dan memakannya itu diizinkan menurut perkataan yang disampaikan oleh Musa dalam Kitab Ulanganpasal 23:25 dalam Taurat:
"Apabila engkau melalui ladang gandum sesamamu yang belum dituai, engkau boleh memetik bulir-bulirnya dengan tanganmu, tetapi sabit tidak boleh kauayunkan kepada gandum sesamamu itu."[4]
Dalam Injil Lukas dicatat bahwa murid-murid tidak menggunakan sabit maupun alat lain, melainkan "menggisarnya dengan tangannya".[5]
Ayat 38
Pada waktu itu berkatalah beberapa ahli Taurat dan orang Farisi kepada Yesus: "Guru, kami ingin melihat suatu tanda dari pada-Mu." (TB)[6]
Tetapi jawab-Nya [Yesus] kepada mereka: "Angkatan yang jahat dan tidak setia ini menuntut suatu tanda. Namun, kepada mereka tidak akan diberikan tanda selain tanda nabi Yunus." (TB)[7]
"Sebab seperti Yunus tinggal di dalam perut ikan tiga hari tiga malam, demikian juga Anak Manusia akan tinggal di dalam rahim bumi tiga hari tiga malam."[8]
Referensi silang: Yunus 1:17
Jelaslah bahwa YesusKristus menerima kisah Yunus dalam Kitab Yunus sebagai suatu fakta sejarah. Orang skeptis modern yang menyangkal kemungkinan mukjizat dalam Perjanjian Lama harus mempertimbangkan dan akan dihakimi oleh perkataan Yesus.[9]
Ayat 41
"Pada waktu penghakiman, orang-orang Niniwe akan bangkit bersama angkatan ini dan menghukumnya juga. Sebab orang-orang Niniwe itu bertobat setelah mendengar pemberitaan Yunus, dan sesungguhnya yang ada di sini lebih daripada Yunus!"[10]
"Pada waktu penghakiman, ratu dari Selatan itu akan bangkit bersama angkatan ini dan ia akan menghukumnya juga. Sebab ratu ini datang dari ujung bumi untuk mendengar hikmat Salomo, dan sesungguhnya yang ada di sini lebih daripada Salomo!"[11]
↑Willi Marxsen. Introduction to the New Testament. Pengantar Perjanjian Baru: pendekatan kristis terhadap masalah-masalahnya. Jakarta:Gunung Mulia. 2008. ISBN 9789794159219.
↑John Drane. Introducing the New Testament. Memahami Perjanjian Baru: Pengantar historis-teologis. Jakarta:Gunung Mulia. 2005. ISBN 979-415-905-0.