Latar Belakang
Mundurnya Spanyol dan Portugal pada abad ke-17 telah membuka jalan bagi kekuatan Eropa lainnya, yaitu Belanda, Prancis, dan Inggris. Portugal akan kehilangan pengaruh di semua kecuali tiga koloninya, yaitu Portugis India, Makau, dan Timor.
Pada akhir abad ke-17, Belanda telah mengambil alih sebagian besar koloni Portugis lama, dan telah membangun kehadiran yang kuat di Indonesia saat ini, dengan koloni di Aceh, Banten, Makassar, dan Jakarta. Belanda juga memiliki hubungan dagang dengan Siam, Jepang, Cina, dan Benggala.
Inggris telah bersaing dengan Portugis, Spanyol, dan Belanda untuk kepentingan mereka di Asia sejak awal abad ke-17 dan pada pertengahan abad ke-19 menguasai sebagian besar India (melalui Perusahaan Hindia Timur Britania), serta Burma, Ceylon, Malaya, dan Singapura. Setelah Pemberontakan India tahun 1857, Ratu Victoria dinyatakan sebagai Permaisuri India, dengan demikian memperkuat kekuasaan Inggris di anak benua tersebut. Akuisisi Inggris di Asia adalah Wilayah Baru Hong Kong, yang disewa dari Kaisar Dinasti Qing pada tahun 1897, memperluas koloni Inggris yang awalnya diserahkan dalam Perjanjian Nanking pada tahun 1842.
Prancis tidak banyak berhasil di India menyusul kekalahan melawan Inggris pada abad ke-17, meskipun mereka menguasai harta benda di pantai timur India (seperti Pondicherry dan Mahar) hinnga dekolonisasi. Prancis mendirikan koloni mereka yang paling menguntungkan da substansial di Indochina pada tahun 1862, akhirnya menduduki wilayah Vietnam, Laos, dan Kamboja saat ini pada tahun 1887.
Koloni Jepang yang pertama adalah Taiwan, diduduki pada tahun 1874 dan secara resmi diserahkan oleh Kaisar Dinasti Qing pada tahun 1894. Jepang melanjutkan imperialisme awalnya dengan aneksasi Korea pada tahun 1910
Amerika Serikat memasuki wilayah tersebut pada tahun 1898 selama Perang Spanyol-Amerika, merebut Filipina sebagai satu-satunya koloninya melalui pertempuran pura-pura di ibukota dan pembelian Filipina dari Spanyol setelah deklarasi kemerdekaan dan Republik Filipina Pertama.