Rasa jati (aksara Jawa: ꦫꦱꦗꦠꦶ; bahasa Indonesia: rasa yang sejati), dalam filsafat Jawa, adalah rasa yang paling halus dari manusia. Rasa jati dipahami bukan sebagai rasa yang didapat dari pancaindra ataupun hati, seperti rasa sakit atau rasa senang, melainkan rasa inti kehidupan (bahasa Jawa: rosing dumadi). Inti kehidupan sendiri dapat berupa pengetahuan tentang tujuan sejati manusia diturunkan ke bumi, atau penjiwaan dengan sungguh-sungguh mengenai hakikat kehidupan seorang manusia.[1] Rasa jati juga dapat dipahami sebagai suatu keadaan merasakan Tuhan dalam batin diri.[2]