Tidak ada traktat atau kesepakatan formal yang mengikat aliansi tersebut. Beberapa sejarawan Barat mendefinisikan fase pertama permusuhan, dimulai pada bulan Agustus 1900, sebagai "kurang lebih sebuah perang saudara",[1] meskipun Pertempuran Benteng Taku pada bulan Juni mendorong pemerintahan Qing mendukung Kaum Petinju. Dengan berhasilnya invasi tersebut, tahap selanjutnya berkembang menjadi ekspedisi kolonial untuk menghukum Tiongkok, yang menjarah Beijing dan Tiongkok Utara selama lebih dari setahun. Peperangan berakhir pada tahun 1901 dengan penandatanganan Protokol Petinju.[2]
Kaum Petinju, sebuah gerakan kaum tani, menyerang dan membunuh misionaris, warganegara asing, dan orang Kristen Tionghoa di seluruh Tiongkok utara pada tahun 1899 dan 1900. Pemerintahan Qing dan Pasukan Kekaisaran mendukung Kaum Petinju dan, di bawah jenderal ManchuRonglu, mengepung diplomat dan warga sipil asing yang berlindung di Kawasan Legasi di Beijing (saat itu diromanisasi sebagai Peking).[3]
Kompleks diplomatik tersebut dikepung oleh Divisi Belakang Wuwei Pasukan Tiongkok dan beberapa Kaum Petinju (Yihetuan), selama 55 hari, dari tanggal 20 Juni hingga 14 Agustus 1900. Sebanyak 473 warganegara asing, 409 tentara dari delapan negara, dan sekitar 3.000 orang Tionghoa Kristen berlindung di Kawasan Legasi.[4] Di bawah komando menteri Britania Raya untuk Tiongkok, Claude Maxwell MacDonald, staf dan personel keamanan legasi melindungi kompleks tersebut dengan senjata api ringan dan satu meriam tua ditemukan dan digali oleh orang Kristen Tionghoa, yang kemudian menyerahkannya kepada pihak aliansi. Meriam tersebut dijuluki Senjata Internasional karena larasnya berasal dari Inggris, pedatinya dari Italia, pelurunya dari Rusia, dan awaknya dari Amerika.[5]
Bangunan lain yang juga dikepung adalah Katedral Utara, Beitang milik Gereja Katolik. Beitang dipertahankan oleh 43 tentara Prancis dan Italia, 33 imam dan biarawati asing, dan sekitar 3.200 orang Tionghoa Katolik. Orang-orang yang mempertahankan mengalami banyak korban akibat kekurangan makanan dan ranjau yang meledak di terowongan yang digali di bawah kompleks.[6]
Pada tanggal 14 Agustus 1900, pasukan aliansi berbaris ke Beijing dari Tianjin untuk mengatasi pengepungan Kawasan Legasi.[7]
Pertempuran militer, ekspedisi hukuman, dan penjarahan
Pasukan aliansi menginvasi dan menduduki Beijing pada tanggal 14 Agustus 1900. Mereka mengalahkan Korps Wuwei Pasukan Kekaisaran Qing dalam beberapa pertempuran dan dengan cepat mengakhiri pengeoungdan dan juga Pemberontakan Petinju. Ibu Suri Cixi, sang kaisar, dan pejabat-pejabat petinggi pemerintahan melarikan diri dari Istana Kekaisaran ke Xi'an dan mengirim Li Hongzhang untuk perundingan damai dengan aliansi.[8]
Tentara-tentara Jerman dan Jepang menyaksikan eksekusi jalanan seorang petinju Tiongkok
Saat pasukan aliansi bergerak dari Beijing ke daerah pedesaan Tiongkok Utara, mereka mengeksekusi dengan jumlah yang tidak diketahui orang yang dituduh atau dicurigai menjadi bagian atau mirip dengan pemberontak Petinju, yang menjadi subjek sebuha film pendek awal.[9] Seorang Marinir A.S. menuliskan bahwa ia menyaksikan tentara-tentara Jerman dan Rusia memperkosa kemudian membayonet perempuan.[10] Ketika pasukan aliansi tiba di Beijing, mereka menjarah istana-istana, yamen-yamen, dan gedung-gedung pemerintahan. Hal ini menyebabkan kerugian yang tak terhitung atas peninggalan budaya, buku-buku sastra, dan sejarah (termasuk Yongle Dadian yang terkenal) dan kerusakan terhadap warisan budaya (termasuk Kota Terlarang, Istana Musim Panas, Xishan, dan Istana Musim Panas Lama).[2][11]
Lebih dari 3.000 patung Buddha perunggu berlapis emas, 1.400 benda-benda kesenian dan 4.300 perunggu di Kuil Songzhu (嵩祝寺) dijarah. Lapisan emas pada tangki tembaga di depan istana Kota Terlarang dikelupas oleh pasukan sekutu, meninggalkan bekas goresan yang masih terlihat hingga sekarang. Yongle Dadian yang disusun oleh 2.100 cendekiawan selama masa MingYongle (1403–1408), dengan total 22.870 jilid, sebagian hancur dalam Perang Candu Kedua pada tahun 1860. Setelah itu, Yongle Dadian dipindahkan ke Istana Kekaisaran di Jalan Nanchizi, tetapi ditemukan dan dihancurkan sepenuhnya oleh aliansi pada tahun 1900. Sebagian dari Yongle Dadian digunakan untuk membangun pertahanan militer.[2][11]
Kitab-Kitab Lengkap Empat Perbendaharaan (atau Siku Quanshu) disusun oleh 360 cendekiawan selama masa QingQianlong. Kitab ini merupakan kumpulan dari 3.461 kitab-kitab kuno, dengan total 79.309 jilid. Keseluruhan kitab terdiri dari tujuh set. Satu set hancur pada tahun 1860 selama Perang Candu Kedua. Lebih dari 10.000 jilid lainnya dihancurkan pada tahun 1900 oleh Aliansi Delapan Bangsa. Akademi Hanlin menyimpan koleksi kitab-kitab berharga, naskah-naskah tunggal, kitab-kitab dari Dinasti Song, bahan sastra dan sejarah, serta lukisan-lukisan berharga. Aliansi Delapan Bangsa menjarah koleksi tersebut. Beberapa dari kitab-kitab yang dijarah masih disimpan di museum-museum di London dan Paris.[2][11]
1234Hevia, James L. "Looting and its discontents: Moral discourse and the plunder of Beijing, 1900–1901" in R. Bickers and R.G. Tiedemann (eds.), The Boxers, China, and the world Lanham, Maryland: Rowman & Littlefield Publishers, 2009 ISBN9780742553958