Upacara Pembukaan Parlemen adalah sebuah acara yang resmi menandai permulaan sesi Parlemen Britania Raya. Acara tersebut meliputi pidato dari tahta yang dikenal sebagai Pidato Ratu (atau Pidato Raja). Ini adalah sebuah acara bersama yang menampilkan sejarah, budaya dan politik kontemporer kepada kerumunan besar atau para penonton televisi.
Acara tersebut diadakan di ruang Dewan Bangsawan, biasanya pada bulan Mei atau Juni, di depan kedua Dewan Parlemen. Penguasa, yang mengenakan Mahkota Negara Kekaisaran, membacakan sebuah pidato yang disiapkan oleh pemerintahnya yang menjelaskan rencana-rencana pada tahun tersebut. Acara ini diadakan pada waktu lain pada suatu tahun jika sebuah pemilihan diadakan lebih awal karena jumlah suara tak meyakinkan dalam pemerintahan. Pada 1974, saat dua pemilihan umum diadakan, terdapat dua Upacara Pembukaan.
Para Yeomen Pengawal memulai pencarian tradisional mereka di ruang bawah tanah sebelum Pembukaan Negara (2024).
Rangkaian acara yang mengiringi pembukaan parlemen dapat dibagi menjadi beberapa bagian (deskripsi berikut merujuk pada rangkaian acara lengkap; untuk kesempatan ketika, karena berbagai alasan, rangkaian acara yang lebih sederhana digunakan, lihat di bawah):
Pencarian di ruang bawah tanah
Pertama, ruang bawah tanah di Istana Westminster dicari oleh Yeomen of the Guard. Tradisi ini dimulai dari Plot Bubuk Mesiu 1605 dimana ada pencobaan pembunuhan Raja James VI & I dan Guy Fawkes ditangkap menjaga bubuk mesiu di ruang bawah tanah beberapa jam sebelum raja membuka sesi kedua parlemen. Sejak tahun itu, ruang bawah tanah diselidiki. Sekarang, hal ini menjadi tradisi seremonial dan diawasi oleh Lord Great Chamberlain, dan para Yeomen dibayar dengan segelas port wine.[1]
Pembawaan sandera parlemen
Pada pagi hari Upacara Pembukaan, Bendahara, Pengawas Keuangan, dan Wakil Kepala Rumah Tangga (yang semuanya adalah whip pemerintah) berkumpul dengan anggota senior Rumah Tangga Kerajaan lainnya di Istana Buckingham, membawa tongkat putih seremonial jabatan mereka.[2] Bendahara dan Pengawas Keuangan, bersama dengan anggota senior Rumah Tangga Kerajaan lainnya, mendampingi raja dalam prosesi kereta kuda; tetapi Lord Chamberlain tidak bergabung dengan mereka. Sebaliknya, atas nama raja, ia tetap berada di Istana Buckingham dan menahan seorang anggota parlemen (Wakil Chamberlain) sebagai "sandera" selama upacara pembukaan kenegaraan, sesuai tradisi sebagai jaminan atas kembalinya raja dengan selamat. Anggota parlemen yang disandera tersebut dihibur dengan baik hingga upacara selesai dengan sukses, dan kemudian dibebaskan setelah raja kembali dengan selamat.[2][3] Penahanan Wakil Chamberlain kini murni bersifat seremonial, meskipun mereka tetap berada di bawah pengawasan; awalnya, hal itu menjamin keselamatan Raja saat memasuki Parlemen yang mungkin bermusuhan. Tradisi ini konon berasal dari zaman Charles I, yang memiliki hubungan yang penuh perselisihan dengan Parlemen dan akhirnya dipenggal kepalanya pada tahun 1649 selama Perang Saudara antara monarki dan Parlemen (salinan surat perintah kematian Charles I dipajang di ruang ganti yang digunakan oleh raja sebagai pengingat seremonial tentang apa yang dapat terjadi pada seorang raja yang mencoba mengganggu Parlemen); namun, ada pendapat yang menyatakan bahwa kebiasaan dalam bentuknya saat ini berasal dari masa yang jauh lebih baru (penyebutan penyanderaan baru muncul pada tahun 1960-an atau 70-an).[4] Sebaliknya, pada tahun 1845, ketidakhadiran rutin Lord Chamberlain dari Pembukaan Negara dikatakan disebabkan oleh "departemen yang dipimpin oleh beliau tidak diakui di Istana Yang Mulia di Westminster" (di mana Lord Great Chamberlain memiliki wewenang yang setara).[5]
Ketika Charles III dari Britania Raya memberikan pidato kepada Dewan Perwakilan Rakyat Amerika Serikat pada 29 April 2026,[6] ia bergurau tentang tradisi ini, menyatakan bahwa "sandera" diperlakukan dengan sangat baik ketika raja sudah selesai pidato ia malah tidak mau meninggalkan istana. Ia juga bergurau apakah ada anggota DPR yang bersedia disandera ketika raja sedang berpidato.
Anggota parlemen yang disandera dalam beberapa tahun terakhir (yang semuanya menjabat sebagai Wakil Kepala Rumah Tangga pada saat itu) antara lain:
Sarah Clarke dalam tugasnya sebagai Black Rod memukul pintu Dewan, 2024
Atas perintah dari penguasa, Lord Great Chamberlain mengangkat tongkat putih jabatannya untuk memberi isyarat kepada pejabat yang dikenal sebagai Black Rod agar memanggil Dewan Rakyat. Black Rod berbalik dan, di bawah pengawal Penjaga Pintu Dewan Bangsawan, menuju Lobi Anggota Dewan Rakyat, dan sampai di pintu Dewan Rakyat.
Begitu Black Rod sampai, Penjaga Pintu Dewan Rakyat memerintahkan agar pintu dibanting tutup terhadap Black Rod. Meskipun ditampang sangat sombong dan arogan, perintah ini merupakan sebuah hal simbolis terhadap sifat independen Dewan Rakyat dari raja.[13] Kemudian, petugas Black Rod memukul pintu ruang sidang Commons yang tertutup sebanyak tiga kali dengan ujung tongkat upacara mereka (Black Rod), dan kemudian diizinkan masuk (terdapat tanda pada pintu Commons yang menunjukkan bekas lekukan berulang yang dibuat oleh Black Rod selama bertahun-tahun).
Tradisi ini sangat berkaitan dengan Charles I dimana ia mencoba untuk menyerbu parlemen untuk menangkap 5 orang anggota Dewan Rakyat termasuk John Hampden.[14] Sejak saat itu, tidak ada raja atau ratu Inggris yang pernah memasuki Gedung Parlemen saat sidang berlangsung.[13] Namun, ritual penutupan pintu sudah ada sebelum tahun 1640-an, dan meskipun sejak lama telah menjadi simbol kemerdekaan Dewan Rakyat, tujuan utamanya (menurut Erskine May) adalah agar Dewan Rakyat menetapkan identitas Black Rod.[4] Setelah hal ini tercapai, Black Rod tidak dapat ditolak masuk, dan semua urusan lain apa pun di ruang sidang Dewan Rakyat harus dihentikan.
Setelah pintu dibuka, kepala penjaga pintu Dewan Rakyat memperkenalkan Black Rod. Di hadapan ketua, Black Rod membungkuk kepada Ketua sebelum menuju ke meja, membungkuk lagi, dan mengumumkan perintah raja untuk kehadiran Dewan Rakyat, dengan kata-kata berikut:
Tuan/Puan Ketua, Raja/Ratu memerintahkan Dewan terhormat ini untuk menghadap Yang Mulia segera di Dewan Bangsawan
Pada dekade-dekade terakhir masa pemerintahan Elizabeth II, ada sebuah tradisi yang berlangsung bahwa perintah ini dinyinyir oleh seorang anggota Dewan Rakyat yang pro-republik bernama Dennis Skinner. Setelah itu, dengan sedikit geli, para anggota Dewan berdiri dan menuju ke Ruang Majelis Tinggi.[13] Tradisi ini sempat berhenti pada 2015 karena Dennis Skinner klaim bahwa "ada ikan besar yang harus digoreng daripada menyatakan sesuatu", mereferensikan masalah tempat duduknya dengan anggota Partai Nasional Skotlandia yang fraksinya membesar setelah pemilu 2015.[15] Ia kembali menyinyir pada 2016 sampai ia digusur dari kursinya pada pemilu 2019.[16]
Monarki meninggalkan ruang Dewan
Setelah pidato, raja dan rombongannya meninggalkan ruangan. Raja membungkuk ke kedua sisi Majelis Tinggi dan kemudian meninggalkan ruangan, berjalan beriringan kembali ke Ruang Jubah, sebelum anggota Dewan Rakyat membungkuk lagi dan kembali ke ruangan mereka.
↑Chisholm, Hugh, ed. (1911). "Black Rod". Encyclopædia Britannica. Vol.4 (Edisi 11). Cambridge University Press. hlm.24–25.; Bagley, John Joseph; Lewis, A. S. (1977). Lancashire at War: Cavaliers and Roundheads, 1642-51: a Series of Talks Broadcast from BBC Radio Blackburn. Dalesman. hlm.15.