Filsafat Jawa adalah ilmu yang mempelajari tentang filsafat yang bertumpu pada pemikiran-pemikiran yang berakar pada budaya Jawa. Filsafat Jawa sebenarnya juga tergolong pada filsafat Timur, yang umumnya berdasarkan pada pemikiran para filsuf di India dan Tiongkok, meskipun saat ini filsafat Jawa belum diakui sebagai bagian dari filsafat Timur tetapi pada dasarnya filsafatJawa memiliki kesamaan dengan prinsip-prinsip yang terdapat dalam filsafat India.[1]
Sejarah Hanacaraka muncul dan terkait dengan kisah Aji Saka dan kedatangannya dari Hindustan. Oleh karena itu maka tidak mengherankan bila ditemukan adanya nama-nama tempan atau nama orang Jawa yang mirip dengan nama-nama tempat atau nama orang India. Kisah Aji Saka ini sampai sekarang masih dipegang teguh oleh Suku Jawa dan menjadi inspirasi bagi kehidupan batin dan rohaniorang Jawa.[5]
Dimensi
Seperti halnya filsafat pada umumnya, filsafat Jawa juga memiliki dimensi-dimensi yang meliputinya, antara lain dimensi metafisika, dimensi ontologi, dimensi epistemologi, dan dimensi aksiologi. Penggolongan dari setiap dimensi filsafat tersebut disesuaikan dengan cabang-cabang dalam ilmu filsafat, yakni tentang ilmu pengetahuan, tentang 'ada dan sebab pertama', tentang materi, dan tentang norma-norma.[6]
Seperti yang telah dijelaskan, bahwa filsafat Jawa mengutamakan pada aspek kesempurnaan hidup lebih tepatnya kesempurnaan batin.[7] Dalam filsafat Jawa, kesempurnaan itu bisa didapatkan manusia dengan cara berpikir dan merenungkan kaitan dirinya dengan Tuhan. Karena dalam filsafat Jawa yang menjadi tujuan adalah kesempurnaan hidup, maka setiap bidang dan dimensi yang ada dalam filsafat harus menyatu, tidak dapat dipisahkan satu sama lain.[8]
Nilai-nilai
Dikarenakan filsafat Jawa bertujuan pada kesempurnaan hidup, maka ia memiliki nilai-nilai yang terkandung didalamnya. Nilai-nilai yang ada dalam filsafat Jawa tidak hanya sebagai ilmu pengetahuan semata, tetapi juga menjadi filosofi dan falsafah dalam menjalani kehidupan. Berikut ini adalah beberapa nilai yang terkandung dalam filsafat Jawa.[1]
Aja rumangsa bisa, nanging bisa rumangsa, maknanya jangan sombong, harus berempati dan memahami orang lain.
Migunani tumraping liyan, maknanya berbuat baik kepada orang lain, nanti orang lain akan berbuat baik kepadamu.
Eling sangkan paraning dumadi, maknanya selalu ingat asal-usul dan cita-cita dalam hidup.
Urip iku urup, maknanya hendaknya memberi manfaat pada lingkungan sekitar kita.
Sura dira jayaningrat, lebur dening pangastuti, maknanya setiap keburukan pasti akan kalah dengan kebaikan.
Ngluruk tanpa bala, menang tanpa ngasorake, sekti tanpa aji-aji, sugih tanpa bandha, maknanya jangan besar kepala jika sedang beruntung atau menang.
Datan serik lamun ketaman, datan susah lamun kelangan, maknanya jangan mudah tersinggung.
Ojo gumunan, ojo getunan, ojo kagetan, ojo aleman, maknanya adalah jangan mudah heran (Gumun), jangan mudah menyesal (Getun), jangan mudah terkejut (Kaget), dan jangan bersikap berlebihan (Aleman).
Referensi
123Sutrisna Wibawa, Filsafat Jawa, (Yogyakarta: Universitas Negeri Yogyakarta, 2013) hal. 1-2
↑Mohammad Safii, Filosofi Jawa, (Surabaya: Universitas Airlangga, 2011) hal. 1
↑Fatkur Rohman Nur Awalin, "Dunia Batin Jawa: Aksara Jawa Sebagai Filosofi dalam Memahami Konsep Ketuhanan", Jurnal Kontemplasi IAIN Tulungagung, Volume 05 Nomor 02 (Desember 2017) hal. 290
↑Fatkur Rohman Nur Awalin, "Dunia Batin Jawa: Aksara Jawa Sebagai Filosofi dalam Memahami Konsep Ketuhanan" hal. 293