ENSIKLOPEDIA
Edward VIII of the United Kingdom
| Edward VIII | |||||
|---|---|---|---|---|---|
| Adipati Windsor | |||||
Potret resmi, tahun 1930-an | |||||
| Berkuasa | 20 Januari – 11 Desember 1936 (1936-01-20 – 1936-12-11)[a] | ||||
| Pendahulu | George V | ||||
| Penerus | George VI | ||||
| Perdana Menteri | Lihat daftar
| ||||
| Kelahiran | Pangeran Edward dari York (1894-06-23)23 Juni 1894 White Lodge, Taman Richmond, Surrey, Inggris | ||||
| Kematian | 28 Mei 1972(1972-05-28) (umur 77) 4 route du Champ d'Entraînement (Vila Windsor), Paris, Prancis | ||||
| Pemakaman | 5 Juni 1972 Frogmore Windsor, Berkshire | ||||
| Pasangan | |||||
| |||||
| Wangsa |
| ||||
| Ayah | George V | ||||
| Ibu | Mary dari Teck | ||||
| Agama | Protestan[b] | ||||
| Tanda tangan | |||||
| Karier militer | |||||
| Pengabdian | Inggris Raya | ||||
| Dinas/cabang | |||||
| Pangkat | (Lihat § [[#§ Jabatan militer|§ Jabatan militer]], di bawah.) | ||||
| Penghargaan | Military Cross | ||||
Edward VIII (Edward Albert Christian George Andrew Patrick David; 23 Juni 1894 – 28 Mei 1972), kemudian dikenal sebagai Adipati Windsor, adalah Raja Inggris Raya dan Dominion-dominion dalam Persemakmuran Britania serta Kaisar India dari 20 Januari 1936 sampai turun takhta pada bulan Desember tahun yang sama.[a]
Edward lahir pada masa pemerintahan nenek buyutnya, Ratu Victoria, sebagai anak tertua dari Adipati dan Adipatni York, yang kemudian menjadi Raja George V dan Ratu Mary. Ia diangkat menjadi Pangeran Wales pada ulang tahunnya yang ke-16, tujuh minggu setelah ayahnya naik takhta sebagai raja. Saat masih muda, Edward bertugas di Angkatan Darat Britania Raya selama Perang Dunia I dan melakukan sejumlah lawatan ke luar negeri atas nama ayahnya. Pangeran Wales memperoleh popularitas karena pesona dan karismanya, sementara selera busananya menjadi ciri khas era tersebut. Setelah perang, perilakunya mulai menimbulkan kekhawatiran; ia terlibat dalam serangkaian hubungan asmara yang membuat khawatir ayahnya dan Perdana Menteri Inggris, Stanley Baldwin.
Setelah kematian ayahnya pada tahun 1936, Edward menjadi raja kedua dari Wangsa Windsor. Raja baru tersebut menunjukkan ketidaksabaran terhadap protokol istana dan menimbulkan kekhawatiran di kalangan politisi karena ketidakpeduliannya terhadap konvensi konstitusional yang telah ditetapkan. Hanya beberapa bulan setelah ia naik takhta, terjadi krisis konstitusional setelah ia mengutarakan keinginannya untuk menikahi Wallis Simpson, seorang wanita Amerika yang telah bercerai dengan suami pertamanya dan sedang menjalani proses perceraian dengan suami keduanya. Perdana Menteri Inggris Raya dan para perdana menteri Dominion-dominion menentang pernikahan tersebut dengan alasan bahwa seorang wanita yang telah dua kali bercerai dan memiliki dua mantan suami yang masih hidup tidak dapat diterima sebagai calon permaisuri, baik secara politik maupun sosial. Selain itu, pernikahan semacam itu bertentangan dengan kedudukan Edward sebagai kepala tituler Gereja Inggris, yang pada saat itu tidak mengizinkan seseorang menikah kembali setelah bercerai selama mantan pasangannya masih hidup. Edward tahu bahwa pemerintahan Baldwin akan mengundurkan diri jika pernikahan tersebut dilanjutkan, yang dapat memaksa dilakukannya pemilihan umum dan akan merusak kedudukannya sebagai raja konstitusional yang netral secara politik. Ketika menjadi jelas bahwa ia tidak bisa menikahi Simpson dan tetap menjadi raja, ia turun takhta. Ia digantikan oleh adiknya, George VI. Dengan masa pemerintahan selama 326 hari, Edward merupakan salah seorang raja Britania dengan masa pemerintahan tersingkat serta raja Britania terakhir yang turun takhta hingga saat ini.
Setelah turun takhta, Edward diberi gelar Adipati Windsor. Ia menikahi Simpson di Prancis pada tanggal 3 Juni 1937 setelah proses perceraian kedua Simpson selesai. Mereka tidak memiliki anak. Pada tahun yang sama, keduanya melakukan kunjungan ke Jerman Nazi, yang memicu desas-desus bahwa Edward adalah simpatisan Nazi. Selama Perang Dunia Kedua, Edward pertama kali ditempatkan dengan Misi Militer Inggris di Prancis. Setelah jatuhnya Prancis, ia diangkat menjadi Gubernur Bahama. Setelah perang, Edward tinggal di Prancis hingga wafat pada tahun 1972.
Kehidupan awal


Edward lahir pada 23 Juni 1894 pukul 22.00 waktu setempat di White Lodge, Richmond Park,[2] di kawasan pinggiran London, pada masa pemerintahan nenek buyutnya, Ratu Victoria.[3] Ia merupakan putra sulung Adipati dan Adipatni York (yang kelak menjadi Raja George V dan Ratu Mary). Ayah Edward adalah putra dari Pangeran dan Putri Wales (yang kemudian menjadi Raja Edward VII dan Ratu Alexandra), sementara ibunya adalah putri sulung Francis, Adipati Teck, dan Putri Mary Adelaide dari Cambridge. Pada saat kelahirannya, ia berada pada urutan ketiga dalam garis suksesi takhta, setelah kakek dan ayahnya.
Edward dibaptis dengan nama Edward Albert Christian George Andrew Patrick David di Green Drawing Room, White Lodge, pada 16 Juli 1894 oleh Edward White Benson, Uskup Agung Canterbury.[c] Nama "Edward" dipilih untuk menghormati pamannya yang telah wafat, Pangeran Albert Victor, Adipati Clarence dan Avondale, yang dalam lingkungan keluarga dikenal dengan panggilan "Eddy". Nama "Albert" diberikan atas kehendak Ratu Victoria sebagai bentuk penghormatan kepada mendiang suaminya, Albert, Pangeran Consort. Nama "Christian" dipilih untuk menghormati kakek buyutnya, Raja Christian IX dari Denmark. Empat nama terakhir, yaitu George, Andrew, Patrick dan David, secara berurutan berasal dari nama santo pelindung Inggris, Skotlandia, Irlandia dan Wales.[5] Di kalangan keluarga dan sahabat-sahabat dekatnya, ia selalu dipanggil dengan nama David.[6]
Sebagai praktik yang lazim di kalangan bangsawan kelas atas pada saat itu, Edward dan adik-adiknya dibesarkan oleh para pengasuh, bukan secara langsung oleh orang tua mereka. Salah seorang pengasuh awal Edward kerap melakukan kekerasan terhadapnya, mencubitnya sebelum ia dibawa kepada kedua orang tuanya. Tangisan dan kegelisahan Edward justru membuat Adipati dan Adipatni York menyuruh pengasuh tersebut membawa Edward pergi dari hadapan mereka.[7] Setelah perlakuannya itu terungkap, pengasuh tersebut dipecat dan digantikan oleh Charlotte Bill.[8]
Ayah Edward, meskipun menerapkan disiplin yang keras,[9] tetap tidak segan memperlihatkan kasih sayangnya,[10] dan ibunya menunjukkan sisi yang riang saat bersama anak-anaknya, berbanding terbalik dengan citranya yang tampak kaku dan serius di hadapan publik. Ia terhibur saat anak-anaknya menyajikan roti panggang dengan berudu sebagai lelucon terhadap guru bahasa Prancis mereka,[11] dan selalu mendorong mereka untuk berterus terang kepadanya.[12]
Pendidikan

Awalnya, Edward memperoleh pendidikan di rumah dari seorang tutor bernama Hélène Bricka. Ketika kedua orang tuanya melakukan lawatan ke berbagai wilayah Imperium Britania selama hampir sembilan bulan setelah wafatnya Ratu Victoria pada tahun 1901, Edward dan adik-adiknya tetap di Inggris bersama kakek-nenek mereka, Ratu Alexandra dan Raja Edward VII, yang mencurahkan kasih sayang kepada mereka. Saat orang tuanya kembali, Edward ditempatkan dalam asuhan Frederick Finch dan Henry Hansell, yang pada praktiknya membesarkan Edward dan saudara-saudaranya selama sisa masa kanak-kanak mereka.[13]
Edward tetap berada di bawah bimbingan Hansell yang disiplin hingga usianya hampir tiga belas tahun. Para guru privatnya mengajarinya bahasa Jerman dan Prancis.[14] Ia kemudian mengikuti ujian masuk Royal Naval College, Osborne, dan mulai menjalani pendidikan di sana pada tahun 1907. Hansell menghendaki agar Edward mulai bersekolah lebih awal, tetapi ayahnya tidak setuju.[15] Setelah menjalani masa pendidikan selama dua tahun di Osborne College, yang tidak disukainya, Edward pindah ke Royal Naval College di Dartmouth. Rencananya, ia akan menjalani pendidikan selama dua tahun sebelum bergabung dengan Angkatan Laut Britania.[16]
Saat Edward VII wafat, ayahnya naik takhta sebagai George V, sementara Edward menjadi pewaris takhta. Sejak saat itu, persiapan untuk masa depannya sebagai raja mulai dilakukan secara sungguh-sungguh. Ia ditarik dari program pendidikan angkatan lautnya sebelum lulus secara resmi, menjalani tugas sebagai perwira muda di kapal perang Hindustan selama tiga bulan, lalu langsung memasuki Magdalen College, Oxford meskipun menurut para penulis biografinya ia belum memiliki kesiapan intelektual untuk belajar di sana.[16] Sebagai penunggang kuda yang andal, ia belajar bermain polo bersama klub universitas.[17] Setelah menempuh delapan masa perkuliahan, ia meninggalkan Oxford tanpa memperoleh kualifikasi akademik apa pun.[16]
Pangeran Wales

Edward secara otomatis menyandang gelar Adipati Cornwall dan Adipati Rothesay pada 6 Mei 1910 setelah ayahnya naik takhta. Sebulan kemudian, tepat pada ulang tahunnya yang ke-16, yaitu pada 23 Juni 1910, ia secara resmi diangkat sebagai Pangeran Wales dan Earl of Chester melalui surat paten.[18] Edward secara resmi dilantik sebagai Pangeran Wales dalam sebuah upacara khusus di Kastel Caernarfon pada 13 Juli 1911.[19] Upacara pelantikan itu diselenggarakan di Wales atas prakarsa politisi Wales David Lloyd George, Penjaga Kastil (Inggris: Constable of the Castle) dan Menteri Keuangan (Inggris: Chancellor of the Exchequer) pemerintahan yang dipimpin Partai Liberal.[20] Lloyd George sebuah upacara yang cukup teatrikal dengan gaya arak-arakan tradisional Wales dan juga melatih Edward untuk mengucapkan beberapa kata dalam bahasa Wales.[21]

Saat Perang Dunia I pecah pada tahun 1914, Edward telah mencapai usia minimum untuk menjalani dinas militer aktif dan ia bersemangat untuk berpartisipasi.[22] Ia bergabung dengan satuan Grenadier Guards pada Juni 1914, dan meskipun Edward bersedia untuk bertempur di garis depan, Menteri Perang Lord Kitchener melarang hal tersebut dengan alasan bahwa penangkapan pewaris takhta oleh musuh akan menimbulkan akibat yang sangat merugikan.[23] Meskipun begitu, Edward beberapa kali mengunjungi parit-parit di garis depan. Atas kunjungan-kunjungan tersebut, ia dianugerahi Military Cross pada tahun 1916. Perannya di dalam perang, walaupun terbatas, membuatnya populer di kalangan para veteran.[24] Ia menjalani penerbangan militer pertamanya pada tahun 1918, dan kemudian berhasil memperoleh lisensi sebagai pilot.[25]
Adik Edward yang paling muda, Pangeran John, meninggal pada 18 Januari 1919 saat usianya masih 13 tahun setelah mengalami serangan epilepsi yang berat.[26] Edward, yang berusia 11 tahun lebih tua dari John dan nyaris tidak pernah akrab dengannya, menganggap kematiannya "tidak lebih dari sebuah gangguan yang patut disayangkan".[27] Ia menulis sebuah surat kepada wanita simpanannya saat itu, mengatakan bahwa "[dia telah] menceritakan [kepadanya] seluruh hal tentang adik kecilnya tersebut dan bahwa ia menderita epilepsi. [John] sendiri praktis dikurung selama dua tahun terakhir, sehingga tak seorang pun pernah melihatnya selain keluarga, itupun hanya sekali atau dua kali dalam setahun. Anak malang itu diperlakukan lebih seperti binatang daripada manusia." Edward juga menulis surat yang berisi hal-hal tidak sensitif mengenai John kepada ibunya; surat itu kini telah hilang.[28] Ibunya tidak menjawab, tetapi ia merasa wajib untuk menulis permintaan maaf pada ibunya tersebut. Ia menulis: "Aku merasa benar-benar seperti bajingan berhati dingin dan tidak berperasaan karena telah menulis semua itu ... Tak seorang pun lebih memahami daripada Mama betapa sedikitnya arti Johnnie kecil yang malang bagiku, yang nyaris tidak pernah mengenalnya ... Aku sungguh turut merasakan dukamu, Mama tersayang, yang juga ibunya [John]."[27]
Pada tahun 1919, Edward bersedia menjabat sebagai ketua panitia penyelenggara British Empire Exhibition yang direncanakan akan digelar di Wembley Park, Middlesex. Ia menginginkan agar pameran tersebut dilengkapi dengan "sebuah gelanggang olahraga nasional yang besar", sehingga ia turut berperan dalam pembangunan Stadion Wembley.[29]


Selama dekade 1920-an, Edward, sebagai Pangeran Wales, mewakili ayahnya, baik di Inggris maupun ke luar negeri, dalam berbagai kesempatan. Kedudukan, ketampanan, lawatan-lawatannya, serta statusnya yang belum menikah menjadikannya pusat perhatian masyarakat. Di puncak popularitasnya, ia adalah selebriti yang paling sering difoto di masanya, dan ia menjadi ikon mode pria pada masanya.[30] Selama kunjungannya ke Amerika Serikat pada tahun 1924, majalah Men's Wear mengamati bahwa, "Rata-rata lelaki muda di Amerika lebih tertarik pada pakaian [yang dikenakan] Pangeran Wales daripada orang-orang lain di dunia."[31]
Edward mengunjungi daerah-daerah di Britania yang dilanda kemiskinan[32] dan melakukan 16 lawatan ke berbagai wilayah Imperium Britania antara tahun 1919 hingga 1935. Dalam lawatannya ke Kanada pada tahun 1919, ia membeli peternakan Bedingfield di dekat Pekisko, Alberta, yang tetap dimilikinya hingga tahun 1962.[33] Peternakan itu dinamainya E. P. Ranch (Peternakan E. P., singkatan dari namanya: Edward, Pangeran). Ia berupaya untuk mengembangkan peternakan tersebut sebagai tempat untuk membiakkan berbagai jenis ternak seperti sapi Shorthorn, kuda poni Dartmoor, dan kuda Clydesdale, tetapi tidak berhasil.[34] Pada tahun 1920, ia selamat dari kecelakaan ketika kereta yang ditumpanginya dalam lawatan ke Australia keluar dari jalurnya di luar Perth.[35]

Lawatannya ke India pada November 1921 berlangsung ketika terjadi protes gerakan non-kerjasama yang menuntut pemerintahan mandiri bagi India dan ditandai dengan kerusuhan di Bombay. Pada tahun 1929, Sir Alexander Leith, pemimpin Partai Konservatif di Inggris bagian utara, membujuknya untuk melakukan lawatan selama tiga hari ke County Durham dan wilayah pertambangan batu bara Nothumberland, di mana sedang terjadi pengangguran yang luas.[36] Sejak Januari hingga April 1931, Pangeran Wales bersama adiknya, Pangeran George, menempuh perjalanan sejauh 29.000 km dalam lawatan ke Amerika Selatan dengan menumpang kapal samudra Oropesa.[37] Mereka kemudian kembali melalui Paris dan melanjutkan perjalanan dengan penerbangan Imperial Airways dari Bandar Udara Le Bourget yang mendarat secara khusus di Windsor Great Park.[38][39]

Walaupun telah bepergian ke berbagai penjuru dunia, Edward, sebagaimana lazimnya orang-orang di zaman itu, memiliki prasangka rasial terhadap orang asing dan banyak rakyat Imperium Britania, serta meyakini bahwa orang kulit putih secara bawaan lebih unggul daripada ras lainnya.[40] Pada tahun 1920, saat berkunjung ke Australia, ia menulis tentang penduduk asli Australia: "mereka adalah bentuk paling menjijikkan dari makhluk hidup yang pernah kulihat!! Mereka adalah bentuk terendah dari manusia dan merupakan makhluk yang paling mendekati kera."[41]
Kehidupan percintaan

Sebelum Perang Dunia I, sempat muncul usulan agar Edward dijodohkan dengan sepupu keduanya, Putri Viktoria Luise dari Prusia.[42] Perjodohan tersebut tidak terwujud, dan Viktoria Luise akhirnya menikah dengan sepupu jauh Edward, Ernest Augustus, Adipati Brunswick. Pada tahun 1934, Adolf Hitler, yang sedang berusaha menjalin hubungan antara keluarga kerajaan Inggris dengan Jerman, meminta Viktoria Luise untuk menjodohkan putrinya, Frederica dari Hannover (saat itu berusia 17 tahun), dengan Edward (saat itu berusia 40 tahun). Kedua orang tua Frederica menolak, dengan alasan perbedaan usia yang terlalu jauh, dan Frederica kemudian menikah dengan Pavlos dari Yunani.[42][43]
Pada tahun 1917, Edward senang menghabiskan waktu dengan berpesta di Prancis saat mendapat cuti meninggalkan regimennya di Lini Barat. Di sana, ia diperkenalkan dengan seorang kurtisan Paris, Marguerite Alibert, dan tergila-gila kepadanya. Edward mengiriminya sejumlah surat pribadi, yang kemudian disimpan oleh Alibert. Sekitar setahun kemudian, Edward mengakhiri hubungan tersebut. Pada tahun 1923, Alibert dinyatakan tidak bersalah dalam sebuah persidangan pembunuhan yang menyita perhatian publik setelah ia menembak suaminya di Hotel Savoy. Berbagai upaya dilakukan oleh Rumah Tangga Kerajaan untuk memastikan nama Edward tidak disebut dalam persidangan atau pun dikaitkan dengan Alibert. [44]
Masih pada tahun 1917, Edward memulai hubungan dengan Lady Rosemary Leveson-Gower, putri bungsu Adipati Sutherland ke-4. Menurut teman-teman Leveson-Gower, Edward melamarnya, tetapi hubungan tersebut berakhir ketika Raja George V dan Ratu Mary menunjukkan ketidaksetujuan mereka terhadap beberapa anggota keluarga Leveson-Gower, khususnya kepada Daisy, Countess Warwick (bibinya dari pihak ibu) dan Earl Rosslyn ke-5 (pamannya dari pihak ibu).[45]
Perilakunya yang suka bermain perempuan dan sembrono selama dekade 1920-an dan 1930-an mengkhawatirkan Perdana Menteri Stanley Baldwin, Raja George V, dan mereka yang dekat dengan sang Pangeran. Raja George V kecewa dengan putranya yang enggan menjalani kehidupan yang mapan, merasa jijik dengan hubungan-hubungannya dengan wanita-wanita yang sudah menikah, dan ia enggan melihatnya mewarisi takhta. George mengatakan, "Setelah aku meninggal, anak itu akan menghancurkan dirinya sendiri kurang dari dua belas bulan."[46]
Raja George V lebih menyukai anak keduanya, Albert ("Bertie"), dan putri Albert, Elizabeth ("Lilibet"), yang masing-masing kemudian menjadi Raja George VI dan Ratu Elizabeth II. Ia berkata pada penggawa kerajaan, "Aku berdoa pada Tuhan semoga anak sulungku tidak pernah menikah ataupun mempunyai anak, sehingga tak akan ada sesuatu pun yang menjadi penghalang antara Bertie dan Lilibet dengan takhta."[47] Pada tahun 1929, majalah Time melaporkan bahwa Edward pernah menggoda istri Albert, yang juga bernama Elizabeth (di kemudian hari menjadi Ibu Suri Elizabeth), dengan memanggilnya "Ratu Elizabeth". Majalah itu bahkan mempertanyakan apakah Elizabeth pernah membayangkan bahwa julukan tersebut suatu hari nanti benar-benar akan menjadi kenyataan, mengingat beredar cerita bahwa Edward pernah mengatakan ia akan melepaskan haknya atas takhta setelah George V wafat—sesuatu yang akan benar-benar menjadikan Elizabeth sebagai "Ratu Elizabeth".[48]

Raja George V memberikan hak sewa Fort Belvedere di Windsor Great Park kepada Edward pada tahun 1930.[49] Di sana, ia melanjutkan hubungan-hubungannya dengan berbagai wanita yang sudah menikah, termasuk Freda Dudley Ward dan Lady Furness, istri seorang bangsawan Inggris yang berasal dari Amerika Serikat, yang mengenalkannya pada kawannya sesama orang Amerika, Wallis Simpson. Simpson telah bercerai dengan suami pertamanya, seorang perwira Angkatan Laut Amerika Serikat, Win Spencer, pada tahun 1927. Suami keduanya, Ernest Simpson, adalah seorang pengusaha Inggris-Amerika. Secara umum diyakini bahwa Wallis Simpson dan Pangeran Wales menjadi sepasang kekasih ketika Lady Furness sedang bepergian ke luar negeri. Edward dengan tegas menyatakan kepada ayahnya bahwa ia tidak menjalin hubungan asmara dengan Simpson, dan merupakan hal yang tidak pantas untuk menyebut Simpson sebagai gundiknya.[50] Namun, hubungan Edward dengan Simpson semakin memperburuk hubungan Edward dengan ayahnya yang memang sudah buruk. Meskipun orang tua Edward telah bertemu dengan Simpson di Istana Buckingham pada tahun 1935,[51] mereka memutuskan untuk tidak menerimanya di kemudian hari.[52]
Hubungan asmara Edward dengan Simpson menimbulkan keprihatinan yang sangat besar sehingga pasangan ini diikuti oleh anggota Cabang Khusus Kepolisian Metropolitan, yang menyelidiki hubungan mereka secara diam-diam. Sebuah laporan tak bertanggal mencatat kunjungan pasangan tersebut ke sebuah toko barang-barang antik, di mana pemilik tokonya berkata bahwa "wanita tersebut tampaknya benar-benar membuat POW (Pangeran Wales) berada sepenuhnya dalam genggamannya."[53] Kemungkinan seorang perempuan Amerika yang telah bercerai dan memiliki masa lalu yang dipertanyakan dapat memberikan pengaruh sedemikian besar terhadap pewaris takhta menimbulkan kecemasan di kalangan penguasa Britania.[54]
Masa pemerintahan

Raja George V wafat pada 20 Januari 1936, dan Edward naik takhta sebagai Raja Edward VIII. Keesokan harinya, dengan didampingi Simpson, ia menyimpang dari tradisi kerajaan dengan menyaksikan proklamasi kenaikan takhtanya dari jendela Istana St James.[55] Ia menjadi raja pertama Imperium Britania yang bepergian dengan pesawat udara ketika ia pergi dari Sandringham menuju London untuk menghadiri Sidang Dewan Aksesi.[14]
Edward menimbulkan keresahan di kalangan pemerintah melalui tindakan-tindakannya yang dianggap sebagai campur tangan dalam urusan politik. Komentarnya saat mengunjungi desa-desa yang sedang mengalami keterpurukan ekonomi di Wales Selatan bahwa "sesuatu harus dilakukan"[14] bagi para penambang batu bara yang menganggur dipandang sebagai sebuah upaya untuk memengaruhi arah kebijakan pemerintah, meskipun ia sendiri tidak menawarkan usulan perubahan kebijakan maupun jalan keluar. Para menteri enggan mengirim surat-surat kenegaraan dan dokumen rahasia ke Fort Belvedere, tempat Edward tinggal, karena jelas bahwa Edward tidak memberikan banyak perhatian terhadap dokumen-dokumen tersebut serta karena para menteri khawatir Simpson dan tamu-tamu lain di sana akan membacanya, sehingga rahasia negara dapat terungkap, baik secara tidak sengaja maupun secara tidak semestinya.[56]

Pendekatan Edward yang tidak lazim terhadap perannya sebagai raja juga tampak pada uang logam yang memuat potretnya. Ia melanggar tradisi di mana potret profil penguasa monarki dalam uang koin harus berlawanan dengan arah pandang penguasa sebelumnya. Ia bersikeras agar ia digambarkan menghadap ke kiri (sama seperti ayahnya)[57] untuk menunjukkan garis belahan rambutnya.[58] Hanya segelintir koin uji yang sempat dicetak sebelum Edward turun takhta, sehingga kini semuanya sangat langka.[59] Ketika George VI naik takhta, potretnya juga dibuat menghadap ke kiri demi mempertahankan tradisi. Alasannya, seandainya pencetakan uang logam bergambar Edward diteruskan, potret Edward semestinya akan dibuat menghadap ke kanan.[60]
Pada 16 Juli 1936, George Andrew McMahon mengeluarkan sebuah revolver yang telah terisi peluru saat Edward mengendarai kuda di Constitution Hill, dekat Istana Buckingham. Polisi melihat senjata itu dan segera menerkamnya; ia ditangkap dengan cepat. Saat persidangan, McMahon mengatakan bahwa ada "kekuatan luar negeri" yang mendekatinya untuk membunuh Edward, bahwa ia telah menginformasikan rencana ini kepada MI5, dan bahwa ia hanya berpura-pura menjalankan rencana tersebut untuk membantu MI5 agar mereka dapat mengungkap pelaku yang sebenarnya. Pengadilan menolak klaim tersebut dan menjatuhkan vonis satu tahun di penjara atas dakwaan "bermaksud untuk menimbulkan kepanikan".[61] Saat ini, diperkirakan McMahon memang benar melakukan kontak dengan MI5, tetapi kebenaran klaimnya yang lain masih dipertanyakan.[62]
Pada bulan Agustus dan September, Edward dan Simpson berlayar di Mediterania Timur dengan kapal pesiar uap Nahlin. Pada bulan Oktober, mulai menjadi jelas bahwa raja baru itu berniat menikahi Simpson, terutama ketika perkara perceraian pasangan Simpson mulai diproses di Pengadilan Ipswich.[63] Meskipun gosip mengenai hubungannya dengan Simpson sudah tersebar luas di Amerika Serikat, pers Britania secara sukarela tetap bungkam sehingga masyarakat Britania baru mengetahui hubungan tersebut pada awal Desember.[64]
Turun takhta

Pada 16 November 1936, Edward mengundang Perdana Menteri Stanley Baldwin ke Istana Buckingham dan menyampaikan keinginannya untuk menikahi Wallis Simpson setelah Simpson dapat menikah kembali secara sah. Baldwin menjelaskan kepada Edward bahwa rakyat akan menganggap pernikahan tersebut tidak dapat diterima secara moral karena Gereja Inggris saat itu tidak mengizinkan seseorang menikah kembali setelah bercerai apabila mantan pasangan masih hidup dan rakyat tidak akan menerima Simpson sebagai ratu.[65] Sebagai raja, Edward adalah kepala tituler Gereja, dan para rohaniwan berharap agar ia menjunjung ajaran-ajaran Gereja. Uskup Agung Canterbury, Cosmo Gordon Lang, secara terbuka menegaskan bahwa Edward harus turun takhta jika ingin melanjutkan niatnya.[66]
Edward mengajukan solusi alternatif berupa pernikahan morganatik, yaitu ia akan tetap menjadi raja, tetapi Wallis tidak akan menjadi permaisuri. Simpson akan menyandang gelar yang lebih rendah daripada gelar permaisuri, dan anak-anak mereka tidak akan mewarisi takhta raja. Usulan ini pada prinsipnya didukung oleh politisi senior Winston Churchill, dan beberapa sejarawan berpendapat bahwa dialah yang menggagas usulan tersebut.[66] Namun, pada akhirnya usulan tersebut ditolak oleh Kabinet Britania Raya[67] maupun pemerintah-pemerintah Dominion.[68] Sesuai dengan ketentuan Statuta Westminster 1931 pandangan pemerintah-pemerintah Dominion harus dimintai karena statuta tersebut, antara lain, menyatakan bahwa "semua perubahan hukum mengenai suksesi kerajaan, gelar, dan gaya kerajaan harus mendapat persetujuan dari Parlemen Inggris Raya serta seluruh parlemen Dominion."[69] Perdana Menteri Australia (Joseph Lyons), Kanada (Mackenzie King) dan Afrika Selatan (J. B. M. Hertzog) menyatakan penolakan mereka terhadap rencana Raja menikahi seseorang yang telah bercerai.[70] Sementara itu, Perdana Menteri Negara Bebas Irlandia, Éamon de Valera, bersikap tidak peduli, sedangkan Perdana Menteri Selandia Baru, Michael Joseph Savage, yang sebelumnya bahkan belum pernah mendengar nama Simpson, menanggapinya dengan kebingungan dan ketidakpercayaan.[71] Menghadapi semua penolakan itu, Edward berkata, "di Australia tidak terlalu banyak orang" dan opini mereka tidak penting.[72]

Edward kemudian memberi tahu Baldwin bahwa ia akan turun takhta jika ia tidak bisa menikahi Simpson. Baldwin lalu memberikan tiga pilihan kepada Edward: membatalkan rencana pernikahan; tetap menikah dan melawan nasihat para menterinya; atau turun takhta.[73] Edward jelas tidak siap melepaskan Simpson, dan ia tahu jika ia tetap menikah, bertentangan dengan nasihat para menterinya, maka ia akan menyebabkan pemerintahan mengundurkan diri dan memicu krisis konstitusional.[74] Ia memilih untuk turun takhta.[75]
Edward menandatangani instrumen-instrumen turun takhta[d] di Fort Belvedere pada 10 Desember 1936 di hadapan para adik laki-lakinya: Pangeran Albert, Adipati York, pewaris takhta berikutnya; Pangeran Henry, Adipati Gloucester; dan Pangeran George, Adipati Kent.[77] Dokumen tersebut berisi klausa: "menyatakan tekad saya yang tidak dapat ditarik kembali untuk menanggalkan takhta bagi diri saya sendiri dan keturunan saya, serta keinginan saya agar instrumen turun takhta ini segera diberlakukan".[78] Esoknya, tugas terakhirnya sebagai raja adalah melakukan pengesahan kerajaan terhadap Undang-Undang Deklarasi Abdikasi Yang Mulia 1936 (His Majesty's Declaration of Abdication Act 1936). Sebagaimana diwajibkan dalam Statuta Westminster, semua Dominion sudah menyetujui proses turun takhta ini.[1]
Pada malam tanggal 11 Desember 1936, Edward, yang kembali menyandang berstatus sebagai seorang pangeran, menjelaskan keputusannya turun takhta melalui siaran Radio BBC yang disiarkan ke seluruh dunia. Ia berkata, "Saya mendapati bahwa mustahil bagi saya memikul beban tanggung jawab yang begitu berat dan menjalankan tugas-tugas sebagai raja sebagaimana yang saya inginkan tanpa bantuan dan dukungan wanita yang saya cintai." Ia menambahkan, "Keputusan ini sepenuhnya adalah keputusan saya sendiri ... Orang yang paling berkepentingan selain saya telah berusaha hingga saat-saat terakhir membujuk saya agar memilih jalan yang lain".[79] Edward berangkat meninggalkan Inggris menuju Austria keesokan harinya; ia tidak dapat bertemu dengan Simpson hingga proses perceraiannya selesai beberapa bulan kemudian.[80] Adiknya, Adipati York, kemudian menggantikannya sebagai Raja George VI. Putri sulung George VI, Putri Elizabeth, menjadi pewaris dugaan takhta.[81]
Adipati Windsor
Pada 12 Desember 1936, dalam sidang aksesi Dewan Penasihat Kerajaan Britania, George VI mengumumkan niatnya untuk memberikan gelar "Adipati Windsor" beserta sapaan Yang Mulia Kerajaan kepada kakaknya.[82] Ia menghendaki agar hal itu menjadi tindakan pertama pada masa pemerintahannya, walaupun dokumen resminya baru ditandatangani 8 Maret pada tahun berikutnya. Selama jeda tersebut, Edward dikenal sebagai Adipati Windsor. Dengan menganugerahkan gelar adipati kerajaan kepada Edward, George memastikan bahwa Edward tidak dapat mencalonkan diri sebagai anggota Dewan Rakyat atau berbicara mengenai persoalan-persoalan politik di Dewan Bangsawan.[83]
Surat Paten tertanggal 27 Mei 1937 menganugerahkan kembali "gelar, sapaan, atau atribut Yang Mulia Kerajaan" kepada Adipati Windsor, tetapi secara tegas menyatakan bahwa "istri dan keturunannya, jika ada, tidak berhak menyandang gelar, sapaan, maupun atribut tersebut". Beberapa menteri Britania berpendapat bahwa penganugerahan kembali tersebut tidak diperlukan karena Edward secara otomatis telah menyandang sapaan tersebut, dan istrinya akan otomatis memperoleh status sebagai istri dari seorang pangeran dengan sapaan Yang Mulia Kerajaan. Sebaliknya, pendapat lain menyatakan bahwa ia sudah kehilangan seluruh status kerajaan dan tidak dapat lagi menyandang gelar atau sapaan apa pun sebagai seorang raja yang turun takhta serta sepatutnya hanya disebut sebagai "Tn. Edward Windsor". Pada 14 April 1937, Jaksa Agung Sir Donald Somervell mengirimkan sebuah memorandum kepada Menteri Dalam Negeri Sir John Simon yang berisi pandangan penasihat hukum tertinggi Skotlandia T. M. Cooper, Penasihat Parlemen Sir Granville Ram, dan dirinya:
- Kami cenderung berpendapat bahwa setelah turun takhta, Adipati Windsor tidak lagi berhak menyandang sapaan Yang Mulia Kerajaan. Dengan kata lain, seandainya Raja memutuskan bahwa dikeluarkannya ia dari garis suksesi juga menghilangkan haknya atas sapaan tersebut sebagaimana diberikan melalui Surat Paten yang berlaku, tidak akan ada dasar yang masuk akal untuk mempersoalkan keputusan itu.
- Namun demikian, persoalan ini harus dipertimbangkan dengan bertolak dari kenyataan bahwa, karena alasan-alasan yang mudah dipahami, ia—dengan persetujuan tegas Yang Mulia Raja—tetap menyandang sapaan tersebut dan telah disebut sebagai Yang Mulia Kerajaan baik dalam kesempatan-kesempatan resmi maupun dalam dokumen-dokumen resmi. Berdasarkan preseden yang ada, tampak jelas bahwa istri seseorang yang menyandang sapaan Yang Mulia Kerajaan pada umumnya turut berhak atas sapaan yang sama, kecuali apabila diambil langkah hukum yang secara tegas meniadakan hak tersebut.
- Kami berkesimpulan bahwa sang istri tidak dapat menuntut hak tersebut atas dasar hukum apa pun. Menurut pandangan kami, hak untuk menyandang gelar atau sapaan tersebut berada sepenuhnya dalam prerogatif Yang Mulia Raja, yang berwenang mengaturnya melalui Surat Paten, baik secara umum maupun untuk keadaan tertentu.[84]
Pernikahan

Adipati Windsor menikahi Simpson, yang telah mengganti namanya melalui akta penggantian nama menjadi Wallis Warfield (nama keluarga saat lahir), dalam sebuah upacara tertutup pada 3 Juni 1937 di Château de Candé, dekat Tours, Prancis. Ketika Gereja Inggris menolak merestui pernikahan tersebut, seorang rohaniwan dari County Durham, Robert Anderson Jardine (Vikaris Santo Paulus, Darlington), menawarkan diri untuk memimpin upacara pernikahan, dan Edward menerima tawaran tersebut. George VI melarang anggota keluarga kerajaan menghadiri upacara tersebut,[85] yang menimbulkan rasa kesal dan dendam yang terus membekas pada Adipati dan Adipatni Windsor. Edward secara khusus berharap agar kedua adiknya, Adipati Gloucester dan Adipati Kent, serta sepupu keduanya, Lord Louis Mountbatten, dapat menghadiri upacara pernikahan tersebut.[86] Organis dan komponis Prancis, Marcel Dupré, memainkan musik pada upacara pernikahan tersebut.[87]
Penolakan untuk memberikan gaya kebesaran Yang Mulia Kerajaan terhadap Adipatni Windsor semakin memperuncing perselisihan, demikian pula persoalan penyelesaian keuangan. Pemerintah menolak memasukkan Adipati dan Adipatni Windsor ke dalam Civil List, sehingga tunjangan Adipati Windsor dibayarkan secara pribadi oleh George VI. Edward justru mencederai posisinya sendiri di hadapan sang Raja dengan menyembunyikan besarnya kekayaan yang dimilikinya ketika mereka secara tidak resmi menyepakati besaran tunjangan tahunan. Selama dua puluh enam tahun sebelumnya, Edward telah mengumpulkan kekayaan dari pendapatan Kadipaten Cornwall, yang diterimanya sebagai Pangeran Wales, yang lazimnya beralih kepada raja yang baru naik takhta. George VI juga membeli Sandringham House dan Istana Balmoral dari Edward. Kedua properti tersebut merupakan milik pribadi Edward yang diwarisinya dari ayahnya, sehingga tidak otomatis beralih kepada George VI ketika ia naik takhta.[88] Edward menerima sekitar £300.000 (setara £23,8 juta hingga £173 juta pada tahun 2024)[89] dari pembelian kedua properti tersebut, yang dibayarkan melalui angsuran tahunan. Pada masa-masa awal pemerintahan George VI, Edward hampir setiap hari menelepon Raja untuk mendesak agar tunjangannya ditambah dan agar Wallis diberi hak menyandang sapaan "Yang Mulia Kerajaan" sampai akhirnya George VI, yang sudah kehabisan kesabaran, memerintahkan agar panggilan-panggilan itu tidak lagi diteruskan kepadanya.[90]
Hubungan antara Adipati Windsor dan anggota keluarga kerajaan lainnya tetap tegang selama beberapa dasawarsa. Edward semula mengira bahwa ia hanya akan tinggal di Prancis selama satu atau dua tahun sebelum akhirnya kembali menetap di Britania. Namun George VI, dengan dukungan Ratu Mary dan istrinya, Ratu Elizabeth, mengancam akan menghentikan tunjangannya apabila ia kembali ke Britania tanpa undangan.[88] Sejak itu, Edward menyimpan kepahitan terhadap ibunya, Ratu Mary. Dalam sepucuk surat pada tahun 1939, ia menulis, "[surat terakhirmu][N 1] telah menghancurkan sisa-sisa perasaan yang masih kupendam untukmu ... [dan] membuat surat-menyurat yang wajar di antara kita tidak mungkin lagi diteruskan."[91]
Lawatan ke Jerman tahun 1937


Pada Oktober 1937, bertentangan dengan nasihat Pemerintah Britania, Adipati dan Adipatni Windsor mengunjungi Jerman Nazi dan menemui Adolf Hitler di tempat peristirahatan Hitler di Berghof, Bayern. Kunjungan ini diliput secara luas oleh media-media Jerman. Selama kunjungannya, Edward memberi penghormatan Nazi.[92] Menurut penulis biografi kerajaan Andrew Morton dalam sebuah wawancara dengan BBC di tahun 2016, di Jerman, "mereka diperlakukan layaknya bangsawan ... para bangsawan membungkuk dan memberi hormat sebagaimana layaknya kepada anggota keluarga kerajaan padanya (Wallis), dan ia diperlakukan dengan segala martabat serta kedudukan seperti yang selalu diinginkan sang adipati."[93]
Mantan duta besar Austria, Count Albert von Mensdorff-Pouilly-Dietrichstein, yang juga merupakan sepupu jauh serta sahabat George V, percaya bahwa Edward memandang baik fasisme Jerman sebagai benteng melawan komunisme, bahkan pada awalnya mendukung terbentuknya aliansi dengan Jerman.[94] Menurut Adipati Windsor, pengalaman "rentetan kengerian yang seolah tidak pernah berakhir"[95] selama Perang Dunia I membuatnya mendukung politik peredaan terhadap Jerman. Hitler menganggap Edward ramah terhadap Jerman dan berpikir bahwa hubungan Anglo-Jerman dapat diperbaiki lewat Edward jika ia tidak pernah turun takhta. Albert Speer menyitir perkataan Hitler secara langsung: "Saya yakin bahwa melalui dirinya (Edward) hubungan persahabatan yang langgeng dapat terjalin. Seandainya ia tetap bertakhta, semuanya akan berbeda. Turun takhtanya merupakan kehilangan besar bagi kita."[96] Adipati dan Adipatni Windsor menetap di Paris dengan menyewa sebuah vila mewah di Boulevard Suchet sejak akhir tahun 1938.[97]
Perang Dunia II
Pada bulan Mei 1939, NBC meminta Edward untuk memberikan sebuah siaran radio[98] (siaran pertama sejak ia turun takhta) dalam kunjungannya ke medan-medan tempur Perang Dunia I di Verdun. Dalam siaran tersebut, ia menyerukan perdamaian dengan menyampaikan, "Saya sangat merasakan kehadiran begitu banyak jiwa mereka yang telah gugur, dan saya yakin bahwa seandainya mereka dapat menyuarakan isi hati mereka, mereka akan sependapat dengan apa yang hendak saya katakan. Saya berbicara semata-mata sebagai seorang prajurit Perang Besar (Perang Dunia I), yang doa terdalamnya adalah agar kegilaan yang begitu kejam dan menghancurkan seperti itu tidak pernah lagi menimpa umat manusia. Tidak ada satu pun negeri yang rakyatnya menginginkan perang." Siaran tersebut didengarkan oleh jutaan orang di seluruh dunia.[99][100] Pidato itu secara luas dipandang sebagai bentuk dukungan terhadap politik peredaan,[101] dan BBC menolak untuk menyiarkannya.[98] Siaran tersebut juga dipancarkan di luar Amerika Serikat melalui radio gelombang pendek[102] dan diliput secara lengkap oleh surat kabar utama Britania.[103]
Ketika Perang Dunia II pecah pada September 1939, Adipati dan Adipatni Windsor dibawa kembali ke Britania oleh Louis Mountbatten dengan menaiki HMS Kelly, dan Edward, meskipun berpangkat sebagai marsekal lapangan, ditugaskan sebagai mayor jenderal yang diperbantukan pada Misi Militer Britania di Prancis.[14] Pada Februari 1940, duta besar Jerman untuk Den Haag, Count Julius von Zech-Burkersroda, mengeklaim bahwa Edward telah membocorkan rencana perang Sekutu untuk pertahanan Belgia,[104] meskipun tuduhan tersebut kemudian dibantah oleh Edward.[105] Saat Jerman menginvasi bagian utara Prancis pada Mei 1940, pasangan Windsor melarikan diri ke selatan, awalnya ke Biarritz, lalu ke Spanyol di bawah pemerintahan Franco pada bulan Juni. Pada bulan Juli, mereka pindah ke Portugal dan mula-mula tinggal di rumah Ricardo Espírito Santo, seorang bankir Portugal yang memiliki hubungan dengan kalangan Inggris maupun Jerman.[106] Dengan nama sandi Operasi Willi, sejumlah agen Nazi, terutama Walter Schellenberg, berusaha membujuk Edward agar meninggalkan Portugal dan kembali ke Spanyol; bila perlu, mereka bahkan berencana menculiknya. Namun, upaya tersebut gagal.[107] Lord Caldecote menulis sebuah peringatan kepada Winston Churchill, yang saat itu sudah menjadi perdana menteri, bahwa "[sang Adipati] dikenal bersimpati kepada Nazi dan ia dapat menjadi pusat berbagai intrik."[108] Churchill mengancam akan membawa Edward ke pengadilan militer jika ia tidak kembali ke wilayah Britania.[109]
Pada Juli 1940, Edward diangkat sebagai Gubernur Bahama. Adipati dan Adipatni Windsor meninggalkan Lisboa pada 1 Agustus menaiki kapal uap Excalibur dari American Export Lines, yang secara khusus dialihkan dari rute langsungnya menuju Kota New York agar mereka dapat berlabuh di Bermuda pada tanggal 9.[110] Mereka kemudian berangkat dari Bermuda menuju Nassau dengan menggunakan kapal uap Lady Somers dari Canadian National Steamship Company pada 15 Agustus dan tiba dua hari kemudian.[111] Edward tidak menikmati jabatannya sebagai gubernur dan secara pribadi menyebut Bahama sebagai "koloni Britania kelas tiga".[112] Kantor Luar Negeri Britania sangat keberatan dengan rencana Edward dan Wallis untuk berlayar dengan kapal pesiar milik seorang konglomerat Swedia, Axel Wenner-Gren, yang secara keliru diyakini oleh badan intelijen Britania dan Amerika sebagai sahabat dekat panglima Luftwaffe, Hermann Göring.[113] Edward dipuji atas upayanya mengatasi kemiskinan di Bahama. Ia "jauh lebih berpikiran terbuka dibandingkan mayoritas orang kulit putih Bahama lainnya, bahkan dibandingkan para pendahulunya," dan ia memiliki "hubungan yang sangat baik" dengan orang-orang kulit hitam seperti musisi jazz Bert Cambridge (yang di kemudian hari terpilih sebagai anggota Majelis Bahama, yang sangat menggembirakan Edward) dan seorang valet bernama Sydney Johnson, yang tetap dipekerjakannya selama tiga puluh tahun dan konon "disayanginya seperti anak sendiri".[114] Edward memiliki perselisihan berkepanjangan dengan Étienne Dupuch, editor Nassau Daily Tribune, dan pada suatu kesempatan menulis secara pribadi bahwa Dupuch "lebih dari setengah Negro, dan karena mentalitas khas ras itu, mereka tidak mampu meraih kedudukan penting tanpa kehilangan keseimbangan diri."[115] Meski demikian, Dupuch tetap memuji Edward atas keberhasilannya meredakan kerusuhan sipil akibat rendahnya upah di Nassau pada tahun 1942, walaupun Edward menyalahkan masalah tersebut pada "para pembuat onar – komunis" dan "orang-orang keturunan Yahudi Eropa Tengah, yang memperoleh pekerjaan sebagai dalih untuk mendapatkan penangguhan wajib militer".[116]
Ketika Edward menjabat sebagai gubernur, Sir Harry Oakes, seorang pengusaha kaya yang merupakan orang terkaya di Bahama dan mungkin juga di seluruh Imperium Britania[117] serta sahabat dekat sang adipati,[118] dibunuh secara brutal pada 8 Juli 1943. Alih-alih mengikuti prosedur penyelidikan yang lazim berlaku di Bahama atau Britania, Edward mendatangkan dua detektif Amerika dari Miami yang dikenalnya secara pribadi untuk menangani penyelidikan tersebut. Dalam 36 jam, menantu Oakes, Alfred de Marigny, didakwa atas tuduhan pembunuhan setelah satu sidik jarinya dilaporkan ditemukan di tempat kejadian perkara.[119] Penyelidikan awal kemudian digambarkan sebagai "carut-marut",[120] dan sidik jari tersebut belakangan diketahui sengaja ditanamkan.[118] Edward meninggalkan Bahama selama persidangan de Marigny berlangsung.[118] De Marigny pada akhirnya dibebaskan, dan perkara tersebut pun ditutup.[121][122]
Banyak sejarawan berpendapat bahwa Hitler berniat mengembalikan Edward ke takhta setelah Operasi Singa Laut, dengan harapan dapat membentuk pemerintahan boneka fasis di Britania.[123] Banyak pihak meyakini bahwa Adipati dan Adipatni Windsor bersimpati pada gerakan fasisme sebelum dan selama Perang Dunia II, dan mereka dipindahkan ke Bahama untuk memperkecil peluang mereka bertindak atas dasar simpati tersebut. Pada tahun 1940 ia berkata: "Selama sepuluh tahun terakhir, Jerman telah sepenuhnya mengatur ulang tatanan masyarakatnya... Negara-negara yang tidak berkeinginan melakukan reorganisasi kemasyarakatan beserta pengorbanan-pengorbanan yang menyertainya harus menyesuaikan kebijakan mereka dengan kenyataan tersebut."[124] Selama pendudukan Prancis, Edward meminta pasukan Wehrmacht Jerman untuk menempatkan pasukan penjaga di kediaman-kediamannya di Paris dan Riviera, dan mereka melakukannya.[125] Pada Desember 1940, Edward memberikan wawancara kepada Fulton Oursler dari majalah Liberty di Rumah Dinas Gubernur Nassau. Oursler menyampaikan isi wawancara tersebut kepada Presiden Franklin D. Roosevelt dalam sebuah pertemuan tertutup di Gedung Putih pada 23 Desember 1940.[126] Wawancara tersebut dipublikasikan pada 22 Maret 1941 dan dalam wawancara tersebut, Edward dilaporkan mengatakan "Hitler adalah pemimpin yang tepat dan logis bagi bangsa Jerman" dan bahwa sudah tiba waktunya bagi Presiden Roosevelt untuk memediasi perdamaian. Edward protes, mengatakan bahwa pernyataannya telah dipelintir dan disalahartikan.[127]
Pihak Sekutu menjadi sangat terganggu oleh rencana-rencana Jerman yang berhubungan dengan Edward sampai-sampai Presiden Roosevelt memerintahkan pengawasan rahasia pada Adipati dan Adipatni Windsor saat mereka berkunjung ke Palm Beach, Florida, pada April 1941. Duke Carl Alexander dari Württemberg (saat itu merupakan biarawan di sebuah biara di Amerika Serikat) menyampaikan kepada Biro Investigasi Federal (FBI) bahwa Wallis telah tidur dengan Duta Besar Jerman untuk London, Joachim von Ribbentrop, pada tahun 1936, tetap berhubungan secara teratur dengannya, dan terus membocorkan rahasia.[128]

Penulis Charles Higham mengeklaim bahwa Anthony Blunt, seorang agen MI5 dan mata-mata Soviet, atas perintah keluarga kerajaan Inggris, berhasil melakukan perjalanan rahasia ke Schloss Friedrichshof di Jerman yang dikuasai Sekutu menjelang akhir perang untuk mengambil surat-surat sensitif antara Adipati Windsor dengan Hitler dan para petinggi Nazi lainnya.[129] Yang jelas, George VI mengirim Pustakawan Kerajaan, Owen Morshead, yang didampingi oleh Blunt (saat itu bekerja paruh waktu di Perpustakaan Kerajaan serta untuk badan intelijen Britania), menuju Friedrichshof pada Maret 1945 untuk mengamankan dokumen-dokumen yang berhubungan dengan Victoria, Permaisuri Kaisar Jerman, putri sulung Ratu Victoria. Para penjarah telah mencuri sebagian arsip-arsip di kastil tersebut, termasuk surat-surat antara sang putri dengan sang ratu, serta barang berharga lain; beberapa di antaranya ditemukan di Chicago setelah perang. Dokumen-dokumen yang berhasil diamankan oleh Morshead dan Blunt, beserta dokumen lain yang kemudian dikembalikan oleh otoritas Amerika dari Chicago, disimpan di Royal Archives.[130]
Dokumen-dokumen tersebut, yang kemudian dikenal sebagai Marburg Files, ditemukan oleh pasukan Amerika Serikat di Marburg, Jerman, pada Mei 1945. Mereka memuat hal-hal penting yang berkaitan langsung dengan dugaan simpati Edward terhadap rezim Nazi. Setelah lebih dari satu dekade disembunyikan oleh pemerintah Britania, dokumen-dokumen tersebut akhirnya diterbitkan pada akhir dekade 1950-an.[131][132]
Edward mengundurkan diri dari jabatannya sebagai Gubernur Bahama pada 16 Maret 1945.[14] Setelah perang, ia mengakui dalam memoarnya bahwa ia mengagumi bangsa Jerman, tetapi ia menyangkal bahwa ia adalah seorang pro-Nazi. Mengenai Hitler, ia menulis: "[sang] Führer tampak bagi saya sebagai sosok yang agak menggelikan, dengan tingkah lakunya yang teatrikal dan kebesaran dirinya yang bombastis."[133] Pada dekade 1950-an, jurnalis Frank Giles mendengar Adipati menyalahkan Menteri Luar Negeri Britania Anthony Eden karena menurutnya "ia memicu pecahnya perang akibat perlakuannya kepada Mussolini ... itulah yang dilakukan [Eden], ialah yang mempercepat pecahnya perang ... dan tentu saja Roosevelt serta orang-orang Yahudi".[134] Selama dekade 1960-an, Edward dikabarkan berbicara secara rahasia kepada temannya, Patrick Balfour, Baron Kinross ke-3, "Saya tidak pernah menganggap Hitler sebagai orang yang begitu buruk."[135]
Akhir kehidupan

Setelah perang usai, pasangan Windsor kembali ke Prancis dan menghabiskan sisa hidup mereka dalam masa pensiun, karena Edward tidak pernah lagi memegang jabatan resmi. Surat-surat yang ditulis oleh Kenneth de Courcy kepada sang Adipati, bertanggal antara tahun 1946 hingga 1949 dan diterbitkan dalam bentuk kutipan-kutipan pada tahun 2009, mengungkap adanya sebuah rencana agar Edward kembali ke Inggris agar berada pada posisi yang memungkinkan dirinya menjadi wali raja apabila diperlukan. Saat itu, kesehatan George VI menurun dan de Courcy mengkhawatirkan pengaruh Keluarga Mountbatten terhadap Putri Elizabeth muda. De Courcy menyarankan agar Edward membeli sebuah lahan pertanian produktif yang tidak jauh dari London agar ia dapat memperoleh dukungan publik dan siap menjalankan tugas sebagai wali raja apabila George VI tidak lagi mampu menjalankan tugas-tugas kenegaraan. Namun, Adipati Windsor ragu-ragu, dan George VI pun kembali pulih setelah menjalani operasi.[136] De Courcy juga menyebut kemungkinan zona pendudukan Inggris di Jerman menjadi sebuah kerajaan dengan Edward sebagai rajanya. Saran tersebut tidak terwujud.[137]
Selain tunjangan resminya, Edward juga memperoleh tambahan penghasilan melalui berbagai fasilitas istimewa dari pemerintah serta perdagangan valuta asing ilegal.[14][138][139] Pemerintah Kota Paris menyediakan sebuah rumah bagi Adipati Windsor di 4 route du Champ d'Entraînement, di sisi Neuilly-sur-Seine dari Bois de Boulogne, dengan biaya sewa yang sangat rendah.[140] Pemerintah Prancis juga membebaskannya dari kewajiban membayar pajak penghasilan,[138][141] dan pasangan Windsor dapat membeli barang-barang bebas bea melalui Kedutaan Inggris dan komisariat militer.[141] Pada tahun 1952, mereka membeli dan merenovasi sebuah rumah peristirahatan akhir pekan di pedesaan, Le Moulin de la Tuilerie, di Gif-sur-Yvette, yang merupakan satu-satunya properti yang pernah mereka miliki sendiri.[142] Pada tahun 1951, Edward membuat sebuah memoar, A King's Story, yang ditulis oleh Charles Murphy sebagai penulis bayangan, di mana ia mengungkapkan ketidaksetujuannya terhadap politik liberal.[20] Royalti buku tersebut menambah penghasilan Edward dan Wallis.[138]
Edward dan Wallis secara efektif menjalani kehidupan sebagai selebritas dan dianggap sebagai bagian dari kalangan café society pada dekade 1950-an hingga 1960-an. Mereka menggelar berbagai pesta dan kerap bepergian bolak-balik antara Paris dan New York. Gore Vidal, yang pernah bertemu dengan pasangan Windsor dalam situasi sosial, menggambarkan percakapan sang adipati sebagai hampa dan dangkal.[143] Pasangan itu juga sangat menyayangi anjing-anjing pug peliharaan mereka.[144]
Pada Juni 1953, alih-alih hadir dalam penobatan keponakannya, Ratu Elizabeth II, di London, Edward dan Wallis menonton prosesi tersebut lewat televisi di Paris. Edward berpendapat bahwa kehadiran seorang raja yang sedang bertakhta maupun mantan raja dalam penobatan raja lain bertentangan dengan preseden. Ia dibayar untuk menulis artikel mengenai upacara penobatan tersebut untuk Sunday Express dan Woman's Home Companion, dan juga menulis sebuah buku singkat berjudul The Crown and the People, 1902–1953.[145]

Pada tahun 1955, pasangan Windsor mengunjungi Presiden Dwight D. Eisenhower di Gedung Putih. Pasangan ini juga tampil dalam acara wawancara televisi Person to Person yang dibawakan oleh Edward R. Murrow pada tahun 1956[146] serta dalam sebuah wawancara BBC berdurasi 50 menit pada tahun 1970. Pada 4 April tahun tersebut, Presiden Richard Nixon mengundang mereka sebagai tamu kehormatan pada jamuan makan malam di Gedung Putih bersama Ketua Mahkamah Agung Warren E. Burger, Charles Lindbergh, Alice Roosevelt Longworth, Arnold Palmer, George H. W. Bush, dan Frank Borman.[147][148]
Keluarga kerajaan tidak pernah sepenuhnya menerima Adipatni Windsor. Ratu Mary menolak menerimanya secara resmi. Meskipun demikian, Edward terkadang menemui ibunya dan saudaranya, George VI. Ia menghadiri pemakaman George pada tahun 1952. Ratu Mary tetap marah dengan Edward dan pernikahannya dengan Wallis, ujarnya, "Melepaskan semua ini demi itu".[149] Pada tahun 1965, Adipati dan Adipatni Windsor kembali ke London. Mereka dikunjungi oleh keponakan sang Adipati, Elizabeth II; adik iparnya, Putri Marina, Adipatni Kent; dan adiknya, Mary, Putri Kerajaan dan Putri dari Harewood. Seminggu kemudian, Mary, Putri Kerajaan, meninggal dan mereka menghadiri upacara peringatannya. Pada tahun 1966, Edward memberikan sebuah wawancara TV di stasiun ZDF dalam bahasa Jerman kepada Georg Stefan Troller. Dalam wawancara tersebut, ia menjawab pertanyaan-pertanyaan seputar turun takhta.[150] Pada tahun 1967 pasangan Windsor bergabung dengan keluarga kerajaan dalam peringatan seabad kelahiran Ratu Mary. Upacara kerajaan terakhir yang ia hadiri adalah pemakaman Putri Marina pada tahun 1968.[151] Ia menolak undangan Ratu Elizabeth II untuk menghadiri pelantikan Charles sebagai Pangeran Wales pada tahun 1969, dengan berkata bahwa Charles tidak akan mau "paman buyutnya yang sudah tua" ada di sana.[152] Charles mengunjungi Adipati Windsor secara singkat di kediamannya di Paris pada 4 Oktober 1970.[153]
Pada dekade 1960-an, kesehatan Edward menurun. Pada bulan Desember 1964, Michael E. DeBakey mengoperasinya di Houston karena terdapat aneurisma pada aorta abdominalis, dan pada Februari 1965, Sir Stewart Duke-Elder merawat retina mata kirinya yang terlepas. Pada akhir 1971, Edward, yang telah merokok sejak usia muda, didiagnosis menderita kanker tenggorokan dan menjalani terapi kobalt. Pada September 1971, sang adipati menjamu Kaisar Hirohito dan Permaisuri Nagako dari Jepang di kediamannya di Paris. Ia pernah bertemu dengan Hirohito lima puluh tahun sebelumnya.[154] Pada 18 Mei 1972, Ratu Elizabeth II mengunjungi pasangan Windsor saat ia sedang melakukan kunjungan kenegaraan ke Prancis; ia bertemu secara pribadi dengan Edward selama 15 menit, tetapi hanya Wallis yang tampil bersama rombongan keluarga kerajaan dalam sesi pemotretan, karena Edward sudah terlalu sakit.[155]
Kematian dan peninggalan

Pada 28 Mei 1972, sepuluh hari setelah kunjungan Elizabeth II, Adipati Windsor meninggal di kediamannya di Paris, kurang dari sebulan sebelum ulang tahunnya yang ke-78. Jenazahnya dibawa kembali ke Britania dan disemayamkan di St George's Chapel, Kastel Windsor. Upacara pemakamannya dilangsungkan di kapel tersebut pada tanggal 5 Juni dengan dihadiri Ratu Elizabeth II, keluarga kerajaan, dan Adipatni Windsor, yang tinggal di Istana Buckingham selama kunjungannya ke Inggris. Ia dimakamkan di Royal Burial Ground, di belakang Royal Mausoleum Ratu Victoria dan Pangeran Albert di Frogmore.[156] Sebelum tercapainya kesepakatan dengan Elizabeth II pada tahun 1965, Adipati dan Adipatni Windsor berencana dimakamkan di sebidang makam yang telah mereka beli di Green Mount Cemetery, Baltimore, Amerika Serikat, tempat ayah Wallis dimakamkan.[157] Wallis, yang pada tahun-tahun terakhir hidupnya semakin renta dan menderita demensia, meninggal pada tahun 1986 dan dimakamkan di samping suaminya.[158]
Menurut para sejarawan seperti Philip Williamson dalam tulisannya pada tahun 2007, anggapan umum pada abad ke-21 bahwa turun takhtanya Edward lebih didorong oleh pertimbangan politik daripada moralitas agama merupakan anggapan yang keliru. Kesalahpahaman tersebut muncul karena perceraian kini jauh lebih lazim dan lebih dapat diterima secara sosial. Bagi masyarakat modern, pembatasan keagamaan yang menghalangi Edward tetap menjadi raja sambil berencana menikahi Wallis Simpson "tampak, meskipun keliru, tidak cukup memadai untuk menjelaskan keputusan Edward untuk turun takhta".[159]
Lambang kebesaran, gelar, dan tanda kehormatan
Lambang kebesaran
Lambang kebesaran Edward sebagai Pangeran Wales adalah lambang kebesaran Kerajaan Inggris Raya yang dibedakan dengan sebuah label perak bercabang tiga, serta sebuah inescutcheon yang melambangkan Wales dan dimahkotai dengan sebuah koronet. Sebagai raja, ia menggunakan lambang kebesaran kerajaan tanpa pembedaan. Setelah turun takhta, ia kembali menggunakan lambang tersebut dengan label perak bercabang tiga, tetapi kali ini cabang tengahnya memuat sebuah mahkota kekaisaran.[160]
- Lambang kebesaran sebagai Pangeran Wales (1911–1936)[161]
- Lambang kebesaran sebagai Raja Britania Raya (1936)
- Lambang kebesaran sebagai Raja Britania Raya di Skotlandia (1936)
- Lambang kebesaran sebagai Adipati Windsor (1937–1972)
Gelar dan sapaan

- 23 Juni 1894 – 28 Mei 1898: Yang Mulia Pangeran Edward dari York
- 28 Mei 1898 – 22 Januari 1901: Yang Mulia Kerajaan Pangeran Edward dari York[162]
- 22 Januari – 9 November 1901: Yang Mulia Kerajaan Pangeran Edward dari Cornwall dan York[163]
- 9 November 1901 – 6 Mei 1910: Yang Mulia Kerajaan Pangeran Edward dari Wales[164]
- 6 Mei 1910 – 23 Juni 1910: Yang Mulia Kerajaan Adipati Cornwall[165]
- 23 Juni 1910 – 20 Januari 1936: Yang Mulia Kerajaan Pangeran Wales[166]
- di Skotlandia: Yang Mulia Kerajaan Adipati Rothesay
- 20 Januari 1936 – 11 Desember 1936: Yang Mulia Raja
- 12 Desember 1936 – 27 Mei 1937: Yang Mulia Kerajaan Pangeran Edward
- Edward segera mulai menggunakan gelar tersebut setelah turun takhta, sesuai dengan pernyataan George VI di hadapan Dewan Penasihat Kerajaan pada sidang aksesinya. Namun, gelar tersebut baru disahkan secara resmi melalui Surat Paten pada 27 Mei 1937.
- 27 Mei 1937 – 28 Mei 1972: Yang Mulia Kerajaan Adipati Windsor[167]
Sapaan lengkap Edward sebagai raja adalah "Yang Mulia, Edward Kedelapan, atas Rahmat Tuhan, dari Britania Raya, Irlandia, dan Dominion-Dominion Britania di Seberang Lautan, Pembela Iman, Kaisar India".
Penghargaan

Imperium dan Persemakmuran Britania Raya
- KG: Kesatria Pendamping Kerajaan dari Yang Paling Mulia Orde Garter, 23 Juni 1910[168]
- KT: Kesatria Luar Biasa dari Yang Paling Kuno dan Paling Mulia Orde Thistle, 23 Juni 1922[169]
- KP: Kesatria Tambahan dari Yang Paling Masyhur Orde St Patrick, 3 Juni 1927[170]
- GCB: Kesatria Salib Agung dari Yang Paling Terhormat Orde Bath, 1936[171]
- GCSI: Kesatria Agung Komandan Luar Biasa dari Orde Bintang India Yang Mahamulia, 10 Oktober 1921[172]
- GCMG: Mahaguru dan Kesatria Salib Agung dari Yang Terkemuka Orde St Michael dan St George, 24 Oktober 1917[173]
- GCIE: Kesatria Agung Komandan Luar Biasa dari Orde Kekaisaran India Yang Termasyhur, 10 Oktober 1921[172]
- GCVO: Kesatria Salib Agung dari Orde Victoria Kerajaan, 13 Maret 1920[174]
- Penerima Rantai Victoria Kerajaan, 1921[171]
- GBE: Mahaguru dan Kesatria Salib Agung dari Yang Terunggul Ordo Imperium Britania, 4 Juni 1917[171]
- ISO: Pendamping Orde Dinas Imperium, 23 Juni 1910[175]
- MC: Military Cross, 3 Juni 1916[176]
- GCStJ: Bailif Kesatria Salib Agung dari Orde St John Yang Paling Mulia, 12 Juni 1926[177]
- Kesatria Kehakiman dari Ordo St John Yang Paling Mulia, 2 Juni 1917[178]
- PC: Anggota Dewan Penasihat Britania Raya, 2 Maret 1920[179]
- ADC(P): Ajudan Pribadi Raja (personal aide-de-camp), 3 Juni 1919[180]
- PC: Anggota Dewan Penasihat Kanada, 2 Agustus 1927[181]
- FRS: Anggota Royal Society[171]
Tanda kehormatan luar negeri
- Templat:Country data Mecklenburg-Strelitz Salib Agung Orde Wangsa Mahkota Wendish Kerajaan, dengan Mahkota dalam Bijih, 1 Mei 1911[182]
Kesatria Orde Singa Emas Wangsa Hessen, 23 Juni 1911[183]
Kesatria Orde Bulu Emas, 22 Juni 1912[184]
Salib Agung Orde Nasional Legiun Kehormatan, Agustus 1912[185]
Kesatria Orde Gajah, 17 Maret 1914[186]
Salib Agung Orde Santo Olav Kerajaan Norwegia, dengan Kalung, 6 April 1914[187]
Kesatria Orde Tertinggi Kabar Sukacita Mahakudus, 21 Juni 1915[188]
Croix de Guerre, 1915
Kesatria Orde Santo Georgius, Kelas 3, 16 Mei 1916[189]
Kesatria Orde Wangsa Kerajaan Chakri, 16 Agustus 1917[190]
Orde Michael Sang Pemberani, Kelas 1, 1918[191]
Salib Jasa Perang, 1919
Pita Agung Orde Muhammad Ali Kerajaan, 1922[191]
Kesatria Orde Serafim Kerajaan, 12 November 1923[192]
Kalung Orde Carol I, 1924[191]
Orde Jasa, Kelas 1, 1925[191]
Salib Agung Orde Kondor Andes, 1931[191]
Salib Agung Orde Matahari Peru, 1931[191]
Salib Agung Pita Dua Orde, 25 April 1931 – saat kunjungannya ke Lisboa[193]
Salib Agung Orde Nasional Salib Selatan, 1933[191]
Salib Agung Orde St Agatha, 1935[191]
Gelar kehormatan dan jabatan kehormatan
- 1918–1936: Kanselir Universitas Cape Town[194]
- 1920: Doktor bidang Hukum, Universitas Sydney[195]
- 1921: Doktor bidang Hukum, Universitas Cambridge[196]
- 1921: Gelar kehormatan, Universitas London[197]
- 1922: Doktor bidang Hukum, Universitas Hong Kong[198]
- 1928–1936: Magister, Perhimpunan Terhormat Nakhoda Kapal[199]
Pangkat kemiliteran
Persemakmuran Britania dan Imperium
- 22 Juni 1911: Perwira muda, Angkatan Laut Britania Raya[200]
- 17 Maret 1913: Letnan, Angkatan Laut Britania Raya[201]
- 8 Agustus 1914: Letnan Dua, Batalion ke-1, Grenadier Guards, Angkatan Darat Britania Raya[202]
- 15 November 1914: Letnan Sementara, Grenadier Guards,[203] kemudian ditetapkan berlaku surut sejak 11 November 1914[204]
- 19 November 1914: Letnan, Grenadier Guards[205]
- 10 Maret 1916: Kapten Supernumerer, Grenadier Guards[206]
- 25 Februari 1918: Mayor Sementara, Angkatan Darat Britania Raya[207]
- 15 April 1919: Kolonel, Angkatan Darat Britania Raya[208]
- 8 Juli 1919: Kapten, Angkatan Laut Britania Raya[209]
- 5 Desember 1922: Kapten Grup, Angkatan Udara Britania Raya[200][210]
- 1 September 1930: Laksamana Madya, Angkatan Laut Britania Raya; Letnan Jenderal, Angkatan Darat Britania Raya;[211] Marsekal Madya, Angkatan Udara Britania Raya[212]
- 1 Januari 1935: Laksamana, Angkatan Laut Britania Raya; Jenderal, Angkatan Darat Britania Raya; Marsekal, Angkatan Udara Britania Raya[213]
- 21 Januari 1936: Laksamana Armada, Angkatan Laut Britania Raya; Marsekal Lapangan, Angkatan Darat Britania Raya; Marsekal Angkatan Udara Britania Raya[214]
- 3 September 1939: Mayor Jenderal, Misi Militer Britania di Prancis[215]
Luar negeri
- 29 Januari 1936: Laksamana, Angkatan Laut Kerajaan Denmark[216]
Leluhur
Catatan
- 1 2 Instrumen abdikasi tersebut ditandatangani pada tanggal 10 Desember dan diberi kekuatan hukum melalui Undang-Undang Deklarasi Abdikasi Yang Mulia 1936 (Inggris: His Majesty's Declaration of Abdication Act 1936) pada hari berikutnya. Parlemen Uni Afrika Selatan mengakui abdikasi tersebut secara surut, berlaku efektif sejak 10 Desember, sedangkan Negara Bebas Irlandia mengakui abdikasi tersebut pada 12 Desember.[1]
- ↑ Sebagai raja, Edward adalah Gubernur Tertinggi Gereja Inggris dan anggota Gereja Skotlandia.
- ↑ Ia memiliki 12 orang tua baptis yaitu: Ratu Victoria (nenek buyut dari jalur ayah); Raja dan Ratu Denmark (buyut dari jalur ayah, yang diwakili oleh Pangeran Adolphus dari Teck (paman dari jalur ibu) dan Adipatni Fife (bibi dari jalur ayah)); Raja Württemberg (sepupu jauh ibu Edward), yang diwakili oleh Adipati Connaught (kakek-paman)); Ratu Yunani (nenek-bibinya, yang diwakili oleh Putri Victoria dari Wales (bibi dari jalur ayah)); Adipati Sachsen-Coburg dan Gotha (kakek-pamannya, yang diwakili [Louis dari Battenberg|[Pangeran Louis dari Battenberg]]); Pangeran dan Putri Wales (kakek-nenek dari jalur ayah); Tsar Nicholas II (sepupu ayahnya); Adipati Cambridge (kakek paman dari jalur ibu dan sepupu Ratu Victoria); dan Adipati dan Adipatni Teck (kakek-nenek dari jalur ibu).[4]
- ↑ Terdapat 15 salinan terpisah – masing-masing diperuntukkan bagi setiap Dominion, Negara Bebas Irlandia, India, Dewan Rakyat, Dewan Bangsawan dan Perdana Menteri, dan beberapa pihak lainnya.[76]
Referensi
- 1 2 Heard, Andrew (1990), Canadian Independence, Simon Fraser University, Canada, diarsipkan dari versi aslinya tanggal 21 Februari 2009, diakses tanggal 1 Mei 2010
- ↑ "Accouchement of the Duchess of York. Birth of a Prince". Richmond Herald. 29 Juni 1894. hlm. 6.
- ↑ Windsor, hlm. 1
- ↑ "No. 26533". The London Gazette. 20 Juli 1894. hlm. 4145.
- ↑ Ziegler, hlm. 5
- ↑ Ziegler, hlm. 6
- ↑ Windsor, hlm. 7; Ziegler, hlm. 9
- ↑ Wheeler-Bennett, hlm. 16–17
- ↑ Windsor, hlm. 25–28
- ↑ Ziegler, hlm. 30–31
- ↑ Windsor, hlm. 38–39
- ↑ Ziegler, p. 79
- ↑ Parker, hlm. 12–13
- 1 2 3 4 5 6 Matthew, H. C. G. (17 September 2015), "Edward VIII, later Prince Edward, duke of Windsor (1894–1972)", Oxford Dictionary of National Biography (Edisi online), Oxford University Press, doi:10.1093/ref:odnb/31061 ; berlangganan atau keanggotan Perpustakaan Umum Britania Raya diperlukan
- ↑ Parker, hlm. 13–14
- 1 2 3 Parker, hlm. 14–16
- ↑ "The Prince of Wales Starts Play" (PDF), Polo Monthly, hlm. 300, Juni 1914, diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 30 Juli 2018, diakses tanggal 30 Juli 2018
- ↑ "No. 28387". The London Gazette. 23 Juni 1910. hlm. 4473.
- ↑ Weir, Alison (1996), Britain's Royal Families: The Complete Genealogy Revised edition, London: Pimlico, hlm. 327, ISBN 978-0-7126-7448-5
- 1 2 Windsor, hlm. 78
- ↑ Ziegler, hlm. 26–27
- ↑ Windsor, hlm. 106–107 dan Ziegler, hlm. 48–50
- ↑ Roberts, hlm. 41 dan Windsor, hlm. 109
- ↑ Ziegler, hlm. 111 dan Windsor, hlm. 140
- ↑ Edward VIII (Jan–Dec 1936), Official website of the British monarchy, 12 Januari 2016, diarsipkan dari versi aslinya tanggal 7 Mei 2016, diakses tanggal 18 April 2016
- ↑ "Death of Youngest Son of King and Queen". Daily Mirror. 20 Januari 1919. hlm. 2.
- 1 2 Ziegler, hlm. 80
- ↑ Tizley, Paul (sutradara) (2008), Prince John: The Windsors' Tragic Secret Diarsipkan 8 November 2013 di Wayback Machine. (Dokumenter), London: Channel 4, diakses 26 April 2017
- ↑ Grant, Philip (January 2012), The British Empire Exhibition, 1924/25 (PDF), Brent Council, diarsipkan (PDF) dari versi aslinya tanggal 16 Mei 2017, diakses tanggal 18 Juli 2016
- ↑ Broad, Lewis (1961), The Abdication: Twenty-five Years After. A Re-appraisal, London: Frederick Muller Ltd, hlm. 4–5
- ↑ Flusser, Alan J. (2002), Dressing the man: mastering the art of permanent fashion, New York, NY: HarperCollins, hlm. 8, ISBN 0-06-019144-9, OCLC 48475087
- ↑ Windsor, hlm. 215
- ↑ Voisey, Paul (2004), High River and the Times: an Alberta community and its weekly newspaper, 1905–1966, Edmonton, Alberta: University of Alberta, hlm. 129, ISBN 978-0-88864-411-4
- ↑ "HistoricPlaces.ca - HistoricPlaces.ca", www.historicplaces.ca, diakses tanggal 29 September 2024
- ↑ Staff writers (6 Juli 2017), "Remarkable photographs show how Edward VIII narrowly escaped death in train crash", Daily Express, diarsipkan dari versi aslinya tanggal 11 November 2020, diakses tanggal 17 Januari 2021
- ↑ Windsor, hlm. 226–228
- ↑ Erskine, Barry, Oropesa (II), Pacific Steam Navigation Company, diarsipkan dari versi aslinya tanggal 4 Maret 2016, diakses tanggal 15 Desember 2013
- ↑ "Arrival at Windsor by Air", The Straits Times, Perpustakaan Nasional, Singapura, 30 April 1931, diarsipkan dari versi aslinya tanggal 29 October 2014, diakses tanggal 18 Desember 2013
- ↑ "Princes Home", The Advertiser and Register, Perpustakaan Nasional Australia, hlm. 19, 1 Mei 1931, diarsipkan dari versi aslinya tanggal 25 November 2021, diakses tanggal 18 Desember 2013
- ↑ Ziegler, hlm. 385
- ↑ Godfrey, Rupert, ed. (1998), "11 Juli 1920", Letters From a Prince: Edward to Mrs. Freda Dudley Ward 1918–1921, Little, Brown & Co, ISBN 978-0-7515-2590-8
- 1 2 Viktoria Luise, HRH (1977), The Kaiser's daughter, W. H. Allen, hlm. 188, ISBN 9780491018081
- ↑ Petropoulos, Jonathan (2006), Royals and the Reich: The Princes von Hessen in Nazi Germany, Oxford University Press, hlm. 161–162, ISBN 9780195161335
- ↑ Rose, Andrew (2013), The Prince, the Princess and the Perfect Murder, Hodder & Stoughton reviewed in Stonehouse, Cheryl (5 April 2013), "A new book brings to light the scandalous story of Edward VIII's first great love", Express Newspapers, diarsipkan dari versi aslinya tanggal 19 September 2020, diakses tanggal 1 Juli 2020.
Lihat juga: Godfrey, hlm. 138, 143, 299; Ziegler, hlm. 89–90. - ↑ Trethewey, Rachel (2018), Before Wallis: Edward VIII's other women (Edisi Kindle), The History Press, 807–877, ISBN 978-0-7509-9019-6
- ↑ Middlemas, Keith; Barnes, John (1969), Baldwin: A Biography, London: Weidenfeld and Nicolson, hlm. 976, ISBN 978-0-297-17859-0
- ↑ Airlie, Mabell (1962), Thatched with Gold, London: Hutchinson, hlm. 197
- ↑ "Foreign News: P'incess Is Three", Time, 29 April 1929, diarsipkan dari versi aslinya tanggal 27 Februari 2014, diakses tanggal 1 Mei 2010
- ↑ Windsor, hlm. 235
- ↑ Ziegler, hlm. 233
- ↑ Windsor, hlm. 255
- ↑ Bradford, hlm. 142
- ↑ Bowcott, Owen; Bates, Stephen (30 Januari 2003), "Car dealer was Wallis Simpson's secret lover", The Guardian, London, diarsipkan dari versi aslinya tanggal 28 Desember 2013, diakses tanggal 1 Mei 2010
- ↑ Ziegler, hlm. 231–234
- ↑ Windsor, hlm. 265; Ziegler, hlm. 245
- ↑ Ziegler, pp. 273–274
- ↑ Windsor, hlm. 293–294
- ↑ A. Michie, God Save The Queen
- ↑ Edward VIII, Royal Mint Museum, diarsipkan dari versi aslinya tanggal 16 September 2016, diakses tanggal 4 Agustus 2016
- ↑ Coinage and bank notes, Official website of the British monarchy, 15 Januari 2016, diarsipkan dari versi aslinya tanggal 7 Mei 2016, diakses tanggal 18 April 2016
- ↑ "George Andrew McMahon: attempt on the life of H.M. King Edward VIII at Constitution Hill on 16 July 1936", MEPO 3/1713, The National Archives, Kew, 2003, diarsipkan dari asli tanggal 7 Desember 2016, diakses tanggal 28 Mei 2018
- ↑ Cook, Andrew (3 Januari 2003), "The plot thickens", The Guardian, London, diarsipkan dari versi aslinya tanggal 3 Februari 2014, diakses tanggal 1 Mei 2010
- ↑ Broad, hlm. 56–57
- ↑ Broad, hlm. 44–47; Windsor, hlm. 314–315, 351–353; Ziegler, hlm. 294–296, 307–308
- ↑ Windsor, hlm. 330–331
- 1 2 Pearce, Robert; Graham, Goodlad (2013), British Prime Ministers From Balfour to Brown, Routledge, hlm. 80, ISBN 978-0-415-66983-2, diarsipkan dari versi aslinya tanggal 4 Januari 2019, diakses tanggal 3 Januari 2019
- ↑ Windsor, hlm. 346
- ↑ Windsor, hlm. 354
- ↑ Statute of Westminster 1931 c.4, UK Statute Law Database, diarsipkan dari versi aslinya tanggal 13 Oktober 2010, diakses tanggal 1 Mei 2010
- ↑ Ziegler, hlm. 305–307
- ↑ Bradford, hlm. 187
- ↑ Bradford, hlm. 188
- ↑ Windsor, hlm. 354–355
- ↑ Beaverbrook, Lord (1966), Taylor, A. J. P. (ed.), The Abdication of King Edward VIII, London: Hamish Hamilton, hlm. 57
- ↑ Windsor, hlm. 387
- ↑ Windsor, hlm. 407
- ↑ Windsor, hlm. 407
- ↑ "The Abdication of Edward VIII", Maclean's, 15 Januari 1937, diarsipkan dari versi aslinya tanggal 4 Januari 2019, diakses tanggal 3 Januari 2019
- ↑ Edward VIII, Broadcast after his abdication, 11 December 1936 (PDF), Official website of the British monarchy, diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 12 Mei 2012, diakses tanggal 1 Mei 2010
- ↑ Ziegler, hlm. 336
- ↑ Pimlott, hlm. 71–73
- ↑ "No. 34349". The London Gazette. 12 Desember 1936. hlm. 8111.
- ↑ Pembicaraan Clive Wigram dengan Sir Claud Schuster, Juru Tulis Kerajaan dan Sekretaris Permanen Lord Chancellor dikutip di Bradford, hlm. 201
- ↑ Jaksa Agung kepada Menteri Dalam Negeri (14 April 1937) berkas Arsip Nasional HO 144/22945 dikutip dalam Velde, François (6 Februari 2006) The drafting of the letters patent of 1937. Heraldica, diakses tanggal 7 April 2009
- ↑ Williams, Susan (2003), "The historical significance of the Abdication files", Public Records Office – New Document Releases – Abdication Papers, London, Public Records Office of the United Kingdom, diarsipkan dari versi aslinya tanggal 9 Oktober 2009, diakses tanggal 1 Mei 2010
- ↑ Ziegler, hlm. 354–355
- ↑ Bryan III, Joe; Murphy, Charles (1979). The Windsor Story. London: Granada Publishing. hlm. 340. ISBN 0-246-11323-5. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
- 1 2 Ziegler, hlm. 376–378
- ↑ Officer, Lawrence H.; Williamson, Samuel H. (2024). "Five Ways to Compute the Relative Value of a U.K. Pound Amount, 1270 to Present". MeasuringWorth.com. Diakses tanggal 18 Desember 2025.
- ↑ Ziegler, hlm. 349
- ↑ Ziegler, hlm. 384
- ↑ Donaldson, hlm. 331–332
- ↑ When the Duke of Windsor met Adolf Hitler, BBC News, 10 Maret 2016, diarsipkan dari versi aslinya tanggal 23 November 2016, diakses tanggal 21 Juli 2018
- ↑ Papers of Count Albert von Mensdorff-Pouilly-Dietrichstein (1861–1945) dalam Arsip Negara, Vienna, dikutip dalam Rose, Kenneth (1983), King George V, London: Weidenfeld and Nicolson, hlm. 391, ISBN 978-0-297-78245-2
- ↑ Windsor, hlm. 122
- ↑ Speer, Albert (1970), Inside the Third Reich, New York: Macmillan, hlm. 118
- ↑ Ziegler, hlm. 317
- 1 2 Bradford, hlm. 285; Ziegler, hlm. 398–399
- ↑ David Reynolds, "Verdun – The Sacred Wound", episode 2. BBC Radio 4, disiarkan pertama kali pada 24 Februari 2016.
- ↑ Terry Charman, "The Day We Went to War", 2009, hlm. 28.
- ↑ Bradford, hlm. 285
- ↑ The Times, 8 May 1939, hlm. 13
- ↑ misalnya The Times, 9 Mei 1939, hlm. 13
- ↑ No. 621: Menteri Zech kepada Sekretaris Negara Weizsäcker, 19 Februari 1940, dalam Documents on German Foreign Policy 1918–1945 (1954), Series D, Volume VIII, hlm. 785, dikutip dalam Bradford, hlm. 434
- ↑ McCormick, Donald (1963), The Mask of Merlin: A Critical Biography of David Lloyd George, New York: Holt, Rinehart and Winston, hlm. 290, LCCN 64-20102
- ↑ Bloch, hlm. 91
- ↑ Bloch, hlm. 86, 102; Ziegler, hlm. 430–432
- ↑ Ziegler, hlm. 434
- ↑ Bloch, hlm. 93
- ↑ Bloch, hlm. 93–94, 98–103, 119
- ↑ Bloch, hlm. 119; Ziegler, hlm. 441–442
- ↑ Bloch, hlm. 364
- ↑ Bloch, hlm. 154–159, 230–233; Luciak, Ilja (2012), "The Life of Axel Wenner-Gren–An Introduction" (PDF), dalam Luciak, Ilja; Daneholt, Bertil (ed.), Reality and Myth: A Symposium on Axel Wenner-Gren, Stockholm: Wenner-Gren Stiftelsirna, hlm. 12–30, diarsipkan (PDF) dari versi aslinya tanggal 8 Juli 2016, diakses tanggal 6 November 2016
- ↑ Bloch, hlm. 266
- ↑ Ziegler, hlm. 448
- ↑ Ziegler, hlm. 471–472
- ↑ LeGrand, Cathy; LeGrand, Cathleen (1 Oktober 2010). "Another Look at a Bahamian Mystery: The Murder of Sir Harry Oakes". International Journal of Bahamian Studies 16. Diakses tanggal 23 Mei 2026.
- 1 2 3 "Edward and Wallis: The Bahamas Scandals" (video). PBS. 2025. Diakses tanggal 23 Mei 2026.
- ↑ "Sir Harry Oakes, Crime Files". crimeandinvestigation.co.uk. Diakses tanggal 23 Mei 2026.
- ↑ "THE BAHAMAS: The Trouble with Harry". Time. 1 Juni 1959. Diakses tanggal 24 Mei 2026.
- ↑ "THE BAHAMAS: Killer at Large". Time. 22 November 1943. Diakses tanggal 24 Mei 2026.
- ↑ Burnham, Emily (7 Juni 2025). "This Maine-born gold tycoon's murder is still a scandal". Bangor Daily News. Diakses tanggal 24 Mei 2026.
- ↑ Ziegler, hlm. 392
- ↑ Bloch, hlm. 79–80
- ↑ Roberts, hlm. 52
- ↑ Morton, Andrew (2015), 17 Carnations: The Windsors, The Nazis and The Cover-Up, Michael O'Mara Books, ISBN 9781782434658, diakses tanggal 25 Mei 2015
- ↑ Bloch, hlm. 178
- ↑ Evans, Rob; Hencke, David (29 Juni 2002), "Wallis Simpson, the Nazi minister, the telltale monk and an FBI plot", The Guardian, London, diarsipkan dari versi aslinya tanggal 26 Agustus 2013, diakses tanggal 2 Mei 2010
- ↑ Higham, Charles (1988), The Duchess of Windsor: The Secret Life, New York: McGraw-Hill Publishers, hlm. 388–389
- ↑ Bradford, hlm. 426
- ↑ Fane Saunders, Tristram (14 Desember 2017), "The Duke, the Nazis, and a very British cover-up: the true story behind The Crown's Marburg Files", The Telegraph, diarsipkan dari versi aslinya tanggal 14 Agustus 2018, diakses tanggal 14 Agustus 2018
- ↑ Miller, Julie (9 Desember 2017), The Crown: Edward's Alleged Nazi Sympathies Exposed, Vanity Fair, diarsipkan dari versi aslinya tanggal 6 Februari 2018, diakses tanggal 14 Agustus 2018
- ↑ Windsor, hlm. 277
- ↑ Sebba, Anne (1 November 2011), "Wallis Simpson, 'That Woman' After the Abdication", The New York Times, diarsipkan dari versi aslinya tanggal 5 November 2011, diakses tanggal 7 November 2011
- ↑ Lord Kinross, Love conquers all in Books and Bookmen, vol. 20 (1974), hlm. 50: "Sekitar dua puluh lima tahun kemudian, ia memang pernah berkata kepada saya, 'Saya tidak pernah menganggap Hitler sebagai orang yang begitu buruk'."
- ↑ Wilson, Christopher (22 November 2009), "Revealed: the Duke and Duchess of Windsor's secret plot to deny the Queen the throne", The Telegraph, diarsipkan dari versi aslinya tanggal 8 Agustus 2017, diakses tanggal 6 Agustus 2017
- ↑ The Man Who Would Be King...Again? The 1946 Duke of Windsor Plot, video karya Mark Felton di YouTube, 31 Agustus 2023
- 1 2 3 Roberts, hlm. 53
- ↑ Bradford, hlm. 442
- ↑ Ziegler, hlm. 534–535
- 1 2 Bradford, hlm. 446
- ↑ "Le Moulin – History", Landmark Trust, diarsipkan dari versi aslinya tanggal 31 Januari 2019, diakses tanggal 30 Januari 2019
- ↑ Vidal, Gore (1995), Palimpsest: a memoir, New York: Random House, hlm. 206, ISBN 978-0-679-44038-3
- ↑ Farquhar, Michael (2001), A Treasury of Royal Scandals, New York: Penguin Books, hlm. 48, ISBN 978-0-7394-2025-6
- ↑ Ziegler, hlm. 539–540
- ↑ "Peep Show", Time, 8 Oktober 1956, diarsipkan dari versi aslinya tanggal 26 Februari 2014, diakses tanggal 2 Mei 2010
- ↑ Robenalt, James D. (2015). January 1973: Watergate, Roe v. Wade, Vietnam, and the Month that Changed America Forever. Chicago, Ill.: Chicago Review Press. ISBN 978-1-61374-967-8. OCLC 906705247.
- ↑ UPI. "Duke, Duchess Have Dinner With Nixons" The Times-News (Hendersonville, North Carolina) 6 April 1970; hlm. 13
- ↑ Bradford, hlm. 198
- ↑ Duke of Windsor (Edward VIII) Interview in German | 1966 (eng. subtitles), YouTube, 22 Desember 2021, diarsipkan dari versi aslinya tanggal 18 October 2022, diakses tanggal 19 Oktober 2022
- ↑ Ziegler, hlm. 554–556
- ↑ Ziegler, hlm. 555
- ↑ Larman, Alexander (5 Mei 2023). "The Lesson King Charles III Learned From His Notorious Great Uncle". Time (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 15 Mei 2026.
- ↑ Krebs, Albin (5 Oktober 1971). "Notes on People". The New York Times. Diakses tanggal 15 Mei 2026.
- ↑ Duke too ill for tea with the Queen, BBC, 18 Mei 1972, diarsipkan dari versi aslinya tanggal 30 Agustus 2017, diakses tanggal 24 Oktober 2017
- ↑ Ziegler, hlm. 556–557
- ↑ Rasmussen, Frederick (29 April 1986), "Windsors had a plot at Green Mount", The Baltimore Sun
- ↑ Simple funeral rites for Duchess, BBC, 29 April 1986, diarsipkan dari versi aslinya tanggal 30 Desember 2007, diakses tanggal 2 Mei 2010
- ↑ Williamson, Philip (2007), "The monarchy and public values 1910–1953", dalam Olechnowicz, Andrzej (ed.), The monarchy and the British nation, 1780 to the present, Cambridge University Press, hlm. 225, ISBN 978-0-521-84461-1
- ↑ Prothero, David (24 September 2002), Flags of the Royal Family, United Kingdom, diarsipkan dari asli tanggal 31 Maret 2010, diakses tanggal 2 Mei 2010
- ↑ "No. 28473". The London Gazette. 7 Maret 1911. hlm. 1939.
- ↑ Velde, Francois R., Royal Styles and Titles of Great Britain: Documents, diarsipkan dari versi aslinya tanggal 23 April 2016, diakses tanggal 14 Juni 2013
- ↑ "British Line of Succession on 22 January 1901". Diakses tanggal 28 Maret 2026.
- ↑ "No. 27375". The London Gazette. 9 November 1901. hlm. 7289.
- ↑ "British Line of Succession on 6 May 1910". Diakses tanggal 28 Maret 2026.
- ↑ "No. 28387". The London Gazette. 23 Juni 1910. hlm. 4473.
- ↑ "No. 34402". The London Gazette. 28 Mei 1937. hlm. 3429.
- ↑ List of the Knights of the Garter, diarsipkan dari versi aslinya tanggal 21 Juli 2021, diakses tanggal 14 Oktober 2022 – via heraldica.org
- ↑ "No. 13826". The Edinburgh Gazette. 27 Juni 1922. hlm. 1089.
- ↑ "No. 33282". The London Gazette. 7 Juni 1927. hlm. 3711.
- 1 2 3 4 Kelly's Handbook, edisi ke-98 (1972), hlm. 41
- 1 2 "No. 32487". The London Gazette. 14 Oktober 1921. hlm. 8091.
- ↑ "No. 13170". The Edinburgh Gazette. 23 November 1917. hlm. 2431.
- ↑ "No. 31837". The London Gazette. 26 Maret 1920. hlm. 3670.
- ↑ "No. 34917". The London Gazette. 9 Agustus 1940. hlm. 4875. Pangeran Wales adalah Pendamping Orde Dinas Imperium ex-officio.
- ↑ "No. 29608". The London Gazette (Supplement). 2 Juni 1916. hlm. 5570.
- ↑ "No. 33284". The London Gazette. 14 Juni 1927. hlm. 3836.
- ↑ "No. 30114". The London Gazette. 5 Juni 1917. hlm. 5514.
- ↑ "No. 13570". The Edinburgh Gazette. 5 Maret 1920. hlm. 569.
- ↑ "No. 13453". The Edinburgh Gazette. 5 Juni 1919. hlm. 1823.
- ↑ Privy Council Office (1 Februari 2012), Historical Alphabetical List since 1867 of Members of the Queen's Privy Council for Canada, diarsipkan dari versi aslinya tanggal 21 April 2012, diakses tanggal 29 Maret 2012
- ↑ "Großherzogliche Orden und Ehrenzeichen", Hof- und Staatshandbuch des Großherzogtums Mecklenburg-Strelitz: 1912 (dalam bahasa Jerman), Neustrelitz: Druck und Debit der Buchdruckerei von G. F. Spalding und Sohn, 1912, hlm. 15
- ↑ "Goldener Löwen-orden", Großherzoglich Hessische Ordensliste (dalam bahasa Jerman), Darmstadt: Staatsverlag, 1914, hlm. 3, diarsipkan dari versi aslinya tanggal 6 September 2021, diakses tanggal 17 September 2021 – via hathitrust.org
- ↑ "Caballeros de la insigne orden del toisón de oro", Guóa Oficial de España (dalam bahasa Spanyol): 217, 1930, diarsipkan dari versi aslinya tanggal 20 Juni 2018, diakses tanggal 4 Maret 2019
- ↑ M. & B. Wattel (2009), Les Grand'Croix de la Légion d'honneur de 1805 à nos jours. Titulaires français et étrangers, Paris: Archives & Culture, hlm. 461, ISBN 978-2-35077-135-9
- ↑ Bille-Hansen, A. C.; Holck, Harald, ed. (1933) [1st pub.:1801], Statshaandbog for Kongeriget Danmark for Aaret 1933 [Buku Pedoman Negara Kerajaan Denmark untuk Tahun 1933] (PDF), Kongelig Dansk Hof- og Statskalender (dalam bahasa Dansk), Copenhagen: J.H. Schultz A.-S. Universitetsbogtrykkeri, hlm. 17, diarsipkan (PDF) dari versi aslinya tanggal 24 Desember 2019, diakses tanggal 16 September 2019 – via da:DIS Danmark
- ↑ "Den kongelige norske Sanct Olavs Orden", Norges Statskalender (dalam bahasa Norwegian), 1922, hlm. 1173–1174, diarsipkan dari versi aslinya tanggal 17 September 2021, diakses tanggal 17 September 2021 – via hathitrust.org Pemeliharaan CS1: Bahasa yang tidak diketahui (link)
- ↑ Italy. Ministero dell'interno (1920), Calendario generale del regno d'Italia, hlm. 58, diarsipkan dari versi aslinya tanggal 25 November 2021, diakses tanggal 8 Oktober 2020
- ↑ "No. 29584". The London Gazette (Supplement). 16 Mei 1916. hlm. 4935.
- ↑ พระราชทานเครื่องราชอิสริยาภรณ์ มหาจักรีบรมราชวงศ์ (PDF), Royal Thai Government Gazette (dalam bahasa Thai), 19 Agustus 1917, diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 4 September 2020, diakses tanggal 8 Mei 2019
- 1 2 3 4 5 6 7 8 Montgomery-Massingberd, Hugh, ed. (1977), Burke's Royal Families of the World (Edisi ke-1), London: Burke's Peerage, hlm. 311–312, ISBN 978-0-85011-023-4
- ↑ Sveriges statskalender (dalam bahasa Swedia), vol. II, 1940, hlm. 7, diarsipkan dari versi aslinya tanggal 7 Januari 2018, diakses tanggal 6 Januari 2018 – via runeberg.org
- ↑ "Banda da Grã-Cruz das Duas Ordens: Eduardo Alberto Cristiano Jorge André Patrício David, Príncipe de Gales Diarsipkan 26 Juli 2020 di Wayback Machine." (dalam bahasa Portugis), Arquivo Histórico da Presidência da República, diakses 28 November 2019
- ↑ "University community called to nominate candidates for chancellor", University of Cape Town, 29 Maret 2010, diarsipkan dari versi aslinya tanggal 3 November 2024, diakses tanggal 22 November 2024
- ↑ "His Royal Highness the Prince of Wales" (PDF), University of Sydney, diakses tanggal 22 November 2024
- ↑ "Prince of Wales receives honorary degree, 1921", British Pathé, diarsipkan dari versi aslinya tanggal 25 Agustus 2024, diakses tanggal 22 November 2024
- ↑ Castrillo, Maria (7 Desember 2022), "A history of Foundation Day at the University of London", University of London, diarsipkan dari versi aslinya tanggal 8 Oktober 2024, diakses tanggal 22 November 2024
- ↑ "His Royal Highness Edward Prince of Wales", University of Hong Kong, diarsipkan dari versi aslinya tanggal 13 Juli 2025, diakses tanggal 22 November 2024
- ↑ "Past Masters", The Honourable Company of Master Mariners, diarsipkan dari versi aslinya tanggal 22 Mei 2025, diakses tanggal 21 April 2025
- 1 2 Cokayne, G.E.; Doubleday, H.A.; Howard de Walden, Lord (1940), The Complete Peerage, London: St. Catherine's Press, vol. XIII, hlm. 116–117
- ↑ "No. 28701". The London Gazette. 18 Maret 1913. hlm. 2063–2064.
- ↑ "No. 28864". The London Gazette. 7 Agustus 1914. hlm. 6204.
- ↑ "No. 29001". The London Gazette (Supplement). 9 Desember 1914. hlm. 10554.
- ↑ "No. 29084". The London Gazette. 26 Februari 1915. hlm. 1983.
- ↑ "No. 29064". The London Gazette (Supplement). 10 Februari 1915. hlm. 1408.
- ↑ "No. 29534". The London Gazette. 4 April 1916. hlm. 3557.
- ↑ "No. 30686". The London Gazette (3rd supplement). 17 Mei 1918. hlm. 5842.
- ↑ "No. 31292". The London Gazette (4th supplement). 14 April 1919. hlm. 4857.
- ↑ "No. 31458". The London Gazette. 15 Juli 1919. hlm. 8997.
- ↑ "No. 32774". The London Gazette. 5 Desember 1922. hlm. 8615.
- ↑ "No. 33640". The London Gazette. 2 September 1930. hlm. 5424.
- ↑ "No. 33640". The London Gazette. 2 September 1930. hlm. 5428.
- ↑ "No. 34119". The London Gazette (Supplement). 1 Januari 1935. hlm. 15.
- ↑ "No. 34251". The London Gazette. 31 Januari 1936. hlm. 665.
- ↑ The Times, 19 September 1939, hlm. 6, kol. F
- ↑ Fabritius, Albert [in Dansk], ed. (1970), Statshåndbog for Kongeriget Danmark 1971 [Buku Pedoman Negara Kerajaan Denmark untuk Tahun 1971] (PDF), Kongelig Dansk Hof- og Statskalender (dalam bahasa Dansk), Copenhagen: J.H. Schultz A.-S. Universitetsbogtrykkeri, hlm. 306, diakses tanggal 2 Januari 2026
Bibliografi
- Bloch, Michael (1982). The Duke of Windsor's War. London: Weidenfeld and Nicolson. ISBN 0-297-77947-8.
- Bradford, Sarah (1989). King George VI. London: Weidenfeld and Nicolson. ISBN 0-297-79667-4.
- Donaldson, Frances (1974). Edward VIII. London: Weidenfeld and Nicolson. ISBN 0-297-76787-9.
- Godfrey, Rupert (editor) (1998). Letters From a Prince: Edward to Mrs Freda Dudley Ward 1918–1921. Little, Brown & Co. ISBN 0-7515-2590-1.
- Parker, John (1988). King of Fools. New York: St. Martin's Press. ISBN 0-312-02598-X.
- Pimlott, Ben (2001). The Queen: Elizabeth II and the Monarchy. London: HarperCollins. ISBN 0-00-255494-1.
- Pope-Hennessy, James (2018). The Quest for Queen Mary. Disunting dan dilengkapi teks oleh Hugo Vickers. Hodder & Stoughton. ISBN 978-1529330625.
- Roberts, Andrew; disunting oleh Antonia Fraser (2000). The House of Windsor. London: Cassell and Co. ISBN 0-304-35406-6.
- Wheeler-Bennett, Sir John (1958). King George VI. London: Macmillan.
- Williams, Susan (2003). The People's King: The True Story of the Abdication. London: Allen Lane. ISBN 978-0-7139-9573-2.
- Windsor, The Duke of (1951). A King's Story. London: Cassell and Co.
- Ziegler, Philip (1991). King Edward VIII: The official biography. New York: Alfred A. Knopf. ISBN 0-394-57730-2.
Pranala luar
| Cari tahu mengenai Edward VIII dari Britania Raya pada proyek-proyek Wikimedia lainnya: | |
| Gambar dan media dari Commons | |
| Kutipan dari Wikiquote | |
| Teks sumber dari Wikisource | |
| Entri basisdata #Q590227 di Wikidata | |
- "Materi arsip tentang Edward VIII dari Britania Raya". UK National Archives.
- Potret Prince Edward, Duke of Windsor di National Portrait Gallery, London
- Kliping surat kabar tentang Edward VIII dari Britania Raya di Arsip Pers Abad ke-20 dari Perpustakaan Ekonomi Nasional Jerman (ZBW)
- Edward VIII di situs web resmi Monarki Britania Raya
- Edward VIII di BBC History
- Duke of Windsor di IMDb (dalam bahasa Inggris)
Edward VIII dari Britania Raya Cabang kadet Wangsa Wettin Lahir: 23 Juni 1894 Meninggal: 28 Mei 1972 | ||
| Gelar kebangsawanan | ||
|---|---|---|
| Didahului oleh: George V |
Raja Britania Raya dan Dominion Inggris Seberang Lautan Kaisar India 20 Januari – 11 Desember 1936 |
Diteruskan oleh: George VI |
| Britania | ||
| Didahului oleh: Pangeran George kemudian menjadi Raja George V |
Pangeran Wales Adipati Cornwall; Adipati Rothesay 1910–1936 |
Lowong Selanjutnya dijabat oleh Pangeran Charles |
| Jabatan pemerintahan | ||
| Didahului oleh: Sir Charles Dundas |
Gubernur Bahama 1940–1945 |
Diteruskan oleh: Sir William Lindsay Murphy |
| Gelar kehormatan | ||
| Lowong Terakhir dijabat oleh Pangeran Wales |
Grand Master Ordo St Michael dan St George 1917–1936 |
Diteruskan oleh: Earl Athlone |
| Jabatan baru | Grand Master Ordo Kekaisaran Britania 1917–1936 |
Diteruskan oleh: Ratu Mary |
| Komodor Udara Tertinggi Angkatan Udara Cadangan 1932–1936 |
Diteruskan oleh: Raja George VI | |
| Jabatan akademik | ||
| Posisi baru | Rektor Universitas Cape Town 1918–1936 |
Diteruskan oleh: Jan Smuts |
| Internasional | |
|---|---|
| Nasional | |
| Seniman | |
| Orang | |
| Lain-lain | |
- ↑ Ia telah meminta Alec Hardinge menyampaikan kepada Edward melalui surat bahwa ia tidak dapat diundang menghadiri upacara peringatan bagi ayahnya.<ref>Ziegler, hlm. 384<ref/>