Bacang memiliki filosofi kehidupan yang berasal dari empat sudutnya, yaitu:[2]
Suami istri harus saling mencintai, berbagi, dan menerima kekurangan pasangan karena tidak ada yang sempurna.
Doa untuk keluarga agar selalu damai, sejahtera, dan sehat.
Harapan mendapat rezeki serta berbagi dengan yang membutuhkan.
Beras ketan melambangkan persatuan keluarga, ujung lancip sebagai penjaga, dan tali pengikat sebagai simbol penyatuan hidup dengan cinta kasih.
Sejarah
Bacang menurut legenda kali pertama muncul pada zaman Dinasti Zhou berkaitan dengan simpati rakyat kepada Qu Yuan yang bunuh diri dengan melompat ke Sungai Miluo. Pada saat itu, bacang dilemparkan rakyat sekitar ke dalam sungai untuk mengalihkan perhatian makhluk-makhluk di dalamnya supaya tidak memakan jenazah Qu Yuan. Untuk kemudian, bacang menjadi salah satu simbol perayaan Peh Cun atau Duanwu.[3]
Tradisi
Memakan bacang adalah tradisi resmi dalam Festival Duan Wu sejak Dinasti Jin, yang turut mempopulerkan kembali makanan ini sebagai simbol festival.[3]
Pada zaman Dinasti Ming di Taiwan, bentuk bacang yang dibawa oleh pendatang dari Fujian adalah bentuk gepeng. Terdapat juga bacang berukuran kecil tanpa isian yang dimakan bersama serikaya.[3]
Variasi
Bacang secara harfiah bak adalah daging dan cang adalah berisi daging jadi arti bacang adalah berisi daging, tetapi pada praktiknya selain yang berisi daging ada juga cang yang berisikan sayur-sayuran atau yang tidak berisi. Yang berisi sayur-sayuran disebut chaicang, chai adalah sayuran dan yang tidak berisi biasanya dimakan bersama dengan srikaya atau gula disebut kicang.[butuh rujukan]
Tentunya yang tidak kalah penting adalah daun pembungkus dan tali pengikat. Daun biasanya dipilih daunbambu panjang dan lebar yang harus dimasak terlebih dahulu untuk detoksifikasi. Bacang biasanya diikat berbentuk limas segitiga.[butuh rujukan]
Di kepulauan Anambas dan Natuna, bahan pembungkus bacang menggunakan daun pandan duri sebagai pengganti daun bambu[butuh rujukan] karena daun bambu dengan ukuran besar sulit ditemui di daerah kepulauan, dan Perayaan Bacang di Natuna, tepatnya di Desa Tanjung, Bunguran Timur pada hari Kamis tanggal 22 Juni 2023 seorang warga Tionghoa berhasil membuat sebuah bacang daging ikan dan rempah lain yang disemur kering sebagai isinya dengan total berat 8200 gram atau 8,2kg.[butuh rujukan]
Hari Bacang Internasional
Setiap tahunnya di tanggal 10 Juni, warga Tionghoa di seluruh dunia memperingati hari Bakcang Internasional, bertepatan dengan tanggal 5 bulan 5 dalam penanggalan Imlek.[butuh rujukan]
Hari Bacang digelar untuk mengenang Qu Yuan, sastrawan Tionghoa yang terjun ke Sungai Miluo setelah nasihatnya untuk mencegah perang diabaikan oleh raja. Rakyat membuat bakcang dari beras ketan dan daging dengan ujung lancip agar ikan dan udang tidak memakan jasadnya, sehingga bisa ditemukan.[2]
123Bromokusumo, Aji Kristi (2013). Peranakan Tionghoa dalam kuliner Nusantara: plus resep-resep khas Peranakan. Jakarta: Penerbit Buku Kompas. hlm.32. ISBN978-979-709-740-0. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
↑Gong, W. (2007). Lifestyle in China. Journey into China (dalam bahasa Inggris). China Intercontinental Press. hlm.12–13. ISBN978-7-5085-1102-3. Diakses tanggal November 5, 2016.