Ngudi kasampurnan (aksara Jawa: ꦔꦸꦢꦶꦏꦱꦩ꧀ꦥꦸꦂꦤꦤ꧀, bahasa Indonesia: mencari kesempurnaan) adalah konsep inti dalam filsafat Jawa. Berbeda dengan filsafat Barat yang berpijak pada kecintaan akan kebijaksanaan atau ngudi kawicaksanan, filsafat Jawa berpijak pada kecintaan akan kesempurnaan.[1][2] Kesempurnaan dapat berupa kesempurnaan jiwa ataupun kesempurnaan raga.[3] Pencapaian kesempurnaan adalah kesadaran, tujuan, dan jalan hidup bagi manusia Jawa.[4] Ajaran Ngudi Kasampurnan ini banyak dikaitkan sebagai hasil pemikiran Sunan Kalijaga berdasarkan tradisi Kejawen yang merupakan ajaran spiritual Jawa dan menekankan usaha manusia untuk mencapai kasampurnan, yaitu kesempurnaan batin, kejernihan rasa, dan kedekatan dengan asal spiritualnya. [5]
Ringkasan
Pencarian akan kesempurnaan dalam pemikiran Jawa terkait dengan jalan menuju Tuhan yang Maha Sempurna. Sementara itu, jalan menuju kesempurnaan dapat ditempuh dengan pendalaman batin.[6] “Ngudi” berarti mencari atau mengupayakan, sedangkan “kasampurnan” merujuk pada kondisi luhur ketika manusia mampu memahami hakikat diri, hidup, dan Tuhan secara mendalam. Proses dalam mencapai kasampurnan tidak instan, melainkan melalui laku batin seperti tapa, tirakat, semadi, pengendalian hawa nafsu, serta penyucian budi dan rasa. Dalam tradisi kejawen, seseorang diajak untuk mengenali “sedulur papat lima pancer”, menyelaraskan cipta, rasa, dan karsa, serta menjaga harmoni dengan alam dan sesama. Puncak ngudi kasampurnan adalah tercapainya manungsa tanpa wadi—manusia tanpa rahasia atau tanpa kepalsuan—yang hidup dengan jujur, ikhlas, adil, dan welas asih. Ajaran ini tidak hanya bersifat mistik, tetapi juga etika hidup: bagaimana bersikap terhadap orang lain, menjalankan kewajiban, dan menjaga keseimbangan batin. Dengan ngudi kasampurnan, manusia diharapkan mampu menapaki jalan spiritual yang membawa pada ketenangan, kebijaksanaan, dan kesadaran bahwa dirinya merupakan pancaran dari Sang Pencipta.[7][8]