Nova dan supernova
Nova, berasal dari Nova Stella yang berarti "bintang baru", merupakan bintang yang cahayanya menjadi sangat terang secara tiba-tiba. Kini diketahui nova adalah bintang meledak. Terang cahaya nova bisa 50.000 kali lebih terang daripada Matahari dan mampu bertahan hingga berbulan-bulan sebelum akhirnya meredup kembali. Peristiwa supernova jauh lebih dahsyat daripada nova. Bintang yang meledak bisa miliaran kali lebih terang daripada sebelumnya. Catatan astronomi menunjukkan, sejak penemuan teleskop tahun 1610 hingga kini, belum ditemukan supernova dalam galaksi kita, Bima Sakti.
Supernova terakhir di Bima Sakti ditemukan tahun 1054 (dicatat oleh astronom Cina dan Jepang), 1572 (diamati oleh Tycho Brahe, astronom Denmark), dan 1604 (diamati oleh Johannes Kepler). Dalam catatan astronomi Cina kuno tidak ditemukan supernova pada sekitar 5 SM, hanya sebuah nova pada sekitar tanggal 10 Maret-27 April 5 SM di rasi Capricornus (Kambing Laut). Nova ini bisa jadi yang dimaksud oleh orang-orang Majus sebagai bintang yang mereka lihat terbit di timur. Namun, Nova, seperti bintang-bintang lainnya, posisinya relatif tetap dan tidak akan tampak bergerak. Selain itu, penampakan nova di langit malam akan membuatnya menjadi objek yang mencolok dan mudah dikenali, sehingga semestinya tidak hanya orang majus yang memperhatikannya, tetapi semua orang saat itu pasti melihatnya.
Komet
Teori lain menyebutkan komet. Meskipun manuver yang diperlukan dalam syarat Bintang Natal dipenuhi bintang berekor ini, dalam berbagai budaya komet identik dengan pertanda buruk atau bencana. Jadi, sejumlah pakar beranggapan bahwa komet tidak mungkin sebagai Bintang Bethlehem. Namun, pada tahun 5 SM, catatan astronomi Tiongkok dan Korea melaporkan adanya sebuah komet yang dapat dilihat selama 70 hari (= 10 minggu) lamanya.[1]
Laporan dari Tiongkok, yaitu Tawarikh “Ch'ien-han-shu” (Ho Peng-Yoke 20 katalog nomor 63[2]), berbunyi demikian:
- "Pada tahun kedua periode Ch'ien-p'ing, bulan kedua, sebuah "hui-hsing" muncul di Ch'ien-niu selama lebih dari 70 hari"[3]
Catatan ini dapat diterjemahkan:
- “Selama interval antara 10 Maret dan 7 April 5 SM, sebuah "komet" yang kelihatan lebih dari 70 hari muncul dekat dengan Alpha dan Beta Capricornii”[1]
Catatan Tiongkok mempunyai istilah-istilah khusus untuk membedakan benda-benda langit.[4] "Komet berekor" disebut "sui-hsing" atau "hui-hsing", artinya "bintang sapu", di mana "sapu" melambangkan "ekor komet". "Komet tanpa ekor" disebut "po-hsing", dan suatu "nova" disebut "k'o-hsing", artinya "bintang tamu".[2] Laporan di atas menyatakan yang dilihat adalah sebuah “hui-hsing”, atau “bintang/komet berekor”, tetapi catatan selanjutnya mengandung elemen-elemen yang tidak konsisten dengan ciri-ciri komet. Misalnya, tawarikh tersebut menyatakan posisi benda langit tersebut tetap di satu tempat selama dua setengah bulan, tidak masuk akal bila itu sebuah komet. Dapat dibandingkan dengan laporan komet Halley ("po-hsing") pada tahun 12 SM yang sebenarnya redup dan tidak cukup menakjubkan, tetapi sangat rinci laporannya, dengan runtunan jalur pergerakannya di langit jelas dilaporkan. Sedangkan benda langit pada tahun 5 SM ini hampir tidak disebutkan detailnya, meskipun dilaporkan lebih terang dan ada ekornya. Biasanya pula komet yang terang dilaporkan pergerakannya, panjang ekornya, bentuk dan kadang kala warnanya pula. Namun, di sini tidak ada laporan semacam itu.[1]
Selain laporan Tiongkok, ada catatan kedua yang lebih kontroversial ditemukan di Korea, dalam tulisan "Sejarah Tiga Kerajaan - Tawarikh Silla (Samguk Sagi)”, yang berbunyi:
- “Tahun 54 Hyokkose Wang, bulan kedua, (hari) Chi-yu, sebuah "po-hsing" muncul di Ho-Ku”
Catatan Korea dari masa itu kurang detail dan kurang dapat dipercaya, nyata dari sejumlah inkonsistensi catatan ini jika dibandingkan dengan catatan Tiongkok. Penulis tanpa sadar mencatat 30 Februari. Sekarang dipahami bahwa "Chi-yu" seharusnya adalah "I-yu", sebuah karakter yang mirip dalam tulisan Tionghoa dan sering kali dirancukan. Demikian juga dicurigai bahwa tahun yang dicatat di Korea terlambat 1 tahun dari seharusnya. Jika dikoreksi demikian, maka dapat ditafsirkan:
- “Pada tanggal 31 Maret 5 SM, sebuah bintang sapu muncul dekat dengan Altair”[1]
Rasi bintang Tiongkok, Ho-Ku, termasuk Altair, yaitu bintang paling terang di daerah langit tersebut di antara bintang-bintang dari sisi selatan rasi bintang Aquila, yang berbatasan dengan Capricornus. Nyatanya di antara rasi-rasi bintang Tiongkok, Ho-Ku dan Chi’en-Niu, yang meliputi bintang-bintang di sisi paling utara Capricornus, terdapat tempat kosong yang jarang terlihat bintangnya. Dengan demikian Altair dan Alpha serta Beta Capricornii merupakan titik rujukan yang jelas di angkasa. Meskipun bintang itu terletak di sebelah selatan Aquila dan dekat Alpha serta Beta Capricornii, kemungkinan astronom Korea mengambil mudahnya dengan merujuk pada bintang Altair, yang lebih terang.[1]
Dengan demikian dapat diperkirakan posisi bintang yang muncul kira-kira dalam wilayah dengan radius 5 derajat di sebelah selatan Aquila atau di sebelah utara Capricornus dan muncul di pertengahan sampai akhir bulan Maret 5 SM, mempunyai posisi rujukan kira-kira: "R.A. 18h30m, Dec. –12º (J2000)", yaitu antara Theta Aquilae dan Alpha Capricornii.[1]
Pada bulan Maret/April rasi bintang Capricornus terbit di timur terlihat dari Arabia, Persia dan sekitarnya dan pertama kali tampak di fajar pagi hari. Hal ini cocok dengan yang disampaikan oleh orang-orang majus dari Timur yang mengatakan bahwa: "Kami melihat bintang-Nya di timur"[5] atau ada terjemahan alternatif: "melihat bintang-Nya saat terbit di timur." Jika terjemahan ini benar, maka hal ini sesuai dengan catatan astronomi Tiongkok mengenai munculnya benda langit itu pada waktu pagi di arah timur.[2]
Dalam catatan tersebut juga disebutkan bahwa bintang itu tampak terus menerus selama 70 hari, bukannya dilihat dua kali sebagaimana komet (sekali ke arah perihelion, sekali menjauhinya). Lamanya penampakan ini sesuai dengan perkiraan lamanya perjalanan para orang Majus itu, yaitu 1-2 bulan, dan kemungkinan pergerakan bintang itu dari timur ke selatan. Jadi, setelah orang-orang Majus tersebut melihat pertama kali setelah perihelion di timur, di Capricornus, pada pagi hari, dan bergerak ke arah barat daya (lebih ke selatan), mereka mengikutinya sampai ke Yerusalem (sebelah barat daya dari Persia), yang memakan waktu sekitar 1-2 bulan, dan melihat bintang itu di selatan dan akhirnya menghilang setelah 70 hari lebih.[2]