Lintasan Yanmen atau Celah Yanmen, juga dikenal dengan nama Tionghoa Yanmenguan dan Xixingguan, adalah suatu celah gunung yang mencakup tiga gerbang berbenteng di sepanjang Tembok Besar Tiongkok. Daerah itu merupakan titik sempit yang strategis di Tiongkok kuno dan abad pertengahan, yang mengendalikan akses antara lembah-lembah di Shanxi tengah dan Stepa Eurasia. Dengan kondisi yang seperti ini, kawasan ini sering menjadi tempat berlangsungnya berbagai pertempuran penting, yang berlanjut hingga Perang Dunia II, dan kawasan di sekitar gerbang berbenteng dan rentangan Tembok Besar ini sekarang menjadi objek wisata berperingkat AAAAA. Kawasan berpanorama ini terletak tepat di luar Desa Yanmenguan di Kota praja Yanmenguan di Kabupaten Dai, Kota Xinzhou, Provinsi Shanxi, Tiongkok.[1]
Nama
Lintasan Yanmen, kadang-kadang diterjemahkan dalam bahasa Inggris menjadi Wild Goose Pass[2] (Lintasan Soang Liar) atau Wildgoose Gate[3] (Gerbang Soang Liar), dinamakan demikian karena soang liar yang bermigrasi melewati kawasan tersebut.[1]
Desa Yanmenguan berjarak sekitar 20 kilometer (10 mil) dari ibu kota kabupaten Shangguan (Daixian) dan sekitar 180 kilometer (110 mil) timur laut dari ibu kota Provinsi Shanxi, Taiyuan.[1] Dulu desa ini merupakan tempat yang sangat jauh, kini terletak di dekat pinggiran kota metropolitan Datong yang sedang berkembang di timur lautnya.[7]
Sejarah
Tiongkok kuno
Lintasan Yanmen mulai dibangun pada masa Raja Wuling dari Zhao saat ia menguasai wilayah suku Loufan (suku barbar hutan) dan Linhu (suku nomaden hutan) di wilayah utara Shanxi moderen dari 306 sampai 304 SM.[8] Ia mengorganisir penaklukan ini sebagai komando Yunzhong, Yanmen, dan Dai dan, sekitar tahun 300 SM, mulai membangun benteng pertahanan dari tanah untuk melindungi wilayah barunya dari para nomad lain dari stepa Eurasia.[8][9] Raja Wuling menugaskan Li Mu untuk menangkal serangan Xiongnu. Li Mu dalam tugasnya pernah memerangkapi pasukan Xiongnu dan membunuh sebanyak 100,000 pasukan kuda musuh. Meskipun Komando Yanmen milik Zhao dinamai berdasarkan jalur tersebut, yang pada masa pra-modern sangat penting untuk mengakses lembah-lembah Shanxi tengah sehingga menjadi lokasi banyak pertempuran sepanjang sejarah Tiongkok,[10] benteng-benteng yang dibangun pada masa pemerintahan Raja Wuling tidak membentang di tengah wilayah tersebut, melainkan di sepanjang batas utara wilayah kekuasaannya, lebih dekat ke Hohhot di Mongolia Dalam saat ini.[8][11] Yanmen sendiri dipertahankan, tetapi hanya oleh sebuah benteng dan garnisun di bukit setempat.[10]
Kekaisaran Tiongkok
Pada saat masa pemerintahan Qin Shi Huang (221–210 SM), seorang bangsawan Chu bernama Ban Yi (斑code: zh is deprecated atau 班壹code: zh is deprecated ,Bān Yī) melarikan diri ke suku Loufan sekitar Yanmen.[12] Pada masa awal Dinasti Han, keluarganya menjadi kaya karena bekerja sebagai pengembala dan menjual sebanyak ribuan hewan ternak dan kuda,[13] kekayaan mereka bahkan bisa dibandingkan dengan negara kecil.[14] Keberhasilan mereka menjadi panutan bagi kolonis Tionghoa dan Tiongkok mulai mendirikan pemukiman di perbatasan Yanmen.[13] Pasar tidak selalu aman: Pada musim gugur tahun 129 SM, 40.000 penunggang kuda Kekaisaran Han membantai para pedagang Xiongnu di pasar-pasar di sepanjang perbatasan;[15] (Namun, kekalahan telak Li Guang dan Gongsun Ao di dekat Yanmen membuat mereka nyaris lolos dari hukuman mati berkat pembayaran denda besar dan penurunan status mereka menjadi rakyat biasa.) Tahun berikutnya[16] atau setelah itu,[15]Wei Qing dan 30,000 pasukan Han berangkat ke utara Yanmen dan mengalahkan pasukan Xiongnu yang tersisa disana,[16] pada akhirnya menguasai Dataran Tinggi Ordos secara keseluruhan.[15] Sebanyak 100,000 penduduk Tiongkok melakukan kolonialisasi disana.[15] Pada 127 SM, Xiongnu mengalahkan dan menawan Gubernur Liaoxi; Han Anguo (t韓安國code: zh is deprecated ,s韩安国code: zh is deprecated ,Hán Ānguó) mencoba menghalau mereka di Lintasan Yanmen dengan 700 pasukan namun gagal dan mundur ke Yuyang.[17] Wei Qing dan Li Xi dengan paksa kembali ke Yanmen, menawan sebagian Xiongnu dan memukul mereka keluar melampaui perbatasan.[17] Klan Ban, melihat bahwa keadaan disana semakin kacau, akhirnya meninggalkan tempat itu dan dengan kekayaan mereka sebagai pengembala sukses, mereka membangun karir politik diantara para pejabat istana dan menjadi keluarga aristokrat pada masa Dinasti Han Timur pada abad ke-1.[18]
Satu garis pertahanan Tembok Besar pada akhirnya dibangun melewati lintasan ini pada masa Dinasti Qi Utara di tahun 557.[19] Ini adalah bagian dari proyek pekerjaan umum besar-besaran yang melibatkan lebih dari 1,8 juta pekerja yang diperintahkan oleh Kaisar Gao Yang (yang secara anumerta dikenal sebagai "Wenxuan" atau "Kaisar yang Beradab dan Bertanggung Jawab"), yang bertujuan untuk melindungi kerajaannya dari Zhou Utara yang bermusuhan.[19] Tembok yang dibangun Qi Utara juga membentuk pertahanan lapis dalam dan Lintasan Yanmen diperbaiki dan diperkuat.[19] Walaupun memiliki pertahanan yang kuat, Qi Utara mengalami kekacauan dan dikuasai oleh Zhou Utara pada akhir 570an. Kaisar purnawirawanYuwen Chan atas perintah Yuwen Yun memperkuat kembali tembok tersebut diantara Yanmen dan Jieshi pada 579 untuk melindungi Tiongkok Utara dari Göktürk dan Khitan.[19] Setelah kematian Yuwen Chan pada 580, ayah mertuanya Yang Jian melakukan kudeta dan mendeklarasi Dinasti Sui.[19]
Penguasa Dinasti Sui (581–618) menganggap bahwa Tembok Besar merupakan garis pertahanan penting maka memerintahkan agar tembok tersebut diperbaiki dan diperkuat sebanyak tujuh kali. Saat Kaisar Yang dari Sui terperangkap oleh Göktürk di dekat Yanmen, Li Shimin menyelamatkan kaisar dengan mengelabui musuh dan memukul mundur pasukan Göktürk. Namun, saat berdirinya Dinasti Tang (618–907), Li Shimin dan keturunannya kemudian melakukan ekspansi besar di wilayah utara Tiongkok, membuat Tembok Besar menjadi usang, tidak dibutuhkan dan perlahan-lahan hancur.[19] Setelah keruntuhan Dinasti Tang Akhir dan kemudian Dinasti Han Akhir pada masa Lima Dinasti dan Sepuluh Negara, sebagian besar wilayah di sekitar Shanxi dikuasai dari Taiyuan oleh Liu Chong sebagai penguasa Han Utara. Zhao Kuangyin menyatukan mayoritas wilayah Tiongkok sampai kematiannya pada 976, dan adiknya Zhao Jiong menginvasi Han Utara pada 978 dan menguasainya dalam tahun berikutnya. Pada 980, 100,000 pasukan barbar dari Dinasti Liao pimpinan Li Chonghui menginvasi Shanxi atas nama sekutu mereka, Han Utara yang sudah runtuh. Sampai di Yanmen, Li dan serdadunya malah diperangkap oleh jenderal Song Yang Ye dan Pan Mei[20] di benteng Baicao Lingkou.[21] Dinasti Song berhasil mempertahankan wilayah taklukkan mereka di utara, membunuh Xiao Chuoli (t蕭啜裏code: zh is deprecated ,s萧啜里code: zh is deprecated ,Xiāo Chuòlǐ), kakak ipar kaisar Liao, dan merebutkan banyak kuda dan materi perang untuk Dinasti Song.[20]
Knechtges, David Richard (2010), "Ban Gu", Ancient and Early Medieval Chinese Literature: A Reference Guide, Pt. I, Leiden: Brill.
Li Tao (1183), Xu Zizhi Tongjian Changbian|《續資治通鑑長編》 [Xu Zizhi Tongjian Changbian, Extended Continuation of the Zizhi Tongjian]. (dalambahasaMandarin)
Loewe, Michael (2000), "Ban Yi", A Biographical Dictionary of the Qin, Former Han, and Xin Periods (221BC– AD24), Handbook of Oriental Studies, Sect. IV: China, No. 16, Leiden: Brill.
Yü Ying-shih (1967), Trade and Expansion in Han China: A Study in the Structure of Sino-Barbarian Economic Relations, Berkeley: University of California Press.