William IV (William Henry; 21 Agustus 1765– 20 Juni 1837) adalah Raja Kerajaan Inggris Raya dan Irlandia dan Raja Hanover dari 26 Juni 1830 hingga kematiannya pada tahun 1837. Putra ketiga GeorgeIII, William menggantikan kakak laki-lakinya George IV, menjadi raja terakhir dan penguasa monarki kedua terakhir dari Wangsa Hanover di Inggris.
William bertugas di Angkatan Laut Kerajaan pada masa mudanya, menghabiskan waktu di Amerika Utara Inggris dan Karibia, dan kemudian dijuluki "Raja Pelaut". Pada tahun 1789, ia diangkat menjadi Adipati Clarence dan St Andrews. Antara tahun 1791 dan 1811, ia hidup bersama dengan aktris Dorothea Jordan dan dikaruniai sepuluh orang anak. Pada tahun 1818, ia menikahi Putri Adelaide dari Saxe-Meiningen; William tidak diketahui memiliki simpanan selama pernikahan mereka. Pada tahun 1827, ia diangkat menjadi Laksamana Tinggil Inggris, yang pertama sejak tahun 1709.
Karena kedua kakak laki-lakinya meninggal tanpa meninggalkan masalah penerus sah, William mewarisi tahta ketika dia berusia 64 tahun. Pemerintahannya menyaksikan beberapa reformasi: Undang-Undang Orang Miskin diperbarui, pekerja anak dibatasi, perbudakan dihapuskan di hampir seluruh Kekaisaran Inggris, dan sistem pemilihan umum dibentuk kembali oleh Undang-Undang Reformasi tahun 1832. Meskipun William tidak terlibat dalam politik sebanyak saudaranya atau ayahnya, dia adalah raja Inggris terakhir untuk menunjuk perdana menteri yang bertentangan dengan keinginan Parlemen. Dia memberikan kerajaan Jermannya konstitusi liberal yang berumur pendek. William tidak memiliki anak sah yang masih hidup pada saat kematiannya, jadi ia digantikan oleh keponakannya Victoria di Inggris dan saudara laki-lakinya Ernest Augustus di Hanover.
Kehidupan Awal
William lahir di Buckingham House, London, sebagai putra ketiga Raja George III dan Ratu Charlotte. Ia menerima pendidikan dasar yang sesuai untuk seorang pangeran, tetapi karena ia berada jauh dalam garis suksesi, fokus utama pendidikannya adalah mempersiapkannya untuk karier di Angkatan Laut Kerajaan. Pada usia 13 tahun, William bergabung dengan Angkatan Laut, yang memberikan dasar pengalamannya dalam kehidupan publik.
Sebagai seorang perwira muda, William bertugas di sejumlah kapal, termasuk HMS Prince George dan HMS Victory. Ia turut serta dalam Perang Kemerdekaan Amerika dan menjadi saksi mata berbagai peristiwa penting dalam konflik tersebut. Meskipun ia tidak pernah memegang komando sendiri, pengalaman ini membentuk karakternya sebagai pemimpin yang tegas dan praktis.
Kehidupan Pribadi
William dikenal karena gaya hidup bebas dan hubungannya dengan aktris Dorothea Jordan, yang dengannya ia memiliki sepuluh anak tidak sah. Anak-anaknya dikenal dengan nama keluarga FitzClarence. Pada 1818, demi memenuhi kewajiban kerajaan, ia menikah dengan Putri Adelaide dari Saxe-Meiningen. Pernikahan ini tidak menghasilkan keturunan yang hidup sampai dewasa, sehingga suksesi kerajaan kemudian jatuh kepada keponakannya, Putri Victoria.
Naik Takhta
William menjadi pewaris takhta setelah kematian saudaranya, George IV, yang tidak memiliki keturunan sah. Pada usia 64 tahun, William naik takhta sebagai raja tertua yang pernah dimahkotai hingga saat itu. Pemerintahannya yang relatif singkat ditandai oleh peralihan politik dan sosial yang besar.
Pemerintahan
Reformasi Parlemen 1832
Salah satu peristiwa paling signifikan selama pemerintahannya adalah Reformasi Parlemen 1832. Undang-undang ini mereformasi sistem pemilu yang sebelumnya korup dan tidak adil, menghapus "kota busuk" (boroughs) dan memperluas hak pilih kepada lebih banyak kelas menengah. William awalnya enggan mendukung reformasi ini tetapi akhirnya memberikan persetujuannya, setelah tekanan dari Perdana Menteri Earl Grey dan ancaman kerusuhan sipil.
Kebijakan Luar Negeri
Di bidang luar negeri, pemerintahan William relatif damai. Britania Raya terlibat dalam upaya diplomatik untuk menjaga keseimbangan kekuatan di Eropa setelah Perang Napoleon. Di Hanover, William lebih jarang terlibat secara langsung, menyerahkan sebagian besar tugas administratif kepada penasihat setempat.
Meskipun ia memiliki reputasi sebagai orang yang tidak bijaksana dan suka bertingkah konyol, William sebenarnya bisa bersikap cerdas dan diplomatis. Ia bahkan meramal bahwa akan ada konstruksi Terusan Suez sehingga ia menanggap bahwa hubungan baik dengan Mesir sangat penting bagi kepentingan Britania Raya.[5] Pada akhir pemerintahnya, ia memperbaiki hubungan Britania dengan Amerika Serikat. Ia merayu duta besar Amerika Serikat dengan menyatakan bahwa ia "menyesal tidak lahir sebagai seorang rakyat Amerika yang bebas dan merdeka" dan ia menghormati bangsa Amerika yang "telah melahirkan George Washington, pria terhebat yang pernah hidup".[6] Menggunakan persona pribadinya, William membantu pemerintah Britania Raya dalam memperbaiki hubungan dengan Amerika Serikat yang sebelumnya sangat rusak pada masa pemerintahan ayahnya.[7]
Raja Hannover
Persepsi publik Jerman terhadap Kerajaan Hannover adalah kerajaan tersebut merupakan negara boneka Britania Raya dan segala urusan Hannover mesti mendapatkan persetujuan dari London. Namun, kasus ini tidak terjadi selama pemerintahan William IV. Pada 1832, KanselirKlemens von Metternich dari Kekaisaran Austria mengeluarkan segelintir undang-undang yang bertujuan untuk menumpas gerakan liberalisme di Jerman. Hal ini dikecam oleh Lord Palmerston dan berencana menggunakan pengaruh William IV di Hannover untuk menveto kebijakan Metternich. Namun, pemerintah Hannover malah setuju dengan Metternich, alih-alih kekecewaan Lord Palmerston. William IV juga menolak untuk mengintervensi.
Lord Palmerston dan William IV kembali berseteru ketika Klemens von Metternich memerintahkan agar diadakan konferensi negara-negara Jerman di Wina. Palmerston meminta agar Hannover menolak undangan tersebut. Namun, William IV justru mengutus adiknya, Pangeran Adolphus, Adipati Cambridge ke Wina dengan dukungan raja.[8]
Pada 1833, William IV menandatangani sebuah konstitusi baru yang memberikan emansipasi kepada kelas menengah, memberikan kekuatan terbatas untuk kelas bawah, dan memperluas wewenang parlemen. Konstitusi ini dicabut oleh adiknya, Ernst August, Raja Hannover.[9]
Pengembangan Kolonial
Masa pemerintahannya juga melihat beberapa perkembangan dalam kekaisaran kolonial Britania, termasuk penghapusan perdagangan budak yang lebih efektif dan pembaruan administratif di koloni-koloni besar seperti India dan Kanada.
Karakter dan Warisan
William dikenal sebagai raja yang bersahaja dan sederhana, sering berjalan tanpa pengawalan di jalanan London dan berbicara langsung dengan rakyatnya. Meskipun tidak memiliki pengaruh intelektual seperti pendahulunya, William dihormati karena keterbukaannya dan perannya dalam mendorong reformasi yang mendasar.
Warisan William termasuk peranannya dalam membentuk monarki konstitusional modern, di mana raja lebih banyak berfungsi sebagai simbol daripada penguasa mutlak. Ia juga dikenang karena membantu mempersiapkan jalan bagi pemerintahan keponakannya, Ratu Victoria.
Kematian dan Suksesi
William meninggal dunia pada 20 Juni 1837 di Kastel Windsor pada usia 71 tahun, setelah menderita penyakit pernapasan yang lama. Ia dimakamkan di Kapel St. George, Windsor. Karena ia tidak memiliki anak sah, takhta Britania Raya diwarisi oleh Ratu Victoria, sementara takhta Hanover berpindah kepada adik laki-lakinya, Ernst Augustus, berdasarkan aturan suksesi yang berbeda di Jerman.